VocaWorld, chapter 158 - Putri Bunga Sakura
Luka dan Meiko mencoba mengulur waktu untuk Miku dan melawan June. Dengan dance acceleration dalam keadaan aktif, Luka mencoba memanggil instrument nya.
"Instrument: Rainbow Piano!" ucap Luka.
Dan diluar dugaan ternyata dia berhasil mengeluarkan instrument nya.
"Apa!? Mengeluarkan instrument dalam keadaan dance aktif?!" ucap June terkejut.
"Tidak kusangka akan berhasil. Ray-kun pasti kaget kalau melihat ini." ujar Luka dalam hati tampak senang.
"Meiko-chan, aku akan menjaga bagian belakangmu. Jangan ragu untuk menyerangnya." kata Luka pada Meiko.
"Baiklah kalau begitu. Mohon bantuannya.." ujar Meiko kemudian berlari ke arah June.
"Untuk saat ini aku belum bisa menggunakan Pyramid of Light lagi. Energi kegelapanku tidak cukup untuk itu. Tapi aku masih bisa menggunakan Darkness Numb Step." ujar June dalam hati saat melihat Meiko berlari ke arahnya.
Dengan membuat dirinya berwarna negatif, June menghilang dari hadapan Meiko. Dan dalam sekejap sudah ada di samping Luka bersiap untuk melakukan tendangan.
"Ternyata benar, itu bukan teleportasi. Dia hanya memperlambat waktu disekitarnya saja. Cukup lambat untuk membuat dia seperti menghilang. Tapi berkat latihan berpikir oleh Ray-kun pada saat liburan musim panas lalu, akupun bisa membuat pikiranku lebih cepat daripada waktu." ujar Luka mulai melirikkan matanya ke arah June.
"Ti-tidak mungkin?!!" ucap June dalam hati terkejut Luka tak terpengaruh oleh kekuatannya.
Luka menangkap kaki June yang ditendangkan ke arahnya, kemudian sambil menendang kaki tumpu June, Luka mengayunkan tubuh June dan membantingnya ke arah Meiko. Meiko yang berbalik karena menebak June ada dibelakangnya dikagetkan oleh June yang terlempar ke arahnya. Kemudian dengan pukulan yang keras, Meiko menghantam June ke tanah dengan tinju apinya.
"A-ada apa ini!!?? Aku tak tahu dia sehebat itu??!! Dia hampir seperti The White Light!" ucap June dalam hati tampak kesakitan dan mulutnya menyemburkan darah saat dipukul ke tanah.
June melirik ke arah Luka yang menatap tajam seperti Ray. Pukulan Meiko yang sangat kuat membuat suara dentuman yang keras hingga terdengar ke tempat Gumi dan Dante bertarung. Tampaknya mereka sudah tidak berada di sekitar akademi Voca lagi.
"Sepertinya JB benar-benar dalam masalah disana." ucap Dante dengan santai berdiri melihat ke arah asap pekat dilangit.
"Hei, jangan melihat ke arah lain saat bertarung dengaku." ujar Gumi yang tampak sudah luka-luka.
Di sekitar Gumi tampak banyak bekas ledakan dan bekas terbakar. Tubuh Gumi pun banyak mengalami lecet dan lebam. Jauh berbeda dengan Dante yang tampak tak tergores sedikitpun.
"Apa dia memang selalu sehebat itu? Bahkan kecepatan ekstrim milikku saat ini tidak berpengaruh sama sekali padanya." kata Gumi dalam hati.
"Perlukah kita lanjutkan atau kamu mau mundur dulu memanggil bantuan?" tawar Dante tanpa menoleh ke arah Gumi.
"Tentu saja harus dilanjutkan. A-aku masih sanggup bertarung." jawab Gumi sambil menatap Dante dengan penuh keyakinan.
"Tapi kupikir sudah cukup. Dengan tubuhmu dan kemampuanmu saat ini mau bagaimana kerasnya pun kamu berusaha, kamu takkan pernah bisa menggapaiku, Megupo." ujar Dante menoleh ke arah Gumi.
"Jangan remehkan aku! Bukankah dulu kamu bilang kalau yang mengalahkanmu adalah aku? Karena itu hanya akulah yang akan bisa mengalahkanmu!" bentak Gumi.
"Itu kan dulu. Sekarang beda lagi." sahut June.
Gumi menghilang dan muncul tepat di depan Dante dengan telapak kakinya hampir menyentuh wajah Dante. Namun tak ada keterkejutan sedikitpun di wajah Dante. Dengan santainya dia menangkap kaki Gumi. Tapi Dante dibuat terkejut oleh hal lain. Ternyata kaki yang ia tangkap tidak nyata. Itu hanyalah bayangan Gumi. Gumi sudah menunduk dan bersiap menendang ke ke atas. Dante berusaha mengubah posisi ke posisi bertahan, namun tiba-tiba dia terdorong ke depan. Dante terkejut bukan main saat itu. Ternyata Gumi menendang kepala Dante dari belakang. Dan sambil masih berada di udara Gumi berputar dan menendang punggung Dante dengan keras. Dante terpental jauh sambil berguling-guling seperti ban diatas tanah kemudian menghantam sebuah tiang lampu hingga hancur.
