VocaWorld, chapter 107 - Mengertilah Dirimu Sendiri

Dante dikejutkan oleh kedatangan June. Gumi yg juga ada di atap gedung yg sama dengan Dante terlihat sudah bersiap menyerang.
"Urungkan niatmu itu, Angin Senja. Dirimu yg saat ini takkan bisa menandingi nya." larang Dante pada Gumi yg sudah mengambil kuda-kuda.
"Hahaha.. ada apa ini? Kalian takut melawanku?" ujar June dengan nada mengejek.
"Instrument: Devil Bone Guitar." ucap Dante mengeluarkan instrument nya.
Melihat Dante mengeluarkan instrument nya, June mulai ketakutan. Dia langsung berlari ke arah singgasana dan kemudian menerbangkan pesawat itu lebih tinggi.
"Kenapa kau mundur, JB? Sebegitu takutnya kah kau padaku?" balas Dante dengan nada mengejek.
"Takut? Hahaha.. aku tak mungkin takut. Aku hanya tak mau terjadi keributan disini." jawab June dengan wajah grogi.
Dante tahu itu hanya alasan palsu dari ekspresi wajah June saat itu.
"Devilish Slash!" ucap Dante sambil memainkan sebuah nada lalu mengibaskan gitarnya.
Sebuah api hitam berbentuk bulan sabit berukuran besar pun melesat ke arah pesawat. June melihat itu sebagai sebuah ancaman yg besar, karena itu ia menembakan meriam di ujung depan pesawat itu. Namun tembakan meriam itu terlihat hanya menahan bagian tengah dari sabit api itu, dan bagian ujung-ujungnya masih melesat ke arah pesawat. June berusaha memundurkan pesawat itu supaya tidak terkena api hitam itu.
"Ayolah cepetan. Kenapa lambat banget sih mundurnya?" gerutu June.
Dan pesawat itu pun pada akhirnya tetap terkena api itu dan kehilangan keseimbangan.
"Sial!" ucap June kesal.
Pesawat itu hampir jatuh tapi June berusaha untuk mengangkatnya lagi dan akhirnya pesawat itu bisa terbang lagi.
"Kurang ajar! Awas, akan kubalas kalian!!" bentak June pada Dante dan Gumi.
Lalu June pun melesat pergi dengan pesawat itu dan menghilang diangkasa.
"Ya, selalu seperti itu. Penjahat dimana-mana sama saja perkataannya kalau kalah." ujar Dante sambil menghilangkan lagi instrument nya.
"Kenapa tadi kamu melarangku menyerangnya?" tanya Gumi terlihat marah dan menatap tajam ke arah Dante.
"Sudah kubilang, kau yg sekarang takkan bisa mengalahkannya. Seimbang saja takkan mungkin." jawab Dante.
"Kau meremehkanku?!!" bentak Gumi.
"Aku tidak meremehkanmu!! Aku hanya takut kau yg saat ini hanya akan tertangkap olehnya! Aku tak mau kehilanganmu tepat didepan mataku!!! Kau mengerti!?" bentak balik Dante dengan nada lebih keras.
Gumi pun terkejut dengan perkataan Dante. Gumi langsung menundukkan kepalanya.
"Introspeksi diri dan carilah kesalahanmu kenapa kau jadi melemah. Dirimu yg kemarin jauh lebih kuat daripada yg sekarang yg menjauhi kebenaran." sambung Dante dengan lebih tenang.
Gumi masih tertunduk tanpa melihat ke arah Dante.
"Aku pergi dulu. Aku harus mencari Aniki. Dah.." ucap Dante pamit pada Gumi lalu melompat pergi.
Gumi masih menunduk dan matanya terlihat sedih dan bingung.
"Harus apa aku? Ibu.. ayah.. aku bingung harus apa? Saat ini aku butuh kalian.." ujar Gumi dalam hatinya sambil menutup matanya menahan tangis.

Ke esokah harinya, situasi kembali normal. Miku dan yg lainnya kembali sekolah seperti biasanya. Miku masuk ke kelasnya dan melihat Gumi sudah datang lebih dulu saat itu. Miku pun menghampirinya dan menyapanya. Namun Gumi tidak menjawab.
"Nampaknya dia masih berpikiran seperti itu?" gumam Ray saat melihat Gumi dari tempat duduknya.
Miku pun terlihat ngambek dan dengan wajah cemberut dia duduk di bangkunya. Saat istirahat, Miku kembali mengajak ngobrol Gumi.
