VocaWorld, chapter 100 - Terhubung
Ray, Luka, Gumi dan Dante sedang berkumpul di tangga yg menuju ke lantai 1. Dante dan Gumi duduk ditangga, sementara Luka bersender di dinding dan Ray berdiri diantara mereka.
"Jadi kali ini dia menyandera satu sekolah?" tanya Dante pada Ray.
"Ya, mungkin saja." jawab Ray.
"Mungkin?" tanya Luka.
"Ya. Kita tak tahu siapa yg sedang ia incar saat ini." jawab Ray sambil menoleh ke arah Luka.
"Jadi mau bagaimana sekarang?" tanya Gumi.
"Apa Aniki punya rencana saat ini?" tanya Dante.
"Saat ini kita ikuti saja dulu permainannya. Sangat sulit melawan arus jika kita tak tahu medannya." jawab Ray lagi menoleh kembali ke depan.
"Jadi bagaimana caranya kita berenang bersama arus?" tanya Luka berjalan ke samping Ray.
"Kita harus punya mata diluar akademi Voca. Kita minta bantuan Gakupo-san." jawab Ray tersenyum ke arah Luka.
"Gumi-chan, cepat kirim email dan suruh samurai bodoh itu untuk mencari keberadaan June Black." suruh Luka pada Gumi.
"Suruh dia menyisir daerah dalam radius 500 meter dari sekolah ini." tambah Ray.
"Baik." sahut Gumi mengeluarkan ponselnya.
"Megurine-san, kamu beritahu para guru dan anggota OSIS untuk menyisir seluruh sudut sekolah untuk mencari letak bom." suruh Ray pada Luka.
"Baiklah." sahut Luka yg lalu pergi ke bawah sambil mengeluarkan ponselnya.
"Lalu bagaimana denganku?" tanya Dante.
"Tetaplah bersama Megupo-san." jawab Ray.
"Setelah kamu selesai, pergilah ke kantin. Ambil roti atau makanan apapun sebanyak-banyaknya!" suruh Ray pada Gumi.
"Untuk apa?" tanya Dante.
"Sudahlah, kamu temani saja dia dan bantu dia. Akan kuberi tahu setelah kalian selesai dan kembali kemari membawa semua makanan itu." jawab Ray.
"Oke aku sudah mengirim email ke Gaku-Gaku." ujar Gumi.
Gumi dan Dante pun pergi meninggalkan Ray sendirian disana.
"Selama mereka mengumpulkan makanan, aku akan mencari tahu apa tujuan June Black itu." ujar Ray dalam hati lalu naik ke lantai 2 lagi.
June Black masih memperhatikan tiap kelas dari kejauhan.
"Aku masih belum menemukan The White Light. Tuan Lucifer dan gadis berambut hijau itupun menghilang entah kemana. Jangan-jangan The White Light menyuruh mereka untuk menangkapku." ucap June mulai khawatir.
June pun hendak mengeluarkan ponselnya, tapi kemudian dia melihat Ray. Dan June pun tak jadi mengeluarkan ponselnya.
"The White Light.. akhirnya kamu muncul juga. Tapi sedang apa kamu diatas sana?" ujar June yg melihat Ray ada di atas tangki air.
Ray saat itu membuka penutup atas tangki air itu.
"Mau apa dia?" ucap June mulai heran.
Ray kemudian agak berjongkok membelakangi June dan keluar air dari pangkal pahanya.
"Dia mengencingi air di tangki itu?!! Untuk apa?!!" kata June dengan kaget dan wajahnya shock.
"Tunggu.. apa dia melakukannya tiap hari? Kalau begitu tadi malam.." sambung June lalu mengingat sesuatu.
Semalam saat June sedang memasang bom. June merasakan kelelahan. Lalu dia mendekati sebuah keran air dan minum air disitu. Kembali ke masa sekarang.
"I feel sick.." ucap June dengan wajah pucat.
Kemudian dia berbalik kebelakang dan membungkuk lalu muntah. Sementara Ray berjalan turun menuruni tangga dan melempar sebuah plastik ke tong sampah sambil tersenyum.