"Hahahaha.. hahahaha.. benar-benar hebat. Harusnya ini hanyalah pemanasan. Tapi tak kusangka kau bisa membuatku harus bertarung serius." ujar Dante dibalik asap debu yang menutup tubuhnya.
"Sudah kubilang kan? Menganggapku sebagai pemanasan akan membuatmu kecewa. Aku akan mengalahkanmu!" balas Gumi.
"Ya.. ya.. kenapa aku bisa lupa, kaulah yang telah mengalahkanku waktu itu. Kau juga yang membuatku pertama kali merasakan senangnya pertarungan satu lawan satu seperti ini. Harusnya sedari tadi, aku harus serius padamu, Angin Senja!!" kata Dante yang mata merahnya terlihat menyala menembus asap debu.
Gumi memasang kuda-kuda bersiap menghadapi Dante yang kelihatannya lebih serius sekarang.
Pertarungan di tempat Miku kelihatannya sudah selesai dengan Luka dan Meiko sebagai pemenangnya mengalahkan June. June terkapar tak berdaya dihadapan 2 gadis itu.
"Selesai juga.." ucap Meiko yang terlihat sudah lelah.
Miku telrihat masih menutup matanya berusaha berkonsentrasi untuk mengaktifkan dance barunya.
"Miku-chan sepertinya tidak perlu menggunakan dance itu, lawannya sudah kalah." ujar Meiko.
"Beneran?" tanya Miku dengan mata masih terpejam.
"Iya, beneran." jawab Meiko.
Miku pun membuka matanya dan melihat June yang memang sudah dikalahkan oleh kedua senior nya itu.
"Hebat.. kalian mengalahkannya tanpa bantuanku. Lalu kenapa tadi aku harus panik mencoba menggunakan dance ku?" sahut Miku.
"Ya, kami tadinya mau lihat Miku-chan menggunakan dance Miku-chan yang baru, tapi karena kelamaan jadi kami kalahkan saja." jawab Luka.
"Jadi kalian tidak serius melawannya sejak awal?" tanya Miku.
"Maaf Miku-chan." ucap Meiko.
"Mmhh.." Miku cemberut sambil menggembungkan pipinya.
"Terus akan kita apakan dia? Sepertinya dia tidak bisa melarikan diri lagi sekarang." tanya Meiko.
"Memanggil polisi tidak akan ada gunanya saat ini. Karena dia memiliki kekuatan yang tak bisa ditangani oleh orang biasan." jawab Luka.
"Lalu apa yang akan Megurine-senpai lakukan?" tanya Miku.
"Aku tidak tahu. Kalau ada Ray-kun, pasti dia yang akan memikirkan solusinya." jawab Luka kemudian mencoba berpikir.
"Disaat seperti ini kira-kira apa yang akan Ray-kun lakukan?" ujar Luka dalam hati.
Tiba-tiba sesuatu terlepar melewati ketiga gadis itu. Hal itu membuat Luka terkejut. Sesuatu berwarna jingga itu menghantam tanah dan terseret ditanah sejauh 50 meter. Dan sesuatu juga jatuh tak jauh dari sana. Tepatnya di dekat June. Membuat jalan aspal itu hancur retak dan sedikit terangkat.
"Kau payah sekali, JB. Dikalahkan oleh seorang perempuan." ejek sosok bermata merah menyala yang jatuh didekat June.
"Masalahnya mereka bukan hanya seorang, tuan Lucifer." jawab June sambil meringis menahan sakit.
Asap debu pun menghilang menunjukan kalau sosok itu adalah Dante yang tampak tersenyum.
"Jadi maksudmu kau kalah karena dikeroyok? Hahaha.. boleh juga-boleh juga. Tapi tetap saja mereka itu perempuan. Sekuat apapun mereka, mereka takkan bisa mengalahkan kekuatan laki-laki." ujar Dante.
"Lu-Luka..-oneesama.." panggil Gumi dengan suara merintih kesakitan.
Luka yang mengenali suara itu, langsung menghampiri tempat jatuhnya sesuatu berwarna jingga tadi.
"Gumi-chan!" panggil Luka sambil berlari mendekat ke sosok jingga yang terbaring ditanah.
"Sudah kuduga, te-ternyata memang Luka-oneesama.." ujar sosok yang tak lain adalah Gumi itu mencoba bangkit.
"Jangan terlalu banyak bergerak. Biarkan aku membantumu.." kata Luka kemudian memapah Gumi menjauh dari tempat itu.
"Ma-maafkan aku.. aku tak bisa mengalahkannya.." jawab Gumi.
"Kenapa meminta maaf? Tentu saja Gumi-chan tidak bisa mengalahkannya. Sewaktu dia menggunakan 50% kekuatannya saja kita kewalahan menahannya. Apalagi dia sekarang menggunakan 100% kekuatannya." jelas Luka.
"Tapi seharusnya akulah yang mengalahkannya. Akulah yang harus mengalahkannya." ucap Gumi sambil menundukkan kepalanya.
Luka pun terdiam karena bingung harus menjawab apa. Dan setelah dirasa cukup jauh dari tempat pertarungan mereka, Luka pun meletakan tubuh Gumi disana.
"Diamlah disini, aku akan segera kembali." ujar Luka kemudian pergi meninggalkan Gumi.
