VocaWorld, chapter 95 - Raja Yang Kesepian
Luka marah dan pergi ke suatu tempat. Dia berjalan terus menuju ke arah barat menyusuri jalan di sepanjang sungai. Kemudian dia lurus masuk ke area perumahan karena jalan di sisi sungainya belok mengikuti aliran sungai. Namun nampaknya dia bukan berniat pulang ke rumah, karena saat itu ia melewati rumahnya begitu saja.
"Bukankah itu Luka-sama? Mau kemana beliau?" ucap Tsugumi yg sedang menanami rumput yg rusak akibat pertarungan waktu itu dan melihat Luka lewat.
Tsugumi pun memanggil temannya dan terlihat memintanya menggantikannya, lalu ia pergi mengejar Luka.
"Luka-sama!" panggil Tsugumi.
Luka terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Luka-sama kenapa sendirian? Itu berbahaya." tanya Tsugumi setelah bisa mengejar Luka.
"Kenapa memangnya? Aku sudah bukan anak kecil lagi." jawab Luka.
"Bukan begitu, tapi saya hanya khawatir." jawab Tsugumi.
"Waktu itu saja aku pergi sendirian tidak apa-apa kok." sambung Luka.
"Jangan samakan waktu itu dengan sekarang, Luka-sama. Waktu yg berbeda punya takdir yg berbeda pula." sahut Tsugumi.
Luka pun menoleh sebentar lalu melihat ke depan lagi.
"Kamu tenang saja, saat ini aku membawa earophoid ku." balas Luka.
"Oh ya, apa kalian tidak apa? Rumah tidak diserang oleh minor kan?" tanya Luka.
"Kalau yg anda maksud adalah makhluk hitam dan aneh itu, ya. Kami memang diserang. Tapi beruntung ada yg datang dan menyelamatkan kami." jawab Tsugumi.
"Siapa?" tanya Luka dengan singkat sambil melirik kecil ke arah Tsugumi.
"Pacar Luka-sama." jawab Tsugumi.
"Pacar?! Siapa yg kamu bilang pacar? Aku tak punya pacar!" bentak Luka yg terkejut lalu menoleh ke arah Tsugumi.
"Jangan-jangan itu si Gaku-Gaku itu. Datang-datang langsung ngakuin pacarku lalu sok heroik menyelamatkan para pelayanku." ujar Luka dengan kesal dalam hati sambil membayangkan Kamui menyelamatkan pelayannya dari para minor.
Luka pun sampai di sebuah rumah yg terpisah dari rumah lain karena ada dilereng bukit. Itu adalah rumahnya kakek Taka dan nenek Toko.
"Syukurlah kalian tidak apa-apa. Nampaknya para minor tidak datang kesini." ujar Luka saat melihat kakek Taka dan nenek Toko bersantai di depan rumahnya sambil nyetel radio.
Luka tersenyum sambil berjalan menghampiri mereka. Namun ia dikejutkan oleh lagu yg sedang diputar di radio itu.
"Lelaki buaya darat, busyet! Aku tertipu lagi.. uouo.." terdengar suara dari radio itu.
"Kenapa datang-datang aku sudah disambut oleh lagu seperti ini?" ucap Luka dalam hati merasa agak kesal.
Kemudian Luka pun mematikannya dan berjalan ke depan kakek Taka dan nenek Toko.
"Oohh.. yg bikin grup duo baru dan bubar lagi." sapa kakek Taka.
"Cukup dengan lelucon itu! Ingin cepat-cepat bertemu sang pencipta ya?" ujar Luka sambil menatap tajam ke arah kakek Taka.
"Ada apa kemari, Muka-chan?" tanya nenek Toko.
"Namaku Luka, bukan Muka." sahut Luka.
"Oh iya, maaf soalnya rada mirip." ujar nenek Toko.
"Mirip darimananya, padahal pengucapannya beda jelas. L itu dengan lidah, sementara M itu dengan bibir." ujar Luka dalam hati.
"Ohh.. kamu itu bukannya.. eto.." ucap kakek Taka yg melihat Tsugumi disampingnya.
"Iya, dia itu.. hmm.." sambung nenek Toko yg juga kemudian melihat Tsugumi.
Mereka berdua pun tampak berpikir keras mencoba mengingat. 1 jam telah berlalu saat itu.
"Kalau kalian tidak ingat jangan dipaksakan lah." gerutu Luka sambil tersenyum sinis.
