VocaWorld, chapter 118 - Angin Perubahan (Datangnya Kegelapan)

Dante sedang duduk santai di singgasana nya. Tiba-tiba June datang menghadap padanya.
"Tuan Lucifer, kita baru saja dapat kabar buruk. Banyak anggota pasukan pengintai kita yg telah tewas." ujar June sambil berlutut di hadapan Dante.
"Apa?! Bagaimana bisa? Bukankah mereka bergerak sembunyi-sembunyi?" ujar Dante tak percaya.
"Memang benar, Tuan. Tapi, menurut informasi yg kami dapat katanya mereka semua dikumpulkan disatu tempat dan tiba-tiba diserang oleh Angin Fajar dan Angin Senja." jawab June sambil tetap menunduk.
Dante pun bangkit dari singgasananya. Dia berjalan melewati June.
"Kalau begitu aku harus melihatnya sendiri. Sekuat apa sebenarnya mereka berdua itu." ujar Dante dengan wajah kesal.
"Tuan mau pergi kesana?" tanya June.
"Iya." sahut Dante.
"Kalau begitu akan saya siapkan pasukan." ujar June.
"Tidak usah. Aku akan pergi sendirian." tolak Dante kemudian berjalan meninggalkan June.
Di markas pasukan mindy, terlihat para petugas perawat sedang sibuk merawat pasukan yg terluka akibat pertarungan tadi. Dan saat itu, kapten Al Hadid sedang berkeliling melihat para bawahannya yg terluka dan memastikan mereka baik-baik saja dan mendapatkan perawatan yg baik. Tak lama ada orang berlari menghampirinya.
"Kapten Al Hadid!" panggil salah seorang pasukan yg bukan dari tim pasukan kapten Al Hadid.
Kapten Al Hadid menoleh ke arah orang itu.
"Ada yg harus saya sampaikan pada anda." ujar laki-laki itu tampak sedikit panik.
"Apa itu?" tanya kapten Al Hadid.
"Tawanan kalian, baru saja ditemukan tewas ditahanannya." jawab orang itu.
Kapten Al Hadid tampak sangat terkejut, matanya terbuka lebar seakan tak percaya.
"Kamu tidak bercanda kan? Kenapa bisa meninggal?" tanya kapten Al Hadid.
"Saya tidak bercanda. Menurut pemeriksaan kemungkinan dia dibunuh. Karena ditemukan luka tusukan di dadanya tepat kejantung." jelas orang itu.
"Bagaimana bisa?! Bagaimana bisa terjadi pembunuhan di dalam markas kita?! Ini tidak masuk akal." ujar kapten Al Hadid tak terima.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Kamui yg datang menghampiri kapten Al Hadid.
"Angun Fajar, kita baru saja kehilangan sumber informasi penting ke tempat persembunyian pangeran kegelapan." jawab kapten Al Hadid pada Kamui.
"Kehilangan? Dia kabur?" tanya Kamui yg tidak mengerti.
"Bukan. Dia meninggal karena dibunuh seseorang." jawab kapten Al Hadid.
"Ooohh.. ... apa?!! Yg benar?!!" ucap Kamui yg tampak biasa saja awalnya namun kemudian terkejut setelah beberapa saat.
"Iya." sahut kapten Al Hadid.
"Rosyid pun sampai sekarang belum kembali. Apa mungkin dia pelakunya? Tidak. Aku tidak boleh berburuk sangka." gumam kapten Al Hadid sambil memegang kepalanya karena merasa pusing dengan semua masalah yg datang.