"Kenapa Gumi-chan berkata seperti itu tadi? Kenapa dia begitu memaksa ingin mengalahkannya?" gumam Luka sambil berpikir.
"Lu-Luka-oneesama.." panggil Gumi.
Luka pun menoleh ke arah Gumi.
"Berhati-hatilah. Dance nya.. tak terkalahkan." sambung Gumi.
Luka sedikit kaget mendengar itu dari Gumi. Pasalnya Gumi itu adalah pemilik Dance terkuat diantara Miku dan yang lainnya. Tapi jika Gumi sampai berkata seperti itu, maka itu jadi masalah yang serius.
Dante berdiri dengan santai dihadapan Miku dan Meiko. Dia sepertinya tidak menganggap kedua gadis itu sebagai ancaman sama sekali.
"Sepertinya pelayanku tidak berguna sama sekali. Karena dia sudah gagal menjalankan perintahku. Aku terpaksa turun tangan sendiri. Karena itu, Hatsune Miku.. ikutlah denganku. Maka akan kupastikan kedua temanmu tidak akan terluka sama sekali." ujar Dante sambil menjulurkan tangannya ke depan.
"Miku-chan, jangan sampai percaya kata-katanya. Tidak ada jaminan dia akan menepati janjinya." ujar Meiko pada Miku.
"Tapi kalau begitu.." ucap Miku menoleh ke arah Meiko dengan wajah cemas.
"Percayalah padaku. Aku tidak selemah itu." ujar Meiko.
"Dance: Sakine-chan On Fire!" ucap Meiko mengaktifkan dance acceleration nya.
Pakaian Meiko berubah jadi lebih terang, dan roknya juga berubah desainnya.
"Oohh.. itu adalah dance yang waktu itu. Dance yang cukup menyulitkan. Tapi.." ujar Dante mengingat dance milik Meiko itu.
"..menyulitkan bukan berarti aku tidak bisa mengalahkannya!!!" ucap Dante bersiap menyerang.
Tekanan kekuatan Dante sangat terasa oleh Miku dan Meiko. Kekuatan yang sangat kuat dan meniup semua tanah dan debu bahkan batuan kerikil ikut terlempar akibat tekanan kekuatan Dante.
"Double Dragon Punch!" ucap Meiko memukulkan kedua tangannya ke depan secara bersamaan.
Dari ujung kedua tangan Meiko tertembaklah api berbentuk naga. Kedua naga itu kemudian berputar dan menjadi satu dan mengarah kepada Dante.
"Serangan seperti itu tidak akan mempan padaku." ujar Dante menahan api Meiko dengan sebelah tangannya.
Tapi dibelakang api yang menyembur padanya itu muncul hujan bola api yang melesat dengan cepat ke arah Dante.
"Hoho.. begitu rupanya." ucap Dante bersiap meninjukan tangan kanannya yang masih bebas itu.
"Dance: Brutal..!!" ucap Dante kemudian menyerang bola-bola api itu sambil tangan kiri dan kanannya bergantian menahan semburan api ke arahnya.
Saat semua bola api itu berhasil diserangnya, semburan api ke arah Dante pun berhenti. Dante pun dengan santai nya berdiri diantara api bekas serangan Meiko.
"Segitu saja?" tanya Dante.
"Bagaimana bisa dia menahan dua jenis serangan berbeda sekaligus? Monster kah?" pikir Meiko.
"Tidak, masih belum!" ucap Meiko kemudian mengepalkan kedua tangannya dan memunculkan api di kedua kepalan tangannya itu.
Dan kakinya pun tampak bertumpu ke tanah dan bersiap melakukan serangan pada Dante. Di kedua kakinya terlihat ada api yang keluar. Sambil melompat ke depan, api menyembur dengan kuat menambah kecepatan dan kekuatan lompatannya.
"Hahaha.. mau menyerangku secara langsung? Kau pasti bodoh!" ejek Dante.
Meiko pun melancarkan pukulannya dengan kuat ke arah wajah Dante, namun Dante bergerak ke samping sambil memiringkan tubuhnya menghindari pukulan Meiko yang terlihat menembakkan api. Dante kemudian membalas menendangkan lututnya ke arah lambung Meiko, dan Meiko menahannya dengan sikut lengan kirinya. Dante juga memukulkan tangan kirinya ke pipi kanan Meiko, dan Meiko menahannya dengan tangan kanannya. Tanpa jeda Dante mencoba menendang Meiko dengan kaki kirinya juga, Meiko mengalihkan tangan kirinya untuk menahan tendangan Dante. Tapi ternyata bersamaan dengant tendangan itu, Dante menggerakan tangan kanannya memukul ke leher bagian belakang Meiko. Meiko pun terdorong ke depan. Namun tidak berhenti disitu, Dante juga menendang punggung Meiko hingga Meiko terpental menghantam tiang listrik hingga patah dan kabel listriknya juga terputus.
"Meiko-san!!!" teriak Miku saat melihat Meiko dikalahkan dengan begitu cepatnya.
Miku tidak sadar ada kabel listrik yang mengarah padanya. Untung saja muncul pixie milik Luka yang menarik Miku mundur dan menyelamatkannya.
"Miku-chan, kamu tidak apa-apa?" tanya Luka yang baru muncul.
"Aku tidak apa-apa. Tapi.. Meiko-san.." sahut Miku.
