VocaWorld, chapter 119 - Angin Perubahan (Cahaya Mengintai)

Di sebuah rumah ditengah hutan yg jauh di utara. Disebuah perbukitan yg terlihat laki-laki bersorban menarik sebuah gerobak penuh jerami. Kemudian saat sampai didepan pintu dia langsung mengetuk pintu.
"Ya ampun siapa sih yg ngetuk-ngetuk pintu tengah hari seperti ini?" ucap seorang perempuan dari dalam menghampiri pintu.
Perempuan itu membukakan pintu dan mendapati laki-laki bersorban berdiri di hadapannya.
"Siapa?" tanya perempuan itu tidak mengenali laki-laki itu karena wajahnya tertutup sorban.
"Kamu melupakanku? Ini aku." ucap laki-laki itu sambil membuka balutan sorban diwajahnya.
Perempuan itu terlihat terkejut melihat wajah laki-laki bersorban itu. Entah karena apa dia terkejut.
"Wah.. dede ganteng!!" ucap perempuan yg lebih tua dari laki-laki bersorban itu tampak senang melihatnya.
Kemudian perempuan itu memeluk laki-laki itu.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya seorang laki-laki yg tak lain adalah suami si perempuan dari belakang si perempuan.
"Oohh.. ternyata kamu. Ada apa?" tanya laki-laki berbrewok itu.
"Ini, aku ingin kalian mengurus anak-anak ini." jawab laki-laki yg kini memakai sorbannya lagi.
"Anak-anak?" ucap laki-laki berbrewok.
Laki-laki bersorban pun membukakan jerami dan terlihat ada 5 orang anak kecil, 2 laki-laki 3 perempuan. Mereka tertidur dengan pulas di atas gerobak itu.
"Siapa anak-anak ini?" tanya perempuan berkerudung itu.
"Kalian tak perlu tahu. Kalian cukup urus mereka. Anggap mereka anak kalian sendiri. Kalian belum punya anak kan?" jawab laki-laki bersorban.
Laki-laki berbrewok dan perempuan berkerudung itu terlihat sedikit ragu.
"Mereka semua yatim piatu. Saat mereka terbangun mereka takkan ingat apapun tentang siapa mereka dan siapa orang tua mereka. Ingatan mereka dihapus untuk sebuah kepentingan. Aku tak tahu harus membawa mereka kemana. Aku tak bisa terlalu jauh juga karena aku masih ada urusan disini. Aku juga tak yakin akan ada yg menerima mereka kalau aku membawa mereka ke tempat lain. Karena itu aku membawa mereka kemari, karena aku percaya kalian mau menerima mereka. Orang yg dilupakan dunia." jelas laki-laki bersorban.
"Mereka dilupakan?" ucap laki-laki berbrewok tampak masih agak ragu.
Kemudian salah satu anak itu terbangun.
"A-aku dimana? Hah?! Siapa kalian?" ucap anak itu terkejut melihat 3 orang asing dihadapannya.
"Selamat pagi.." ucap laki-laki bersorban.
"Se-selamat pagi.. kamu siapa?" sahut gadis kecil itu kemudian bertanya pada laki-laki bersorban.
"Aku? Panggil saja aku, An Nur. Kamu sendiri siapa?" jawab laki-laki bersorban kemudian bertanya balik.
"A-aku? Oh ya, aku siapa? Siapa namaku? Kenapa aku disini? Dimana aku?" ucap gadis kecil itu sambil memegangi kepalanya dan terlihat bingung.
Gadis itu pun meneteskan air matanya karena tidak bisa berpikir atau mengingat apapun tentang hal itu.
"Aku siapa?" sambung gadis itu lalu menangis.
Melihat gadis itu menangis, perempuan berkerudung pun tak tega dan kemudian memeluk gadis itu dengan erat.
"Sudah, jangan menangis. Kalau memang kamu tak ingat atau tak tahu namamu. Biar kami saja yg memberimu nama." ujar perempuan berkerudung itu sambil tetap memeluk sang gadis.
Anak yg lain pun kemudian terbangun karenanya. Melihat mereka semua terbangun, naluri keibuan perempuan itu bangkit dan langsung memeluk mereka dalam satu pelukan.
"Jadi apa kalian sudah putuskan untuk mengurus mereka?" tanya laki-laki bersorban.
Perempuan berkerudung itu pun menoleh pada suaminya dan menatapnya dengan mata penuh harap. Laki-laki berbrewok itu pun mengerti maksud istrinya itu.
"Baiklah, kami akan mengurus mereka. Kamu bisa kembali pada urusanmu tuan pahlawan." ujar laki-laki berbrewok.
"Terima kasih." ucap laki-laki bersorban.
"Tidak, seharusnya kamilah yg berterima kasih. Mungkin inilah jawaban Tuhan atas doa kami meminta anak." sahut si laki-laki berbrewok sambil menghampiri istrinya yg sedang memeluk anak-anak itu.
Kemudian laki-laki bersorban yg mengaku bernama An Nur itu berpamitan dan lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Di tengah kota, Kamui dan Gumi berjalan keluar dari markas. Mereka berjalan ke selatan menjauh dari markas.
"Kenapa kita disuruh keluar?" tanya Kamui pada Gumi yg berjalan disebelahnya.
"Aku tidak tahu. Yg pasti ini perintah dari pak kapten itu. Kita lakukan saja." jawab Gumi.
"Rasanya aku merasa disini sedikit tidak nyaman saat ini." ujar Kamui sambil melihat ke sekitarnya.
"Benarkah? Rasanya biasa saja kok. Mungkin hanya perasaanmu saja." sahut Gumi.
"Hmm.. mungkin." balas Kamui menerima perkataan Gumi.