Di pengungsian, laki-laki bersorban berhasil masuk ke dalam tenda pusat kesehatan. Dia menyusup ke dalam dan kemudian menemukan sebuah ruangan rahasia.
"Ini dia. Aku menemukannya." ucap laki-laki bersorban itu melihat sebuah alat panjang dan memanjang ke samping.
Saat itu dia hanya melihat ke bagian bawahnya. Diatas alat itu tampak banyak tabung besar yg berisi air.
"Aku harus menghancurkan ini kemudian membawa mereka." ujar laki-laki bersorban itu.
Laki-laki itu pun kemudian menyentuh tabung itu dan mengangkat tangan yg sebelahnya lagi. Kemudian dia menjertikkan jari tangannya yg diangkat tadi, dan tabung yg disentuhnya itu pun pecah. Sementara itu disuatu tempat di dekat markas pasukan mindy. Ada 3 orang pasukan pengintai sedang berkumpul.
"Kau yakin disana markas mereka?" tanya seorang laki-laki berambut coklat kemerahan pada laki-laki berambut ikal bermata sipit yg sedang ada disebelahnya.
"Ya, aku yakin sekali. Aku melihatnya sendiri mereka masuk kesana. Lalu aku juga melihat El Rosyid keluar dari sana." jawab laki-laki bermata sipit itu.
"Awas saja kalau kau bohong, Ryan." sahut laki-laki berambut coklat kemerahan itu.
"Apa aku pernah memberikan informasi yg salah? Setahuku informasi dariku adalah yg paling akurat dari semua pasukan pengintai yg ada, Ralf." balas laki-laki bermata sipit yg ternyata bernama Ryan.
"Ngomong-ngomong, kenapa Greg belum kembali juga?" tanya perempuan yg tak lain adalah adik Ralf.
"Kemungkinan dia saat ini sudah mati. Dia pasti berpikir bisa menangkap 2 pahlawan perang lawan sendirian. Padahal dia lah yg paling bodoh diantara kita." jawab Ryan.
"Sudahlah, Emma. Saat ini kita konsentrasi saja pada misi kita." kata Ralf pada adiknya itu.
"Jadi, apa kau sudah menyiapkan pengalihan nya?" tanya Ralf pada Ryan.
"Tenang saja, semuanya sudah beres." jawab Ryan yg terlihat seperti selalu tersenyum itu.
"Apa kita bisa mempercayainya?" bisik Emma pada kakaknya.
"Ini satu-satunya jalan kita bisa masuk kesana dan mendapatkan informasi lebih banyak." jawab Ralf dengan suara pelan.
"Tapi kak, satu-satunya yg sulit diketahui kebohongannya adalah dia. Dia adalah ahlinya dalam sebuah perencanaan. Dia yg paling sulit ditebak pergerakannya." balas Emma dengan berbisik.
"Tenang saja. Diantara kita, dialah yg paling lemah. Dia takkan berani macam-macam." kata Ralf masih dengan suara yg pelan.
"Kalian sedang berbisik-bisik apa? Kelihatannya seru banget." tanya Ryan saat melihat Ralf dan Emma sedang berbisik-bisik.
"Tidak kok, kami cuma sedang membuat strategi masuk kesana." jawab Ralf sambil menunjuk ke arah markas pasukan mindy dengan gerakan kepalanya.
"Oohh.. begitu. Baguslah.." sahut Ryan.

Jauh dibarat, terlihat El Rosyid sedang berlutut dihadapan laki-laki berjubah putih.
"Darimana kau tahu aku akan kemari?" tanya laki-laki berjubah putih itu.
"Saya tidak tahu, tuan. Sebenarnya saya juga mau melapor pada tuan." jawab El Rosyid.
"Oohh.. tentang apa? Apa kau sudah menemukan informasi tentang mereka berdua?" tanya laki-laki itu dengan penasaran.
"Kalau tentang mereka berdua saya sudah tahu, tuan." jawab El Rosyid.
"Oohh.. bisakah kau ceritakan padaku?" pinta Dante.
"Tidak masalah, tuan." sahut El Rosyid sambil membungkukkan badannya lebih dalam.
Di sebuah tempat, laki-laki bersorban terlihat membawa seekor keledai yg menarik gerobak dengan beberapa jerami di dalamnya.
"Sungguh beruntung, aku menemukan kendaraan nganggur dengan fasilitas gerobak dan jerami. Tunggu? Fasilitas? Mungkin aku salah menggunakan kata. Tidak enak kalau tidak ada yg protes." ujar laki-laki bersorban itu bicara sendiri.
Laki-laki bersorban itu pun menengok ke belakang melihat ke arah jerami.
"Tapi, dengan jerami ini aku jadi bisa menyembunyikan mereka. Aku harus segera membawa mereka pergi menjauh dari sini." gumam laki-laki yg sebenarnya berusia 11 tahun itu.
"Oh ya, bagaimana kabar mereka berdua ya? Kuharap mereka menemukan pesanku." sambung laki-laki bersorban itu kemudian melihat ke langit.
Di markas, seseorang kembali menemui kapten yg sedang menyelediki TKP pembunuhan, tepatnya di ruang tahanan.
"Kapten! Kami menemukan surat ini di ruangan anda!" ucap salah seorang anggota pasukan mindy dari pasukannya sambil menghampirinya.
"Surat dari siapa?" tanya kapten Al Hadid.
"Tidak tahu, kapten. Ini tergeletak begitu saja di meja kapten. Tidak ada nama atau apapun di amplopnya." jawab orang yg membawa surat itu kemudian menyodorkan surat itu pada kapten Al Hadid.
"Hmm.. mungkin ini dari Rosyid." ucap kapten Al Hadid sambil menerima surat itu kemudian membukanya.
Kapten Al Hadid membuka amplop itu, dia mengeluarkan kertas dari dalamnya. Lalu dia membacanya.
"Apa ini? Semacam instruksi? Disini ada beberapa langkah yg diberi nomor dan catatan. Siapa yg iseng nulis ini?" ujar kapten Al Hadid saat membaca isi surat itu.
Kemudian kapten Al Hadid terlihat terkejut saat membaca lanjutannya.
"Ada apa, kapten?" tanya orang yg menyodorkan surat tadi saat melihat ekspresi kaptennya itu.
"I-ini.." jawab kapten Al Hadid tampak sedikit gemetar.
"Cepat kumpulkan semua orang di aula!" suruh kapten Al Hadid tanpa menjawab pertanyaan dari anggota pasukannya itu.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】