VocaWorld, chapter 99 - Pasang Umpan

Di akademi Voca pagi itu, depan mading terlihat ada kerumunan orang. Kaito yg melihat kerumunan itu mulai menduga hal yg aneh lagi.
"Perasaanku tidak enak nih." ujar Kaito sambil mendekati mading.
Kaito pun menyelusup diantara para siswi yg berkerumun itu.
"Permisi.. permisi.." ucap Kaito.
Dan benar saja, Kaito langsung pucat saat sampai di depan mading. Dia melihat sebuah artikel dengan gambar dirinya dan Kamui saat di festival waktu itu. Dan artikel itu berjudul, 'Kaito dan Kamui hidup bersama?'.
"Siapa yg menulis ini?!!" pekik Kaito dalam hati setelah membaca isinya.
"Itu Kaito-sama!" ucap para siswi dibelakangnya.
"Kya! Kaito-sama!!" teriak para siswi itu dengan histeris.
"Kaito-sama beneran tinggal bareng dengan Kamui-sama?" tanya salah satu siswi saat Kaito berbalik.
"Benarkah itu Kaito-sama?" sambung siswi disebelahnya.
"Apa Kaito-sama sedang menjalin hubungan dengan Kamui-sama?" tanya yg disamping Kaito.
"Jangan-jangan Kaito-sama sudah menikah dengan Kamui-sama.." tambah yg dibelakang.
Dan kerumunan itu pun ribut oleh pertanyaan-pertanyaan yg semakin lama semakin memojokkan Kaito. Dari belakang kerumunan, Kaito dapat melihat Meiko yg menatap sayu ke arahnya.
"Meiko, tolong aku! Tolong jelaskan pada mereka kalau aku.." ucap Kaito.
Namun Meiko langsung melarikan diri saat Kaito memanggilnya.
"Kenapa kau malah kabur?!!" pekik Kaito.
Kaito pun berusaha keluar dari kerumunan yg menahannya dengan pertanyaan-pertanyaan menyeramkan itu. Di dalam kelas 1-B, Miku dan Gumi sudah datang dan sedang duduk di tempat duduknya masing-masing.
"Kapan ya bakalan ada yg jemput aku pas berangkat dan pulang sekolah? Aahh.." keluh Miku lalu menghela napas.
Saat itu Gumi tidak mendengarkan karena sedang melamun.
"Oh ya, Gumi-chan kemarin ada urusan apa sih? Meiko-san dan Kaito-senpai nanyain tuh." tanya Miku pada Gumi.
Namun Gumi masih tetap saja melamun.
"Gumi-chan?" ucap Miku sambil menyentuh bahu Gumi.
Hal itu pun mengejutkan Gumi, dan hampir membuatnya terperanjat.
"O-ooh.. Miku-chan tadi nanya ya? Maaf aku tidak mendengarkan. Bisa tolong diulang." pinta Gumi sambil menoleh ke arah Miku lalu tersenyum.
"Gumi-chan kemarin kemana? Ada urusan apa? Meiko-san dan Kaito-senpai nanyain tuh." kata Miku mengulang pertanyaannya dengan kata-kata sedikit berbeda.
"Oh.. kemarin ya. Eto.. bukan masalah yg besar sih. Cuma mau pulang cepet aja." jawab Gumi dengan sedikit gugup.
"Aku mana mungkin bisa mengatakan kalau aku kemarin tuh aku.." ujar Gumi dalam hati namun tidak menyelesaikan perkataannya.
"Aniki!" panggil Dante berlari masuk ke dalam kelas 1-B dari pintu depan.
"Lho, dia tidak ada?" ujar Dante saat melihat Ray tidak ada dibangkunya seperti biasa.
"Oy kalian berdua! Apa kalian lihat Aniki?" tanya Dante pada Gumi dan Miku.
"Tidak." jawab Miku.
"Aku juga. Saat kami datang Shiro Ray sudah tidak ada, dan hanya ada tas nya." sambung Gumi.