"Meiko-chan?" ucap Luka menengok ke depan mencari Meiko.
Dan Luka pun terkejut saat melihat Meiko tergeletak di jalan.
"Jadi Meiko-chan juga dikalahkan. Terus aku harus bagaimana?" pikir Luka dengan sedikit panik.
Saat itu Kaito datang, tentu saja dengan sepeda pink nya yang moe-moe itu.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Kaito dengan kerennya berhenti di dekat tubuh Meiko yang tergeletak.
Tapi setelah melihat sepeda milik Kaito entah kenapa Luka dan Miku tidak terlihat senang dengan kedatangan Kaito. Mereka malah menatapnya dengan mata sipit yang malas.
"Hahaha.. sepedanya keren cuy!" ucap Dante sambil mengacungkan jempolnya.
"Ah.. sudah kuduga. Sepeda ini memang membawa dampak negatif kepadaku." ujar Kaito dengan suram.
"Kaito-kun, daripada suram disitu, bisakah kamu bawa Meiko-chan pergi sekarang!" pinta Luka.
"Meiko? Memangnya kenapa dengan Meiko?" tanya Kaito.
"Apa kamu rabun? Dia tepat didepanmu!" jawab Luka.
"Hah?" ucap Kaito kemudian menurunkan sedikit pandangannya.
"Me-Meiko!!!" teriak Kaito melompat dari sepedanya dan menghampiri tubuh Meiko.
Kaito pun membalikkan tubuh Meiko yang saat itu bertelungkup.
"Sial, dia tak sadarkan diri. Kalau begini susah untuk membawanya dengan sepeda." gumam Kaito.
"Kalau kau mau membawanya, bawa saja sana. Jangan mengganggu disini. Cepat pergi sana atau kalian berdua aku libas bersamaan." suruh Dante mengusir Kaito.
"Cih, beraninya kau melakukan ini pada Meiko. Takkan kumaafkan.." ucap Kaito terlihat kesal.
"Oohh.. jadi kau mau melawanku? Boleh. Akan kulayani. Tapi bersiaplah untuk tidak bisa pulang lagi." balas Dante.
"Tidak, Kaito-kun. Jangan melawannya! Dia bukan tandinganmu saat ini!" larang Luka.
"Jangan ikut campur, ini pertarungan antar laki-laki." sahut Dante.
"Instrument: Rainbow Piano!" ucap Luka memanggil piano nya.
"Rasakan ini! Pixie Party!!" sambung Luka mengeluarkan ratusan pixie dari melodi-melodi yang ia mainkan dengan cepat.
"Instrument: Devil Bone Guitar! Devilish Slash!" ucap Dante mengeluarkan gitarnya kemudian langsung menyerang Luka.
Kedua serangan saling bertubrukan dan saling mendorong satu sama lain.
"Masih belum!" ucap Luka kemudian memainkan melodi tambahan dengan tangan kirinya.
Ratusan pixie pun menyebar ke kiri dan ke kanan mengelilingin Dante dan kemudian melesat ke arahnya dari segala penjuru.
"Great Dark Flame Tower!" ucap Dante kemudian memainkan sebuah nada dan memutarkan gitarnya dan mengangkatnya ke atas.
Sebuah tornado api hitam pun terbentuk melindungi Dante dan menjulang tinggi ke angkasa.
"Black Fire Wave!" ucap Dante menghempaskan menara apinya ke segala arah.
Hempasan api itu sangat kuat hingga mendorong pixie milik Luka. Dan akhirnya Luka pun ikut terhempas dan ambruk di tanah. Dante memanfaatkan kesempatan itu untuk melompat dan berputar diudara.
"Devilish Slash!" ucap Dante menyambukkan api hitam ke arah Luka yang masih belum bangkit.
Luka terkejut dan tak bisa menghindar lagi.
"Megurine-senpai!" panggil Miku.
Sekilas sebelum api itu belum mengenainya, ada sepasang mata berwarna biru bercahaya terlihat lewat diantara kegelapan.
"Megurine!!" teriak Kaito.
Dan api hitam itu pun jatuh dan menghancurkan apapaun yang terkena olehnya. Miku melompat menjauh untuk menghindari efek hempasan serangan Dante itu.
"Me-Megurine-senpai.." ucap Miku terlihat shock.
"Hatsune! Cepat pergi dari sana!" suruh Kaito.
"Kaito-senpai.. tidak, aku tidak boleh meninggalkan Kaito-senpai disini sendirian. Aku harus menggunakan dance itu untuk mengalahkannya. Aku tidak boleh membiarkan Kaito-senpai terluka!" ujar Miku dalam hatinya sambil menatap tajam pada Dante.
"Oohh.. dari tatapanmu itu kelihatannya kau mau melawanku. Silahkan. Tapi bersiaplah untuk kalah." ujar Dante dengan percaya diri.
Miku memejamkan matanya dan berkonsentrasi.
"Bayangkan.. bayangkan bunga sakura berjatuhan dengan lembut. Rasakan angin musim semi yang berhempus menerpa diriku." ucap Miku dalam hati sambil tetap memejamkan matanya.
"Dance: Cherry Blossom Princess!" ucap Miku berhasil mengaktifkan dance acceleration.
"A-apa itu!?" ucap Dante terkejut.
