VocaWorld, chapter 101 - Hitam Putih Masa Lalu
Minggu pagi yg cerah di Voca Town, Gumi sedang berjogging. Berbeda dengan biasanya, saat ini Gumi seperti tidak konsentrasi dan sedang melamun. Sepertinya dia masih terpikir masalah beberapa hari yg lalu saat June mengatakan kalau bukan dia dan Kamui yg mengalahkan Dante, melainkan Ray. Saat lewat di depan mesin penjual minuman dia pun berhenti sejenak dan mengelap keringat dengan handuk kecil yg ia bawa. Kemudian ia merogoh sakunya mengambil uang koin dan memasukannya ke mesin penjual minuman itu untuk membeli minuman isotonik.
"Kemarin si kurang ajar itu lagi-lagi menyuruhku untuk mengangkut barang lagi." ucap orang lewat menggerutu sendiri.
"Si sialan itu menggunakanku hanya untuk batu loncatannya saja. Dia menyuruhku memindahkan barang pada tempat yg ia mau tapi malah dia yg dapat pujian dari bos." sambung orang itu.
"Ngeselin tuh orang, seenaknya memanfaatkan orang lain." tambah orang itu terus menjauh.
Orang bertopi dengan wajah yg gelap karena bayangan topi itu sudah menjauh dari Gumi. Gumi pun semakin menunduk dan mengepalkan tangannya sekuat tenaga seperti sedang kesal.
"Kenapa? Padahal aku sudah menganggapnya orang baik. Dia hanya membuat pahlawan lain sebagai alat untuk mendapatkan kemenangan." ujar Gumi merasa kesal dan hampir menangis.
Sementara itu di rumah Miku, Miku sedang mengutak-atik ponsel nya dengan wajah bingung.
"Ini gimana sih caranya? Aduh.." ucap Miku terlihat kebingungan dan mencetin tombol tengah.
Di ponsel itu ada tulisan, 'File not supported.'.
"Megurine-senpai, ini bagaimana cara instal aplikasi ini?" tanya Miku pada Luka yg sedang membaca buku.
"Aplikasi apa?" tanya Luka balik.
"Ini.." jawab Miku sambil memperlihatkan layar ponselnya.
Luka pun melirik ke arah layar ponsel Miku.
"Ya pantas saja tidak bisa. File nya kan tidak didukung oleh ponsel Miku-chan." sahut Luka.
"Tidak di dukung? Ya dukung aja atuh. Aku juga dukung kok file nya. Go file go! Ganbatte!! Tuh.." ujar Miku mempraktekan memberi dukungan pada file itu.
Luka pun langsung memegang kepalanya dan geleng-geleng karena pusing menghadapi Miku. Tak lama Rin dan Len turun dari kamarnya dan menghampiri mereka.
"Miku-nee bolehkah kami bertanya?" ujar Len.
"Itu sudah tanya." ujar Miku.
"Maksudku bukan yg itu." balas Len sambil menepuk jidatnya dan mengusap wajahnya.
"Kalian mau tanya apa?" tanya Ray yg tiba-tiba muncul dibelakang mereka.
Hal itu mengagetkan Miku, Rin dan juga Len.
"Bagaimana kamu bisa ada didalam?" tanya Miku yg masih merasa terkejut.
"Aku lewat jendela. Aku juga sudah bilang ke Megurine-san kalau aku akan mampir. Kenapa kalian sekaget itu?" jawab Ray lalu bertanya balik.
"Ya yg benar saja, masa lewat jendela! Emang dirumahmu tak ada pintunya!?" bentak Miku.
"Emang tidak ada." jawab Ray.
"Eehh?!! Beneran?!!" ucap Miku tak percaya.
"Tanya saja pada Megurine-san." suruh Ray.
"Ya, rumahnya Ray-kun memang tak ada pintunya. Cuma ada lubang untuk pintu dan lubang untuk jendela saja." ujar Luka sambil membaca buku.
"Jadi apa yg ingin kalian tanyakan tadi?" tanya Ray sambil memegang kepala Rin dan Len.
Gumi sedang berlari kecil menyusuri sungai. Dia berlari sambil melamun. Lalu Gumi tak sengaja menabrak orang. Gumi pun terjatuh bersama orang itu.
