VocaWorld, chapter 108 - Cari Dan Temukan

Suatu pagi, Gumi sedang berjogging ke suatu tempat. Dia mencoba rute baru untuk jogging nya. Dia jauh melewati jalan setapak ke tengah hutan. Kemudian dia mendengar suara berisik.
"Sialan! Gara-gara terkena api tuan Lucifer mesin nya jadi overheat dan rusak. Tanpa pesawat ini aku takkan bisa mengantarkan pesanan dia." ujar June yg kesal dan menendang-nendang pesawat dihadapannya.
Gumi mengintip dibalik pohon. Dia melihat ke arah June.
"Jadi dia ada disini? Jadi serangan malam itu merusak pesawatnya. Ini kesempatanku. Aku harus memberi tahu Gaku-Gaku tentang ini. Jika aku bisa mengalahkannya dan menangkapnya, aku pasti bisa membuktikan kalau aku lebih baik dari Shiro Ray." ujar Gumi dalam hati.
Kemudian Gumi pun pergi dari tempat itu. Sementara June terlihat sedang menghubungi seseorang.
"Hei kau, bisakah kau datang kesini sebentar. Pesawat ini rusak lagi. Jadi aku ingin bantuanmu. Hah? Butuh satu bulan untuk kemari? Kan kau lagi deket, satu pulau ini kan? Apa? Kau sedang sibuk? Dasar lolicon, pasti kau hanya sedang memperhatikan murid-muridmu. Pokoknya kau kemari secepatnya!" bentak June melalui telpon kemudian menutup panggilan.
"Dasar dia itu, mengesalkan! Semua orang jenius itu mengesalkan!" gerutu June.
Di kediaman Gakupo yg saat itu sedang tenang-tenangnya Gumi berlari dengan terburu-buru ke arah Kamui yg sedang duduk di depan dojo.
"Gaku-Gaku! Aku punya kabar gembira!" ujar Gumi yg berhenti di samping Kamui.
"Tidak akan kena, sudah cukup dikerjai oleh hal semacam itu, Megu." sahut Kamui tak mau membuka matanya.
"Hmm.. maksudnya? Aku benar-benar punya kabar gembira!" sambung Gumi membujuk Kamui untuk mendengarkannya.
"Kulit manggis kan? Tidak akan ketipu deh. Sudah cukup bocah itu saja." balas Kamui yg tetap bermeditasi.
"Bocah? Bocah siapa maksudnya?" tanya Gumi yg jadi bingung.
"Bocah yg selalu main di sekitar sini." jawab Kamui.
"Ya aku mana tahu. Lagipula ini beneran." ujar Gumi.
"Memang tentang apa, Megu?" tanya Kamui.
"Aku menemukan tempat June Black. Kita bisa menangkapnya. Dan kita bisa membuktikan kalau kita lebih baik dari Shiro Ray yg sampai sekarang belum bisa menangkapnya." jelas Gumi.
"Benarkah? Emang dimana?" tanya Kamui membuka matanya dan menoleh ke arah Gumi.
"Nanti aku beritahu. Pokoknya kita harus bersiap-siap dulu." jawab Gumi.
"Hmm.. baiklah. Sebaiknya saya mengenakan kimono yg terbaik." ujar Kamui sambil berdiri.
"Bodoh! Bukan bersiap-siap yg itu maksudnya!! Kita harus siapkan strategi dan fisik kita!" bentak Gumi sambil menendang pantat Kamui.
"Ohh.. yg itu. Ngobrol dong.." ucap Kamui sambil tersenyum bodoh.
"Kamu nya saja yg terlalu bego itu mah." ujar Gumi dalam hati.