Tampak bunga sakura disekitar Miku tertiup angin yang berputar mengelilinginya. Rambut dan pakaiannya pun berubah jadi berwarna pink.
To be continued..
"Instrument: Rainbow Piano!" ucap Luka.
Dan diluar dugaan ternyata dia berhasil mengeluarkan instrument nya.
"Apa!? Mengeluarkan instrument dalam keadaan dance aktif?!" ucap June terkejut.
"Tidak kusangka akan berhasil. Ray-kun pasti kaget kalau melihat ini." ujar Luka dalam hati tampak senang.
"Meiko-chan, aku akan menjaga bagian belakangmu. Jangan ragu untuk menyerangnya." kata Luka pada Meiko.
"Baiklah kalau begitu. Mohon bantuannya.." ujar Meiko kemudian berlari ke arah June.
"Untuk saat ini aku belum bisa menggunakan Pyramid of Light lagi. Energi kegelapanku tidak cukup untuk itu. Tapi aku masih bisa menggunakan Darkness Numb Step." ujar June dalam hati saat melihat Meiko berlari ke arahnya.
Dengan membuat dirinya berwarna negatif, June menghilang dari hadapan Meiko. Dan dalam sekejap sudah ada di samping Luka bersiap untuk melakukan tendangan.
"Ternyata benar, itu bukan teleportasi. Dia hanya memperlambat waktu disekitarnya saja. Cukup lambat untuk membuat dia seperti menghilang. Tapi berkat latihan berpikir oleh Ray-kun pada saat liburan musim panas lalu, akupun bisa membuat pikiranku lebih cepat daripada waktu." ujar Luka mulai melirikkan matanya ke arah June.
"Ti-tidak mungkin?!!" ucap June dalam hati terkejut Luka tak terpengaruh oleh kekuatannya.
Luka menangkap kaki June yang ditendangkan ke arahnya, kemudian sambil menendang kaki tumpu June, Luka mengayunkan tubuh June dan membantingnya ke arah Meiko. Meiko yang berbalik karena menebak June ada dibelakangnya dikagetkan oleh June yang terlempar ke arahnya. Kemudian dengan pukulan yang keras, Meiko menghantam June ke tanah dengan tinju apinya.
"A-ada apa ini!!?? Aku tak tahu dia sehebat itu??!! Dia hampir seperti The White Light!" ucap June dalam hati tampak kesakitan dan mulutnya menyemburkan darah saat dipukul ke tanah.
June melirik ke arah Luka yang menatap tajam seperti Ray. Pukulan Meiko yang sangat kuat membuat suara dentuman yang keras hingga terdengar ke tempat Gumi dan Dante bertarung. Tampaknya mereka sudah tidak berada di sekitar akademi Voca lagi.
"Sepertinya JB benar-benar dalam masalah disana." ucap Dante dengan santai berdiri melihat ke arah asap pekat dilangit.
"Hei, jangan melihat ke arah lain saat bertarung dengaku." ujar Gumi yang tampak sudah luka-luka.
Di sekitar Gumi tampak banyak bekas ledakan dan bekas terbakar. Tubuh Gumi pun banyak mengalami lecet dan lebam. Jauh berbeda dengan Dante yang tampak tak tergores sedikitpun.
"Apa dia memang selalu sehebat itu? Bahkan kecepatan ekstrim milikku saat ini tidak berpengaruh sama sekali padanya." kata Gumi dalam hati.
"Perlukah kita lanjutkan atau kamu mau mundur dulu memanggil bantuan?" tawar Dante tanpa menoleh ke arah Gumi.
"Tentu saja harus dilanjutkan. A-aku masih sanggup bertarung." jawab Gumi sambil menatap Dante dengan penuh keyakinan.
"Tapi kupikir sudah cukup. Dengan tubuhmu dan kemampuanmu saat ini mau bagaimana kerasnya pun kamu berusaha, kamu takkan pernah bisa menggapaiku, Megupo." ujar Dante menoleh ke arah Gumi.
"Jangan remehkan aku! Bukankah dulu kamu bilang kalau yang mengalahkanmu adalah aku? Karena itu hanya akulah yang akan bisa mengalahkanmu!" bentak Gumi.
"Itu kan dulu. Sekarang beda lagi." sahut June.
Gumi menghilang dan muncul tepat di depan Dante dengan telapak kakinya hampir menyentuh wajah Dante. Namun tak ada keterkejutan sedikitpun di wajah Dante. Dengan santainya dia menangkap kaki Gumi. Tapi Dante dibuat terkejut oleh hal lain. Ternyata kaki yang ia tangkap tidak nyata. Itu hanyalah bayangan Gumi. Gumi sudah menunduk dan bersiap menendang ke ke atas. Dante berusaha mengubah posisi ke posisi bertahan, namun tiba-tiba dia terdorong ke depan. Dante terkejut bukan main saat itu. Ternyata Gumi menendang kepala Dante dari belakang. Dan sambil masih berada di udara Gumi berputar dan menendang punggung Dante dengan keras. Dante terpental jauh sambil berguling-guling seperti ban diatas tanah kemudian menghantam sebuah tiang lampu hingga hancur.
"Hahahaha.. hahahaha.. benar-benar hebat. Harusnya ini hanyalah pemanasan. Tapi tak kusangka kau bisa membuatku harus bertarung serius." ujar Dante dibalik asap debu yang menutup tubuhnya.
