VocaWorld, chapter 113 - Angin Perubahan (Teralihkan Keindahan)

El Rosyid membakar tawanan yg sedang di interogasi. Kamui dan Gumi membawa alat pemadam kebakaran dan memadamkan apinya. Aisyah terlihat marah dan lalu menjambak kerah baju El Rosyid. Namun El Rosyid menepuk tangan Aisyah hingga terlepas cengkeramannya. Kamui marah karena El Rosyid berlaku kasar, dan kemudian Kamui mencabut katananya dan mengayunkannya dengan cepat ke arah leher El Rosyid. El Rosyid terlihat terkejut. Tapi ternyata ujung katana itu berhenti tepat setengah centimeter sebelum mengenai lehernya.
"Kami memang anak kecil. Tapi kami tahu mana yg salah dan mana yg benar. Kami takkan membiarkan siapapun menyakiti seorang perempuan tepat di depan mata kami." ujar Kamui menatap tajam ke arah El Rosyid.
El Rosyid balas menatap tajam ke arah Kamui.
"Kalian! Hentikan!" suruh kapten Al Hadid.
Kamui pun menyarungkan kembali katananya. Dia pun menghela napas dan mencoba menenangkan dirinya lagi.
"Rosyid! Nanti melaporlah ke ruanganku!" sambung kapten Al Hadid pada El Rosyid terlihat sedikit kesal.
"Lalu kalian semua, keluarlah. Biar aku yg menginterogasi nya." tambah kapten Al Hadid pada mereka semua.
Semua orang pun keluar dari ruangan interogasi kecuali kapten Al Hadid. El Rosyid merasa kesal dan pergi meninggalkan Kamui, Gumi, dan Aisyah.
"Apa selama ini El Rosyid-dono selalu seperti itu?" tanya Kamui pada Aisyah.
"Tidak. Dulu dia tidak seperti itu. Dia sudah 2 tahun menyamar sebagai pasukan pengintai Pangeran Kegelapan. Dan dia terasa semakin berubah. Saat ini, dia seperti orang asing." jawab Aisyah dengan menatap sedih ke bawah.
"Pasukan pengintai? Jadi dia menjadi pengumpul informasi untuk Pangeran Kegelapan?" tanya Gumi.
"Ya, memang begitu tugas pasukan pengintai. Tapi, El Rosyid selama ini selalu memberikan kami informasi rahasia. Tentang rencana perang, jumlah pasukan, dan waktu penyerangan mereka. Jadi kami selalu bisa mengatasi serangan pasukan Pangeran Kegelapan." jelas Aisyah.
"Hmm.. lalu kenapa saat ini dia pulang kemari? Bukankah dia harusnya berpura-pura jadi pengintai?" ucap Gumi sambil berpikir.
Aisyah pun terkejut saat mendengar kata-kata Gumi.
"Benar juga, kenapa dia memilih disini daripada tetap disisi mereka dan melaporkan laporan palsu pada mereka." sambung Aisyah sambil terlihat sedang berpikir keras.
"Kenapa kalian begitu bingung? Bisa saja kan El Rosyid-dono kesini agar bisa makan enak." ujar Kamui memotong pembicaraan.
"Hah? Kamu ngaco, Gaku-Gaku. Kalau cuma mau makan enak kan bisa di restoran saja." sahut Gumi.
"Mungkin beliau miskin sengsara belangsak tidak punya apapun kecuali pakaian dan jubah hitam itu." balas Kamui.
"Kalau dia memang semiskin itu, lalu selama ini dia bertahan hidup di wilayah Pangeran Kegelapan bagaimana caranya?" tanya Gumi sambil tersenyum aneh.
"Aaaaa.. mungkin El Rosyid-dono cuma makan lalaban terus tiap hari." jawab Kamui tanpa dipikir dahulu.
"Kamu kira dia kambing makan daun terus." ujar Gumi.
"Tidak-tidak-tidak.. El Rosyid-dono bukan kambing. Dia lebih mirip.. domba!" sahut Kamui.
"Sama aja! Mereka satu family!" bentak Gumi.
"Lho, jadi kambing dan domba satu keluarga? Terus ortu mereka siapa dong? Dombing?" ujar Kamui mengira kalau domba dan kambing kalau disatukan jadi dombing.
Gumi hanya bisa menatap malas tapi greget pada Kamui.