"Tidak, kami ingat kok. Dia adalah gadis kecil yg menjadi pelayan di kediaman tuan Meguzan saat kami kesana, tapi aku tak ingat dimana kami bertemu." jawab kakek Taka.
"Hei barusan kamu menyebutkannya tuh." ujar Luka dalam hati mulai merasa kesal.
"Barusan kamu menyebutkannya tuh, kek. Berarti saat kita bertemu dengannya, kita sedang menemui Meguzan-san. Tinggal tempatnya saja dimana?" ujar nenek Toko.
"Sama saja ternyata." komentar Luka dalam hati.
"Tunggu, darimana kalian tahu nama asli orang tuaku?" tanya Luka.
"Hmm.. kalau tidak salah kalian ini.. orang yg dipanggil oleh Meguzan-sama." ujar Tsugumi yg tampak mengingat kakek Taka dan nenek Toko.
"Tsugumi, kau juga tahu?" tanya Luka yg terkejut Tsugumi juga tahu nama asli ayahnya.
"Kenapa Luka-sama begitu terkejut? Nama keluarga ayah anda kan memang Meguzan." jawab Tsugumi.
"Tapi kenapa namaku malah jadi Megurine? Nama perusahaan nya juga." tanya Luka.
"Itu adalah keputusan sepihak Meguzan-sama. Setelah menamai anda dengan nama gabungan dari nama beliau dan ibu anda. Kemudian beliau juga memutuskan untuk mengganti nama perusahaannya." jelas Tsugumi.
"Dan selama ini kamu tak memberitahuku!?" bentak Luka.
"Maaf, Luka-sama. Kupikir anda sudah tahu tentang hal itu." ucap Tsugumi sambil membungkukkan badannya meminta maaf.
"Jadi Luka-chan adalah cucu Meguzan-san." ujar kakek Taka.
"Benar-benar mengejutkan." sambung nenek Toko.
"Cucu? Maksudnya?" tanya Luka yg tak mengerti sambil menyipitkan matanya.
"Yg kami maksud adalah kakekmu. Saat kami datang kesini, ayahmu masih bujangan dan gadis ini masih kecil." jawab kakek Taka sambil menunjuk ke arah Tsugumi.
"Mungkin ayahmu berusia sekitar 17 tahun, dan gadis itu berusia 9 tahun." tambah nenek Toko.
"Saat itu usia saya baru 7 tahun." ujar Tsugumi.
"Kalau begitu bisakah kalian jelaskan tentang ayahku?" pinta Luka.
"Tidak. Kami tidak bisa." tolak kakek Taka.
"Shiro-kun melarang kami menceritakannya padamu saat ini." sambung nenek Toko.
"Memangnya siapa Ray-kun? Kenapa kalian begitu penurut padanya?" tanya Luka sambil menggebrak meja.
"Luka-chan masih belum menyadarinya juga?" ucap nenek Toko.
"Shiro-kun punya alasannya sendiri kenapa melarang kami menceritakannya padamu saat ini." jawab kakek Taka.
"Alasan? Alasan apa!!? Dia cuma memanfaatkan aku dan teman-temanku!" bentak Luka.
"Itu tidak mungkin." jawab kakek Taka.
"Shiro-kun bukanlah orang yg seperti itu." tambah nenek Toko.
"Tapi dia menjawab, 'Jika memang itu yg diperlukan.' saat kutanya apa dia memaanfaatkanku." jelas Luka.
"Ya, jika itu memang yg diperlukan untuk membuatmu sadar kalau kalian belum sanggup menerima kebenaran!" bentak kakek Taka.
Luka kaget mendengar bentakan kakek Taka.
"Itu adalah sebuah ungkapan. Jika kalian masih bisa dimanfaatkan orang lain, itu artinya kalian belum sanggup untuk menjalani hidup dan berdiri diatas kaki kalian sendiri." jelas kakek Taka.
"Apa Luka-chan pernah disakiti olehnya? Apa teman Luka-chan pernah di lukai oleh Shiro-kun? Kupikir tidak. Shiro-kun takkan pernah melukai orang yg dianggapnya istimewa." ujar nenek Toko.
Luka pun mengingat lagi semua kejadian pertarungan.
"Ray-kun memang belum pernah membuat kami terluka parah. Dia hanya, melumpuhkan kami. Ray-kun hanya mengalahkan kami." gumam Luka dalam hati.