"Sudah kubilang kan? Menganggapku sebagai pemanasan akan membuatmu kecewa. Aku akan mengalahkanmu!" balas Gumi.
"Ya.. ya.. kenapa aku bisa lupa, kaulah yang telah mengalahkanku waktu itu. Kau juga yang membuatku pertama kali merasakan senangnya pertarungan satu lawan satu seperti ini. Harusnya sedari tadi, aku harus serius padamu, Angin Senja!!" kata Dante yang mata merahnya terlihat menyala menembus asap debu.
Gumi memasang kuda-kuda bersiap menghadapi Dante yang kelihatannya lebih serius sekarang.
Pertarungan di tempat Miku kelihatannya sudah selesai dengan Luka dan Meiko sebagai pemenangnya mengalahkan June. June terkapar tak berdaya dihadapan 2 gadis itu.
"Selesai juga.." ucap Meiko yang terlihat sudah lelah.
Miku telrihat masih menutup matanya berusaha berkonsentrasi untuk mengaktifkan dance barunya.
"Miku-chan sepertinya tidak perlu menggunakan dance itu, lawannya sudah kalah." ujar Meiko.
"Beneran?" tanya Miku dengan mata masih terpejam.
"Iya, beneran." jawab Meiko.
Miku pun membuka matanya dan melihat June yang memang sudah dikalahkan oleh kedua senior nya itu.
"Hebat.. kalian mengalahkannya tanpa bantuanku. Lalu kenapa tadi aku harus panik mencoba menggunakan dance ku?" sahut Miku.
"Ya, kami tadinya mau lihat Miku-chan menggunakan dance Miku-chan yang baru, tapi karena kelamaan jadi kami kalahkan saja." jawab Luka.
"Jadi kalian tidak serius melawannya sejak awal?" tanya Miku.
"Maaf Miku-chan." ucap Meiko.
"Mmhh.." Miku cemberut sambil menggembungkan pipinya.
"Terus akan kita apakan dia? Sepertinya dia tidak bisa melarikan diri lagi sekarang." tanya Meiko.
"Memanggil polisi tidak akan ada gunanya saat ini. Karena dia memiliki kekuatan yang tak bisa ditangani oleh orang biasan." jawab Luka.
"Lalu apa yang akan Megurine-senpai lakukan?" tanya Miku.
"Aku tidak tahu. Kalau ada Ray-kun, pasti dia yang akan memikirkan solusinya." jawab Luka kemudian mencoba berpikir.
"Disaat seperti ini kira-kira apa yang akan Ray-kun lakukan?" ujar Luka dalam hati.
Tiba-tiba sesuatu terlepar melewati ketiga gadis itu. Hal itu membuat Luka terkejut. Sesuatu berwarna jingga itu menghantam tanah dan terseret ditanah sejauh 50 meter. Dan sesuatu juga jatuh tak jauh dari sana. Tepatnya di dekat June. Membuat jalan aspal itu hancur retak dan sedikit terangkat.
"Kau payah sekali, JB. Dikalahkan oleh seorang perempuan." ejek sosok bermata merah menyala yang jatuh didekat June.
"Masalahnya mereka bukan hanya seorang, tuan Lucifer." jawab June sambil meringis menahan sakit.
Asap debu pun menghilang menunjukan kalau sosok itu adalah Dante yang tampak tersenyum.
"Jadi maksudmu kau kalah karena dikeroyok? Hahaha.. boleh juga-boleh juga. Tapi tetap saja mereka itu perempuan. Sekuat apapun mereka, mereka takkan bisa mengalahkan kekuatan laki-laki." ujar Dante.
"Lu-Luka..-oneesama.." panggil Gumi dengan suara merintih kesakitan.
Luka yang mengenali suara itu, langsung menghampiri tempat jatuhnya sesuatu berwarna jingga tadi.
"Gumi-chan!" panggil Luka sambil berlari mendekat ke sosok jingga yang terbaring ditanah.
"Sudah kuduga, te-ternyata memang Luka-oneesama.." ujar sosok yang tak lain adalah Gumi itu mencoba bangkit.
"Jangan terlalu banyak bergerak. Biarkan aku membantumu.." kata Luka kemudian memapah Gumi menjauh dari tempat itu.
"Ma-maafkan aku.. aku tak bisa mengalahkannya.." jawab Gumi.
"Kenapa meminta maaf? Tentu saja Gumi-chan tidak bisa mengalahkannya. Sewaktu dia menggunakan 50% kekuatannya saja kita kewalahan menahannya. Apalagi dia sekarang menggunakan 100% kekuatannya." jelas Luka.
"Tapi seharusnya akulah yang mengalahkannya. Akulah yang harus mengalahkannya." ucap Gumi sambil menundukkan kepalanya.
Luka pun terdiam karena bingung harus menjawab apa. Dan setelah dirasa cukup jauh dari tempat pertarungan mereka, Luka pun meletakan tubuh Gumi disana.
"Diamlah disini, aku akan segera kembali." ujar Luka kemudian pergi meninggalkan Gumi.
"Kenapa Gumi-chan berkata seperti itu tadi? Kenapa dia begitu memaksa ingin mengalahkannya?" gumam Luka sambil berpikir.
