VocaWorld, chapter 105 - Perpecahan Diantara Kita

Di dalam kelas 1-B, Luka menatap tajam ke arah Gumi. Gumi terkejut ditatap seperti itu oleh Luka.
"Ada apa, Luka-oneesama?" tanya Gumi.
"Kamu masih bertanya kenapa, Gumi-chan? Kamu harusnya sadar apa yg kamu lakukan." jawab Luka.
"Ma-maksudnya?" sahut Gumi.
"Apa yg terjadi padamu? Kamu terlihat membenci Ray-kun. Padahal dia sudah membantu kita. Dia melatihmu selama ini kan melalui Dante-kun?" tanya Luka.
"Itu bukan urusan Luka-oneesama." jawab Gumi.
"Bukan urusanku? Tapi kamu saat ini sudah melibatkan aku. Melibatkan Miku-chan. Melibatkan seluruh siswa di sekolah ini." ujar Luka.
"Apa kamu masih belum sadar juga, Gumi-chan?" sambung Luka sambil menyipitkan matanya.
"Kenapa Luka-oneesama malah membela dia? Apa karena dia adalah orang yg Luka-oneesama sukai? Harusnya Luka-oneesama mengerti perasaanku! Saat ini aku sudah terinjak-injak!!" bentak Gumi pada Luka.
"Apa maksudnya? Aku tidak mengerti." tanya Luka.
"Shiro Ray itu hanyalah orang yg suka memanfaatkan orang lain dengan kepintarannya!" jawab Gumi.
Kemudian mereka dikejutkan oleh keributan dari luar. Mereka pun melihat pesawat singgasana pangeran kegelapan mulai terbang lagi.
"Kalau kau ingin mendapatkan kembali tuan putrimu ini! Datanglah padaku dan serahkan dirimu di bekas laboratorium Mindy!! The White Light!!! Hahaha.." teriak June melalui pengeras suara di pesawat.
Hal itu mengejutkan Luka dan Gumi.
"Apa yg terjadi?" ucap Gumi.
Luka berjalan mendekati jendela. Pesawat itu telah menghilang. Luka melihat ke arah Ray. Ray menatap ke arah Luka seperti mengatakan hal buruk telah terjadi. Luka mengerti apa maksudnya.
"Ada apa Luka-oneesama? Apa yg terjadi?" tanya Gumi.
"Kamu masih bertanya ada apa? Sebaiknya kamu harus mulai introspeksi diri, Gumi-chan." jawab Luka dengan ekspresi muak.
Luka pun berjalan meninggalkan kelas dengan langkah cepat. Gumi melihat ke arah jendela. Dia melihat Ray, Dante, Meiko dan Kaito sedang berkumpul. Saat dia melihat Miku tidak ada, dia pun sadar apa yg terjadi.
"Jangan-jangan.." ucap Gumi saat sadar Miku lah yg disandera oleh June.
Sementara itu diluar Ray mengumpulkan Dante, Meiko dan Kaito dan mengajaknya agak kepinggir.
"Saat ini kita sudah terlatih untuk hal ini. Yg berbeda hanya syaratnya saja. Saat ini akulah yg harus datang menunjukkan diriku." ujar Ray pada mereka.
"Oohh.. jadi selama ini kamu menjadikan Miku sebagai target adalah karena untuk mengantisipasi hal ini." sahut Meiko.
"Ya, tepat sekali." balas Ray pada Meiko.
"Dan walaupun dia menyuruhku yg menunjukkan diri, dia tidak mengatakan kalau kalian juga tidak boleh datang. Itu bisa kita manfaatkan." sambung Ray.
"Maksud Aniki kita membuat jebakan?" kata Dante.
"Bagaimana kau bisa terpikir semua ini akan terjadi waktu itu? Apa kau bisa membaca masa depan?" tanya Kaito.
"Bisa dibilang begitu. Mudah melakukannya jika kamu punya kemampuan dan tahu caranya." jawab Ray.
"Hebat sekali. Kalau aku juga punya itu, ujian kenaikan kelas dan ujian akhir pasti akan mudah." sahut Kaito.
"Maksud Ray-kun bukan membaca masa depan yg seperti itu. Yg dia maksud membaca masa depan adalah memprediksi apa yg akan terjadi. Ray-kun bisa memprediksi apa yg terjadi dari apa yg terjadi. Karena dia punya kecerdasan diatas rata-rata." jelas Luka sambil berjalan menghampiri mereka.