Sementara itu di perkotaan, Kamui sedang berkeliling karena di suruh Gumi.
"Kenapa Megu tiba-tiba menyuruhku menyisir seluruh kota dan mencari laki-laki mesum berteropong?" keluh Kamui.
"Tapi karena Gumi bilang dia mau ngintip Luka-tan, takkan bisa kubiarkan! Aku tak bisa memaafkan siapapun yg ngintipin Luka-tan. Tidak ngajak-ngajak lagi. Kurang ajar banget tuh orang!!" ucap Kamui dengan wajah geram.
Kamui pun menambah kecepatan langkahnya. Di tangga, Gumi dan Dante terlihat sudah membawa banyak sekali roti dalam kantong plastik besar. Jumlahnya ada 5. Gumi membawa 1 dan Dante membawa 4. Dua ditangan, satu dileher ke depan dan satu lagi di gigit.
"Kenapha aku halus membhawa emphat sekaligus?!" ujar Dante tak terima.
"Jadi kamu mau membiarkan seorang gadis membawa beban berat sendirian?" tanya Gumi.
"Tidak. Bhukan bhegitu." jawab Dante.
"Kalian sudah mengumpulkannya? Baguslah.." ujar Ray yg menuruni tangga dan melihat ada Gumi dan Dante.
Gumi dan Dante meletakan semua kantong plastik itu dilantai.
"Jadi mau kita apakan semua kantong roti ini?" tanya Gumi.
"Tenang, aku sudah punya rencana." jawab Ray.
Di atap sebuah gedung, June masih memperhatikan akademi Voca sambil menahan mual.
"Kurang ajar tuh The White Light. Aku tak tahu dia punya kebiasaan seperti itu." gerutu June dengan wajah kesal.
"Ah ada yg datang. Tunggu, mereka membagikan makanan?!" ujar June kaget melihat ada beberapa siswa membagikan makanan.
"Oh iya, saat ini sudah waktunya istirahat." ujar June tidak curiga sama sekali.
Para siswa pun memakan roti itu, tapi ternyata ada sesuatu di dalam roti tersebut. Ada sebuah gulungan kertas. Saat itu Ray menunggu di depan kelas dan tak berapa lama Luka datang.
"Kami tak menemukan bom nya dimanapun, Ray-kun." ujar Luka melaporkan pencariannya dengan anggota OSIS.
"Begitu ya. Kelihatannya dugaanku benar. Bukan sekolah ini yg di incar." ujar Ray.
"Aniki, mereka mulai memberikan tanda mereka." ujar Dante yg mengintip ke dalam kelas.
Para siswa dikelas itu mengacungkan jempolnya.
"Aman ya. Bagaimana dengan kelas yg lain?" tanya Ray pada Dante.
Dante pun memeriksa dan mengintip setiap kelas.
"Aman Aniki." sahut Dante setelah memeriksa.
"Shiro Ray!" teriak Gumi berlari ke arah Ray.
Gumi pun melapor pada Ray dengan wajah panik.
"Jadi bom itu ada di meja Hatsune-san?" ucap Ray mengintip ke dalam kelas.
Terlihat Miku tertunduk lesu sebagai tanda kalau dia menemukan bom nya.
"Berarti selama ini yg di incar adalah Miku-chan?" tanya Luka.
Ray hanya diam dan terlihat sedang berpikir.
Di luar akademi, didekat sebuah bangunan apartement, Kamui terlihat sudah kecapean. Dia tampak terengah-engah dan berkeringat. Kamui sudah berlari mengelilingi daerah sekitar situ lebih dari satu jam.
"Ini yg terakhir. Saya harap si pengintip sialan itu ada disini." ujar Kamui dalam hati sambil menatap ke bangunan apartement itu.
Kamui pun pergi ke arah apartement tersebut. Sementara di akademi Voca, Gumi sudah kembali ke tempat duduknya.
"Ray-kun, apa kamu yakin rencana ini akan berhasil?" tanya Luka.
"Ya, percayalah padaku." jawab Ray.
Saat itu Miku terlihat berkeringat banyak sekali.
