VocaWorld, chapter 160 - Musuh Tak Terduga

Di akademi Voca yang masih melanjutkan proses belajar dan mengajarnya dikejutkan oleh hancurnya beberapa kelas dan koridor kelas 1.
"A-ada apa ini?" ucap Miku kaget melihat kelasnya lah yang rusak paling parah.
"Ah, kurang ajar nih yang ngerusakin. Kalau ketemu harus kita hajar nih." ujar ketua kelas tampak kesal.
"Kira-kira siapa ya pelaku yang merusak kelas kita, Gumi-chan?" tanya Miku pada Gumi yang berada disebelahnya.
"Hahaha.. siapa ya.." sahut Gumi dengan grogi mengalihkan pandangannya dengan perlahan.
"Pokoknya kalau sampai ketemu bakalan aku hajar dengan menggunakan dance baruku." ujar Miku sambil mengambil kuda-kuda.
"Y-ya.." sahut Gumi yang tampak tersenyum malas.
Tak lama kemudian terdengar suara tanda akan adanya sebuah pengumuman di speaker.
"Bagi semua siswa, untuk sementara kalian diliburkan selama perbaikan kelas. Sekali lagi bagi semua siswa, untuk sementara kalian diliburkan selama perbaikan kelas. Silahkan belajar di rumah masing-masing." ujar seorang guru melalui speaker.
"Jadi kita diliburkan? Tapi kenapa kelas 2 dan 3 juga?" tanya Miku yang tidak mengerti.
"Hmm.. memang yang rusak hanya kelas 1 saja, tapi.. untuk meminimalisir kemungkinan jatuhnya korban." jelas Gumi.
"Oohh.. begitu ya." sahut Miku.
"Tapi untung saja kita diliburkan. Jadi kita bisa melawan Pangeran Kegelapan dengan tenang." ujar Luka datang menghampiri Miku dan Gumi yang berdebat di depan kelas.
Di belakangnya Meiko dan Kaito tampak mengikuti Luka.
"Tapi mereka juga belum tentu meskipun berada di rumah sekalipun." kata Gumi.
"Ya, itu memang benar. Tapi mereka juga tak mungkin menyerang penduduk tanpa alasan bukan. Mereka akan mendahulukan mengincar kita. Mereka takkan mengambil resiko memancing amarah kita semua dan amarah Ray-kun." jelas Luka.
"Tapi bukannya kekuatan Shiro-san sudah menghilang? Kenapa mereka masih menganggapnya sebagai ancaman?" tanya Meiko.
"Tapi tidak ada satupun yang benar-benar percaya kalau kekuatan Ray-kun benar-benar menghilang. Bahkan Pangeran Kegelapan sekalipun." jawab Luka.
"Hah? Maksudnya?" tanya Meiko.
"Kalian tahu kekuatan terbesar Ray-kun kan? Itu adalah.. otaknya." jawab Luka dengan percaya diri sambil menunjuk kepala nya.
"Ya, benar juga. Dulu juga kita dibuat kerepotan oleh nya yang melatih kita dengan cara membuatnya menjadi seperti musuh kita." ujar Gumi.
"Hmm.. benar juga. Kita tidak pernah bisa menang melawannya. Karena sebenarnya semua kemenangan kita saat itu adalah kemenangannya." sambung Luka.
"Kalau dia memang sehebat itu, harusnya dia bisa membantu kita mengalahkan Pangeran Kegelapan. Tapi kenapa dia malah meninggalkan kita?" tanya Miku.
"Untuk membahas itu, sebaiknya kita bicarakan di tempat yang lebih baik kan?" sahut Luka kemudian berjalan dimuka.
"Aku akan menghubungi Rin-chan dan Len-chan dulu. Aku akan menyuruh mereka untuk langsung pulang setelah sekolah selesai." ujar Meiko mengeluarkan ponselnya.
"Kelihatannya Megurine sudah kembali ke dirinya yang dulu." ujar Kaito melirik ke Meiko.
"Ya, itu bagus kan? Karena itu, setidaknya dia bisa memimpin kita menggantikan posisi yang ditinggalkan Shiro-san." jawab Meiko.
"Menggantikan posisi Shiro?" ucap Kaito.
"Ya, memang hanya dia saja kan yang bisa. Orang yang paling dipercaya oleh Shiro-san." jawab Meiko menatap Luka.
Kaito pun mengerti saat melihat ke arah Luka dan melihat betapa tenangnya Luka saat itu. Kaito tersenyum setelah mengetahui hal itu.

Di pinggir lautan, Ray sedang memancing sambil duduk diatas batu karang. Dia terlihat santai dan menikmati pemandangan laut saat itu.