Ray pun tersenyum melihat ke arah Luka. Luka berhenti disamping Ray.
"Kenapa kamu senyum seperti itu?" tanya Luka terlihat risih melihat senyum Ray.
"Karena aku senang kamu bisa mengerti tentangku." jawab Ray sambil tetap tersenyum.
Wajah Luka memerah dan memilih melihat ke depan sambil menatap serius untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Kembali ke topik, jadi apa rencanamu Ray-kun?" tanya Luka mengalihkan pembicaraan.
"Seperti saat aku menculik Hatsune-san. Kita perlu bantuan Gakupo-san dan Megupo-san." jawab Ray.
"Tapi Ray-kun, kelihatannya itu akan sedikit sulit." ujar Luka.
"Sulit kenapa?" tanya Ray.
Luka pun mendekatkan mulutnya ketelinga Ray lalu membisikkan sesuatu. Ray terlihat membuka matanya lebar karena terkejut.

Di halaman depan, Gumi terlihat tertunduk seperti sedang bingung dan gundah dalam hatinya. Dia memang merasa bersalah karena Miku diculik karena dia tidak mengejarnya, namun dia merasa kesal pada Ray.
"Aku bingung harus melakukan apa. Apa aku ikuti perasaanku, atau aku ikuti amarahku?" ucap Gumi dalam hati sambil menghampiri rombongan kelas 1-B di halaman depan sekolah.
"Hey, Gumi-san. Dimana Hatsune Miku-san?" tanya Takuya selaku ketua kelas.
Gumi terkejut dan bingung mau jawab apa. Tapi teman-teman sekelasnya juga mulai menghampirinya karena penasaran dan khawatir.
"Dia.. dia.." jawab Gumi dengan ragu.
"Dia kenapa?" tanya yg lainnya.
"Dia.." ujar Gumi masih ragu.
"Hatsune Miku-chan tidak apa-apa. Dia hanya shock. Jadi sekarang sedang mendapatkan perawatan di UKS dan kalau tidak bangun juga akan aku bawa ke rumah sakit." jawab Luka memotong perkataan Gumi.
"Bolehkah kami menjenguknya?" tanya teman-teman Miku di kelas 1-B.
"Tidak boleh. Saat ini dia harus istirahat. Jadi tidak boleh dijenguk karena takut terganggu." jawab Luka.
"Lalu sebenarnya yg tadi itu apa?" tanya Yoshino-sensei selaku wali kelas.
"Aku masih belum bisa memastikan. Tapi yg pasti itu teroris yg sama dengan yg memasang bom waktu itu." jawab Luka.
Hal itu membuat terkejut semua yg mendengarkannya.
"Dan tolong rahasiakan ini dari media. Aku takut terjadi kepanikan massal di kota. Akan bahaya jadinya kalau sampai terjadi kekacauan." tambah Ray yg berjalan mendekati kumpulan siswa itu.
"Ya, dia benar. Sebaiknya kita tidak mengatakan hal ini pada siapapun dulu. Kita beritahukan hanya pada yg berwajib saja. Supaya tidak terjadi kekacauan." ujar ketua OSIS.
"Biar aku saja yg melaporkan hal ini." kata Luka.
"Jadi kenapa kamu juga baru muncul, Shiro-san?" tanya ketua OSIS pada Ray.
"Tidak apa-apa, hanya saja tadi aku sedang ditoilet saat serangan itu terjadi." jawab Ray.
"Dia berbohong. Aku yakin dialah yg menginstruksikan anggota OSIS untuk mengevakuasi para siswa. Tapi kenapa dia berbohong? Pasti karena dia tak ingin ketahuan akal bulusnya. Pasti dia juga menyuruh Luka-oneesama untuk berbohong." pikir Gumi menatap tajam ke arah Ray.
"Apa saat ini kita sudah aman?" tanya ketua OSIS.
"Sudah. Teroris itu sudah pergi saat ini. Dan sebaiknya kita kembali belajar supaya orang tua kalian tidak curiga khawatir." jawab Luka.
Semuanya pun setuju dan kemudian kembali masuk ke gedung sekolah.
"Megupo-san.. aku tahu kamu saat ini sedang marah padaku. Tapi tolong, saat ini aku butuh bantuanmu. Aku butuh kekuatanmu untuk menyelamatkan sang putri." ujar Ray sambil berjalan.