"Nampaknya neng ini orangnya sulit mengerti perasaan laki-laki. Ditambah memang Shiro-kun orangnya memang sangat misterius." ujar kakek Taka.
"Apa maksudnya?" tanya Luka.
"Padahal saat pertama juga dia sudah mengatakan kata-kata yg romantis." jawab kakek Taka.
"Kapan? Seingatku dia tidak mengatakan apapun." bantah Luka.
"Dia memanggilmu 'my queen' kan?" tambah kakek Taka.
Luka hanya jadi semakin bingung.
"Menurutmu siapa yg bisa mengangkat seseorang jadi seorang ratu?" tanya nenek Toko.
"Rakyatnya?" sahut Luka.
"Yg diangkat oleh Rakyat itu seorang pemimpin. Tapi seorang ratu belum tentu menjadi seorang pemimpin. Jadi yg bisa mengangkat seorang ratu itu adalah seorang raja." jelas Tsugumi.
"Seorang raja?!" ucap Luka terlihat terkejut.
"Ya, Shiro-kun adalah raja yg kesepian. Dia menenggelamkan dirinya di dalam kegelapan hanya agar kalian bisa menjadi cahaya yg bersinar lebih terang." ujar nenek Toko.
Di rumah danau, Ray dan Dante sedang tiduran dikamarnya masing-masing.
"Aniki? Apa kau yakin akan melakukan hal itu?" tanya Dante.
"Ya." jawab Ray dengan singkat.
"Tapi itu adalah.. bunuh diri." ucap Dante.
Rumah danau itu terlihat sepi. Dan saat ini hanya ada suara air yg jatuh ke danau dari atap rumah itu.
"Aniki, kenapa sampai segitunya hanya untuk mereka?" tanya Dante.
"Tak apa Dante, lagipula aku sanggup menanggung hal itu." jawab Ray.
"Tapi berkorban untuk seseorang yg bahkan tak mengerti kita itu adalah hal yg bodoh." ujar Dante.
"Membiarkan mereka tetap dalam kegelapan dan tidak peduli pada apa yg akan terjadi pada mereka itu lebih bodoh." balas Ray.
"Tapi mereka tetap takkan mengerti." ujar Dante.
"Tak apa, lagipula tujuanku bukan untuk dimengerti." sahut Ray.
"Walau aku mengharapkannya dari seseorang." sambung Ray dalam hati.
Di rumahnya kakek Taka dan nenek Toko.
"Tapi kenapa dia mesti seorang raja? Ray-kun bukan keturunan bangsawan kan?" tanya Luka.
"Bukan. Tapi sifatnya lah yg mencirikan seorang raja." jawab nenek Toko.
"Padahal dari pakaiannya saja jelas banget kan. Dia bernama Shiro yg artinya putih. Tapi kenapa dia mengenakan pakaian hitam hampir menutupi seluruh tubuhnya? Dan anehnya dengan pakaian itu dia mendapat julukkan The White Light." ujar kakek Taka.
"Karena dia menyukai warna hitam kan?" jawab Luka.
"Salah." sahut kakek Taka.
"Salah dimananya?" tanya Luka.
"Warna kesukaan Ray-kun adalah biru." jawab nenek Toko.
"Mungkin maksud mereka hitam disana adalah simbol, Luka-sama." ujar Tsugumi.
"Simbol? Kalau begitu.." pikir Luka sambil memegang dagunya.
Kemudian Luka pun terlihat terkejut.
"Jadi dia?" ucap Luka.
"Nampaknya Luka-chan sudah mulai mengerti." sahut nenek Toko.
"Ya, Shiro-kun selama ini selalu memperhatikan kalian. Bersembunyi dalam kegelapan." sambung kakek Taka.
"Jadi kalau begitu, kalau mengangkatku sebagai ratunya juga sebuah ungkapan itu berarti.." gumam Luka dengan wajah memerah.
Kemudian Luka memegang kedua pipinya. Wajahnya nampak memerah karena malu.
"Ray-kun ingin aku berada disisinya dan menemaninya selama masa hidupnya?!" ucap Luka dalam hati sambil memejamkan matanya.
"Luka-sama?" panggil Tsugumi yg bingung melihat tingkah Luka.
"Kelihatannya dia sudah sadar apa arti dari ratu itu." bisik nenek Toko pada kakek Taka.
"Iya, mungkin dia sudah sadar kalau grup duo nya dulu bagus." sahut kakek Taka.
"Bukan itu bodoh!" bentak nenek Toko sambil menjitak kakek Taka.