"Oohh.. begitu ya. Terima kasih ya.." sahut Dante tersenyum lalu berlari keluar lagi.
"Tu-tunggu.." ucap Gumi mencoba menghentikan Dante.
Namun Dante sudah keburu keluar dari kelas.

Di ruangan OSIS, terlihat Luka sedang menghadap ketua OSIS dan anggota OSIS lainnya.
"Ketua, aku ingin memperkenalkan seseorang yg sepertinya pantas mengisi kekosongan disini." ujar Luka sambil tersenyum.
"Maksudmu jadi ketua seksi manajemen artis dan panggung?" sahut ketua OSIS.
"Ya." balas Luka tetap tersenyum.
"Tapi sampai saat ini belum ada yg sanggup jadi ketua seksi tersebut selama 4 tahun terakhir. Perlu kerjasama dari seluruh seksi untuk mengisi kekosongan itu sampai saat ini." ujar ketua OSIS.
"Memang. Tapi orang yg satu ini aku yakin bisa menanganinya. Dia sangat cerdas dan jenius. Aku sendiri bahkan tak ada apa-apanya dibandingkan dengannya." jawab Luka dengan yakin.
Ketua OSIS sedikit terkejut mendengarnya. Karena yg ia tahu Luka adalah yg paling cerdas di akademi Voca saat ini.
"Dari wajahmu yg begitu yakin, sepertinya aku perlu melihat orangnya sendiri." sahut ketua OSIS.
"Baiklah ketua." ujar Luka.
"Ray-kun, ayo masuk!" panggil Luka.
Kemudian masuklah Ray ke ruangan OSIS tersebut.
"Oh kamu.. yg waktu tahun kemarin melapor itu." ujar ketua OSIS mengenali Ray.
"Nama saya Shiro Ray. Salam kenal.." ujar Ray sambil membungkukkan badannya.
"Ketua pernah bertemu dengannya?" tanya Luka terkejut.
"Kamu lupa? Dia kan yg menolongmu dari Yuusuke-senpai." jawab ketua OSIS.
"Ray-kun?" sahut Luka sambil menoleh ke arah Ray.
"Ya, itu benar." jawab Ray.
"Haha.. kalau dia sih aku pasti langsung menerima nya." ujar ketua OSIS.
"Eehhh?!!!" ucap semua anggota OSIS yg hadir dan ketua setiap seksi terkejut.
"Ketua yakin akan menerimanya begitu saja?" tanya salah satu ketua seksi.
"Ya.. mau bagaimana lagi. Dia direkomendasikan oleh ratu sekolah sekaligus orang yg paling pintar di sekolah. Ditambah, kurasa dia adalah orang yg pantas mengisi kekosongan posisi itu." ujar ketua OSIS.
"Tapi dia kan baru kelas satu?" protes salah satu anggota OSIS.
"Yg dia katakan benar ketua. Aku memang masih kelas satu. Semua orang tahu itu. Aku memang kelas satu. Belum kelas 2 atau kelas 3." ujar Ray.
"Tuh kan? Dia juga mengakuinya." sambung anggota itu.
Ketua OSIS lalu tertawa terbahak-bahak, sementara Luka senyum-senyum.
"Kenapa kalian malah menertawakanku?" tanya anggota itu yg bingung apa yg terjadi.
"Maaf, tapi tadi itu lucu sekali." jawab ketua OSIS.
"Lucu? Lucu dimananya?" tanya anggota itu lagi.
"Tadi kan kamu bilang dia kelas satu. Lalu dia bilang dia memang kelas satu, bukan kelas dua ataupun kelas tiga. Jadi kamu benar dia memang kelas satu." jelas Luka.
Yg lain pun mulai senyum-senyum saat mengerti maksudnya. Hanya anggota yg itu saja yg masih belum mengerti. Setelah para anggota lain juga setuju Ray mengisi posisi itu, Ray dan Luka pun meninggalkan ruangan itu. Begitu pula yg lainnya. Karena saat itu sudah hampir bel.
