VocaWorld, chapter 154 - Kehadiran Pengganggu
Di pesawat singgasana pangeran kegelapan, Dante dan June sedang terlihat sedang berdiskusi.
"Tuan Lucifer, mau sampai kapan tuan menunggu seperti ini? Bukankah lebih baik tuan melakukan serangan saat ini juga saat mereka masih lemah." ujar June.
"Kau benar-benar tidak tahu caranya bersenang-senang ya, JB. Menghadapi musuh yang lemah itu sama sekali tidak menantang. Bukankah akan lebih seru jika mereka memberikan perlawanan yang membuat kita terdesak?" balas Dante sambil bersantai di singgasana nya.
"Tapi tuan, kalau kita terdesak bukankah itu berbahaya. Resiko nya terlalu besar." sahut June,
"Semakin besar resikonya, maka semakin menyenangkan pertaruhannya. Kamu belum pernah ke garis depan, jadi kamu tak mungkin tahu, JB." jawab Dante sambil tersenyum.
"Saya benar-benar tidak mengerti, tuan." kata June terlihat bingung.
"Pokoknya saat ini kita takkan menyerang dulu. Tapi kalau kau mau memberikan mereka sedikit kejutan, aku takkan melarangnya." ujar Dante.
June sedikit terkejut Dante ternyata memberikan ijin untuknya menyerang meskipun dia terlihat tidak punya niat untuk turun tangan sendiri.
"Kalau begitu saya mau pamit dulu. Saya akan menyiapkan surprise untuk mereka." pamit June.
Di atap sekolah, terlihat Ray, Miku, Luka dan Gumi sedang makan siang bersama.
"Tumben banget kau meminta kami makan siang bersama seperti ini, Shiro Ray." ujar Gumi.
"Paling juga dia tidak punya uang untuk makan di kantin, makanya dia meminta makan siang bersama biar bisa makan gratis." tukas Miku dengan tampak sebal.
"Separuhnya benar. Tapi tujuan utama kita makan bersama seperti ini adalah untuk latihan dance untuk Miku." jawab Ray.
"Separuhnya benar? Jadi kamu benar mau makan gratis?" tukas Gumi.
"Tidak, bukan itu. Tapi yang benar itu yang aku tak punya uang untuk makan dikantin. Tenang saja, aku takkan meminta makanan kalian kok. Aku bisa makan hanya sehari sekali saja. Aku sudah terbiasa seperti itu. Bahkan saat perang aku bisa seharian tidak makan sama sekali." jelas Ray.
"Ah.. pahlawan legendaris memang beda." ucap Gumi sambil menghela napas.
"Sebenarnya itu tidak ada hubungannya dengan itu, Megupo-san." jawab Ray.
"Kalau Ray-kun mau, Ray-kun bisa ambil sedikit makan siangku. Lagipula Tsugumi membuatnya terlalu banyak." ujar Luka.
"Tidak usah, Megurine-san. Aku lebih baik tidak makan daripada harus mengambil jatah makan orang lain." balas Ray sambil berdiri.
"Tapi aku tidak keberatan kok. Ray-kun boleh-..", "Oh ya, aku lupa mengatakan sesuatu. Setelah makan siang, kamu dan Megupo-san bersiaga lah di halaman depan sekolah." pinta Ray memotong perkataan Luka.
Luka pun tampak menurunkan pandangannya. Gumi melihat Luka dan tampak khawatir. Kemudian Gumi menatap tajam pada Ray.
"Ada apa, Megupo-san?" tanya Ray dengan ekspresi datar.
"Tidak, bukan apa-apa, bodoh." jawab Gumi dengan wajah cemberut.
Luka menutup kotak bekal nya dan membungkusnya lagi dengan kain. Kemudian dia dan Gumi pergi turun dari atap tersebut.
"Kalau begitu cepat selesaikan makanmu. Kita akan segera mulai latihannya sebelum istirahat makan siang berakhir." suruh Ray.
"Iya, aku mengerti kok." sahut Miku.
"Baguslah kalau kamu mengerti." balas Ray.