Luka pun pamitan dan pulang bersama Tsugumi. Luka nampak masih berpikir.
"Tapi kenapa dia menyerang kami selama ini?" pikir Luka masih bingung.
Luka menuju ke rumahnya kemudian masuk ke ruang baca.
"Apa tujuannya menyerang kami seperti itu? Kalau memang dia punya alasan? Alasannya apa?" pikir Luka sambil mengambil buku-buku diary ayahnya.
Luka kemudian melihat ke arah jendela di ruang baca itu.
"Saat itu dia menyelamatkanku dari major." ujar Luka.
"Tunggu sebentar, kenapa dia menyelamatkanku? Kalau memang dia yg mengendalikan darksider dia takkan menyelamatkanku ataupun terlibat dalam pertarungan tadi siang. Apa yg kupikirkan? Selama ini kan yg sering merusak kedamaian di kota ini adalah darksider. Bahkan Ray-kun memberitahu jenis-jenis darksider waktu itu. Memberitahu cara menggunakan earophoid untuk pertarungan juga. Dia bahkan mengajarkan.." gumam Luka dalam hati lalu terkejut seperti menyadari sesuatu.
Dia pun mengingat semua pertarungan dengan Ray. Mulai dari yg terjadi di pondok tengah hutan, hingga yg terakhir di kuil.
"Selama ini.. Ray-kun.." ucap Luka.
Kemudian Luka berjalan pulang ke rumah keluarga Miku. Di perjalanan saat di tepi sungai, dia melihat anak-anak sedang bermain.
"Sekarang ayo kita main pahlawan-pahlawanan." ajak salah satu dari mereka.
"Ide bagus tuh." ujar teman-temannya.
"Oke aku jadi penjahatnya, sementara kalian jadi orang baiknya. Dan lawan aku dengan serius karena aku sebagai penjahat tentu takkan segan pada kalian." tambah anak yg pertama tadi.
"Sip!" sahut teman-temannya.
"Aku akan lari dan bersembunyi. Kalian coba tangkap aku setelah 3 menit." ujar anak yg pertama tadi.
Luka yg memperhatikan mereka juga seperti menyadari sesuatu. Kemudian dia pun tersenyum dan melanjutkan lagi langkahnya.
"Pantas nenek Toko menyebut Ray-kun imut waktu itu. Jadi, dia seperti anak kecil yg sedang bermain dengan temannya dan berperan sebagai penjahat." ujar Luka dengan wajah memerah karena tahu bagian mana yg imut yg dimaksud oleh nenek Toko.
"Aku pulang!" ucap Luka sambil membuka pintu rumah Miku.
"Selamat datang, Megurine-san." sapa Meiko.
"Ya, Meiko-chan." sahut Luka tersenyum pada Meiko.
"Ada apa ini? Kamu berubah hanya dalam beberapa jam?" tanya Meiko.
"Akan kujelaskan nanti. Akan kujelaskan saat bertemu dengannya lagi." jawab Luka sambil tersenyum.
Kemudian Luka berjalan menuju ke kamarnya. Rin dan Len nongol dari ruang tengah.
"Ada apa dengan Luka-neesan?" tanya Rin.
"Aku tidak tahu." jawab Meiko.
Esok harinya, hujan turun dengan derasnya. Dibawah derasnya hujan Ray memakai jaketnya duduk di pinggir sungai sambil memancing. Wajahnya gelap oleh bayangan tudung jaketnya. Terdengar suara senandung dari mulutnya. Di rumah Miku, Luka sedang melihat berita di TV. Terlihat, seharian berita menayangkan kemunculan makhluk-makhluk hitam aneh di seluruh tempat di Voca Town yg tak lain adalah minor. Luka duduk bosan diantara Rin dan Len yg juga sedang menonton.
"Oh ya Rin, bukankah hari ini kakak itu mengatakan kalau akan melawan kita untuk yg terakhir kalinya?" ujar Len.
"Iya, tapi kenapa mesti mengatakan yg terakhir? Memangnya Ray-niichan mau kemana ya?" sahut Rin.
"Aku tak tahu. Kemarin juga aneh banget." balas Len.
"Iya juga, Ray-niichan kok bisa kalah semudah itu?" ucap Rin.
Mendengar pembicaraan mereka Luka terkejut dan menyadari sesuatu.
"Ke-kenapa aku baru sadar? Ray-kun bisa menghadapi kami bersamaan. Tapi kemarin itu, dia.." gumam Luka.
