VocaWorld, chapter 104 - Tuan Putri Diculik
Muncul sebuah pesawat aneh berukuran raksasa yg terbang rendah dan menghadap tepat ke depan kelas 1-B. Pesawat raksasa itu mengeluarkan sebuah meriam besar di ujung depannya.
"Dante, cepatlah keatap!" suruh Ray.
Dant pun berlari naik ke atas melalui tangga.
"Sialan kau, JB!" pekik Dante naik ke atas.
Saat sampai diatap kemudian Dante berlari ke atap bagian belakang. Dia melihat pesawat raksasa itu kemudian berubah. Sementara bagian depan meriam itu terlihat bersinar semakin terang bersiap menembak Miku dan teman-temannya di kelas 1-B.
"Semuanya! Cepat lari dari sini!" teriak Gumi menyuruh teman-temannya untuk pergi.
Semuanya pun lari keluar dari kelas dengan terburu-buru.
"Hahaha.. kalian takkan sempat! Mati!!!" kata June dengan percaya diri.
"Devilish.. slash!!!" teriak Dante melompat dari atas lalu melesatkan api hitamnya ke arah pesawat itu.
Pesawat itu pun terdorong ke bawah oleh api hitam lalu jatuh.
"Sialan! Siapa itu?!!" bentak June saat merasakan guncangan di pesawat akibat terjatuh sambil membuka bagian atap pesawat itu.
Para siswa kelas 1-B masih berlarian keluar kelas. Gumi terbelalak dan terpaku melihat Dante menyerang pesawat itu. Sementara Miku hanya bengong karena tak mengerti apa yg terjadi. Bagian atas pesawat itu mulai terbuka dan memperlihatkan June yg berdiri dari singgasana itu. Namun belum sempat terbuka semua, Dante mendarat tepat dihadapan June. Dia berjongkok dihadapan June.
"Tuan Lucif.." kata June tapi belum sempat selesai Dante memukulnya dengan pukulan uppercut sambil melompat.
June terlempar jauh ke atas melesat ke belakang pesawat itu tapi mampu berdiri lagi di atas tanah halaman belakang sekolah.
"Menjauhlah dari singgasanaku." ucap Dante dengan ekspresi menahan amarah.
Dikelas 2-C, Luka, Meiko, dan Kaito juga melihat hal itu dari jendela.
"Orang itu benar-benar brutal. Dia menyerang secara terang-terangan." ujar Meiko.
"Lagipula, benda apa itu? Apa itu pesawat alien? Bentuknya berbeda sekali dengan pesawat pada umumnya." sambung Kaito.
"Pesawat itu adalah sebuah singgasana. Itu hanyalah tempat duduk dari sang Pangeran Kegelapan." jawab Ray yg tiba-tiba muncul diantara mereka.
"Apa? Itu hanya tempat duduknya?!" ucap Kaito tanpa sadar kalau yg menjawabnya adalah Ray.
Kemudian saat sadar itu bukan suara Luka, lalu Kaito dan Meiko pun terperanjat kaget.
"Apa kita perlu membantunya, Ray-kun?" tanya Luka satu-satunya yg tidak terkejut saat itu.
"Tidak perlu. Saat ini kita konsentrasi pada para siswa saja. Pasti saat ini terjadi suatu kepanikan diantara siswa. Tugas kita sebagai OSIS adalah untuk menjaga mereka." jawab Ray dengan tenang.
"Baiklah.. aku mengerti. Aku akan mengumpulkan seluruh anggota OSIS dan guru." sahut Luka yg lalu pergi keluar dari kelas.
"Lalu, kalian berdua. Pergilah ke kelasnya Miku dan jaga dia." suruh Ray menoleh ke arah Meiko dan Kaito.
"Kenapa?" tanya Kaito.
"Karena saat ini dia yg paling lemah." jawab Ray.
"Kenapa?" tanya Kaito lagi.
"Aku yakin saat ini dia sudah lupa melakukan apa yg kuajarkan." jawab Ray lagi.
"Kenapa?" tanya Kaito lagi.