"Aduh.. kalau jalan itu itu lihat-lihat dong." gerutu orang yg ditabrak Gumi tampak mengambil ponselnya yg berwarna merah.
"Maaf.." sahut Gumi tetap menunduk.
"Angin Senja?!" ucap orang itu dengan nada terkejut.
Gumi juga kaget mendengar orang itu mengetahui nama julukannya. Kemudian Gumi mulai mengangkat kepalanya dan melihat kedepan.
"Haha.. kebetulan. Boleh tidak aku minta emailmu?" tanya orang itu yg ternyata adalah Dante.
Gumi masih terkejut dan tak mendengarkan Dante.
"Hmm.. halo.. apa kamu mendengarku? Halo.. ada orang disana.." panggil Dante.
Gumi seperti tak mendengarkan dan menundukkan kepalanya lagi.
"Rasanya aku tak bisa bertatap muka dengan orang lain lagi. Aku bukanlah pahlawan. Aku hanyalah batu pijakan untuk Shiro Ray." gumam Gumi.
"Hei!" bentak Dante sambil mengadu kepalanya ke kepala Gumi.
"Aduh..." erang Gumi sambil memegang kepalanya karena sakit.
"Jangan acuhkan aku! Aku lagi ngomong denganmu tahu!!" bentak Dante lagi.
Gumi masih memegangi kepalanya.
"Jangan menunduk terus! Naikan kepalamu itu!! Kalau kamu terus menunduk kamu akan kehilangan banyak hal yg menarik didepanmu!" bentak Dante lagi sambil memegang bahu Gumi.
Mendengar perkataan itu Gumi jadi sadar dan kemudian dia menatap ke arah Dante.
"Pangeran kegelapan.." ucap Gumi saat itu.
"Panggil saja Dante." sahut Dante.
Namun kemudian Gumi pun baru menyadari Dante memegang kedua bahunya. Wajah Gumi jadi semakin memerah.
"Kya! Lepaskan aku!!" teriak Gumi sambil menepuk kedua tangan Dante ke atas lalu mundur kebelakang menjauhi Dante.
Lalu Gumi pun berlari melewati Dante sekuat tenaga.
"Ada apa dengannya?" tanya Dante yg heran melihat Gumi.
Kemudian di rumah Miku, Ray duduk di sofa di sebelah Luka.
"Oohh.. jadi kalian ingin tahu cerita tentang masa lalu kami.." ujar Ray.
"Iya.. aku penasaran kenapa aku tak pernah melihat orang tua dari Ray-niichan, Luka-neesan, ataupun Miku-neechan dan Meiko-neesan?" balas Rin memperjelas pertanyaannya.
"Kalau kalian mau tahu, sebenarnya orang tuaku meninggal saat aku berumur 3 tahun." jawab Ray sambil tersenyum.
"Oouuww.. maaf." ucap Rin dan Len saat mendengarnya.
"Begitu pula dengan orang tuaku. Mereka meninggal pada saat gempa besar 10 tahun lalu di kota ini. Dan kupikir begitu pula dengan Miku-chan dan Meiko-chan." tambah Luka sambil tetap membaca buku.
Rin dan Len pun jadi makin merasa sedih.
"Sudah.. jangan terlalu dipikirkan. Kami tidak keberatan kok kalian bertanya hal itu." ucap Ray berusaha menenangkan Rin dan Len.
"Kalian enak masih ingat siapa orang tua kalian." ujar Len.
"Kami ini bahkan tidak ingat siapa orang tua kami? Seperti apa mereka? Sejauh yg kuingat hanya saat terbangun dan ada Meiko-neesan dan Miku-neechan yg tepat dihadapan kami dan tersenyum pada kami." tambah Rin.
"Aku juga. Aku tidak ingat apapun tentang siapa aku? Siapa orang tuaku? Yg kuingat hanya saat terbangun di musim di depan rumah Meiko-san." ujar Miku dengan wajah sedih.
"Maafkan aku.." ucap Ray.
Miku, Rin dan Len menoleh ke arah Ray saat mendengarnya.
"Minta maaf untuk apa?" tanya Miku.