"Lakukan saja sendiri. Kalaupun aku ingin menyelamatannya, akan kulakukan dengan caraku sendiri." sahut Gumi menolak permintaan Ray.
Gumi pun menambah kecepatan langkahnya dan meninggalkan Ray.
"Ternyata benar yg dikatakan Megurine-san." ujar Ray di dalam hatinya.

Saat pulangnya, Ray dan Luka pulang bersama. Mereka berdua tampak berjalan berdampingan.
"Apakah kamu berhasil membujuknya?" tanya Luka melihat ke arah Ray.
"Tidak. Saat ini hatinya masih tertutup kegelapan yg cukup pekat." jawab Ray tetap melihat ke depan.
"Dia itu, aku akan memarahinya." gerutu Luka mengeluarkan ponselnya.
"Tidak, hentikan. Biarkan saja." larang Ray menahan ponsel Luka dengan telapak tangannya.
"Ray-kun?" ucap Luka bingung.
"Saat ini kita konsentrasi menyelamatkan Hatsune-san. Kita selesaikan masalah itu nanti." balas Ray.
"Oh ya Ray-kun, kenapa tadi pagi kamu telpon aku saja? Sampai saat ini kamu belum memberikanku nomermu." tanya Luka penasaran.
"Hah? Oohh.. itu. Aku belum beli sim card nya. Makanya tadi pagi aku kirim email pakai jaringan wifi sekolah." jawab Ray.
"Apa? Beneran beluk beli?" tanya Luka tidak percaya.
"Iya." jawab Ray.
"Ya ampun, kenapa sih kamu miskin banget. Lalu selama ini bagaimana kamu bisa bertahan hidup?" tanya Luka.
"Aku bertahan dengan memakan ikan, minum air dari keran taman, dan menjual ikan kalau butuh uang." jawab Ray.
"Jadi selama ini terus begitu?" tanya Luka lagi.
"Ya." jawab Ray.
Luka pun terlihat sedih seakan tak percaya dengan apa yg dikatakan Ray. Karena kalau itu Luka tak mungkin kalau dia bisa bertahan makan ikan saja. Karena Luka terbiasa makan makanan enak.
"Aku.. aku akan membelikanmu sim card." ujar Luka dengan nada sedih.
"Tidak perlu. Lagipula kebetulan semalaman aku tidak tidur dan bisa mancing sampai pagi. Jadi aku dapat banyak ikan yg bisa kujual dipasar ikan." tolak Ray.
"Ray-kun tidak tidur semalaman? Pantas kamu punya kantung mata saat ini." sahut Luka.
"Ya, mau bagaimana lagi. Aku ingin terus terhubung denganmu." balas Ray sambil melirik ke arah Luka.
Wajah Luka memerah mendengar hal itu.
"Simpan saja ikanmu." ucap Luka dengan pelan.
"Apa?" tanya Ray yg tak mendengar jelas.
"Simpan saja ikanmu! Kamu tak perlu menjualnya!" bentak Luka.
Ray sedikit terkejut karena Luka tiba-tiba membentaknya.
"Biar aku saja yg membelikanmu sim card." sambung Luka sambil menundukkan wajahnya dengan malu-malu.
"Terima kasih, my queen." ucap Ray terlihat senang dan tersenyum menatap Luka.
Wajah Luka makin memerah saja melihat Luka. Dari kejauhan, Gumi mengikuti dan memperhatikan mereka dari belakang.
"Sudah kuduga, Shiro Ray memanfaatkan Luka-oneesama." ujar Gumi menduga-duga meskipun tak mendengar pembicaraan mereka.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Dante yg ternyata ada tepat dibelakang Gumi.
"Whoa?!! Ke-kenapa kamu masih disini?" tanya Gumi terkejut dan menoleh ke arah Dante.
"Tentu saja aku sedang mau pulang sambil memperhatikan Aniki." jawab Dante.
"Huh! Dasar stalker!" ledek Gumi.
"Kau juga melakukan hal yg sama kan?" sahut Dante sambil tersenyum sinis.
Sementara itu disebuah tempat jauh di dalam pegunungan di selatan Voca Town. June melihat sebuah reruntuhan dari atas pesawat.
"Jadi ini reruntuhan laboratorium itu. Tak kusangka informasi dari dia memang benar-benar tepat. Tidak salah dia jadi salah satu komandan saat itu." ujar June tersenyum penuh percaya diri.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】