"Gumi-chan, bagaimana ini? Aku tak mau mati sekarang. Aku kan belum nikah ama Kaito-senpai." ujar Miku terlihat sedikit panik.
"Tenang saja, Shiro Ray sudah punya rencana." sahut Gumi.
Dante saat ini sedang mengendap-endap menuju ke halaman belakang akademi Voca.
"Miku-chan cepat berikan bom itu lewat bawah meja." suruh Gumi pada Miku.
"Tapi nanti..", "Tenang saja, takkan ketahuan. Saat ini tubuhmu sedang membungkuk sejak sebelum aku datang. Jadi, dia takkan curiga kalau kamu memberikan bom itu lewat bawah." potong Gumi pada penolakan Miku.
"Eh, begitu ya.." sahut Miku.
"Iya. Itu salah satu dari rencananya." balas Gumi.
Akhirnya Miku menyerahkan bom itu lewat bawah meja ke Gumi. Gumi pun menerimanya.
"Kelihatannya normal saja." ujar June yg memperhatikan melalui teropongnya.
Lalu kemudian Gumi pun berlari secepat yg ia bisa keluar dari kelas dan menuju ke atas melalui tangga.
"Tunggu mau kemana dia?!" ujar June terkejut dengan reaksi tiba-tiba dari Gumi.
"Jadi anda disini ya, pengintip sialan?" ujar Kamui yg ternyata sudah ada dibelakang June.
June pun terkejut dan menoleh dengan ragu. Dan saat ia melihat Kamui, dia langsung mengeluarkan detonator bom nya.
"Jangan mendekat, atau akan kuledakan bom nya!" ancam June.
"Bom apa? Anda pasti sedang bercanda. Pengintip seperti anda tak mungkin punya bom kan? Hahaha.." ujar Kamui malah meledek June.
"Sialan, sepertinya mereka tidak memberitahunya tentang bom itu." gerutu June dalam hati.
"Bersiaplah!" ucap Kamui yg lalu berlari ke arah June.
Kamui pun mencoba menebas June, tapi June melompat ke belakang tanpa takut jatuh dari ketinggian.
"Sepertinya akan kuledakan saja!" ucap June sambil menekan tombol pada detonatornya.
Kemudian terdengarlah suara ledakan yg lumayan keras.
"Hahaha.. lihat! Apa yg kau lakukan! Sekolah itu hancur gara-garamu!!!" ujar June setelah mendarat ditanah.
"Apa maksudmu!!? Sekolah mana?!!" teriak Kamui dari atas.
"Ya akademi Voca, dasar bodoh!!!" bentak June.
"Tapi akademi Voca kelihatan baik-baik saja!!!" teriak Kamui lagi menjawab June.
"Itu tidak mung.. kin.." ujar June sambil berbalik kebelakang, dan terkejut saat melihat akademi Voca baik-baik saja.
"Bagaimana bisa?!!" ucap June tidak percaya dengan apa yg dilihatnya.
Sebelumnya, saat June dan Kamui masih ada diatas atap apartement. Disaat yg sama Gumi sampai diatap gedung sekolah. Dia kemudian melempar bom itu jauh ke atas. Dan saat June menekan detonator dan meledakan bom itu, Dante yg sudah bersiap dihalaman belakang sekolah itu dengan keadaan berubah, dia menggunakam devilish slash ke arah ledakan untuk meminimalisir efek ledakan itu dengan daya hantam dari tekniknya tersebut. Kembali ke masa sekarang, Ray saat ini sedang tersenyum mengintip keluar jendela dibelakang bangku Miku.
"Kalian semua tidak apa-apa?" tanya Luka pada para murid di kelas itu.
Para murid pun menjawab kalau mereka tidak apa-apa. Begitu pula Yoshino-sensei.
"Apa kamu yg merencanakan ini, Megurine-san?" tanya Yoshino-sensei.
"Bukan. Tapi dia.." jawab Luka menggelengkan kepalanya lalu menunjuk ke arah Ray.
"Shiro-san?!" ucap Yoshino-sensei terlihat terkejut.
"Kita tinggal menunggu tanda dari Gakupo-san." ujar Ray pada Luka.