Malam pun tiba, obat nyamuk yg diset disumbu mercon terlihat sudah tinggal sedikit lagi mau habis.
"5 menit menuju pertunjukan. Aku sudah siap untuk hal ini." ujar laki-laki berkain coklat bergoggle hitam duduk disebuah ruangan dan disamping nya ada jendela.
Di seluruh bagian kota terlihat hening. Kota mati yg telah ditinggalkan penduduknya itu terlihat begitu sunyi. Tak ada tanda-tanda kehidupan.
"Ayo kita mulai." ucap laki-laki itu sambil berdiri.
Kemudian obat nyamuk nampak sampai ke ujungnya. Menyalakan sumbu mercon dan meluncurnya cahaya menuju ke langit. Dan cahaya itu pecah menjadi kembang api. Muncul begitu banyak kembang api di seluruh bagian kota. Hal itu menarik perhatian orang-orang di markas.
"Suara apa itu diluar?" ucap salah seorang anggota pasukan mindy.
"Jangan-jangan itu serangan?! Ayo kita keluar!" ucap anggota pasukan yg lain lalu berlari keluar.
Melihat ada yg berlari keluar, mereka pun ikut keluar menaiki tangga lalu membuka pintu. Tapi mereka dikejutkan oleh cahaya-cahaya yg indah dilangit di sekeliling mereka.
"Tidak, ini bukan suara roket. Seseorang nampaknya menyalakan kembang api." ucap salah seorang anggota pasukan mindy yg ada diluar.
Kamui, Gumi dan Aisyah yg melihat orang-orang berlari keluar kemudian ikut berlari keluar. El Rosyid juga terkejut melihat orang-orang berlari keluar.
"Hei tunggu! Ada apa? Kenapa kalian berlari keluar?" tanya El Rosyid menghentikan orang yg lewat.
"Saya tidak tahu. Saya hanya ikut-ikut saja. Tapi katanya tadi ada suara seperti ledakan roket." jawab orang itu kemudian berlari lagi.
"Suara ledakan?" ucap El Rosyid lalu terlihat diam.
Suara itu memang tidak terdengar karena suara langkah kaki orang berlari yg begitu banyak. El Rosyid pun memutuskan untuk ikut keluar karena penasaran. Saat sampai diluar, El Rosyid terkejut karena melihat kembang api ada dimana-mana.
"Siapa yg menyalakan kembang api disaat seperti ini? Bukankah kota ini kosong karena penduduknya sudah mengungsi semua?" gumam El Rosyid tak habis pikir dengan apa yg terjadi.
"Jangan terkejut jika aku ada dibelakangmu, orang palsu." ujar seorang laki-laki dari belakang El Rosyid.
El Rosyid begitu terkejut mendengar suara itu. Dia mengenal suara itu.
"K-kau?! Si anak baru?!" ucap El Rosyid dengan mata terbelalak kaget.
"Saatnya untuk pergi, orang palsu." ujar laki-laki itu lalu memukul El Rosyid hingga tak sadarkan diri lalu menyeretnya dan memasukan ke dalam sebuah bungkusan sampah.
Bungkusan itu kemudian di letakan di samping tong sampah dan plastik hitam bungkusan sampah yg lain. Tak ada satu orang pun yg menyadari itu karena mereka terlalu sibuk melihat kembang api. Ditambah saat itu El Rosyid memang diam paling belakang.

Pagi hari di ke esokan harinya, Aisyah baru sadar kalau El Rosyid menghilang. Dia panik dan terliat bertanya-tanya pada setiap orang. Disaat itu dia bertemu dengan Kamui dan Gumi.
"Angin Fajar, Angin Senja, apa kalian melihat El Rosyid?" tanya Aisyah.
"Tidak. Kenapa memangnya?" jawab Gumi lalu bertanya balik.
"Dia hilang. Kapten Al Hadid dan seluruh pasukan kami sedang mencarinya saat ini, namun tidak ketemu dimanapun." jawab Aisyah.
"Mungkin beliau cuma jalan-jalan keluar." sahut Kamui.
"Tapi tidak ada satu penjaga pun yg melihat ada yg keluar masuk." balas Aisyah.
"Mungkin lewat belakang atau lompat pagar." tambah Kamui.
"Tidak mungkin lah. Kami tak punya pintu belakang. Ditambah kami juga punya pengaman laser, jadi tak mungkin ada yg bisa lompat pagar. Kecuali kalau dia bisa melompat lebih dari 6 meter." jelas Aisyah yg merasa itu tidak mungkin terjadi.
"Mungkin beliau pakai teknik lompat galah." ujar Kamui tanpa berpikir.
"Hah? Dimana di dunia ini yg menggunakan lompat galah untuk menyusup keluar. Kalian anak-anak terlalu banyak nonton film Jackie Ch*n." gerutu Aisyah.
Sementara itu di gerbang depan terlihat ada seorang lelaki memakai pakaian kotor sedang membawa gerobak berisi sampah hendak keluar.
"Mau kemana?" tanya penjaga dari pengeras suara.
"Saya mau membuang sampah-sampah ini. Sudah terlalu banyak menumpuk disini, dan itu berbahaya. Kalau banyak sampah itu artinya ada kegiatan konsumsi. Kita bisa ketahuan kalau sampai terlalu banyak sampah baru disini. Jadi harus segera dibuang." ujar laki-laki bertopi itu wajahnya tak terlihat terhalang ujung depan topi.
"Baiklah, silahkan keluar. Dan hati-hatilah." sahut penjaga melalui pengeras suara.
Kemudian laser pengaman pun mati, dan laki-laki itu keluar sambil membawa gerobak sampah.
"Semuanya berjalan dengan lancar, tapi.. aku harus bergerak cepat sebelum pasukan pengintai lain tahu." ujar laki-laki itu yg wajahnya masih terhalang dan gelap oleh topi.
"Tapi memang sedikit ekstrim juga cara masuk kemari, aku harus pakai teknik lompat galah dari gedung terdekat dan mendarat diatap gedung ini. Untung saja aku pernah nonton film Jackie Ch*n." sambung laki-laki itu terus berlari menjauh dari markas sambil menarik gerobak dan membayangkan saat dia masuk ke area markas melewati laser pengaman.
"Hei, lepaskan aku bocah sialan!" suruh seseorang dari balik bungkusan sampah.
"Diamlah. Jangan remehkan seorang bocah, mengerti." kata laki-laki yg kelihatannya memang masih berusia 10 tahunan itu.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】