Rin dan Len juga nampak penasaran.
"Ah tidak.. lupakan saja.." jawab Ray.
"Kalian sebaiknya jangan terlalu memikirkan hal itu. Jangan terlalu lama menunduk dalam kesedihan. Kalian akan melewatkan banyak hal penting di depan kalian. Saat ini di depan kalian ada Meiko-san kan? Dia sudah mengorbankan hari liburnya untuk bekerja untuk membiayai sekolah kalian dan makan sehari-hari. Dia berusaha menjadi pengganti ibu kalian agar kalian tidak terus dirundung kesedihan masa lalu. Apa jadinya kalau saat ia pulang setelah bekerja dan malah melihat kalian murung dan cemberut? Meiko-san pasti akan sedih kan? Jadi untuk saat ini kalian jangan terlalu memikirkan masa lalu." kata Ray panjang lebar dan berdiri berusaha menyadarkan Rin, Len dan Miku dari kesedihannya.
Luka melihat ke arah Ray tanpa sepengetahuannya.
"Ray-kun terlihat begitu dewasa.." ucap Luka dalam hati dengan wajah sedikit memerah.
"Tenang saja, kalau memang kalian ingin tahu masa lalu kalian aku yakin kalian akan segera mengingatnya. Tapi jangan jadikan jeda diantaranya membuat kalian larut dalam kesedihan." sambung Ray sambil memegang kepala Rin dan Len.
"Ya, yg dikatakan Ray-kun benar. Saat ini Meiko-san lah orang tua dan kakak perempuan kalian. Jangan membuatnya sedih kalau kalian memang mencintai dan menyayangi orang tua kalian." tambah Luka.
Miku, Rin dan Len pun terlihat mulai menyadari hal itu.
Di kediaman Gakupo, Gumi terlihat sudah menghabiskan banyak air dingin di kulkas. Terlihat di sekitarnya banyak botol kosong.
"Bagaimana ini? Aku tahu yg dikatakan pangeran kegelapan itu benar. Tapi.. aku rasanya sakit sekali dimanfaatkan oleh Shiro Ray." ujar Gumi dalam hati tampak gundah.
"Gaku-Gaku!" panggil Gumi pada Kamui yg sedang bermeditasi di depan dojo.
Kamui hanya diam saja tidak menjawab.
"Samurai bodoh itu kenapa malah diam saja?" gerutu Gumi sambil berjalan menghampiri Kamui.
"Gaku-Gaku! Kenapa dipanggil diam saja?" bentak Gumi.
"Samurai haruslah tetap konsentrasi pada apa yg ada di depannya dan meninggalkan apa yg ada dibelakangnya." ujar Kamui sambil tetap memejamkan matanya.
"Hah?" ucap Gumi tak mengerti.
"Saat ini aku juga sama sepertimu, Megu. Aku sedang berusaha melupakan pahitnya harga diriku di injak-injak. Harga diri seorang samurai itu seperti nyawanya sendiri." jelas Kamui.
"Begitu ya.." sahut Gumi yg mengerti maksud Kamui.
Disuatu tempat disebuah ruangan yg seluruhnya terbuat dari metal. June sedang tertawa penuh keseangan.
"Hahaha.. kali ini kau akan mulai kehilangan orang-orang terdekatmu, The White Light! Dan itu aku mulai dari dua pahlawan terkuat di peperangan selain dirimu! Hahahaha.." kata June dengan penuh percaya diri.
"Jadi sekarang siapa lagi yg harus jadi incaranku ya?" ucap June sambil menghampiri foto-foto di sebuah papan besi di dinding metal itu.
Saat itu, Ray sedang duduk memegang kepalanya. Dia duduk di sofa tepat disamping Luka.
"Kelihatannya ini jadi semakin buruk. Aku takkan bisa mengendalikan semuanya sekaligus. Apalagi dengan tanpa kekuatan seperti ini." pikir Ray sambil memegangi kepalanya.
Kemudian dia melihat ke arah buku yg dibaca oleh Luka. Buku berjudul 'Diary of G'.
"Ini kan? Kejadian waktu itu?!" ujar Ray saat membaca isi buku itu.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.