VocaWorld, chapter 109 - Angin Yang Tersesat

Di rumah danau, Dante terkejut mendengar suruhan Ray. Dia bangun dari tempat tidurnya.
"Aniki, apa ada sesuatu sampai Aniki menyuruhku mengikutinya lagi?" tanya Dante penasaran.
"Ya, menurutku kemungkin serangan apimu waktu itu telah merusak sistem pesawat karena panasnya. Dan pasti pesawat itu jatuh disuatu tempat. Aku ingin kamu mengikuti Megupo-san untuk jaga-jaga kalau misalnya dia menemukan pesawat itu atau June Black yg menemukan dia." jelas Ray.
"Kita harus mengantisipasi dia dari hal yg ceroboh seperti menyerang June Black dalam keadaan hati seperti itu." sambung Ray dengan wajah serius.
"Begitu ya. Aku mengerti. Baiklah aku akan segera mencari keberadaan Angin Senja." sahut Dante yg lalu mengambil jaket dan earophoidnya dan kemudian pergi dari rumah danau itu.
"Mungkin aku pun harus pergi menemuinya. Aku harus mengingatkan dia dan memberitahunya tentang ini. Bagaimanapun, Angin Senja sudah seperti adik baginya." ujar Ray yg juga berdiri dari tempat tidurnya itu.
Ray pun mengambil jaketnya lalu pergi keluar. Sementara itu di depan rumah Miku, Luka dan juga Miku nampak keluar dari sebuah mobil mewah.
"Terima kasih, Tsugumi. Kamu sudah mau menjemput kami." ucap Luka pada Tsugumi.
"Ya, sama-sama, Luka-sama." sahut Tsugumi dari dalam mobil.
"Bagaimana keadaan rumah?" tanya Luka.
"Nampaknya masih lama selesainya." jawab Tsugumi.
"Oohh.. begitu. Nanti kabari lagi kalau ada perkembangan ya." sahut Luka.
"Ya, akan saya kabari lagi nanti, Luka-sama." balas Tsugumi.
Mobil mewah itu pun pergi meninggalkan mereka.
"Ayo kita masuk." ajak Luka pada Miku.
Miku terlihat masih lesu dan suram.
"Miku-chan cape ya? Ya sudah biar aku saja yg bawa." ujar Luka sambil mengangkat semua tas belanjaan itu sendirian.
Luka terlihat sedikit kesulitan membawa semua tas belanjaan itu sendirian.
"Miku-chan tolong bukakan pintunya." pinta Luka pada Miku.
Namun Miku cemberut dan tak mau menuruti perkataan Luka.
"Miku-chan kenapa malah diam saja. Tanganku sibuk nih megang semua tas ini." bujuk Luka.
"Orang yg serakah seperti Megurine-senpai pantas mendapatkannya. Siapa suruh ngambil semuanya sendirian." gerutu Miku sambil memalingkan wajahnya.
"Miku-chan.." panggil Luka lagi.
Tapi kemudian ada seseorang yg membukakan pintu itu. Orang itu berdiri tepat disamping Luka.
"Kalau aku yg bukakan tidak apa-apa kan?" ucap seorang laki-laki yg mengenakan jaket hitam itu.
"Ray-kun?!!" ucap Luka yg melihat kalau itu Ray.
"Shiro Ray! Mau apa kamu kesini?" tanya Miku.
"Hanya mampir saja kok." jawab Ray.
"Kamu jadi keseringan mampir kesini. Sering numpang makan juga lagi." gerutu Miku.
"Ya, maaf kalau begitu." sahut Ray.
"Sini biar aku bantu, my queen.." kata Ray mengambil beberapa tas belanjaan dari Luka dan membawanya.
"Hei kita belum selesai ngomong!" ucap Miku.
"Kalau mau ngobrol denganku di dalam saja." sahut Ray.
"Hah? Siapa juga yg mau ngobrol denganmu. Aku cuma mau ngomong." balas Miku sambil cemberut.
"Ya kalau yg namanya ngomong bersama seseorang, itu namanya ngobrol." jawab Ray sambil berjalan kedalam rumah.
"Eh, benarkah?" ucap Miku sambil memiringkan kepalanya.
"Yg dikatakan oleh Ray-kun benar. Kalau tidak percaya lihat aja KBBI." sambung Luka.
"Hah? Apaan tuh KBBI? 'Karena Batu Bata Imut' bukan?" tanya Miku yg tidak tahu.
"Kamus Besar Bahasa Indonesia. Lagipula bagian mana dari batu bata yg terlihat imut." jawab Luka sambil tersenyum aneh.
"Waktu itu Meiko-san yg bilang. Sewaktu kecil, aku pernah ngacak-ngacak kebun cabe di pinggir rumah. Batu bata pembatasnya aku buat berserakan. Lalu yg melihat itu langsung menghampiriku dan mengambil batu bata. Dia bilang, 'Batu batanya imut. Tapi akan lebih imut kalau mendarat di wajahmu, Miku-chan.'. Begitu.." jelas Miku menceritakan sambil membayangkan kejadian itu.