"Sudahlah, lakukan saja." jawab Ray menatap tajam ke arah Kaito dengab wajah sedikit menggelap seperti ingin membunuh.
Melihat tatapan itu Kaito tiba-tiba merasa gugup dan takut. Begitu juga Meiko yg berada di sebelah Kaito.
"Oke, kami pergi!" ucap Kaito berlari keluar kelas dan diikuti oleh Meiko.
Para murid di kelas 2-C melihat ke arah Ray semuanya. Mereka terlihat kaget Ray bisa menyuruh-nyuruh 3 orang paling terkenal di sekolah saat ini.
"Siapa dia? Kenapa dia bisa menyuruh seorang ratu sekolah?" tanya salah satu siswa pada temannya.
"Aku juga tidak tahu." jawab temannya.
"Lihat di lengannya, bukankah itu menunjukkan dia anggota OSIS?" sahut temannya yg lain.
"Tapi kan ratu itu wakil ketua OSIS. Dan dia juga bukan ketua OSIS. Tapi kenapa dia bisa menyuruh-nyuruhnya?" ujar siswa yg pertama.
Kedua orang temannya itu tidak bisa menjawab. Ray berjalan keluar dari kelas 2-C dengan santai.
Dikelas 1-B, Miku dan Gumi masih berdiri di dekat jendela. Mereka memperhatikan ke arah pesawat.
"Apa itu?" tanya Miku pada Gumi.
"Tentu saja itu adalah pesawat." jawav Gumi.
"Tapi bentuknya tidak mirip pesawat. Itu lebih mirip.. pantsu." ujar Miku lalu membayangan sesuatu yg bentuknya sama dengan pesawat itu.
"Hah? Apa maksudmu? Itu sama sekali.." sahut Gumi yg kemudian terpotong saat melihat lagi pesawat itu baik-baik dan terbayang sesuatu.
"Beneran?! Ternyata memang mirip pantsu!" teriak Gumi dalam hati dengan ekspresi terkejut.
Dante saat itu berjalan ke belakang pesawat dan melewati bagian atasnya.
"Kenapa singgasanaku bisa ada padamu?" tanya Dante saat mulai dekat dengan June sambil tetap berjalan.
"Ah.. itu bisa dijelaskan, tuan Lucifer." jawab June.
"Coba jelaskan." pinta Dante sambil berhenti.
"Waktu itu, saat tuan Lucifer melarikan diri dari medan pertempuran dan mendaratkannya di markas rahasia dan dikalahkan oleh The White Light, aku membawanya lari tanpa sepengetahuan tuan." jelas June.
"Oohh.. begitu ya. Pantas saja saat kucari tidak ada!! Dasar kurang ajar!!!" ujar Dante lalu membentak June.
"Maafkan aku.." sahut June terlihat ketakutan.
"Kau memang selalu saja jadi pengecut, JB." sambung Dante mulai tenang lagi.
"Tuan Lucifer ayo kembalilah padaku. Aku kan kangen banget. Aku rindu masa-masa indah saat kita menyerang kota-kota dan menghancurkannya bersama." pinta June dengan nada manja.
"Maaf saja, aku tidak bisa." tolak Dante.
Saat itu Ray datang dan berhenti tepat disebelah Dante.
"Kenapa?" tanya June.
"Karena saat ini aku sudah punya, Aniki." jawab Dante.
"Ada apa ini? Kenapa kalian tiba-tiba membawaku pada pembicaraan kalian?" tanya Ray.
"Kalau begitu, mudah.. aku hanya perlu membunuhnya!" ucap June yg kemudian melesat dengan cepat kearah Ray dan melompat dan melakukan tendangan.
Ray saat itu sedikit terkejut dan membuka matanya lebar karena serangan tiba-tiba dari June. Tapi kemudian Dante memukul perut June tepat sebelum tendangan June mengenai Ray.
"Dia adalah Aniki-ku. Takkan kubiarkan kau melukainya!" bentak Dante.
June terlempar kebelakang dan berguling beberapa kali ditanah kemudian terseret beberapa meter. Dari kelas-kelas yg ada, terlihat banyak murid melihat kejadian itu melalui jendela.