"Sebelum semuanya jadi membeku, setidaknya aku harus merasakan hangatnya angin yang berhembus di pantai saat ini. Tapi aku terkejut, angin apa sebenarnya yang telah membuatmu menerima tawaranku untuk bertemu disini, nona pirang?" ujar Ray kemudian menoleh ke belakang.
"The White Light tiba-tiba mengetuk pintuku dan meninggalkan sebuah surat yang memerintahkanku datang ke tempat ini, tak mungkin aku bisa mengabaikannya. Jadi apa yang ingin kamu bicarakan denganku, wahai musuhku yang hina?" balas sosok perempuan berusia 18 tahun berambut ikal berwarna pirang.
Rambut pirang, mata biru muda, kulit putih, dengan gaun gaya eropa abad pertengahan, membuat perempuan itu terlihat seperti seorang ratu.
"Aku sudah tahu, alasanmu datang kota ini dan kenapa kamu masih bertahan disini sampai sekarang." kata Ray sambil melihat ke depan lagi.
"Jangan mengada-ngada. Kamu tak mungkin tahu alasanku kemari. Lagipula bertemu denganku sendirian adalah pilihan yang bodoh!" bentak perempuan itu melompat ke arah Ray.
"Setidaknya kamu datanglah kemari dengan baju renang, nona." ucap Ray kemudian menghilang dari penglihatan perempuan itu setelah berkedip.
Ternyata Ray sudah berada di belakangnya dan menarik pancingannya dengan kuat. Kail pancing pun tertarik dengan kuat dan mengait di pakaian perempuan itu. Ray mengayunkan pancingannya sambil berputar hingga perempuan itu ikut tertarik. Kemudian perempuan itu pun terlempar ke tengah lautan oleh Ray. Ray dengan santai menarik kail pancingnya yang sudah terlepas dari pakaian perempuan yang saat ini sudah tercebur di tengah lautan tersebut.
"Sialan! Dasar orang hina! Beraninya kamu membuatku kebasahan seperti ini!" gerutu perempuan yang kesal sambil berenang-renang mencoba tetap di permukaan.
"Aku mengundangmu untuk bertemu di tepi pantai, kenapa kamu tidak berinisiatif mengenakan pakaian renang? Ini salahmu sendiri." balas Ray dengan santai.
"Kenapa ini jadi salahku?! Aku tak sudi mengenakan pakaian yang menunjukkan lekuk tubuhku padamu! Dengan kata lain, aku tak sudi memakainya untukmu!" bentak perempuan itu sambil menunjuk-nunjuk ke arah Ray.
"Aku tidak mengatakan kalau kamu memakainya untukku kan? Bukankah kamu harusnya berjaga-jaga kalau hal seperti ini terjadi? Kita kan dekat dengan air." jawab Ray.
"Beraninya kamu mempermainkanku, dasar orang hina!" bentak perempuan itu semakin kesal.
"Jadi apa kita bisa kembali ke topik pembicaraan kita? Aku tahu alasanmu kemari. Aku tahu semuanya, itulah yang ingin aku katakan sekarang." ujar Ray dengan wajah tanpa keraguan sedikitpun.
"Cih.." ucap perempuan itu tampak kesal.
Ray terlihat yakin dengan kata-katanya. Terlihat bibirnya tersenyum penuh dengan keyakinan.

Di rumah Miku, Miku, Luka dan yang lainnya tampak sudah berkumpul. Seperti biasa mereka berkumpul di ruang tamu dan membuat ruang tamu itu jadi lebih sesak.
"Ehem, kali ini kita akan membahas tentang rencana kita kedepannya. Pertama, tentu saja prioritas kita adalah melindungi Voca Town dari Pangeran Kegelapan. Saat ini itulah yang harus kita utamakan. Tapi kita kekurangan informasi tentang itu. Kita tidak tahu apapun tentang musuh kita ini. Seandainya ada Ray-kun mungkin kita bisa bertanya padanya." ujar Luka.
"Tapi bukankah harusnya ada artikel atau catatan tentang Pangeran Kegelapan ini? Seperti yang kita tahu, dia adalah musuh utama saat perang nada hitam kan?" tanya Meiko.
"Ya, benar sekali. Tapi tak ada yang mengatakan tentang sejarah dibalik diri sang Pangeran Kegelapan. Yang ada hanya berita tentang betapa kejamnya dia, betapa kuatnya dia, atau seberapa banyaknya korban yang jatuh karenanya." jawab Luka.
"Memangnya latar belakang musuh itu penting ya? Bukankah kita hanya harus mengalahkannya saja?" tanya Kaito.
"Kaito-senpai gitu. Perkataannya selalu benar. Semuanya tinggal serahkan saja padaku. Kalian lihat dance baruku kemarin kan? Aku akan mengalahkannya dengan ini." ucap Miku dengan yakin.