Luka hanya tersenyum sinis dan heran dengan ketidak pekaan dan kebodohan Miku.
"Tadi itu jelas-jelas hanya ungkapan kekesalan Meiko-chan kan." ucap Luka dalam hati.
Luka pun akhirnya masuk kedalam membawa belanjaan sisanya. Lalu Miku mengikutinya dibelakang dan menutup pintu depan. Mereka berdua berjalan ke ruang tengah.
"Rin-chan! Len-kun! Ayo kemari. Aku belikan kalian pakaian baru." panggil Luka sambil meletakan tas belanjaan itu diatas meja. Rin dan Len saat itu sedang bermain game.
"Wah.. benarkah? Asik!" ucap Rin sambil menoleh ke arah Luka.
Kemudian Rin berlari ke arah Luka.
"Bukannya waktu itu kamu sudah belanja pakaian. Jadi kamu tak usah dapat pakaian baru lagi kan." ujar Len yg terlihat tidak begitu bersemangat.
"Kalau tidak dipake kan nanti mubajir. Masa sudah dibeli tapi di simpan aja." sahut Rin.
"Oh ya, Ray-kun kemana? Aku tidak melihatnya." tanya Luka melihat tas belanjaan yg dibawa Ray ada di samping kursi.
"Tadi dia pergi ke kamar mandi." jawab Len.
"Katanya mau numpang buang air." sambung Rin.
"Hmm.. begitu ya." ujar Luka sambil berdiri dan membawa sebuah tas belanjaan menuju ke kamar mandi.
Saat sampai di depan pintu kamar mandi, pintu itu tiba-tiba terbuka. Dan keluar Meiko sambil membawa sebuah keranjang.
"Meiko-chan? Sedang apa kamu didalam?" tanya Luka yg terkejut melihat Meiko.
"Tentu saja habis nyuci. Emang ada apa?" jawab Meiko lalu bertanya balik.
"Apa kamu melihat Ray-kun?" tanya Luka.
"Ya, dia ada ditoilet." jawab Meiko sambil berlalu pergi membawa keranjang itu.

Di kediaman Gakupo, Gumi sedang melakukan pemanasan. Dia melakukan senam kecil di halaman rumah Kamui.
"Kalian mau kemana nih? Tumben kalian berlatih. Terutama kau, Gakupo." ujar Kaito yg lewat di teras samping rumah.
"Hah? Kenapa saya, Kaito-dono? Kan saya selama ini memang sering latihan." sahut Kamui membela diri.
Kamui saat itu sedang berlatih mengayun pedang di dalam dojo.
"Latihan darimananya. Biasanya kan seharian kamu cuma duduk di depan dojo." jawab Kaito.
"Meditasi juga latihan, Kaito-dono." sahut Kamui.
"Ya kenapa sekarang malah latihannya gitu, kalau memang meditasi juga latihan?" tanya Kaito.
"Aaa.. karena.." ucap Kamui bingung mau jawab apa.
"Gaku-Gaku ayo kita pergi." ajak Gumi menoleh ke arah Kamui.
"Pergi kemana?" tanya Kamui.
Gumi menatap tajam Kamui sebagai kode.
"Kenapa matamu gitu, Megu? Perih? Pake obat tetes mata dong." ujar Kamui.
Gumi pun geram, dan lalu menarik kerah bagian belakang kimono Kamui. Dia membawa Kamui pergi meninggalkan Kaito.
"Ada apa dengan mereka? Aneh banget hari ini." ujar Kaito.
Di rumah keluarga Miku, Ray baru keluar dari kamar mandi dan kemudian diberi tas belanjaan oleh Luka.
"Ini untukmu. Kulihat bajumu tidak ganti-ganti. Jadi aku membelikanmu pakaian." kata Luka sambil memberikan tas belanjaan pada Ray.
Ray pun menerimanya lalu melihat isi tas belanjaannya.
"Kamu membelikan ini untukku? Wah.. terima kasih. Bagaimana dengan adikku?" tanya Ray.
"Ya, disana juga ada yg untuk adikmu." jawab Luka sambil tersenyum.
"Oohh.. iya. Ini yg bungkusan kertas yg kedua ya? Dante pasti akan senang nih. Terima kasih, my queen." ujar Ray lalu memeluk Luka.
Wajah Luka pun memerah saat tubuhnya dipeluk erat oleh Ray.
"Ray-kun memelukku. Jantungku rasanya seperti mau jatuh. Jantungku berdebar dengan kencang tanpa henti." kata Luka dalam hati memejamkan matanya menahan malu.
"Bolehkah aku pakai sekarang?" tanya Ray tampak bersemangat sambil melepaskan pelukannya dan lalu memegang kedua bahu Luka.
Luka mengangguk tanda boleh. Ray pun masuk kembali ke kamar mandi untuk ganti pakaian.