"Aku akan melaporkannya pada pembimbing OSIS. Kuharap beliau juga setuju." ujar ketua OSIS.
"Tenang saja. Aku yakin beliau akan menyetujuinya." ujar Ray sambil tersenyum.
"Kenapa Ray-kun begitu yakin?" tanya Luka.
Tapi Ray tidak menjawab dan langsung berjalan menuju ke tangga untuk naik ke lantai 2.
"Ray-kun.. tunggu aku.." ucap Luka yg lalu mengikuti Ray.
"Anak itu, nampaknya dia sudah tahu apa yg terjadi sebelum itu terjadi." ujar ketua OSIS sambil tersenyum.

Di luar, June berdiri di bangunan tak jauh dari akademi Voca. Dia meneropong ke kelasnya Ray.
"Kemana The White Light? Aku tak melihatnya. Tapi tak apa. Aku sudah menemukan umpannya." ujar June melihat Miku yg duduk dekat jendela.
Kemudian June mengambil ponselnya lalu menelpon.
"Halo.. kepala sekolah akademi Voca. Saat ini aku telah menaruh bom di sekolah anda." ucap June melalui ponselnya.
Lalu para guru pun mulai bergerak ke setiap kelas dengan wajah sedikit panik. Saat itu mereka lewat di depan Ray dan Luka.
"Ada apa dengan para guru? Padahal kan belum bel." tanya Luka.
"Kelihatannya terjadi sesuatu. Kalau mereka masuk ke dalam kelas dengan wajah panik, kemungkinan mereka mau memberikan instruksi tentang sesuatu yg terjadi ini." jelas Ray tentang dugaannya.
"Apa June Black menyerang kesini?" tanya Luka lagi.
"Kupikir bukan. Tidak secara langsung. Dia pasti menyimpan jebakan disuatu tempat." jawab Ray lalu berjalan menuju ke sisi pintu kelas 1-C.
"Dengan darksider?" tanya Luka.
"Bukan. Darksider kemungkinan saat ini sudah tak dapat digunakan. Kelihatannya dia kehabisan mereka karena digunakan untuk melawan kita saat itu." jawab Ray lagi.
"Oohh.. lalu dia gunakan ap.." ucap Luka hendak bertanya lagi namun terpotong karena Ray menahan bibir Luka dengan telunjuknya.
"Mohon perhatiannya. Bapak punya sebuah pengumuman. Saat ini sekolah kita diserang oleh seorang teroris. Dia mengatakan sudah menyimpan sebuah bom. Tapi dia tak menyebutkan bom nya dimana. Yg pasti ada di sekolah kita ini." ujar wali kelas 1-C yg biasanya bicara teriak-teriak itu kini bicara dengan santai.
"Bom?!" ucap Luka kaget.
"Begitu rupanya. Bom ya? Tapi tak mungkin disimpan diseluruh tempat. Kemungkinan hanya ada satu." ujar Ray.
"Lalu bagaimana ini?" tanya Luka.
"Kita harus tahu siapa sebenarnya yg di incar olehnya." jawab Ray.
Ray pun berpikir sejenak. Dia menyentuh kepala bagian kanannya dengan jari telunjuknya.
"Pertama kamu pergilah ke kelasku." suruh Ray dan Luka pun menurutinya.
"Jangan masuk ke kelas, cukup berdiri di pintu belakang dan panggil Megupo Gumi." sambung Ray dalam ingatan Luka.
Saat itu Luka sudah ada di depan pintu belakang kelas 1-B. Dia pun memanggil Gumi. Dan Gumi pun menghampiri Luka.
"Ada apa ini? Gadis berambut hijau itu pergi?" ucap June bingung.
"Tak apa, saat ini yg penting gadis berkuncir dua itu masih disana." sambung June yg lalu tersenyum.
"Kamu ingin adu otak denganku? Boleh.." ujar Ray sambil tersenyum.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】