Memo, chapter 45 - Ekskul Sastra 3
Di ruang ekskul sastra sepulang sekolah, Arya terlihat membawa Shinta. Dan Sindy berdiri menyambut mereka. Tapi entah kenapa saat ini suasananya terlihat canggung.
"Di-dia cantik.." ucap Sindy dan Shinta saat memperhatikan satu sama lain.
"Baiklah akan ku perkenalkan, namanya Shinta. Dia dari kelas X-1. Kelas yang sama denganku." ujar Arya.
"Sa-salam kenal.. Aku Sindy. Aku ketua ekskul sastra saat ini. Aku dari kelas XI IPA 1." kata Sindy.
"Sa-salam kenal juga.." sahut Shinta dengan sedikit gugup.
"Kenapa kalian berdua terlihat gugup begitu. Kalian kan sama-sama perempuan, jadi tak ada alasan untuk gugup." ujar Arya.
"Baca situasinya dong! Kita tidak mungkin tidak gugup kalau dikenalkan pada gadis cantik oleh seorang laki-laki." ujar Sindy dan Shinta dalam hati mereka.
"Hmm.. ya sudahlah. Kalau begitu bagaimana menurut senior. Dia boleh kan masuk ke ekskul kita?" tanya Arya.
"Ooh.. jadi apa kamu bisa menulis?" tanya Sindy pada Shinta.
"Ti-tidak. Aku tidak bisa menulis kok. Tapi kata Arya aku boleh masuk meskipun tidak bisa menulis cerita." jawab Shinta.
"Oohh.. jadi begitu. Apa dia juga mengatakan kalau sastra itu bukan sekedar menulis juga?" tanya Sindy lagi.
"Hmm.. benar. Darimana senior tahu?" tanya balik Shinta.
"Dia memang selalu seperti itu. Dia selalu punya pandangan berbeda akan segala sesuatu." jawab Sindy.
"Ya.. senior ada benarnya juga. Dia selalu punya pendapat yang berbeda dengan yang lainnya. Bahkan saat MOS sekalipun waktu mengalahkan kapten tim basket." tambah Shinta.
"Ya benar sekali. Kita rupanya sependapat." sahut Sindy.
Mereka berdua saling menganggukan kepala masing-masing.
"Aku kaget mereka bisa akrab secepat itu." gumam Arya.
"Kalau begitu kamu boleh gabung dengan ekskul sastra." ujar Sindy.
"Benarkah?" tanya Shinta.
"Ya. Aku akan segera memberitahukannya pada guru pembimbing nanti." jawab Sindy.
"Asik. Aku akhirnya bisa gabung ekskul juga. Meskipun bukan ekskul olahraga." ucap Shinta.
"Lho, kamu memang tadinya mau masuk ekskul olahraga?" tanya Sindy.
"Hmm.. iya. Tapi aku bingung mau masuk ekskul yang mana. Dan tiba-tiba Arya menawariku masuk ekskul sastra." jawab Shinta.
"Eh, kenapa kamu malah menerima tawaran Arya?" tanya Sindy lagi.
"Hmm.. kenapa ya?" ucap Shinta sambil berpikir.
"Soalnya daripada bingung memilih salah satu, kenapa tidak pilih sesuatu yang berbeda saja sekalian. Lagipula kamu suka segala jenis olahraga kan? Jadi lebih baik masuk ke ekskul yang bukan olahraga. Karena olahraga bisa dilakukan kapan saja. Ditambah ada pelajarannya juga kan." jelas Arya.
"Hmm.. iya juga sih." sahut Shinta.
"Eh.. bilang saja kamu ingin nambah anggota perempuan supaya kamu bisa merasakan dikelilingi gadis cantik." goda Sindy mendekatkan mulutnya ke telinga Arya.
"Ti-tidak mungkin lah. Aku bukan tipe lelaki seperti itu!" bantah Arya dengan wajah memerah sambil menjauh dari Sindy.
"Ya, benar juga. Kamu memang bukan tipe lelaki seperti itu. Kamu benar-benar berbeda." ujar Sindy dengan suara pelan sambil tersenyum.
"Ada apa senior?" tanya Arya.
"Bukan apa-apa." sahut Sindy.
"Terima kasih sudah menerimaku menjadi anggota ekskul sastra. Mohon bimbingannya." ucap Shinta.
"Ya." sahut Sindy.
"Dan juga terima kasih sudah mengajakku bergabung, Arya." tambah Shinta dengan wajah sedikit memerah.
"Tak usah dipikirkan." sahut Arya sambil tersenyum.
"Tapi, aku tak menyangka dia bersedia mengajak seseorang bergabung dengan ekskul sastra. Apa dia.. sudah mengetahuinya?" ujar Sindy dalam hatinya dengan tatapan sedih.
"Itu tidak mungkin. Mungkin, dia hanya ingin ruangan ini sedikit lebih ramai saja. Karena.. selama ini.. hanya ada kami berdua saja." sambung Sindy dalam hatinya sambil tersenyum.
Sindy pun berbalik kembali ke tempat duduknya. Tampak senyumannya semakin memudar. Sambil membuka laptopnya, Sindy melirik ke arah Arya yang tampak akrab berbicara dengan Shinta.