Dalam perjalanan kebawah, Luka terlihat murung. Kepalanya tertunduk kebawah dengan tatapan sayu.
"Luka-oneesama. Dia kelihatannya sedih banget karena tawarannya ditolak oleh Shiro Ray itu. Dasar Shiro Ray bodoh, kenapa juga dia menolak tawaran Luka-oneesama." gerutu Gumi dalam hatinya sambil memperhatikan Luka.
Di dalam kelas 2-C, Meiko dan Kaito terlihat sedang mengobrol berdua.
"Aku tak menyangka sekolah tetap dilanjutkan meskipun keadaan kota ini sedang genting seperti ini." ujar Kaito sambil memperhatikan dinding api hitam yang mengililingi kota.
"Ya, tidak mungkin dihentikan juga. Liburan musim dingin kan sudah dekat. Jadi rasanya kagok kalau dihentikan tengah jalan." jawab Meiko.
"Ahh.. apa yang ada di pikiran pemerintah di kota ini sebenarnya? Kenapa mereka tidak melaporkan ini ke pemerintahan pusat biar kita mendapatkan bantuan militer?" ujar Kaito sambil menempelkan pipinya di meja dengan malas.
"Itu tidak mungkin dilakukan saat ini. Karena kalau sampai itu terjadi, maka akan terjadi peperangan dikota ini. Resikonya terlalu besar karena penduduk sipil saat ini tidak bisa dievakuasi akibat dinding api itu." jelas Luka yang datang menghampiri Meiko dan Kaito.
"Oh, Megurine-san. Sudah selesai makan siang bersama Shiro-san nya?" tanya Meiko.
Tapi Luka tidak menjawab dan malah mengalihkan penglihatannya ke arah lain. Meiko menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
"Hahaha.. pasangan baru memang selalu roman-.." ucap Kaito terpotong karena mulutnya langsung ditutup oleh tangan Meiko.
Meiko menatap tajam ke arah Kaito mencoba memberikan kode.
"Ada apa sih? Kenapa tiba-tiba menutup mulutku, Meiko?" gerutu Kaito setelah menyingkirkan tangan Meiko dari mulutnya.
"Oh ya, aku harus segera ke halaman depan. Aku mendapat tugas dari Ray-kun." ujar Luka kemudian pergi setelah meletakan kotak makan nya diatas meja Meiko.
"Hei-hei, dia melupakan kotak makannya. Kenapa dia meletakannya disini?" ujar Kaito.
Meiko membuka bungkusannya dan kemudian membuka kotak makan itu. Terlihat sajian makanan dari daging ikan seperti ikan goreng dan sushi. Meiko tampak sedih melihat kotak makan yang terlihat tak tersentuh sedikitpun itu.
"Dia sedang diet atau semacamnya kah?" ujar Kaito saat melihatnya.
"Kupikir tidak begitu." jawab Meiko.
Luka dan Gumi pergi menuju ke halaman depan sekolah. Luka yang terlihat murung membuat Gumi semakin khawatir.
"Luka-oneesama kenapa?" tanya Gumi.
Tapi Luka diam saja seperti sedang melamun.
"Luka-oneesama?" panggil Gumi.
Luka tetap diam mematung menyandarkan kepalanya di sebuah tiang.
"Pasti dia masih memikirkan kejadian tadi. Ah.. rasanya aku greget banget. Kenapa pula Shiro Ray itu dingin banget pada Luka-oneesama? Apa dia tidak sadar Luka-oneesama sengaja membawa bekal hari ini untuknya?" gumam Gumi terlihat gregetan.
"Surprise!" ucap June menendang Gumi hingga terpental masuk kedalam lobi sekolah.
Luka terkejut dan berusaha memakai earophoid nya. Namun telat karena June sudah lebih dulu menendang ke pipi sebelah kiri Luka. Luka terpental sejauh 5 meter ke arah gerbang depan.
Suara ribut terdengar dari depan sekolah. Suara dari serangan June pada Luka dan Gumi saat mereka sedang lengah. Suara tersebut terdengar sampai kedalam bahkan ke atap sekolah tempat Miku berlatih dance.