"Miku-chan pikir mereka sebodoh itu? Miku-chan pikir mereka itu sama sekali tidak merencanakan apapun untuk melawan kita?" tanya Luka sambil menatap Miku.
"Y-ya.. mereka berdua kan tidak ada yang pintar.. haha.. ha.." sahut Miku jadi gugup.
"Dasar bodoh! Menganggap remeh musuh itu adalah perbuatan bodoh! Kita harus mengantisipasi segala kemungkinan yang ada! Jika Ray-kun disini dia pasti akan mengata-ngataimu dengan tatapan malasnya." bentak Luka.
"Ma-maaf.." ucap Miku ketakutan dibentak oleh Luka.
"Tapi, kenapa Shiro Ray meninggalkan kita disaat seperti ini. Jika ada dia pasti semuanya jadi lebih mudah kan?" tanya Gumi.
"Karena itulah kurasa dia meninggalkan kita. Tapi kupikir ini karena salahku juga." jawab Luka kemudian tampak murung.
"Aku tidak begitu mengerti apa yang sedang kalian bicarakan, tapi aku mengerti bagian Ray-niichan meninggalkan kalian agar kalian lebih mandiri." ujar Rin memotong pembicaraan.
"Ray-nii sepertinya ingin kita berkembang dan tidak selalu berpangku pada rencananya." sambung Len.
"Jadi dia ingin kita melakukannya dengan cara kita sendiri. Memang benar jika kita terlalu mengandalkan rencananya kita takkan bisa mengeluarkan seluruh kekuatan kita." tambah Meiko.
"Karena, kita akan mengeluarkan seluruh kemampuan kita hanya saat kita merasa terdesak. Begitu kan?" jelas Luka.
"Jadi ini seperti dia sudah merencanakan semua ini dan memperhatikan setiap rencananya berjalan dari kejauhan." ujar Miku.
Semua orang di ruangan itu terlihat terkejut mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Miku.
"Kenapa kalian memperhatikanku seperti itu?" tanya Miku kebingungan.
"Ka-kau beneran Hatsune kan?" tanya Kaito dengan wajah shock.
"Tentu saja, Kaito-senpai. Memangnya siapa lagi gadis imut dihadapanmu ini selain Hatsune Miku?" jawab Miku bertingkah imut.
"Sepertinya kita harus memanggil pengusir roh atau dukun. Miku-chan kerasukan kayaknya." ujar Gumi terlihat pucat.
"Hah? Dukun? Buah kecil-kecil yang dalamnya berwarna bening itu ya?" tanya Miku.
"Itu mah dukuh!" jawab Gumi.
"Ya ampun.. sepertinya tadi itu hanya kebetulan saja otaknya lagi jalan. Sekarang kembali macet." ujar Luka sambil memegang keningnya seperti orang pusing.
"Terus apa bahasan selanjutnya. Kalau kamu bilang yang tadi itu yang pertama harusnya ada yang kedua dan selanjutnya juga kan?" tanya Meiko.
"Ya.. yang kedua memang hanyalah sampingan tapi.. sepertinya kita tidak hanya menghadapi satu orang." jawab Luka.
"Ma-maksud Luka-oneesama?" tanya Gumi terkejut.
"Aku memikirkan alasan lain Ray-kun meninggalkan kita saat ini. Pastinya bukan hanya yang seperti kita duga saja. Ada alasan dari sifat dinginnya padaku. Ada alasan kenapa dia ingin aku membencinya. Itu karena.." jelas Luka.
"Karena apa?" tanya Gumi.
Luka terdiam sejenak dan mengambil napas.
"Dia ingin aku, tidak.. maksudku kita menganggapnya sebagai pihak ketiga dari luar yang tak ada hubungannya dengan kita." jelas Luka.
Semuanya terlihat terkejut mendengar apa yang Luka katakan saat itu.
"Ma-maksudmu?" tanya Kaito.
"Aku belum tahu apa yang sedang dia rencanakan, tapi aku yakin Ray-kun sudah memikirkannya baik-baik kalau ini yang terbaik untuk semuanya. Aku mempercayainya." ujar Luka sambil tersenyum.
"Luka-oneesama.." ucap Gumi tersentuh hatinya.
Di pinggir pantai, Ray masih mengobrol dengan perempuan misterius yang sepertinya dikenalnya.
"Ba-bagaimana kamu bisa tahu?" tanya perempuan itu tampak sedikit terkejut.
"Bagaimana aku tahu? Hmm.. jawabannya mudah. Karena aku sudah mengetahuinya dari awal. Semua rencana kalian. Aku sudah menduganya." jawab Ray.
Perempuan itu sangat terkejut mendengar jawaban Ray. Sementara Ray terlihat santai memanggul pancingannya.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】