Luka pun mengingat ekspresi Ray saat kemarin sebelum pergi. Luka kembali kaget.
"Tunggu.. jangan bilang kalau kata terakhir yg dia maksud adalah.." ujar Luka dalam hati sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
Luka kemudian berlari dan mengambil payung. Lalu Luka berjalan keluar dan berlari kecil.
"Aku harus menemui Ray-kun sebelum yg lain. Aku takkan membiarkanmu melakukan itu, Ray-kun." ujar Luka sambil terlihat cemas.
Luka berlari mencari Ray. Kemudian dia sampai di tepi sungai. Dia melihat sosok orang berjaket hitam sedang memancing.
"Ray-kun!" ucap Luka saat melihatnya.
Luka pun menghampirinya.
Lalu Luka pun membalikan tubuh orang itu.
"A-ada apa neng?" ucap orang itu yg ternyata kakek tua udah gemetaran.
"Ma-maaf, kukira kamu temanku." ucap Luka terlihat terkejut.
Disaat yg sama, Ray sedang berjalan pergi menyebrangi jembatan.
"Maaf mengganggu." sambung Luka yg lalu pergi.
Luka kembali ke jalan dan dia terlihat bingung hendak mencari kemana.
"Lewat jembatan atau menyusuri sungai? Tapi Ray-kun suka memancing. Mungkin aku harus menyusuri sungai. Tapi entah kenapa aku ingin menyeberangi jembatan." ujar Luka sambil melihat ke jembatan.
"Sebaiknya aku menyusuri sungai saja." ujar Luka lalu berjalan menyusuri sungai.
"Ray-kun, tolonglah bertemu denganku lebih dulu." ucap Luka dalam hati.
Ray sedang bersenandung sambil berjalan menuju ke tengah kota. Dia memanggul pancingannya sambil berjalan dengan kepala menunduk. Dan Gumi terlihat lewat sambil berlari tepat disamping Ray. Saat itu Gumi juga mengenakan jaket agar tidak basah karena hujan.
"Aku harus pergi ke rumah Gaku-Gaku. Aku tak mau dicegat oleh Shiro Ray dan pangeran kegelapan saat sedang sendirian." ujar Gumi sambil berlari.
Luka terlihat berjalan kembali ke jembatan karena tidak menemukan Ray. Saat itu Gumi lewat dan melihat Luka.
"Luka-oneesama!" sapa Gumi sambil menghampirinya.
"Gumi-chan kebetulan. Apa kamu melihat Ray-kun?" tanya Luka saat melihat Gumi.
"Eh, kenapa malah nanyain Shiro Ray?" sahut Gumi.
"Sudahlah katakan saja!" suruh Luka.
"Tidak, aku tidak melihatnya." jawab Gumi.
"Dimana sebenarnya mereka, bahkan aku tak tahu dimana mereka tinggal."
Luka pun kemudian menyadari sesuatu. Tentang tempat tinggal Ray yg waktu itu pernah dikatakan olehnya kalau itu bohong, namun Ray bilang kalau ia jujur.
"Menyusuri sungai terus ke timur lalu menuju ke gunung." ujar Luka lalu melihat ke arah timur.
"Ada apa Luka-oneesama?" tanya Gumi.
"Aku tahu. Aku tahu dimana rumah mereka." ucap Luka terlihat senang bisa mengingat hal.
"Hah? Benarkah?" tanya Gumi.
"Ayo Gumi-chan, ikut aku!" ajak Luka sambil menarik lengan Gumi.
"Aku yakin, Ray-kun tidak berbohong." ujar Luka sambil berlari menarik Gumi.
Mereka berlari dan lewat di depan kediaman Gakupo. Saat itu Kamui sedang bermeditasi di dalam dojo karena di teras takut terciprat air hujan.
"Seorang samurai tidak takut hanya oleh hujan. Tidak akan gempar diterjang badai. Hanya saja kalau kalau kimono jadi basah, rasanya tidak enak." ujar Kamui dengan nada keren, tapi lebih tampak seperti sedang beralasan daripada berpuisi.
Luka saat itu sampai di belokan. Jalannya berbelok, tapi sungainya tetap lurus ke dalam hutan.
"Disana ada jalan kecil." ujar Gumi sambil menunjuk jalan setapak yg lurus naik ke gunung.