"Suara apaan tuh?" ucap Miku menghentikan latihannya karena terkejut.
"Sepertinya apa yang aku takutkan benar-benar terjadi. Kuharap Megurine-san tidak apa-apa." gumam Ray.
"Hatsune-san, lanjutkan latihannya." suruh Ray.
"Tapi suara tadi?" sahut Miku.
"Tenang saja. Jangan terlalu dipikirkan. Kita harus tetap fokus pada latihannya." jawab Ray.
"Kamu yakin?" tanya Miku.
"Sudah kubilang, tenang saja." jawab Ray lagi.
"Baiklah." sahut Miku sambil kemudian melanjutkan latihannya.
Dibawah, June terlihat berdiri dengan tenangnya melihat Gumi dan Luka ambruk karena serangannya.
"Menyerang kalian saat belum berubah ternyata lebih mudah daripada yang kuduga. Kalian itu lemah sekali ternyata tanpa earophoid kalian." ujar June.
"Diamlah, akan segera ku tutup mulutmu itu dengan tendanganku." ucap Gumi terlihat sudah berubah dan mengaktifkan dance acceleration nya.
"Oh seramnya.. angin senja sungguh seram." ucap June dengan nada mengejek.
"Tapi, kau lengah.." sambung June melihat ke arah Luka.
"Luka-oneesama! Cepat berubah!" suruh Gumi.
June memanfaatkan Luka yang masih mencoba berdiri dan kembali menyeranganya. Luka yang terkejut tak bisa menghindar dan akhirnya sebuah tendangan mendarat diperutnya. Luka terpental menghantam gerbang yang terbuat dari besi.
"Luka-oneesama!!!" teriak Gumi.
Mendengar suara teriakan Gumi, Ray langsung berlari ke pinggiran atap dan melihat ke halaman depan sekolah.
"Megurine-san?!!" ucap Ray saat melihat Luka tak sadarkan diri duduk bersandar di gerbang.
Gumi berteriak dan melesat mendekati June. June tiba-tiba saja menghilang dari hadapan Gumi.
"Apa?!" ucap Gumi terkejut.
Ternyata June berada diatas Gumi. June menghentakkan kedua kakinya kebawah secara bersamaan membuat Gumi terhempas kebawah dan menghantam tanah dengan keras.
"Bodoh! Jangan terpancing olehnya! Tetaplah jadi dirimu yang biasanya, Megupo-san!" kata Ray dari atap.
"Hahaha.. kenapa tidak kau saja yang kemari, bukankah kau sendiri yang bodoh menyuruh perempuan menjaga gerbang depan?" balas June dari bawah.
Tatapan mata Ray tiba-tiba menjadi dingin, dan tanpa ragu dia melompat dari atap bangunan 4 lantai itu. Miku terkejut dengan yang dilakukan oleh Ray tersebut.
"Dia sudah gila, melompat dari situ dengan tubuh biasa?!" ucap June yang juga kaget.
Ternyata Ray meraih sebuah ranting pohon yang lumayan kuat dan fleksibel untuk meredam kecepatan jatuh kebawahnya dan dia mendarat dengan aman ditanah meskipun akhirnya ranting itu patah. June dan Miku sama-sama bengong melihat kejadian itu.
"June Black." panggil Ray sambil menatap dingin pada June.
"A-apa?" sahut June dengan masih terkejut karena kejadian tadi.
"Bersiaplah menerima hukumanmu." jawab Ray sambil berjalan ke arah June dengan tenang.
"Hah?" ucap June tidak mengindahkan perkataan Ray.
Luka mulai tersadar dan melihat Ray yang kini berjalan menghampiri June.
"Ra-Ray-kun.." ucap Luka dengan lemah.
"Apa yang hendak dilakukan oleh Shiro Ray itu? Dia sama sekali tidak punya kekuatan. Mana mungkin dia bisa mengalahkannya." pikir Gumi yang berusaha mengumpulkan tenaga untuk bangun.
Tapi Ray tetap bejalan mendekat ke arah June. Entah apa yang sedang ia rencanakan, tapi tatapan dinginnya sedikit menakutkan.