Miku saat itu menoleh dan melihat ke arah Ray dengan ekspresi tak percaya. Sementara di tempat Kamui, dia masih merasa bingung dengan pengintip itu.
"Ada apa dengannya? Hmm.. mungkin aku harus lihat apa yg sedang ia lihat." ujar Kamui lalu mendekati teleskop itu.
Kemudian Kamui mulai melihat melalui teleskop itu dan ia terlihat terpesona akan sesuatu. Dia melihat Luka yg sedang berdiri dengan anggun dekat jendela.
"Luka-tan memang indah. Hehehe.." ucap Kamui mulai membuat wajah mesum.
Saat itu dikelas, Luka memang sedang berdiri dekat jendela sementara Ray mendekati pintu belakang kelas.
"Ray-kun mau kemana?" tanya Luka.
"Aku mau pergi ke suatu tempat." ujar Ray.
"Aku ikut." sahut Luka yg lalu mengikuti Ray.
Ray pun tersenyum saja saat itu. Sementara di atap apartement.
"Yah, dia pergi.." ucap Kamui terlihat kecewa.
Saat itu terlihat June sudah berada di udara diatas Kamui. June hendak menendang kepala Kamui ke bawah. Namun Kamui ternyata menyadari itu dan melangkah kebelakang sambil menebas June. June mampu menghindarinya dengan bergerak kebelakang.
"Jatuh dari ketinggian tanpa terluka dan mampu kesini dalam waktu singkat, kelihatannya anda bukan orang biasa, pengintip." ujar Kamui menatap sayu.
"Kamu baru sadar?" ucap June dengan nada sombong.
Kamui pun berubah dan dengan cepat dia meletakan katananya di depan keningnya.
"Enka." ucap Kamui lalu keluarlah cahaya menjulang kelangit dari katana Kamui.
"Oohh.. cahaya ini. Sepertinya aku kenal." ujar June terlihat tenang saja.
"Anda telah mengintip Luka-tan. Takkan kumaafkan!" kata Kamui sambil menyipitkan matanya.
"Hah? Kamu masih mengira aku ini pengintip?!" sahut June.
Tanpa sepengetahuan June, Gumi datang dari belakang.
"Megu?!" ucap Kamui.
Mendengar hal itu, June menyadari ada seseorang di belakangnya kemudian melompat dan bersalto kebelakang menghindari tendangan Gumi.
"Bodoh! Kenapa kamu malah menyebut namaku!!!?" bentak Gumi pada Kamui.
"Maaf-maaf.." sahut Kamui sambil tersenyum bodoh.
"Hahaha.. kalian nampaknya hanya sekumpulan orang bodoh." ejek June pada Gumi dan Kamui.
"Devilish Slash!" teriak Dante dari kejauhan.
Hal itu mengejutkan June yg lalu melompat keatas dan menghindari api hitam berbentuk bulan sambit horisontal itu. Gumi dan Kamui pun lalu tiarap saat melihat api hitam itu. Dante muncul melesat melalui bawah June dan ia nampak berbalik dan menghempaskan api hitamnya lagi ke arah June. June berusaha menendang api hitam itu untuk menahannya. Namun June tetap terhempas dan terpental kebelakang dan menghantam tanah beberapa kali.
"Tadi itu berbahaya sekali! Bagaimana jika itu mengenai kami!!?" bentak Gumi.
"Akan lebih berbahaya jika kalian terlalu dekat dengannya. Lagipula aku tahu kalian bisa menghindarinya kalau dia saja bisa." ujar Dante lalu menoleh ke arah Gumi dan Kamui yg sedang merunduk.
Ditempat lain disebuah padang rumput yg luas, June terlihat bangkit lagi. Penutup kepalanya jaketnya terbuka dan rambut coklatnya terlihat jelas.
"Selamat siang, teroris-san." sapa Ray yg sudaj berdiri dibelakang June.
Lalu June pun menoleh kebelakang. Dan ia pun melihat Ray dan Luka berdiri dengan santai. Saat itu Luka sudah dalam keadaan berubah.