"Gumi-chan, ayo kita ke kantin. Kita beli makanan yg enak." ajak Miku.
Gumi diam saja tak mau bicara.
"Hmm.. atau mungkin Gumi-chan sudah punya bekal makan siang sendiri ya? Apa aku boleh lihat?" sambung Miku sambil berdiri.
Gumi tetap saja diam dengan tatapan mata kosong.
"Ayolah Gumi-chan jawab aku. Kenapa kamu malah mengacuhkanku? Gumi-chan.." kata Miku yg mulai cape mengajak Gumi bicara.
"Subur!!! Waktumu sudah habis!!! Demi tuhan!!!" teriak Dante lalu menggebrak meja sangat keras sekali.
Suara itu sampai membuat Gumi terperanjat kaget.
"Dante, apa-apaan kamu ini?" tanya Ray yg mejanya digebrak oleh Dante.
"Hahaha.. aku hanya sedang meniru video yg lagi populer di yousuf." jawab Dante.
"Ya ampun.." sahut Ray sambil menepuk jidatnya.
Dante hanya tertawa bego mendengar ucapan Ray.
"Dasar berisik banget sih dia." gerutu Gumi melihat ke arah Dante dan Ray.
"Gumi-chan, kamu sudah sadar?" ucap Miku melihat Gumi sudah kembali dari lamunan nya.
"Miku-chan, sedang apa kamu..", "Syukurlah.." ucap Miku sambil memeluk Gumi dan memotong perkataan Gumi.
"Kerja bagus, Dante. Kamu membuatnya kembali ke dunia nyata dengan menggebrak meja." kata Ray memuji Dante.
"Eh, apa maksud Aniki?" ucap Dante tidak mengerti kenapa Ray memujinya.
"Hah? Jangan bilang kalau tadi itu beneran niru video." ujar Ray menoleh ke arah Dante.
Melihat Dante yg kebingungan dan menatap dengan tampang bodoh, Ray pun langsung nepuk keningnya lagi.
"Jadi yg tadi itu cuma kebetulan. Tapi, itu kebetulan yg cukup bagus." ujar Ray dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dilorong kelas 2, terlihat segerombolan siswi dengan jaket seragam sedang berjalan menuju ke kelas 2-C. Di jaket itu tertulis huruf 'KK' dengan gambar hati diantara kedua huruf itu. Lalu di kelas 2-C saat ini tampak tenang. Kaito sedang melamunkan sesuatu.
"Jika aku dan Meiko satu tim, entah kenapa semuanya berjalan dengan lancar. Apa karena dia lebih dominan dariku? Sial, kalau begitu aku harus berusaha lebih kuat lagi daripada dia." ujar Kaito dalam hati.
"Hei, jangan melamunkan sesuatu yg mesum siang-siang begini." ucap Meiko membuyarkan lamunannya.
Meiko membungkuk di hadapannya dan menatap wajahnya dengan kesal.
"Sedang apa kau disini?" tanya Kaito yg baru sadar.
"Sedang apa? Kamu lupa saat ini jadwal kita battle masakan. Kenapa kamu tidak datang ke atap?' jawab Meiko.
"Hehe.. maaf aku lupa." sahut Kaito.
"Sudah kuduga, kalau begitu ayo kita pergi sekarang. Entar keburu masuk." ujar Meiko sambil menegakkan badannya lagi.
Kemudian segerombolan siswi pun masuk ke kelas. Terlihat siswi yg berkacamata yg kelihatannya ketua dari mereka maju lebih dulu ke tempat Kaito.
"Saya ingin melapor. Kami dari Kaito Fans Club telah bergabung dengan Kamui Fans Club." ujar gadis berkacamata itu.
"Apa hubungannya denganku?" tanya Kaito tersenyum sinis karena merasakan sesuatu yg tidak beres.
"Tentu saja ada hubungannya dengan anda. Karena dengan begini kami bisa menyetujui hubungan kalian berdua." jawab gadis berkacamata itu lagi.
"Siapa maksudnya?" tanya Kaito lagi.
"Tentu saja Kaito-sama dan Kamui-sama." jawab gadis berkacamata itu lagi.
"Sudah kuduga." ucap Kaito dalam hati.
"Perlu ada sesuatu yg harus diklarifikasi, aku dan Kamui tidak sedang dalam hubungan apapun." ujar Kaito sambil berdiri.
Kemudian gadis berkacamata itu menunjukkan sebuah foto di ponselnya.