Kemudian Luka pun menyusuri jalan setapak itu. Dia dan Gumi naik ke gunung itu. Mereka terus naik dan melewati jembatan kayu menyeberangi sungai yg semakin mengecil itu. Tak lama mereka pun sampai di sebuah danau. Danau itu terlihat cukup luas dan tersambung ke sungai. Di tengah danau, ada sebuah rumah. Walau itu tidak terlalu ketengah karena untuk ke titik tengahnya masih sedikit jauh.
"Rumah? Apakah disana rumahnya?" ucap Luka saat melihat rumah ditengah danau itu.
Luka menuju ke rumah itu, dan saat sampai dia pun melihat-lihat ke dalam. Rumah itu hanya ada dua ruangan dan keduanya adalah kamar. Terlihat ada dipan dimasing-masing kamar itu.
"I-ini?!!" ucap Gumi melihat topeng iblis yg tak asing baginya.
Gumi mengambilnya dan mengingat seseorang di festival waktu itu. Seorang laki-laki berambut putih.
"Jadi dia?" ucap Gumi yg baru menyadari kalau itu Dante.
"Jaket hitam? Pakaian sekolah akademi Voca? Tas sekolah?" ujar Luka melihat ke arah gantungan baju.
Kemudian Luka memeriksa tas itu dan melihat isinya. Dia menemukan beberapa buku, kemudian dia mengambil sebuah buku tulis. Lalu Luka membuka buku itu, bagian halaman depannya sama sekali tidak ada yg aneh. Luka pun melihat halaman belakangnya.
"Apa ini? Miku-chan?" ucap Luka melihat gambar sketsa wajah Miku dari samping.
Luka terlihat agak kecewa karena melihat gambar wajah Miku disana.
Kemudian dia membuka halaman kedua. Luka pun terkejut. Kali ini dia melihat sketsa wajahnya dari depan yg sedang tersenyum. Dihalaman berikutnya dia melihat gambarnya lagi, kali ini sedang menggunakan instrument nya. Luka terlihat tak percaya melihatnya. Dan dihalaman berikutnya ada lagi gambarnya sedang membaca buku. Dihalaman berikutnya ada gambarnya memakai jaket. Luka sadar kalau itu adalah gambar saat dipantai. Dan dihalaman berikutnya ada lagi gambar Luka sedang kesal. Luka pun sadar kalau itu adalah gambar saat pertarungan di kuil. Dan dihalaman berikutnya dia pun melihat gambar Luka hampir menangis dan banyak garis kebawah yg menandakan itu adalah gambar saat hujan.
"Luka-oneesama, ini benar-benar rumah mereka. Aku.." ucap Gumi terpotong saat melihat Luka tampak sedih ketika melihat ke sebuah buku tulia itu.
"Luka-oneesama.." panggil Gumi.
"Gumi-chan, ayo kita cari mereka." ajak Luka.
Gumi pun mengangguk mengerti perasaan Luka. Kemudian mereka berlari kembali ke arah Voca Town. Terlihat Luka menjatuhkan buku itu dilantai kayu kamar itu. Ternyata dibawah gambar yg terakhir ada pesan tertulis, 'Aku tak sanggup melihatnya menangis lagi. Aku harus segera mengakhiri ini.'.
"Ray-kun, jangan tinggalkan aku. Aku sudah menyadarinya saat ini. Jadi.." ujar Luka dalam hati.
"Tolong tetap disisiku! Ray-kun!!!" teriak Luka sambil berlari kecil.
Hari mulai sore, hujan pun mulai reda.
"Sekarang sudah saatnya, Dante." ujar Ray yg sedang bersandar di dinding sebuah bangunan.
"Padahal kita baru beberapa bulan sekolah disini ya. Rasanya cepat sekali." sahut Dante yg berdiri dan melihat ke bawah dari sisi atap berpagar itu.
Ternyata itu adalah bangunan sekolah. Tepatnya adalah akademi Voca.
"Aniki yakin ingin mati sebagai penjahat?" tanya Dante menoleh ke arah Ray.
"Jika itu yg diperlukan, maka akan kulakukan." jawab Ray.
"Ayo Dante, ini sudah waktunya." ajak Ray.
Ray dan Dante pun berjalan melewati tangga dan turun ke bawah.
"Aku ini sendirian. Meskipun aku mati takkan ada yg menangisiku. Meskipun berakhir dianggap orang jahat, takkan ada yg peduli. Aku sudah siap dengan semuanya. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku sebagai raja." ujar Ray dalam hati saat keluar dari bangunan sekolah.