"The White Light.." ujar June dan terlihatlah dengan jelas wajahnya saat ini.
Dia punya rambut coklat dengan poni menutup keningnya dan memanjang ke hidung. Matanya terlihat seperti selalu menatap sombong dan bibir dengan senyuman penuh percaya diri.
"Kamu sudah terpojok, JB." ucap Dante yg juga sampai disana.
Dibelakangnya ada Kamui dan Gumi yg mengikutinya.
"Hebat sekali. Mengepungku seperti ini. Ini seperti kamu sudah tahu aku akan jatuh disini." ujar June sambil tersenyum ke arah Ray.
"Aku tidak tahu. Aku hanya memastikannya." sahut Ray.
"Begitu ya. Jadi semua ini sudah direncanakan. Begitu pula dengan kamu mengencingi tong air itu." ujar June.
"Ray-kun?!" ucap Luka terkejut.
"Aniki mengencingi nya?!!" kata Dante yg juga kaget.
Sementara Gumi nampak menutup mulutnya dan menahan mual.
"Ya begitulah." jawab Ray sambil tersenyum.
"Noooo..!!" teriak Luka, Gumi dan Dante dalam hati mereka dengan wajah shock.
"Dan aku juga sudah tahu kalau yg sebenarnya kamu incar adalah aku." sambung Ray.
"Kamu menggunakan Miku sebagai umpan. Lalu membuat aku berusaha menyelamatkan Miku dan membawa bomnya. Saat kamu memastikan aku dekat dan ada pada jarak ledakan, maka kamu akan meledakan bom itu saat itu juga." tambah Ray.
"Bagaimana kamu bisa menyadarinya?" tanya June.
"Dari kamu sendiri. Kamu sama sekali tidak meminta tebusan ataupun memberikan alasan dalam ancamanmu, berbeda dengan teroris pada umumnya. Dan itu artinya kamu tidak peduli dan akan tetap meledakan bom itu pada akhirnya." jawab Ray.
"Tapi bukankah itu belum mengindikasikan kalau yg aku incar itu kau kan?" ujar June.
"Justru yg membuatnya jelas adalah kamu meletakannya di dalam meja Hatsune-san. Karena aku yakin kamu memperhatikan di suatu tempat sejak beberapa hari yg lalu." jelas Ray.
"Menarik sekali. Memang tidak diragukan lagi orang yg paling ditakuti oleh nya. Bahkan mendapat julukan 'Kaisar' dari nya. The White Light, kau memang mengerikan. Seandainya kamu ada disisi kami, pasti kami sudah menang saat itu." ujar June melotot dengan menyeramkan ke arah Ray.
"Oohh.. jadi ayah yg menyuruhmu kemari, JB?" tanya Dante.
"Ya. Aku diperintahkan untuk membawa kembali anda dan menangkap The White Light. Karena salah satu komandan yakin saat ini dia sudah kehilangan kekuatannya." jawab June.
"Maaf, aku tak mau kembali." tolak Dante.
"Kenapa? Memangnya apa yg sebenarnya dilakukan oleh The White Light saat itu sehingga tuan Lucifer jadi mengkhianati kami?" tanya June.
"Itu bukan urusanmu." jawab Dante.
"Memangnya apa yg terjadi saat itu?" tanya Gumi.
"Saat kami mengalahkan pangeran kegelapan kami yakin telah membunuhnya." sambung Kamui.
"Kalian masih yakin kalau yg mengalahkannya adalah kalian? Hahaha.." ujar June menertawakan Gumi dan Kamui.
Mendengar hal itu, Gumi dan Kamui tampak kesal. Sementara Ray dan Dante hanya diam saja.
"Yg mengalahkan tuan Lucifer sebenarnya adalah The White Light." sambung June.
"Apa?!" ucap Gumi dan Kamui terkejut mendengarnya.
"Apa itu benar, Ray-kun?" tanya Luka.
"Ya, bisa dibilang begitu." jawab Ray.
Gumi dan Kamui seakan tak percaya dengan apa yg didengarnya.
"Hahaha.. tapi nampaknya aku harus pergi. Aku tak ingin mati disini. Bye.." ucap June kemudian ada sinar dari atas menyorot kearahnya.