"Ada yg bertarung disana." ujar salah seorang siswa.
"Siapa mereka?" tanya yg lainnya.
"Perhatian para murid, saat ini teroris kembali menyerang. Kepada kalian semua diharapkan meninggalkan kelas ini karena situasi di sekolah saat ini sangat genting." ujar anggota OSIS yg berdiri di depan pintu.
"Teroris?! Jadi dia itu teroris?!!" tanya seorang siswa yg terlihat terkejut.
"Ya seperti itulah dari informasi yg kami dengar." jawab anggota OSIS itu.
Kemudian para siswa dari setiap kelas pun mulai keluar dengan tertib. Mereka dibimbing oleh para anggota OSIS.
Sementara itu di kelas 1-B, Miku terlihat mengeluarkan earophoid nya.
"Mau kemana?" tanya Gumi.
"Aku akan menghadapinya." jawab Miku.
"Jangan bodoh! Saat ini kamu takkan sanggup mengalahkannya!" bentak Gumi mencoba melarang Miku untuk pergi.
"Kalau mereka saja bisa kenapa aku tidak!" tolak Miku.
"Mereka itu beda. Mereka itu.." ucap Gumi yg kemudian terpotong karena Gumi mengingat sesuatu.
Gumi ingat saat June mengatakan kalau yg mengalahkan Dante adalah Ray. Gumi dan Kamui saat itu hanya sebuah batu loncatan untuk Ray.
"Apa, Gumi-chan? Tidak bisa menjawab kan? Kalau begitu aku pergi!" ujar Miku yg kemudian tetap saja pergi sambil membawa earophoidnya.
"Tu-tunggu, Miku-chan.." ucap Gumi namun Miku sudah jauh.
Tak berapa lama, Meiko dan Kaito datang.
"Lho ternyata benar masih di kelas." ujar Meiko saat melihat Gumi.
"Kukira semuanya sudah keluar, padahal kami sudah mencari diantara murid kelas 1-B yg ada di luar." tambah Kaito.
"Kenapa kalian ada disini?" tanya Gumi.
"Kami berdua di suruh oleh Shiro Ray untuk menjaga Miku-chan." jawab Meiko.
"Ngomong-ngomong dimana Hatsune?" tanya Kaito.
"Kalian terlambat, barusan dia pergi. Katanya mau menghadapi orang yg menyerang kita ini sendiri." jawab Gumi.
"Hah? Kenapa malah dibiarkan?" tanya Meiko terkejut.
"Saat ini kan menurut Shiro Ray, Hatsune lah yg paling lemah diantara kita." ujar Kaito.
"Tak apa kan? Saat ini dia pergi ketempat pahlawan terhebat, The White Light berada. Dia pasti bisa menjaganya." jawab Gumi sambil memejamkan matanya dan sedikit mengangkat kepalanya.
"Kalau memang Ray-kun bisa menjaganya saat ini, dia takkan menyuruh Meiko-chan dan Kaito-kun untuk menjaga Miku-chan." ujar Luka sambil bersandari di pintu belakang, tepat dibelakang tempat duduk Ray.
"Luka-oneesama.." ucap Gumi terkejut menoleh ke arah Luka.
"Sial, kalau begitu kami akan segera menyusulnya! Ayo Meiko!" ujar Kaito mengajak Meiko.
Kaito dan Meiko pun berlari keluar dari kelas melalui pintu belakang. Sementara Luka menatap tajam ke arah Gumi seperti sedang marah.
Dihalaman belakang, Miku terlihat berjalan mengendap-endap mendekati tempat Ray dan Dante bertarung dengan June.
"Aku harus bisa membuktikan kalau saat ini aku bisa lebih hebat daripada Shiro Ray sialan itu!" ujar Miku dalam hatinya sambil berjalan berjinjit.
"Tuan Lucifer, saat ini Shiro Ray sudah tak punya kekuatannya lagi. Dia sudah tak lagi berguna untukmu. Kenapa tuan tak kembali saja padaku." bujuk June yg terlihat sudah berdiri lagi.