Luka sedang berjalan, dia terlihat sudah kelelahan mencari Ray. Saat itu Gumi nampaknya sedang mencari ditempat lain karena tidak ada bersama Luka.
"Aku tidak menemukannya. Kemana Ray-kun?" ujar Luka dalam hati.
Luka pun melihat ke langit yg terlihat mulai kemerahan akibat lembayung.
"Tidak. Ini sudah sore. Aku harus segera pulang. Aku harus jelaskan pada yg lainnya." kata Luka sambil menengadah keatas.
Lalu Luka kembali berlari, dia menuju ke rumah untuk menjelaskan pada Meiko dan yg lainnya. Saat sampai dirumah, ternyata rumah sudah kosong.
"Kemana semua orang? Tidak, jangan-jangan mereka.." ujar Luka sambil melihat-lihat kedalam rumah.
Luka pun kembali berlari keluar.
"Mereka bertemu dengan Ray-kun. Tapi, kenapa mereka tak memberitahuku!" teriak Luka.
Ditempat lain, Ray dan Dante terlihat sudah dalam keadaan berubah. Mereka berdiri dengan tenangnya. Dan ternyata benar saja, saat itu Miku dan yg lainnya kecuali Gumi dan Luka ada disitu.
"Kalian sudah siap?" tanya Ray.
Miku dan yg lainnya pun sudah pasang kuda-kuda.
"Devilish slash!" teriak Dante mengibaskan gitar yg sudah dikeluarkannya dari tadi ke samping.
Kaito melompat ke depan sambil berputar dan lalu mengayunkan harmonika nya ke bawah sambil mendarat. Mengeluarkan cambuk api biru dan melawan hempasan api hitam berbentuk bulan sabit horisontal itu. Saat keduanya saling menghantam Meiko juga melompat ke depan dan menembakan api merahnya mendorong cambuk api biru Kaito. Hal itu pun membelah dua api hitam Dante. Dante dan Ray menghindari api Meiko dan Kaito dengan melompat ke samping. Dan Kamui pun tiba-tiba muncul di depan Ray dan hendak menebasnya, Ray menyadarinya dan berusaha menghindar. Namun nampaknya takkan sempat karena serangan Kamui lebih cepat. Untung saja saat itu Dante datang dan menahan serangan Kamui dengan gitarnya lalu menghampaskan Kamui menjauh.
"Aniki, kau tidak apa-apa?" tanya Dante.
"Jangan khawatirkan aku." jawab Ray.
Saat itu Luka dan sedang berlari menuju ke arah kota. Kemudian dia mendapat pesan dari Gumi.
'Aku dapat pesan dari Gaku-Gaku. Karena ponselku aku tinggal dirumah jadi aku baru sadar. Katanya Shiro Ray sedang ada di sisi gunung timur yg mengarah ke laut. Mereka dapat surat tantangan di depan rumah. Begitu katanya.' isi email Gumi.
'Baiklah, Gumi-chan segera datang kesana dan tahan mereka. Aku akan berusaha kesana secepat mungkin.' balas Luka lewat email.
Kemudian Luka pun berubah dan menambah kecepatan larinya. Saat itu Miku dan yg lainnya sedang mengeroyok Ray dan Dante. Dante terlihat menghadapi Meiko, Kaito dan Kamui dan mencoba menjauhkannya dari Ray. Dante berkali-kali mengibaskan gitarnya sambil memainkan nada-nada. Lalu saat Dante menghempaskan api horisontal, Kamui menebas api itu dengan tebasan horisontal juga. Hal itu membuat Kamui, Kaito dan Meiko tertutup oleh api. Tanpa disadari ternyata Kaito sudah diatas dan mencambukkan api ke arahnya, Dante pun terkejut dan menghindarinya ke samping. Dari depan Meiko datang menembus api dan memukul ke arahnya. Dante menahannya dengan gitarnya. Dan hal itu membuat efek ledakan dan hebusan api dan membuat di belakang Dante retak dan terangkat sedikit. Dante pun menghempaskan lagi tubuh Meiko menjauh. Sementara itu Ray sedang menghadapi Miku dan yg lainnya. Ray terlihat mampu mengatasi dance milik Miku, Rin dan Len. Namun kadang ia terkena serangan Rin dan Len. Lalu melihat kesempatan, Miku menyerang dari atas. Saat itu Miku menggunakan dance rolling girl nya. Ray mampu menghindar ke belakang menghindari tendangan Miku. Kemudian Miku pun berputar ke kanan, dan menyearang Ray dengan pukulan back hand tangan kanan. Ray menahannya dengan tangan kiri, kemudian Miku menendang dengan kaki kiri, Ray menahan tendangan itu menggunakan tangan kanan untuk menahannya. Namun Miku mendaratkan kaki kirinya, berputar dengan cepat dan menendang perut Ray dengan kaki kanannya. Ray pun terpental ke belakang lalu berguling-guling ditanah.