To be continued..
"Tuan Lucifer, mau sampai kapan tuan menunggu seperti ini? Bukankah lebih baik tuan melakukan serangan saat ini juga saat mereka masih lemah." ujar June.
"Kau benar-benar tidak tahu caranya bersenang-senang ya, JB. Menghadapi musuh yang lemah itu sama sekali tidak menantang. Bukankah akan lebih seru jika mereka memberikan perlawanan yang membuat kita terdesak?" balas Dante sambil bersantai di singgasana nya.
"Tapi tuan, kalau kita terdesak bukankah itu berbahaya. Resiko nya terlalu besar." sahut June,
"Semakin besar resikonya, maka semakin menyenangkan pertaruhannya. Kamu belum pernah ke garis depan, jadi kamu tak mungkin tahu, JB." jawab Dante sambil tersenyum.
"Saya benar-benar tidak mengerti, tuan." kata June terlihat bingung.
"Pokoknya saat ini kita takkan menyerang dulu. Tapi kalau kau mau memberikan mereka sedikit kejutan, aku takkan melarangnya." ujar Dante.
June sedikit terkejut Dante ternyata memberikan ijin untuknya menyerang meskipun dia terlihat tidak punya niat untuk turun tangan sendiri.
"Kalau begitu saya mau pamit dulu. Saya akan menyiapkan surprise untuk mereka." pamit June.
Di atap sekolah, terlihat Ray, Miku, Luka dan Gumi sedang makan siang bersama.
"Tumben banget kau meminta kami makan siang bersama seperti ini, Shiro Ray." ujar Gumi.
"Paling juga dia tidak punya uang untuk makan di kantin, makanya dia meminta makan siang bersama biar bisa makan gratis." tukas Miku dengan tampak sebal.
"Separuhnya benar. Tapi tujuan utama kita makan bersama seperti ini adalah untuk latihan dance untuk Miku." jawab Ray.
"Separuhnya benar? Jadi kamu benar mau makan gratis?" tukas Gumi.
"Tidak, bukan itu. Tapi yang benar itu yang aku tak punya uang untuk makan dikantin. Tenang saja, aku takkan meminta makanan kalian kok. Aku bisa makan hanya sehari sekali saja. Aku sudah terbiasa seperti itu. Bahkan saat perang aku bisa seharian tidak makan sama sekali." jelas Ray.
"Ah.. pahlawan legendaris memang beda." ucap Gumi sambil menghela napas.
"Sebenarnya itu tidak ada hubungannya dengan itu, Megupo-san." jawab Ray.
"Kalau Ray-kun mau, Ray-kun bisa ambil sedikit makan siangku. Lagipula Tsugumi membuatnya terlalu banyak." ujar Luka.
"Tidak usah, Megurine-san. Aku lebih baik tidak makan daripada harus mengambil jatah makan orang lain." balas Ray sambil berdiri.
"Tapi aku tidak keberatan kok. Ray-kun boleh-..", "Oh ya, aku lupa mengatakan sesuatu. Setelah makan siang, kamu dan Megupo-san bersiaga lah di halaman depan sekolah." pinta Ray memotong perkataan Luka.
Luka pun tampak menurunkan pandangannya. Gumi melihat Luka dan tampak khawatir. Kemudian Gumi menatap tajam pada Ray.
"Ada apa, Megupo-san?" tanya Ray dengan ekspresi datar.
"Tidak, bukan apa-apa, bodoh." jawab Gumi dengan wajah cemberut.
Luka menutup kotak bekal nya dan membungkusnya lagi dengan kain. Kemudian dia dan Gumi pergi turun dari atap tersebut.
"Kalau begitu cepat selesaikan makanmu. Kita akan segera mulai latihannya sebelum istirahat makan siang berakhir." suruh Ray.
"Iya, aku mengerti kok." sahut Miku.
"Baguslah kalau kamu mengerti." balas Ray.
Dalam perjalanan kebawah, Luka terlihat murung. Kepalanya tertunduk kebawah dengan tatapan sayu.