"Oh ya, Megurine-san. Aku punya berita tentang adik angkatmu." ujar Ray dari balik pintu kamar mandi.
"Adik angkatku? Siapa?" tanya Luka tidak mengerti.
"Megupo Gumi-san. Saat ini kemungkinan dia sedang salah paham tentangku." jawab Ray.
"Gumi-chan?" ucap Luka terkejut.
"Iya. Saat ini dia pasti mengira, pertempuran terakhir kami di peperangan telah diatur setelah mendengar perkataan June Black." jelas Ray.
"Ohh.. yg waktu itu ya." ucap Luka mulai mengerti.
"Ya, saat itu. Bagaimana menurutmu, my queen?" sahut Ray lalu membuka pintu kamar mandi.
"Mungkin kita harus menyadarkannya." jawab Luka.
"Bukan itu. Maksudku pakaianku. Apakah cocok?" tanya Ray menjelaskan maksud sesungguhnya.
"Eh?! Jadi kamu bertanya tentang pakaianmu?" ujar Luka tak menyangka kalau maksudnya adalah meminta penilaian.
"Iya, memang menurutmu apa?" sahut Ray.
"Kalau begitu jangan disatukan dengan kalimat yg sebelumnya dong!" bentak Luka.
"Tidak disatukan kok. Kan ada titiknya kalau ditulisan." balas Ray.
"Ya aku mana tahu kalau itu ada titiknya! Kan kamu ngomong, bukan nulis!!" pekik Luka merasa jengkel dan malu karena salah mengartikan.
Ray pun tersenyum, kemudian dia mencubit pipi Luka.
"Imutnya.. entah sedang senyum ataupun marah, kamu selalu terlihat manis." puji Ray sambil mencubit salah satu pipi Luka.
Wajah Luka memerah dan tersipu malu saat dipuji oleh Ray.
"Ehmm! Maaf mengganggu kemesraan kalian, wahai ratu dan raja." ucap Meiko yg sepertinya hendak lewat.
Luka yg menyadari kehadiran Meiko langsung mundur dan berbalik menghadap dinding lorong itu karena malu. Ray pun bersandar di dinding lorong di belakangnya supaya Meiko bisa lewat.

Sementara di atas sebuah gedung tinggi, Dante terlihat sedang menggunakan sebuah teleskop. Mirip yg digunakan oleh June.
"Teleskop ini, lumayan juga ya. Dapat gratis karena JB meninggkannya begitu saja waktu itu. Jadi aku ambil saja." ujar Dante sambil senyum-senyum.
Dante melihat-lihat seluruh bagian kota tepi selatan menggunakan teleskop itu.
"Itu dia!" ucap Dante saat melihat Gumi dan Kamui sedang berlari ke arah utara.
"Mereka mengarah kemari?!" ucap Dante terkejut.
Kemudian Dante melihat Gumi dan Kamui naik bis.
"Sial, aku harus mengikuti mereka kalau begini. Maaf teleskop, aku tinggalkan disini dulu ya. Jangan pergi jauh-jauh." ujar Dante lalu berbicara dengan teleskop.
Kemudian Dante berubah dan melompat mengikuti ke arah bis yg dinaiki oleh Gumi dan Kamui pergi. Di rumah Miku, saat ini Ray dan Luka sedang berbicara di teras samping rumah.
"Jaket itu?! Jadi jaket itu untuk dia? Syukurlah.. kupikir itu untuk Kaito-senpai." ucap Miku dalam hati terlihat lega saat melihat Ray memakai jaket yg dibeli Luka.
Ray saat itu memakai jaket berwarna biru dengan motif nada berwarna putih.
"Tapi kalau Shiro Ray saja dibelikan pakaian, kenapa aku tidak? Megurine-senpai pilih kasih." gerutu Miku sambil manyun.
"Megurine-san, kalau yg ini untuk siapa? Ukurannya sedikit kecil kalau untukku atau untukmu?" tanya Meiko saat membongkar isi tas belanjaan terakhir.
"Oh, yg itu buat Miku-chan." jawab Luka.
"Bu-buatku?!!" ucap Miku terkejut.
"Iya, tentu aku takkan melupakan Miku-chan." sahut Luka sambil tersenyum ke arah Miku.
Miku dengan semangat berlari ke arah tas belanjaan itu dan melihat-lihat isinya.
"Jadi kamu membuatnya kesal dengan cara menyuruhnya membawa tas belanjaan untuk memberi kejutan padanya kalau yg dibawanya itu salah satunya adalah untuknya? Pintar sekali." puji Ray.
Mendapat pujian dari Ray, wajah Luka pun memerah.
"Oh ya, kembali ke pembicaraan kita? Apa kamu mau mendengar cerita sebenarnya yg terjadi saat pertempuran terakhir itu?" tanya Ray.
"Iya, ceritakan padaku." pinta Luka.
"Baiklah. Jadi begini.. saat itu.." ucap Ray mulai menceritakan masa lalunya.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】