Catatan hari ini:
Karena kurangnya perhatian mungkin lumut mulai tumbuh.
"Di-dia cantik.." ucap Sindy dan Shinta saat memperhatikan satu sama lain.
"Baiklah akan ku perkenalkan, namanya Shinta. Dia dari kelas X-1. Kelas yang sama denganku." ujar Arya.
"Sa-salam kenal.. Aku Sindy. Aku ketua ekskul sastra saat ini. Aku dari kelas XI IPA 1." kata Sindy.
"Sa-salam kenal juga.." sahut Shinta dengan sedikit gugup.
"Kenapa kalian berdua terlihat gugup begitu. Kalian kan sama-sama perempuan, jadi tak ada alasan untuk gugup." ujar Arya.
"Baca situasinya dong! Kita tidak mungkin tidak gugup kalau dikenalkan pada gadis cantik oleh seorang laki-laki." ujar Sindy dan Shinta dalam hati mereka.
"Hmm.. ya sudahlah. Kalau begitu bagaimana menurut senior. Dia boleh kan masuk ke ekskul kita?" tanya Arya.
"Ooh.. jadi apa kamu bisa menulis?" tanya Sindy pada Shinta.
"Ti-tidak. Aku tidak bisa menulis kok. Tapi kata Arya aku boleh masuk meskipun tidak bisa menulis cerita." jawab Shinta.
"Oohh.. jadi begitu. Apa dia juga mengatakan kalau sastra itu bukan sekedar menulis juga?" tanya Sindy lagi.
"Hmm.. benar. Darimana senior tahu?" tanya balik Shinta.
"Dia memang selalu seperti itu. Dia selalu punya pandangan berbeda akan segala sesuatu." jawab Sindy.
"Ya.. senior ada benarnya juga. Dia selalu punya pendapat yang berbeda dengan yang lainnya. Bahkan saat MOS sekalipun waktu mengalahkan kapten tim basket." tambah Shinta.
"Ya benar sekali. Kita rupanya sependapat." sahut Sindy.
Mereka berdua saling menganggukan kepala masing-masing.
"Aku kaget mereka bisa akrab secepat itu." gumam Arya.
"Kalau begitu kamu boleh gabung dengan ekskul sastra." ujar Sindy.
"Benarkah?" tanya Shinta.
"Ya. Aku akan segera memberitahukannya pada guru pembimbing nanti." jawab Sindy.
"Asik. Aku akhirnya bisa gabung ekskul juga. Meskipun bukan ekskul olahraga." ucap Shinta.
"Lho, kamu memang tadinya mau masuk ekskul olahraga?" tanya Sindy.
"Hmm.. iya. Tapi aku bingung mau masuk ekskul yang mana. Dan tiba-tiba Arya menawariku masuk ekskul sastra." jawab Shinta.
"Eh, kenapa kamu malah menerima tawaran Arya?" tanya Sindy lagi.
"Hmm.. kenapa ya?" ucap Shinta sambil berpikir.
"Soalnya daripada bingung memilih salah satu, kenapa tidak pilih sesuatu yang berbeda saja sekalian. Lagipula kamu suka segala jenis olahraga kan? Jadi lebih baik masuk ke ekskul yang bukan olahraga. Karena olahraga bisa dilakukan kapan saja. Ditambah ada pelajarannya juga kan." jelas Arya.
"Hmm.. iya juga sih." sahut Shinta.
"Eh.. bilang saja kamu ingin nambah anggota perempuan supaya kamu bisa merasakan dikelilingi gadis cantik." goda Sindy mendekatkan mulutnya ke telinga Arya.
"Ti-tidak mungkin lah. Aku bukan tipe lelaki seperti itu!" bantah Arya dengan wajah memerah sambil menjauh dari Sindy.
"Ya, benar juga. Kamu memang bukan tipe lelaki seperti itu. Kamu benar-benar berbeda." ujar Sindy dengan suara pelan sambil tersenyum.
"Ada apa senior?" tanya Arya.
"Bukan apa-apa." sahut Sindy.
"Terima kasih sudah menerimaku menjadi anggota ekskul sastra. Mohon bimbingannya." ucap Shinta.
"Ya." sahut Sindy.
"Dan juga terima kasih sudah mengajakku bergabung, Arya." tambah Shinta dengan wajah sedikit memerah.
"Tak usah dipikirkan." sahut Arya sambil tersenyum.
"Tapi, aku tak menyangka dia bersedia mengajak seseorang bergabung dengan ekskul sastra. Apa dia.. sudah mengetahuinya?" ujar Sindy dalam hatinya dengan tatapan sedih.
"Itu tidak mungkin. Mungkin, dia hanya ingin ruangan ini sedikit lebih ramai saja. Karena.. selama ini.. hanya ada kami berdua saja." sambung Sindy dalam hatinya sambil tersenyum.
Sindy pun berbalik kembali ke tempat duduknya. Tampak senyumannya semakin memudar. Sambil membuka laptopnya, Sindy melirik ke arah Arya yang tampak akrab berbicara dengan Shinta.
Catatan hari ini:
Karena kurangnya perhatian mungkin lumut mulai tumbuh.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.