"Lu-Luka-oneesama.." panggil Gumi.
Luka pun menoleh ke arah Gumi.
"Berhati-hatilah. Dance nya.. tak terkalahkan." sambung Gumi.
Luka sedikit kaget mendengar itu dari Gumi. Pasalnya Gumi itu adalah pemilik Dance terkuat diantara Miku dan yang lainnya. Tapi jika Gumi sampai berkata seperti itu, maka itu jadi masalah yang serius.
Dante berdiri dengan santai dihadapan Miku dan Meiko. Dia sepertinya tidak menganggap kedua gadis itu sebagai ancaman sama sekali.
"Sepertinya pelayanku tidak berguna sama sekali. Karena dia sudah gagal menjalankan perintahku. Aku terpaksa turun tangan sendiri. Karena itu, Hatsune Miku.. ikutlah denganku. Maka akan kupastikan kedua temanmu tidak akan terluka sama sekali." ujar Dante sambil menjulurkan tangannya ke depan.
"Miku-chan, jangan sampai percaya kata-katanya. Tidak ada jaminan dia akan menepati janjinya." ujar Meiko pada Miku.
"Tapi kalau begitu.." ucap Miku menoleh ke arah Meiko dengan wajah cemas.
"Percayalah padaku. Aku tidak selemah itu." ujar Meiko.
"Dance: Sakine-chan On Fire!" ucap Meiko mengaktifkan dance acceleration nya.
Pakaian Meiko berubah jadi lebih terang, dan roknya juga berubah desainnya.
"Oohh.. itu adalah dance yang waktu itu. Dance yang cukup menyulitkan. Tapi.." ujar Dante mengingat dance milik Meiko itu.
"..menyulitkan bukan berarti aku tidak bisa mengalahkannya!!!" ucap Dante bersiap menyerang.
Tekanan kekuatan Dante sangat terasa oleh Miku dan Meiko. Kekuatan yang sangat kuat dan meniup semua tanah dan debu bahkan batuan kerikil ikut terlempar akibat tekanan kekuatan Dante.
"Double Dragon Punch!" ucap Meiko memukulkan kedua tangannya ke depan secara bersamaan.
Dari ujung kedua tangan Meiko tertembaklah api berbentuk naga. Kedua naga itu kemudian berputar dan menjadi satu dan mengarah kepada Dante.
"Serangan seperti itu tidak akan mempan padaku." ujar Dante menahan api Meiko dengan sebelah tangannya.
Tapi dibelakang api yang menyembur padanya itu muncul hujan bola api yang melesat dengan cepat ke arah Dante.
"Hoho.. begitu rupanya." ucap Dante bersiap meninjukan tangan kanannya yang masih bebas itu.
"Dance: Brutal..!!" ucap Dante kemudian menyerang bola-bola api itu sambil tangan kiri dan kanannya bergantian menahan semburan api ke arahnya.
Saat semua bola api itu berhasil diserangnya, semburan api ke arah Dante pun berhenti. Dante pun dengan santai nya berdiri diantara api bekas serangan Meiko.
"Segitu saja?" tanya Dante.
"Bagaimana bisa dia menahan dua jenis serangan berbeda sekaligus? Monster kah?" pikir Meiko.
"Tidak, masih belum!" ucap Meiko kemudian mengepalkan kedua tangannya dan memunculkan api di kedua kepalan tangannya itu.
Dan kakinya pun tampak bertumpu ke tanah dan bersiap melakukan serangan pada Dante. Di kedua kakinya terlihat ada api yang keluar. Sambil melompat ke depan, api menyembur dengan kuat menambah kecepatan dan kekuatan lompatannya.
"Hahaha.. mau menyerangku secara langsung? Kau pasti bodoh!" ejek Dante.
Meiko pun melancarkan pukulannya dengan kuat ke arah wajah Dante, namun Dante bergerak ke samping sambil memiringkan tubuhnya menghindari pukulan Meiko yang terlihat menembakkan api. Dante kemudian membalas menendangkan lututnya ke arah lambung Meiko, dan Meiko menahannya dengan sikut lengan kirinya. Dante juga memukulkan tangan kirinya ke pipi kanan Meiko, dan Meiko menahannya dengan tangan kanannya. Tanpa jeda Dante mencoba menendang Meiko dengan kaki kirinya juga, Meiko mengalihkan tangan kirinya untuk menahan tendangan Dante. Tapi ternyata bersamaan dengant tendangan itu, Dante menggerakan tangan kanannya memukul ke leher bagian belakang Meiko. Meiko pun terdorong ke depan. Namun tidak berhenti disitu, Dante juga menendang punggung Meiko hingga Meiko terpental menghantam tiang listrik hingga patah dan kabel listriknya juga terputus.
"Meiko-san!!!" teriak Miku saat melihat Meiko dikalahkan dengan begitu cepatnya.
Miku tidak sadar ada kabel listrik yang mengarah padanya. Untung saja muncul pixie milik Luka yang menarik Miku mundur dan menyelamatkannya.
"Miku-chan, kamu tidak apa-apa?" tanya Luka yang baru muncul.
"Aku tidak apa-apa. Tapi.. Meiko-san.." sahut Miku.
"Meiko-chan?" ucap Luka menengok ke depan mencari Meiko.
Dan Luka pun terkejut saat melihat Meiko tergeletak di jalan.