Dan tubuh June pun menghilang terkena sinar itu. Dante terkejut melihat hal itu. Dia melihat ke arah langit.
"Jangan-jangan itu.. singgasana ku?!" ucap Dante terkejut.
Namun Gumi, Kamui dan Luka yg juga melihat ke atas tidak melihat ada apapun.
"Kalian takkan bisa melihatnya. Singgasana itu memiliki sebuah pelindung yg membuatnya tak terlihat. Sebaiknya kita kembali saja ke akademi Voca." ujar Ray.
"Aniki, apa benar kau mengencingi tong air?" tanya Dante.
"Tentu saja tidak. Aku hanya membuatnya berpikir seperti itu. Aku memasukan air kedalam plastik lalu mengikatnya dengan kencang. Aku lubangi ujung sudut plastik, lalu aku pencet dan air pun mengucur terlihat seperti kencing." jelas Ray.
"Jenius sekali. Padahal aku hampir saja mau muntah barusan." komentar Gumi.
Di akademi Voca saat itu sudah lebih tenang.
"Kudengar, kamu yg merencanakan penyelamatan sekolah ini. Terima kasih ya.." ujar ketua OSIS pada Ray.
"Ya, sama-sama. Saat ini kan aku siswa akademi Voca. Sudah seharusnya aku melindungi sekolahku ini." jawab Ray.
"Jadi dia yg direkomendasikan oleh Megurine-san sebagai ketua seksi manajamen artis dan panggung?" tanya seorang guru dengan wajah berbrewok itu.
"Kalau dia aku pasti akan setuju." sambung guru itu saat melihat Ray.
"Eh? Eeeehhhh?!!!" ucap para anggota OSIS yg ada di sekitar situ.
"Soalnya dia memang hebat juga cerdas. Dia mampu melewati tes masuk dengan nilai sempurna. Dia juga handal dalam memainkan alat musik. Tapi anehnya dia meminta tukar kelas ke kelas paling ujung tanpa alasan dan tidak mempublikasikan nilainya." jelas guru itu.
"Sehebat itu kah?!!!" ucap para anggota OSIS sangat terkejut.
"Kalau begitu kamu dengan resmi diangkat menjadi ketua seksi manajemen artis dan panggung." sambung ketua OSIS.
"Terima kasih." sahut Ray sambil membungkukkan badannya.
Para siswa pun dipulangkan tanpa belajar karena insiden tadi. Ray dan Dante terlihat berjalan bersama. Sementara Luka sedang berbicara dengan Tsugumi di depan gerbang.
"Apa barangnya sudah sampai?" tanya Luka pada Tsugumi.
"Ya, barusan sampai ke rumah." jawab Tsugumi.
Tsugumi terlihat memberikan sesuatu pada Luka. Dan saat itu Ray lewat di sampingnya.
"Ray-kun." panggil Luka.
Ray pun menoleh ke arah Luka dan berhenti.
"Aniki.." ucap Dante.
"Kamu pulanglah duluan." suruh Ray.
"Baik, Aniki." sahut Dante yg lalu berjalan duluan meninggalkan Ray.
"Ada apa, Megurine-san?" tanya Ray.
"Aku punya sesuatu yg harus aku berikan padamu." jawab Luka menghampiri Ray.
Para murid yg sedang lewat-lewat pun berhenti dan memperhatikan mereka. Saat itu Luka terlihat menyodorkan sebuah kotak kecil ke arah Ray. Para murid terlihat terkejut melihat hal itu.
"Apa ini?" tanya Ray melihat kotak terbungkus kertas itu.
"Buka saja.." jawab Luka terlihat senang sambil meletakan kedua tangannya dibelakang.
Ray pun membuka bungkus kertas kotak itu. Ternyata itu adalah kotak kardus HP. Sejenis smartphone model terbaru.
"HP?" ucap Ray.
"Luka-sama memberikannya HP?!! Apa maksudnya ini!!?" ucap para murid dalam hatinya semakin terkejut.
