Memo, chapter 51 - Pulang Sekolah 4
Arya sedang berjalan sambil membawa tasnya menuju ke gerbang depan. Tapi dia tiba-tiba ditarik seseorang dari belakang.
"Arya!" panggil seseorang yang kalaiu dari suaranya dia adalah seorang gadis.
Arya yang penasaran pun menoleh ke belakang untuk melihat siapa orang yang menariknya itu.
"Ada apa?" sahut Arya menatap malas pada gadis itu.
"Ti-tidak apa-apa. A-anu.." ucap gadis yang setelah diliihat ternyata adalah Alice itu.
"Mmh?" Arya terlihat heran dengan sikap malu-malu Alice.
"Bolehkah aku pulang bersamamu?" tanya Alice dengan wajah memerah.
Arya terkejut mendengar pertanyaan dari gadis cantik dihadapannya itu.
"Pu-pulang bareng?!!" ucap Arya dengan wajah kaget.
"Y-ya. Itu pun jika Arya tidak keberatan." balas Alice.
"Hmm.. boleh saja sih. Tapi kamu kan biasanya naik mobil mewah. Aku tidak tega mengajakmu pulang jalan kaki sejauh 5 KM." ujar Arya.
"5 KM!!?? Benarkah??!!" ucap Alice terkejut sambil menutup mulutnya.
"Ya.. kamu tidak tahu ya. Sebenarnya rumahku cukup jauh. Karena itu kadang aku datang terlambat. Hehehe.." jelas Arya.
"Benar juga sih. Waktu itu kami menggunkan mobil, jadi tidak terasa. Tapi kalau jalan kaki itu.." ujar Alice.
"Tidak perlu memaksakan diri. Mungkin kita bisa naik angkot saja." sahut Arya sambil merogoh saku celananya.
Tiba-tiba wajah Arya berubah jadi shock. Wajahnya jadi pucat dan berkeringat.
"Sial! Aku lupa kalau aku telah menyimpan uangku dan hanya membawa yang buat ongkos berangkat saja!!!" pekik Arya dalam hati kaget ternyata sakunya kosong.
"Ada apa? Kamu berkeringat banyak sekali." tanya Alice terlihat sedikit cemas.
"Bukan apa-apa." jawab Arya dengans sedikit grogi.
"Tapi aku tidak keberatan kok jalan kaki. Aku rasanya ingin merasakan pulang menggunakan kakiku sendiri." ujar Alice sambil melihat ke bawah sambil tersenyum.
"Dia benar-benar pengertian." kata Arya dalam hatinya.
Kemudian mereka pun berjalan kaki bersama. Arya berjalan agak didepan Alice.
"Ngomong-ngomong dimana maid mu itu?" tanya Arya.
"Maksudmu Ani? Dia saat ini sedang ada urusan di rumah. Jadi dia sibuk dan pulang duluan." jawab Alice.
"Hmm.. terus bagaimana dengan sopirmu? Mestinya dia masih bisa datang dan menjemputmu dengan mobil kan?" tanya Arya lagi.
"Sebenarnya.. dia memang bisa datang.." jawab Alice sambil malu-malu.
"Hah?!" ucap Arya kaget kemudian menoleh kebelakang.
Dan benar saja dibelakangnya ada mobil mewah dan seorang sopir yang menunggu di depan gerbang.
"Kalau ada sopirmu, kenapa kita tidak memanggilnya?" ucap Arya berbalik ke belakang.
"Woy.. pak sop-.." teriak Arya terputus karena mulutnya ditutup oleh Alice.
"Jangan memanggilnya!" larang Alice menutup mulut Arya dari belakang.
"Mmmh!! Mmmmh!" Arya sepertinya hendak mengatakan sesuatu namun tidak jelas karena mulutnya ditutup.
Alice menarik Arya kebelakang ke sebuah warung kecil pinggir jalan yang menjual makanan dan minuman ringan. Baru setelah itu dia melepaskannya.
"Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Arya.
Alice hanya terdiam saja memalingkan wajahnya. Arya pun menatap dingin pada Alice. Alice masih terdiam. Arya mendekatkan wajahnya pada Alice sambil menatap Alice makin dingin. Alice pun mulai tertekan.
"Baiklah, tak apa kalau kamu tidak mau mengatakannya. Tapi aku tidak bisa membawamu ke rumahku." ujar Arya.
"Ke-kenapa kamu bisa tahu kalau aku berniat ke rumahmu?" tanya Alice menoleh ke arah Arya.
"Karena, rumahmu kan arahnya berlainan." jawab Arya.
Alice pun terkejut dan pipinya semakin memerah.
"Kalau dia memang tahu rumahku berlainan, kenapa dia tetap menerima ajakanku untuk pulang bareng?" ucap Alice bertanya-tanya dalam hatinya.
"Maid yang pulang lebih awal, lalu menghindar dari jemputan sopir. Pastinya.. ada sesuatu dibaliknya. Apa yang sedang ia sembunyikan?" pikir Arya sambil memperhatikan ke arah Alice yang terlihat malu melihat ke bawah.