"Jadi Meiko-chan juga dikalahkan. Terus aku harus bagaimana?" pikir Luka dengan sedikit panik.
Saat itu Kaito datang, tentu saja dengan sepeda pink nya yang moe-moe itu.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Kaito dengan kerennya berhenti di dekat tubuh Meiko yang tergeletak.
Tapi setelah melihat sepeda milik Kaito entah kenapa Luka dan Miku tidak terlihat senang dengan kedatangan Kaito. Mereka malah menatapnya dengan mata sipit yang malas.
"Hahaha.. sepedanya keren cuy!" ucap Dante sambil mengacungkan jempolnya.
"Ah.. sudah kuduga. Sepeda ini memang membawa dampak negatif kepadaku." ujar Kaito dengan suram.
"Kaito-kun, daripada suram disitu, bisakah kamu bawa Meiko-chan pergi sekarang!" pinta Luka.
"Meiko? Memangnya kenapa dengan Meiko?" tanya Kaito.
"Apa kamu rabun? Dia tepat didepanmu!" jawab Luka.
"Hah?" ucap Kaito kemudian menurunkan sedikit pandangannya.
"Me-Meiko!!!" teriak Kaito melompat dari sepedanya dan menghampiri tubuh Meiko.
Kaito pun membalikkan tubuh Meiko yang saat itu bertelungkup.
"Sial, dia tak sadarkan diri. Kalau begini susah untuk membawanya dengan sepeda." gumam Kaito.
"Kalau kau mau membawanya, bawa saja sana. Jangan mengganggu disini. Cepat pergi sana atau kalian berdua aku libas bersamaan." suruh Dante mengusir Kaito.
"Cih, beraninya kau melakukan ini pada Meiko. Takkan kumaafkan.." ucap Kaito terlihat kesal.
"Oohh.. jadi kau mau melawanku? Boleh. Akan kulayani. Tapi bersiaplah untuk tidak bisa pulang lagi." balas Dante.
"Tidak, Kaito-kun. Jangan melawannya! Dia bukan tandinganmu saat ini!" larang Luka.
"Jangan ikut campur, ini pertarungan antar laki-laki." sahut Dante.
"Instrument: Rainbow Piano!" ucap Luka memanggil piano nya.
"Rasakan ini! Pixie Party!!" sambung Luka mengeluarkan ratusan pixie dari melodi-melodi yang ia mainkan dengan cepat.
"Instrument: Devil Bone Guitar! Devilish Slash!" ucap Dante mengeluarkan gitarnya kemudian langsung menyerang Luka.
Kedua serangan saling bertubrukan dan saling mendorong satu sama lain.
"Masih belum!" ucap Luka kemudian memainkan melodi tambahan dengan tangan kirinya.
Ratusan pixie pun menyebar ke kiri dan ke kanan mengelilingin Dante dan kemudian melesat ke arahnya dari segala penjuru.
"Great Dark Flame Tower!" ucap Dante kemudian memainkan sebuah nada dan memutarkan gitarnya dan mengangkatnya ke atas.
Sebuah tornado api hitam pun terbentuk melindungi Dante dan menjulang tinggi ke angkasa.
"Black Fire Wave!" ucap Dante menghempaskan menara apinya ke segala arah.
Hempasan api itu sangat kuat hingga mendorong pixie milik Luka. Dan akhirnya Luka pun ikut terhempas dan ambruk di tanah. Dante memanfaatkan kesempatan itu untuk melompat dan berputar diudara.
"Devilish Slash!" ucap Dante menyambukkan api hitam ke arah Luka yang masih belum bangkit.
Luka terkejut dan tak bisa menghindar lagi.
"Megurine-senpai!" panggil Miku.
Sekilas sebelum api itu belum mengenainya, ada sepasang mata berwarna biru bercahaya terlihat lewat diantara kegelapan.
"Megurine!!" teriak Kaito.
Dan api hitam itu pun jatuh dan menghancurkan apapaun yang terkena olehnya. Miku melompat menjauh untuk menghindari efek hempasan serangan Dante itu.
"Me-Megurine-senpai.." ucap Miku terlihat shock.
"Hatsune! Cepat pergi dari sana!" suruh Kaito.
"Kaito-senpai.. tidak, aku tidak boleh meninggalkan Kaito-senpai disini sendirian. Aku harus menggunakan dance itu untuk mengalahkannya. Aku tidak boleh membiarkan Kaito-senpai terluka!" ujar Miku dalam hatinya sambil menatap tajam pada Dante.
"Oohh.. dari tatapanmu itu kelihatannya kau mau melawanku. Silahkan. Tapi bersiaplah untuk kalah." ujar Dante dengan percaya diri.
Miku memejamkan matanya dan berkonsentrasi.
"Bayangkan.. bayangkan bunga sakura berjatuhan dengan lembut. Rasakan angin musim semi yang berhempus menerpa diriku." ucap Miku dalam hati sambil tetap memejamkan matanya.
"Dance: Cherry Blossom Princess!" ucap Miku berhasil mengaktifkan dance acceleration.
"A-apa itu!?" ucap Dante terkejut.
Tampak bunga sakura disekitar Miku tertiup angin yang berputar mengelilinginya. Rambut dan pakaiannya pun berubah jadi berwarna pink.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.