"Itu supaya kamu bisa menghubungiku kapan saja. Sebentar.." jawab Luka lalu mengeluarkan buku tulis lalu menuliskan sesuatu kemudian merobeknya dan memberikan robekan itu pada Ray.
"Itu nomer dan alamat emailku. Hubungi aku ya.." sambung Luka sambil mengacungkan jempol dan kelingkingngnya di samping telinganya sambil tersenyum.
"Ya, terima kasih hadiahnya.." ucap Ray dengan wajah sedikit memerah.
Luka pun terlihat senang dan wajahnya ikut memerah saat melihat Ray menyukai hadiah darinya. Tapi dibelakang Ray sebaliknya, muncul aura gelap keunguan dari murid-murid yg nampaknya semuanya adalah fans nya Luka.
"Entah kenapa aku merasakan sesuatu yg aneh disekitarku." ucap Ray dengan mata sayu dan tersenyum sinis.
Sementara saat itu Dante sedang berjalan sendirian.
"Aahh.. semenjak bersama dengan wakil ketua OSIS itu, Aniki jadi semakin jauh dariku." ujar Dante sambil menghela napas.
Lalu ia pun melihat Gumi berdiri bersandar di tiang listrik.
"Bisa bicara sebentar?" ucap Gumi saat Dante mendekat.
Dante pun berhenti dan melihat ke arah Gumi.
"A-aku punya sesuatu untukmu.." ucap Gumi dengan malu-malu.
"Sesuatu? Apa itu?" tanya Dante penasaran.
"Ini." jawab Gumi menyodorkan sebuah kotak HP dengan tangan kanannya.
"Waaahh.. HP?!!" ucap Dante dengan wajah terkejut sekaligus senang.
Dante pun mengambil kotak HP itu dari tangan Gumi. Dan sesaat tangan mereka bersentuhan. Gumi pun sedikit tersentak seperti tersengat listrik dan langsung menarik lagi lengannya.
"Di-dia menyentuh lenganku?!!" ujar Gumi dalam hati dengan jantung dag-dig-dug.
Namun Dante nampak biasa saja karena memang menurutnya itu hal yg biasa. Apalagi mereka memang sudah bersentuhan beberapa kali dalam pertarungan, atau mungkin itu lebih bisa dibilang berhantaman pukul dan tendangan.
"Ada apa ini? Perasaan ini berbeda dengan rasa takutku terhadap orang asing. Ini bukan berasal dari phobiaku." ujar Gumi dalam hati sambil memegang dada bagian atasnya.
"Haha.. terima kasih ya." ujar Dante tampak bahagia.
"Ya, sama-sama. Tapi jangan salah sangka, aku memberikan itu hanya sebagai hadiah karena mau melatihku selama ini." sahut Gumi masih dengan malu-malu.
"Oohh.. begitu ya. Kukira kamu memberikan ini karena suka padaku." ujar Dante.
Wajah Gumi pun langsung memerah seperti hendak meledak.
"Tidak mungkin lah aku suka padamu. Jangan ke GR-an!" bentak Gumi.
"Haha.. maaf. Kalau begitu aku duluan ya.." sahut Dante lalu pergi.
"Sekali lagi terima kasih ya HPnya!" teriak Dante dari kejauhan.
Saat itu Gumi terlihat mengeluarkan ponsel nya. Ponsel dengan tipe sama dengan milik Dante. Hanya saja miliknya berwarna hijau, sementara yg Dante dari kardusnya kelihatannya berwarna merah.
"Aku membelikannya ponsel yg sama denganku karena aku hanya tahu tentang ponsel ini. Aku tak tahu apakah ini bagus atau tidak menurutnya." gumam Gumi sambil memperhatikan ponselnya.
Disuatu tempat disebuah ruangan yg seluruhnya terbuat dari metal, June terlihat kesal dan merobek-robek kertas dan membuangnya kemana-mana.
"Kurang ajar kau The White Light!! Tanpa kekuatan pun masih saja menyusahkan!!!" bentak June.
"Kau membuatku tak punya pilihan! Akan kugunakan cara yg kasar!! Bersiaplah, The White Light!!!" teriak June terlihat geram.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.