"Luka-oneesama. Dia kelihatannya sedih banget karena tawarannya ditolak oleh Shiro Ray itu. Dasar Shiro Ray bodoh, kenapa juga dia menolak tawaran Luka-oneesama." gerutu Gumi dalam hatinya sambil memperhatikan Luka.
Di dalam kelas 2-C, Meiko dan Kaito terlihat sedang mengobrol berdua.
"Aku tak menyangka sekolah tetap dilanjutkan meskipun keadaan kota ini sedang genting seperti ini." ujar Kaito sambil memperhatikan dinding api hitam yang mengililingi kota.
"Ya, tidak mungkin dihentikan juga. Liburan musim dingin kan sudah dekat. Jadi rasanya kagok kalau dihentikan tengah jalan." jawab Meiko.
"Ahh.. apa yang ada di pikiran pemerintah di kota ini sebenarnya? Kenapa mereka tidak melaporkan ini ke pemerintahan pusat biar kita mendapatkan bantuan militer?" ujar Kaito sambil menempelkan pipinya di meja dengan malas.
"Itu tidak mungkin dilakukan saat ini. Karena kalau sampai itu terjadi, maka akan terjadi peperangan dikota ini. Resikonya terlalu besar karena penduduk sipil saat ini tidak bisa dievakuasi akibat dinding api itu." jelas Luka yang datang menghampiri Meiko dan Kaito.
"Oh, Megurine-san. Sudah selesai makan siang bersama Shiro-san nya?" tanya Meiko.
Tapi Luka tidak menjawab dan malah mengalihkan penglihatannya ke arah lain. Meiko menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
"Hahaha.. pasangan baru memang selalu roman-.." ucap Kaito terpotong karena mulutnya langsung ditutup oleh tangan Meiko.
Meiko menatap tajam ke arah Kaito mencoba memberikan kode.
"Ada apa sih? Kenapa tiba-tiba menutup mulutku, Meiko?" gerutu Kaito setelah menyingkirkan tangan Meiko dari mulutnya.
"Oh ya, aku harus segera ke halaman depan. Aku mendapat tugas dari Ray-kun." ujar Luka kemudian pergi setelah meletakan kotak makan nya diatas meja Meiko.
"Hei-hei, dia melupakan kotak makannya. Kenapa dia meletakannya disini?" ujar Kaito.
Meiko membuka bungkusannya dan kemudian membuka kotak makan itu. Terlihat sajian makanan dari daging ikan seperti ikan goreng dan sushi. Meiko tampak sedih melihat kotak makan yang terlihat tak tersentuh sedikitpun itu.
"Dia sedang diet atau semacamnya kah?" ujar Kaito saat melihatnya.
"Kupikir tidak begitu." jawab Meiko.
Luka dan Gumi pergi menuju ke halaman depan sekolah. Luka yang terlihat murung membuat Gumi semakin khawatir.
"Luka-oneesama kenapa?" tanya Gumi.
Tapi Luka diam saja seperti sedang melamun.
"Luka-oneesama?" panggil Gumi.
Luka tetap diam mematung menyandarkan kepalanya di sebuah tiang.
"Pasti dia masih memikirkan kejadian tadi. Ah.. rasanya aku greget banget. Kenapa pula Shiro Ray itu dingin banget pada Luka-oneesama? Apa dia tidak sadar Luka-oneesama sengaja membawa bekal hari ini untuknya?" gumam Gumi terlihat gregetan.
"Surprise!" ucap June menendang Gumi hingga terpental masuk kedalam lobi sekolah.
Luka terkejut dan berusaha memakai earophoid nya. Namun telat karena June sudah lebih dulu menendang ke pipi sebelah kiri Luka. Luka terpental sejauh 5 meter ke arah gerbang depan.
Suara ribut terdengar dari depan sekolah. Suara dari serangan June pada Luka dan Gumi saat mereka sedang lengah. Suara tersebut terdengar sampai kedalam bahkan ke atap sekolah tempat Miku berlatih dance.
"Suara apaan tuh?" ucap Miku menghentikan latihannya karena terkejut.