"Ini bukan soal berguna atau tak berguna." jawab Dante.
"Lalu soal apa?" tanya June.
"Ini masalah pribadi kami. Kamu tak perlu tahu, June-san." ujar Ray tak mau menjawab.
"Jangan memotong! Aku itu bertanya pada tuan Lucifer!!" bentak June.
"Oh.. maaf kalau begitu. Itu tidak disengaja." jawab Ray.
"Hah?! Bagaimana bisa memotong pembicaraan itu tidak disengaja?!! Jangan bercanda!!!" pekik June terlihat kesal.
"Apa wajahku ini tampak seperti bercanda?" ujar Ray sambil menunjuk wajahnya yg berekspresi datar itu.
"Aku mana tahu! Aku tidak bisa membedakan wajahmu saat bercanda atau serius! Semuanya sama saja!!" sahut June.
"Sial, bagaimana dia bisa mempermainkanku seperti itu." gerutu June dalam hati.
Kemudian tiba-tiba dia dikejutkan oleh kehadiran Miku tepat di depannya.
"Dance: Cherry Blossom Princess!" ucap Miku.
June terlihat terkejut dan ketakutan. Namun kemudian tak terjadi apa-apa.
"Eh, kenapa tidak bisa juga?!" ucap Miku yg baru sadar kalau dance acceleration nya tidak aktif.
"Sudah kuduga dia pasti lupa cara menggunakannya." ucap Ray sambil nepuk jidat.
"Kesempatan!" ucap June yg lalu menendang Miku ke arah pesawat.
Tubuh Miku terlempar cukup tinggi ke atas lalu menendangnya lagi ke bawah menuju bagian depan pesawat.
"Dante! Hentikan dia!!" suruh Ray.
Dante pun menurutinya dan melompat ke arah June. Dan mereka pun terlihat bertempur di udara.
"Kalau soal dance, aku tidak akan kalah, tuan Lucifer." ucap June dengan percaya diri.
June menendang ulu hati Dante, dante manahannya dengan tangan kanan. June kemudian menendangkan kakinya ke kepala bagian kiri Dante, Dante menahannya dengan tangan kiri. Kemudian June berputar ke kanan dan menendang kepala bagian kanan Dante sehingga Dante terlempar cukup jauh dan jatuh terseret ditanah. Sementara June mendarat dengan mulus dibagian depan pesawat itu.
"Sudah kubilang kan?" sambung June dengan sombong.
"Giliranku!" teriak Miku menyerang June yg sedang lengah.
Namun ternyata June menyadarinya, dan bisa menahan serangan Miku. Lalu menendang balik Miku hingga terjatuh di lantai pesawat itu.
"Hahaha.. lemah!" ucap June meledek Miku.
June menghampiri tombol disinggasana. Kemudian dia menekan sebuah tombol dan bagian atap pesawat itu mulai tertutup kembali.
"Hatsune-san! Keluarlah dari sana!!" teriak Ray memperingatkan Miku sambil berlari.
"Apa?" ucap Miku yg tak mendengar jelas perintah Ray.
"Takkan kubiarkan!" ucap June yg lalu menendang dada Miku.
Miku pun terlempar ke belakang dan terseret dilantai pesawat. Miku terlihat kesakitan kemudian pingsan. Dan bagian atap pesawat itu pun tertutup kembali sepenuhnya.
"Kalau kau ingin mendapatkan kembali tuan putrimu ini! Datanglah dan serahkan dirimu padaku di bekas laboratorium Mindy!! The White Light!! Hahaha.." teriak June melalui pengeras suara yg ada di pesawat itu.
Meiko dan Kaito pun tiba disana. Namun pesawat itu sudah terbang tinggi. Dante yg bangun lagi pun bersiap menembakan api hitamnya. Tapi pesawat itu pun menghilang.
"Sial." ucap Dante saat pesawat itu tiba-tiba menghilang dari pandangannya.
Meiko dan Kaito nampak terkejut, sementara Ray terlihat tenang saja.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.