Catatan hari ini:
Sebaik apapun kamu menyembunyikan suatu masalah, pada akhirnya akan terungkap juga oleh orang yang peduli padamu.
"Arya!" panggil seseorang yang kalaiu dari suaranya dia adalah seorang gadis.
Arya yang penasaran pun menoleh ke belakang untuk melihat siapa orang yang menariknya itu.
"Ada apa?" sahut Arya menatap malas pada gadis itu.
"Ti-tidak apa-apa. A-anu.." ucap gadis yang setelah diliihat ternyata adalah Alice itu.
"Mmh?" Arya terlihat heran dengan sikap malu-malu Alice.
"Bolehkah aku pulang bersamamu?" tanya Alice dengan wajah memerah.
Arya terkejut mendengar pertanyaan dari gadis cantik dihadapannya itu.
"Pu-pulang bareng?!!" ucap Arya dengan wajah kaget.
"Y-ya. Itu pun jika Arya tidak keberatan." balas Alice.
"Hmm.. boleh saja sih. Tapi kamu kan biasanya naik mobil mewah. Aku tidak tega mengajakmu pulang jalan kaki sejauh 5 KM." ujar Arya.
"5 KM!!?? Benarkah??!!" ucap Alice terkejut sambil menutup mulutnya.
"Ya.. kamu tidak tahu ya. Sebenarnya rumahku cukup jauh. Karena itu kadang aku datang terlambat. Hehehe.." jelas Arya.
"Benar juga sih. Waktu itu kami menggunkan mobil, jadi tidak terasa. Tapi kalau jalan kaki itu.." ujar Alice.
"Tidak perlu memaksakan diri. Mungkin kita bisa naik angkot saja." sahut Arya sambil merogoh saku celananya.
Tiba-tiba wajah Arya berubah jadi shock. Wajahnya jadi pucat dan berkeringat.
"Sial! Aku lupa kalau aku telah menyimpan uangku dan hanya membawa yang buat ongkos berangkat saja!!!" pekik Arya dalam hati kaget ternyata sakunya kosong.
"Ada apa? Kamu berkeringat banyak sekali." tanya Alice terlihat sedikit cemas.
"Bukan apa-apa." jawab Arya dengans sedikit grogi.
"Tapi aku tidak keberatan kok jalan kaki. Aku rasanya ingin merasakan pulang menggunakan kakiku sendiri." ujar Alice sambil melihat ke bawah sambil tersenyum.
"Dia benar-benar pengertian." kata Arya dalam hatinya.
Kemudian mereka pun berjalan kaki bersama. Arya berjalan agak didepan Alice.
"Ngomong-ngomong dimana maid mu itu?" tanya Arya.
"Maksudmu Ani? Dia saat ini sedang ada urusan di rumah. Jadi dia sibuk dan pulang duluan." jawab Alice.
"Hmm.. terus bagaimana dengan sopirmu? Mestinya dia masih bisa datang dan menjemputmu dengan mobil kan?" tanya Arya lagi.
"Sebenarnya.. dia memang bisa datang.." jawab Alice sambil malu-malu.
"Hah?!" ucap Arya kaget kemudian menoleh kebelakang.
Dan benar saja dibelakangnya ada mobil mewah dan seorang sopir yang menunggu di depan gerbang.
"Kalau ada sopirmu, kenapa kita tidak memanggilnya?" ucap Arya berbalik ke belakang.
"Woy.. pak sop-.." teriak Arya terputus karena mulutnya ditutup oleh Alice.
"Jangan memanggilnya!" larang Alice menutup mulut Arya dari belakang.
"Mmmh!! Mmmmh!" Arya sepertinya hendak mengatakan sesuatu namun tidak jelas karena mulutnya ditutup.
Alice menarik Arya kebelakang ke sebuah warung kecil pinggir jalan yang menjual makanan dan minuman ringan. Baru setelah itu dia melepaskannya.
"Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Arya.
Alice hanya terdiam saja memalingkan wajahnya. Arya pun menatap dingin pada Alice. Alice masih terdiam. Arya mendekatkan wajahnya pada Alice sambil menatap Alice makin dingin. Alice pun mulai tertekan.
"Baiklah, tak apa kalau kamu tidak mau mengatakannya. Tapi aku tidak bisa membawamu ke rumahku." ujar Arya.
"Ke-kenapa kamu bisa tahu kalau aku berniat ke rumahmu?" tanya Alice menoleh ke arah Arya.
"Karena, rumahmu kan arahnya berlainan." jawab Arya.
Alice pun terkejut dan pipinya semakin memerah.
"Kalau dia memang tahu rumahku berlainan, kenapa dia tetap menerima ajakanku untuk pulang bareng?" ucap Alice bertanya-tanya dalam hatinya.
"Maid yang pulang lebih awal, lalu menghindar dari jemputan sopir. Pastinya.. ada sesuatu dibaliknya. Apa yang sedang ia sembunyikan?" pikir Arya sambil memperhatikan ke arah Alice yang terlihat malu melihat ke bawah.
Catatan hari ini:
Sebaik apapun kamu menyembunyikan suatu masalah, pada akhirnya akan terungkap juga oleh orang yang peduli padamu.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.