Sementara itu, Miku sedang menemani Luka belanja di mall. Miku kebagian yg membawa tas belanjaan Luka. Wajahnya menunjukkan kemalasan seakan tak tahan dijadikan kuli angkut oleh Luka.
"Megurine-senpai seenaknya saja menjadikanku kuli angkut barang bawaannya. Kupikir mau ngajak belanja tuh mau traktir aku. Padahal kan aku mau belanja juga." gerutu Miku yg berdiri di depan sebuah toko pakaian sambil membawa dua tas belanjaan.
Luka terlihat melirik ke arah Miku beberapa kali setiap kali ia memilih baju.
"Pake lihatin kesini terus lagi. Mau ngeledek ya?" ujar Miku dengan wajah jengkel.
Kemudian Luka keluar dari toko itu dengan membawa tas belanjaan. Dan lagi-lagi dia menyuruh Miku membawakan tas itu. Kemudian dia masuk ke toko pakaian laki-laki.
"Kenapa Megurine-senpai masuk ke toko baju laki-laki? Apa dia mau cosplay?" komentar Miku saat melihat Luka masuk ke toko itu.
Luka terlihat memilih-milih kaos, sweater, jaket, beserta celananya. Kemudin Luka melirik ke arah celana pendek dalaman laki-laki alias celana kolor.
"Apa harus kubeli itu juga?" ucap Luka dalam hati saat melihat ke tempat celana kolor itu.
Kemudian dia membayangkan Ray memakai celana kolor itu saja tanpa pakaian yg lain.
"Aaa!! Kenapa aku malah membayangkan hal yg seperti itu?" kata Luka sambil memegang kedua pipinya karena malu.
Miku kemudian masuk ke dalam toko juga. Dia menghampiri Luka dan meletakan tas belanjaan itu.
"Megurine-senpai.. mau apa ke toko pakaian laki-laki?" tanya Miku.
"Tentu untuk membeli pakaian untuk laki-laki kan." jawab Luka.
"Hah? Megurine-senpai mau cosplay atau gimana?" tanya Miku yg merasa heran.
"Tidak. Ini buat hadiah untuk seseorang." jawab Luka lagi.
Miku terkejut mendengar Luka mengatakan kalau itu untuk hadiah.
"Hadiah? Untuk siapa? Kalau dari ukurannya tidak mungkin itu untuk Len-chan. Jangan-jangan.. Megurine-senpai suka pada.. Kaito-senpai?!" ujar Miku dalam hati mulai menduga-duga.
Miku pun langsung tertunduk dan membungkuk dilantai dan tampak suram.
"Berakhir sudah. Kalau Megurine-senpai ikut jadi sainganku, sudah dipastikan aku akan kalah." sambung Miku dalam hati dengan putus asa.
"Miku-chan?" ucap Luka tak mengerti pada yg terjadi pada Miku.
Miku dan Luka pun pulang bersama. Sambil berjalan kaki, Miku terlihat suram dan tertunduk lesu saat membawa tas belanjaan. Sementara Luka terlihat bersemangat dan seperti tak sabar sambil memeluk tas belanjaan yg terkahir.
"Ayo Miku-chan! Yg semangat dong. Kamu juga pasti tidak sabar untuk melihat isi tas itu kan?" ujar Luka melihat ke arah Miku yg tertinggal di belakang.
"Tidak sabar dari Sanghai. Aku tak mau melihat barang-barang untuk dirinya sendiri dan untuk Kaito-senpai." kata Miku dalam hatinya.
"Kalau Miku-chan cape, aku akan panggil pelayanku untuk menjemput kita." sambung Luka.
"Kenapa tidak daritadi? Masa berangkat jalan kaki pulang jalan kaki juga." gerutu Miku pada Luka.
"Hmm.. soalnya aku sedang latihan. Karena ada orang yg kemana-mana jalan kaki. Jadi aku harus bisa jalan kaki juga untuk mengimbanginya." balas Luka sambil mengeluarkan ponselnya.
"Memangnya orang bodoh mana yg kemana-mana jalan kaki? Tidak punya duit atau gimana?" ujar Miku.
"Dia memang tidak punya uang. Bisa dibilang dia itu miskin." jawab Luka menoleh ke arah Miku.
"Eh, semiskin itu?" tanya Miku tak percaya.
"Sebenarnya dia bisa saja jadi kaya, tapi entah kenapa dia memilih untuk hidup sederhana." jelas Luka.
Kemudian Luka pun menelpon pelayannya.

Sementara itu dirumah danau, Ray sedang bermain catur di ponselnya.
"Checkmate!" ucap Ray tampak selesai melakukan langkah terakhir.
"Lagi? Ini sudah yg ke.. hmm.. aku sudah lupa. Terlalu banyak soalnya. Tapi bagaimana Aniki mengalahkan level expert semudah itu?" komentar Dante kemudian bertanya pada Ray dari arah kamarnya.
Dante terlihat sedang tiduran dikamarnya. Ray yg sedang duduk ditempat tidurnya dan bersandar di dinding pun menutup game catur itu.
"Terlalu mudah. Aku sudah hapal variasi gerakan dari komputer nya." ujar Ray memasukan ponsel itu ke saku jaketnya.
"Oh ya Aniki, masalah Angin Senja.. apa sedang ada masalah antara kalian berdua?" tanya Dante.
"Bukan hanya dengan Megupo-san, tapi juga dengan Gakupo-san. Kelihatannya mereka salah mengartikan perang terakhir kita itu." jawab Ray.
"Begitu ya. Pantas saja semalam dia menantangku untuk mengetahui siapa yg lebih baik antara dia dan Aniki." sahut Dante.
"Dia? Dia siapa?" tanya Ray.
"Angin Senja. Dan disaat yg sama JB juga muncul. Untung saja dia berhasil aku usir sebelum dia berhasil memanfaatkan situasi itu." jawab Dante.
Ray pun diam dan berpikir sejenak.
"Kamu mengusirnya dengan apa, Dante?" tanya Ray lagi.
"Dengan Devilish Slash." jawab Dante.
Ray pun kembali berpikir. Dia meletakan jari telunjuknya di kepala bagian kanannya sambil menutup matanya.
"Dante." panggil Ray pada Dante.
"Apa, Aniki?" sahut Dante.
"Cari dan ikuti Megupo-san." suruh Ray.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】