"Kami punya bukti. Anda tidak bisa ngeles." ujar gadis berkacamata itu.
"Ka-kalian dapat darimana foto ini?" tanya Kaito melihat foto itu dengan wajah shock.
"Kami dapat dari akun Facebuk nya Kamui-sama." jawab gadis berkacamata itu.
Meiko mencoba mengintip gambar apa yg sebenarnya ditunjukkan pada Kaito itu. Dan ia pun melihat gambar Kamui sedang narsis dengan Kaito yg sedang memasak dibelakangnya dan sedang memakai apron.
"Kami mengerti kenapa anda tidak mau mengakuinya. Pasti anda semacam tsundere." sambung gadis berkacamata itu.
"Tsundere?! Apa maksudnya dengan tsundere? Aku tidak tsundere!!" bentak Kaito.
"Wah.. Kaito-sama sedang tsun-tsun.." ucap para siswi dibelakang ketua fans club itu nampak hebah.
"Sudah kubilang aku bukan tsundere!!!" teriak Kaito.
Tapi tetap saja dibayangan para gadis itu Kaito sedang dalam keadaan tsun-tsun.
Meiko pun memegang bahu Kaito. Kaito menoleh ke arah Meiko.
"Selamat." ucap Meiko.
Kaito terlihat shock mendengar ucapan selamat itu lagi dari Meiko.

Saat pulang sekolah, Kaito berjalan dengan lesu.
"Hari ini benar-benar buruk. Kurang ajar tuh Gakupo. Kenapa upload foto yg ada aku nya tanpa ijin dulu? Dasar samurai bego. Sampai dirumah takkan aku masakkan makanan." gerutu Kaito sambil berjalan sedikit membungkuk.
"Kaito-senpai!" panggil Miku sambil berlari menghampiri Kaito.
"Oh, Hatsune! Ada apa?" tanya Kaito menoleh dengan tatapan lesu.
"Tidak ada apa-apa kok. Aku hanya ingin pulang barengan Kaito-senpai aja." jawab Miku sambil menggelengkan kepalanya.
"Oh.. begitu ya.." sahut Kaito terlihat tak bersemangat.
Kemudian terdengar suara keras dari atap bangunan sekolah.
"Perhatian kepada semua murid akademi Voca." ucap seseorang melalui speaker portable dari atap sekolah.
"Aku punya firasat buruk tentang hal ini." ujar Kaito saat mendengar hal itu.
"Kami dari KK Fans Club, akan mengajak kalian semua untuk ikut dalam klub kami." sambung suara gadis itu yg mirip suara ketua klub KK tadi.
Kemudian dilepaslah ikatan pada sesuatu yg menggantung di bagian pinggir atap sekolah itu. Dan terbukalah sebuah poster raksasa dengan gambar Kaito dan Kamui saat di festival musim panas. Para siswi pun terlihat heboh melihatnya.
"Dengan ini kami meresmikan koalisi 2 fans club menjadi satu. KK Fans Club, alias Kaito Kamui Fans Club!" teriak ketua klub itu dengan pengeras suara.
Terlihat sebagian besar siswi yg melihatnya bersorak.
"Kaito-senpai dan Gakupo-san kok ada di gambar itu?" ucap Miku yg tidak mengerti maksudnya.
Sementara Kaito terlihat sangat shock, mulutnya tak mau tertutup dan matanya terlihat gelap. Kemudian Kaito pun lari pulang sekuat tenaga.
"Hancur sudah masa depanku!!" ucap Kaito sambil berlari dan meneteskan air mata.
"Kaito-senpai! Tunggu aku!" ucap Miku sambil mengejar Kaito.
Sementara itu, Gumi berjalan pulang dengan kepala tertunduk. Dia masih teringat kejadian semalam.
"Aku tak ingin kehilanganmu tepat di depan mataku!!" ucap Dante dalam ingatannya.
"Dirimu yg kemarin jauh lebih kuat daripada dirimu yg sekarang yg menjauhi kebenaran." ucap Dante dalam ingatannya lagi.
"Jadi, aku harus bagaimana? Aku tak tahu harus apa? The White Light telah memanfaatkanku. Tapi semuanya malah menyalahkanku. Apa yg salah?" ujar Gumi sambil tertunduk lesu.
"Dan juga.. kenapa Pangeran Kegelapan begitu mengkhawatirkanku?" sambung Gumi sambil memegang dadanya merasakan detak jantungnya.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】