"Sepertinya apa yang aku takutkan benar-benar terjadi. Kuharap Megurine-san tidak apa-apa." gumam Ray.
"Hatsune-san, lanjutkan latihannya." suruh Ray.
"Tapi suara tadi?" sahut Miku.
"Tenang saja. Jangan terlalu dipikirkan. Kita harus tetap fokus pada latihannya." jawab Ray.
"Kamu yakin?" tanya Miku.
"Sudah kubilang, tenang saja." jawab Ray lagi.
"Baiklah." sahut Miku sambil kemudian melanjutkan latihannya.
Dibawah, June terlihat berdiri dengan tenangnya melihat Gumi dan Luka ambruk karena serangannya.
"Menyerang kalian saat belum berubah ternyata lebih mudah daripada yang kuduga. Kalian itu lemah sekali ternyata tanpa earophoid kalian." ujar June.
"Diamlah, akan segera ku tutup mulutmu itu dengan tendanganku." ucap Gumi terlihat sudah berubah dan mengaktifkan dance acceleration nya.
"Oh seramnya.. angin senja sungguh seram." ucap June dengan nada mengejek.
"Tapi, kau lengah.." sambung June melihat ke arah Luka.
"Luka-oneesama! Cepat berubah!" suruh Gumi.
June memanfaatkan Luka yang masih mencoba berdiri dan kembali menyeranganya. Luka yang terkejut tak bisa menghindar dan akhirnya sebuah tendangan mendarat diperutnya. Luka terpental menghantam gerbang yang terbuat dari besi.
"Luka-oneesama!!!" teriak Gumi.
Mendengar suara teriakan Gumi, Ray langsung berlari ke pinggiran atap dan melihat ke halaman depan sekolah.
"Megurine-san?!!" ucap Ray saat melihat Luka tak sadarkan diri duduk bersandar di gerbang.
Gumi berteriak dan melesat mendekati June. June tiba-tiba saja menghilang dari hadapan Gumi.
"Apa?!" ucap Gumi terkejut.
Ternyata June berada diatas Gumi. June menghentakkan kedua kakinya kebawah secara bersamaan membuat Gumi terhempas kebawah dan menghantam tanah dengan keras.
"Bodoh! Jangan terpancing olehnya! Tetaplah jadi dirimu yang biasanya, Megupo-san!" kata Ray dari atap.
"Hahaha.. kenapa tidak kau saja yang kemari, bukankah kau sendiri yang bodoh menyuruh perempuan menjaga gerbang depan?" balas June dari bawah.
Tatapan mata Ray tiba-tiba menjadi dingin, dan tanpa ragu dia melompat dari atap bangunan 4 lantai itu. Miku terkejut dengan yang dilakukan oleh Ray tersebut.
"Dia sudah gila, melompat dari situ dengan tubuh biasa?!" ucap June yang juga kaget.
Ternyata Ray meraih sebuah ranting pohon yang lumayan kuat dan fleksibel untuk meredam kecepatan jatuh kebawahnya dan dia mendarat dengan aman ditanah meskipun akhirnya ranting itu patah. June dan Miku sama-sama bengong melihat kejadian itu.
"June Black." panggil Ray sambil menatap dingin pada June.
"A-apa?" sahut June dengan masih terkejut karena kejadian tadi.
"Bersiaplah menerima hukumanmu." jawab Ray sambil berjalan ke arah June dengan tenang.
"Hah?" ucap June tidak mengindahkan perkataan Ray.
Luka mulai tersadar dan melihat Ray yang kini berjalan menghampiri June.
"Ra-Ray-kun.." ucap Luka dengan lemah.
"Apa yang hendak dilakukan oleh Shiro Ray itu? Dia sama sekali tidak punya kekuatan. Mana mungkin dia bisa mengalahkannya." pikir Gumi yang berusaha mengumpulkan tenaga untuk bangun.
Tapi Ray tetap bejalan mendekat ke arah June. Entah apa yang sedang ia rencanakan, tapi tatapan dinginnya sedikit menakutkan.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.