Dan mereka berjalan terus tanpa menyadari di sekitar mereka banyak pasukan pengintai memperhatikan mereka.
"Mereka sudah pergi?" ucap salah seorang pasukan pengintai.
"Baguslah. Kami akan segera masuk." sahut Ralf yg duduk santai di sofa di ruangan salah satu bangunan yg ditempati anggota pasukan pengintai yg berbicara tadi.
"Apa kakak tidak curiga? Mereka keluar begitu saja mesti kita belum memasang pancingan untuk mereka." tanya Emma yg berdiri dibelakangnya.
"Kita tidak punya banyak waktu. Aku baru saja melihat mayat salah satu pasukan tuan Lucifer dibawa keluar. Kemungkinan dia di interogasi kemudian dibunuh setelah memberi informasi." jelas Ralf.
"Tapi aku ragu dia akan memberikan informasi pangeran semudah itu." ujar Emma.
"Tapi kita juga harus jaga-jaga kalau sampai dia membocorkan informasi kita. Kita harus selalu mengantisipasi segala sesuatu." balas Ralf sambil berdiri.
"Sekarang kita mulai lakukan hal itu." ucap Ralf sambil membuka koyo di wajah sebelah kirinya.
Terlihatlah tatto bintang 6 sudut dengan gambar kambing bertanduk 3 di tengahnya dan lingkaran bertulisan huruf aneh. Begitu pula di pipi sebelah kanan Emma.
"Wajah adalah identitas paling penting dari seseorang. Bagian vital alat pengenal setiap manusia. Jika aku mengenal seseorang maka akan kuingat wajahnya. Jika ku ingat sebuah wajah, maka aku mengenal orang itu." kata Ralf sambil berjalan mendekati jendela.
"Imitate!" ucap Ralf dan Emma bersamaan.
Tatto diwajah mereka bersinar ungu gelap. Kemudian wajah mereka pun berubah. Begitu juga pakaian mereka. Ralf berubah jadi Kamui dan Emma berubah jadi Gumi.
"Sudah lama sekali aku ingin kembali jadi gadis loli berusia 10 tahunan." ujar Emma.
"Ya saat ini kamu memang sudah menjadi tante-tante." sahut Ralf.
"Hah?! Jangan sembarangan. Aku kan masih gadis. Aku baru 20-an." protes Emma tidak terima disebut tante.
"Tepatnya 29,99." balas Ralf.
"Diam!! Lagipula kenapa bisa ada koma nya?! Usia tak mungkin pakai koma begitu!" bentak Emma.
"Ya kan kali aja ingin lebih greget." jawab Ralf.
"Sudahlah. Kita pergi sekarang. Kita harus cepat-cepat." sahut Emma.
Kemudian mereka berdua pun pergi menuju ke markas pasukan mindy.

Sementara Kamui dan Gumi yg sedang berjalan ke selatan melihat El Rosyid sedang berjalan bersama seseorang.
"Hei Megu, bukankah itu El Rosyid-dono?" tanya Kamui pada Gumi.
"Iya tuh. Dia sedang bersama siapa ya?" jawab Gumi sambil melihat ke arah El Rosyid.
"Kebetulan sekali tuan, itu dia mereka. Dua pahlawan yg membuat gempar peperangan ini. Angin Fajar dan Angin Senja." ucap El Rosyid pada Dante yg berjalan disebelahnya.
Wajah Dante yg tertunduk dan tertutup penutup kepala jubah putihnya itu pun kemudian mengangkat dan melihat ke arah Kamui dan Gumi. Dante tersenyum dan kemudian matanya menyala berwarna merah.
"Tak kusangka bisa bertemu mereka disini. Padahal kuharap bisa menghabisi mereka bersama dengan markas besar mereka." ujar Dante sambil tersenyum menyeringai.
Ditempat lain, laki-laki bersorban dicegat oleh Ryan.
"Anak misterius, sungguh sangat pintar. Menyamar menjadi pasukan pengintai dan mendalami kemampuan setiap pasukan pengintai dan menghancurkan kami dari dalam." ujar Ryan.
"Benarkah begitu? Aku hanya melakukan pekerjaan sebagai pasukan pengintai seperti pada umumnya. Kenapa kamu menyimpulkan seperti itu?" tanya An Nur.
"Karena, aku sudah curiga padamu sejak awal. Walau anak baru tapi punya pengetahuan tentang pasukan musuh begitu dalam." jawab Ryan.
"Kalau begitu tak ada gunanya lagi aku bersembunyi." ucap An Nur kemudian membuka sorban yg menutup wajahnya.
Dia pun membuka goggle hitam yg menutup matanya. Ryan terkejut melihat wajah yg tampak tak asing dimatanya itu.
"Hahaha.. pantas saja. Pantas saja kau begitu hebat. Ternyata itu kau.." ucap Ryan tampak terperangah melihat sesuatu yg melebihi dugaannya.
"Tapi sayang kamu hanya bisa sampai disini saja. Perjumpaan kita akan sangat singkat hari ini." ujar An Nur sambil membuka sorban bagian atasnya.
Dan nampaklah earophoid menempel dikepalanya. Kemudian An Nur mengangkat lengannya ke atas.
"Apa? Apa yg akan kau lakukan?" tanya Ryan bingung dengan apa yg akan dilakukan An Nur.
"Perpisahan." jawab An Nur lalu menjertikkan jarinya.
Kemudian muncul petir diantara mereka membuat silau pandangan Ryan. Dan saat petir itu menghilang, An Nur juga menghilang.
"Benar-benar cahaya yg terang. Sesuai namanya." ujar Ryan saat menyadari An Nur telah menghilang.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】