"Aneh." ujar Len.
"Ray-niichan mestinya bisa menghindarinya dengan mudah." ujar Rin.
Luka berlari dan melompat diatas gedung ke gedung lainnya.
"Ray-kun, selama pertarungan kemarin aku baru sadar. Dia menggunakan elegant dance bukan untuk menyerang tapi untuk menghindar. Dan anehnya Ray-kun malah menggunakanku untuk menyerang mereka. Setelah mengalahkan kelima major itu dengan tekniknya, Ray-kun sama sekali tidak mengaktifkan dance acceleratornya. Ditambah gerakannya juga melambat." gumam Luka sambil melompat-lompat.
"Tidak, apa mungkin itu karena.. powernya habis? Kalau begitu aku harus cepat-cepat. Teman-teman tolonglah tahan serangan kalian!!!" ujar Luka menyadari sesuatu.
Kemudian dia melesat dengan cepat ke arah pantai. Langit semakin memerah karena matahari sudah ada diujung barat. Ray terlihat semakin kepayahan melawan 3 orang sekaligus. Sementara Dante terus dihujani api dan tebasan oleh Meiko, Kaito dan Kamui.
"Hentikan!" teriak Gumi yg datang lalu mendarat tepat dihadapan Dante.
"Gumi-chan, minggir darisana!" suruh Meiko.
"Aku tidak akan minggir, aku akan tetap disini sampai kalian menghentikan pertarungan ini!" bentak Gumi.
"Angin Senja, apa kamu ingin mati?" ucap Dante sambil mengangkat gitarnya setelah memainkan sebuah nada.
Terlihat api hitam menyala di bagian kepala gitar itu. Gumi pun menoleh kebelakang sambil mendongahkan kepala keatas.
"Hentikan.." pinta Gumi dengan mata berkaca-kaca.
Melihat tatapan Gumi yg sedih dan cemas itu, Dante pun menurunkan lagi gitarnya.
"Dia tidak jadi menyerang?!" ucap Meiko dalam hati terkejut.
Sementara tak jauh dari sana, Ray sudah hampi tak bisa lagi berdiri. Dia bangkit dengan gemetar. Ray tersenyum dan melihat ke arah Miku, Rin dan Len.
"Kalian semakin hebat saja. Aku tak bisa mengimbangi kalian lagi. Ayo kita selesaikan ini." ujar Ray sambil tersenyum.
"Dia berbohong." ucap Len.
"Kami belum berkembang lagi sejak saat itu. Kami belum melatih dance kami lagi." sambung Rin.
"Masa sih? Tapi aku kok merasa memang aku jadi semakin hebat walau tidak latihan." ujar Miku.
"Itu karena Miku-neechan kurang peka." sahut Rin.
Saat itu Luka pun sampai dan berhenti beberapa meter di belakang Ray setelah berlari dari samping dari arah hutan. Dia terlihat senang melihat Ray masih hidup.
"Ray-kun, syukurlah kamu masih hidup." ucap Luka dengan wajah bahagia melangkah mendekati Ray.
"Megurine-san?" ucap Ray yg terkejut melihat kedatangan Luka.
Kamui yg melihat Luka mendekati Ray pun berlari ke arah mereka.
"Luka-tan! Menjauhlah darinya!!" teriak Kamui yg melesat dengan cepat.
Ray menoleh ke arah Kamui saat mendengar hal itu. Tapi saat ia menoleh, ia ditebas oleh Kamui dengan tebasan ke kanan bawah. Terlihat darah muncrat begitu banyak. Luka pun terlihat terkejut dan shock melihat hal itu dan menatap seakan tak percaya dengan apa yg terjadi di depan matanya itu. Dari balik hutan yg gelap, terlihat sosok pemuda berjaket coklat tersenyum puas.
"Hehe.. lucky!" ucap pemuda itu.
"Tidak!!!!" teriak Luka berusaha menghampiri Ray yg sudah jatuh terkapar.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.