VocaWorld, chapter 115 - Angin Perubahan (Kecurigaan)

Gumi dan Kamui bertemu lagi, dan Gumi mampu menjatuhkan salah satu anggota pasukan pengintai Pangeran Kegelapan.
"Hehe.. maaf, aku tidak tahu kamu sedang mengintai dia." ujar Kamui sambil berdiri lagi.
"Coba kalau kamu tidak memanggilku tadi, mungkin kita sudah tahu tempat persembunyian mereka." sahut Gumi.
"Tapi kamu juga menendangnya terlalu keras, Megu. Kita jadi tidak bisa menanyai nya." balas Kamui menghampiri Gumi dan melihat ke arah orang berjubah hitam yg tergeletak ditanah.
"Walau kita menanyainya sekalipun, belum tentu dia mau membuka mulut. Kulihat para anggota pasukan Pangeran Kegelapan itu sangat loyal." kata Gumi.
"Benar juga, selama kita bertarung dengan mereka, tak ada satupun yg mau diajak kembali ke pihak kita." ujar Kamui.
"Apa mungkin mereka sudah dicuci otak?" ujar Gumi sambil terlihat berpikir.
"Dicuci otak? Mati dong." ucap Kamui tampak tak mengerti.
"Hah? Dasar bodoh! Ini bukan cuci otak yg itu." gerutu Gumi kesal dengan kebodohan Kamui.
"Lah yg mana dong? Kan dimana-mana kalau cuci itu pakai deterjen, digosok, diperas lalu dijemur." sahut Kamui.
"Kalau gitu sini, biar otakmu yg aku cuci. Kali aja nanti jadi pinter kalau udah dicuci. Ya bukanlah! Masa otak disamakan dengan pakaian!" kata Gumi lalu membentak Kamui karena kesal.
"Tapi, memang ada yg aneh dengan pasukan dari Pangeran Kegelapan. Kalau dicuci otak pastinya ada yg akan terlupakan dan rasa tertekan diantara mereka. Tapi ini tidak." pikir Gumi sambil diam melirik ke arah kiri.
"Kalian disini rupanya. Syukurlah.. kita jadi bisa meminta bantuan kalian." ujar Aisyah yg berjalan menghampiri mereka.
Dibelakangnya terlihat kapten Al Hadid dan pasukan yg lain mengikutinya.
"Bagaimana kalian bisa sampai kemari?" tanya Gumi yg tak menyangka bisa melihat mereka.
"Kami mengikuti jejak sampah." jawab kapten Al Hadid.
"Jejak sampah?" sahut Gumi tak mengerti.
"Emang sampah bisa jalan sampai bisa ada jejaknya gitu?" tanya Kamui.
Gumi langsung menatap aneh ke arah Kamui karena pertanyaan aneh itu.
"Tidak-tidak.. bukan itu maksud kami. Aisyah, coba jelaskan pada mereka!" kata kapten Al Hadid menyuruh Aisyah untuk menjelaskannya.
Aisyah mengangguk dan kemudian mendekati Kamui dan Gumi.
"Aku menemukan sampah-sampah yg berasal dari markas kita tergeletak di sepanjang jalan. Aku yakin itu adalah jejak remah roti yg ditinggalkan oleh El Rosyid." jelas Aisyah.
"Tadi bilang jejak sampah, sekarang jejak remag roti. Sebenarnya yg benar itu yg mana sih?" tanya Kamui yg semakin bingung.
Kapten Al Hadid dan Aisyah pun kaget akan kebodohan Kamui. Aisyah mendekati Gumi lalu berbisik.
"Angin Senja, apa Angin Fajar itu selalu sebodoh ini?" tanya Aisyah.
"Hahaha.. ya. Maklumi saja dia kebanyakan meditasi daripada belajar. Makanya bego akan pengetahuan." jawab Gumi sambil tersenyum sinis.
"Siapa dia?" tanya kapten Al Hadid saat menghampiri seseorang yg tergeletak di tanah.
"Aku tidak tahu, mungkin ada hubungannya dengan hilangnya El Rosyid-san." jawab Gumi.
"Tunggu, bukankah jubah itu sama dengan yg dipakai oleh El Rosyid-dono?" ucap Kamui saat menyadari jubah itu.
"Ya benar. Ini adalah jubah yg biasa dipakai oleh pasukan pengintai Pangeran Kegelapan." jawab kapten Al Hadid.
"Tapi bagaimana bisa dia ada disini? Jarang sekali ada pasukan pengintai yg bisa dekekat ini dengan markas kita." sambung Aisyah.
"Kupikir, pasti El Rosyid-san telah tertangkap oleh seseorang yg memergokinya akrab dengan kita." tambah Gumi sambil berpikir.
"Kalau begitu kita harus bergerak cepat. Pasti saat ini mereka sedang menginterogasi Rosyid. Kita tidak boleh membiarkan mereka mendapatkan informasi apapun." ujar kapten Al Hadid.
"Kalian! Cepat cari apapun yg bisa membawa kita pada mereka! Ayo-ayo!" suruh kapten Al Hadid pada semua bawahannya.

Di dalam bangunan kosong, El Rosyid yg terlihat terikat dan tergantung dengan seutas tali tambang itu sedang dijambak bajunya oleh orang yg tinggi besar.
"Cepat katakan! Dimana mereka saat ini!! Dimana 2 pahlawan itu!" bentak laki-laki berbadan tinggi besar dan rambut pirang itu.
"Apa untungnya bagiku kalau aku mengatakannya saat ini? Aku serba rugi. Aku terikat dan tak bisa apa-apa. Kalau aku jawab saat ini, aku tak punya jaminan kalian akan melepaskanku." tolak El Rosyid.
"Kalau begitu itu juga berlaku untukmu. Kalau aku lepaskan ikatanmu saat ini, belum tentu kamu akan menjawab pertanyaan kami." balas laki-laki berambut panjang coklat kemerahan.
"Sepertinya sebaiknya aku pergi sekarang. Kalian silahkan bersenang-senang dengannya." ujar laki-laki bersorban.
Laki-laki bermata sipit menatap ke arah laki-laki bersorban dengan mata sipitnya yg hampir tak terbuka. Tanpa disadari oleh laki-laki bermata sipit, laki-laki bersorban menyadari dirinya sedang diperhatikan. Tapi si laki-laki bermata sipit tidak sadar karena laki-laki bersorban itu memakai goggle. Diluar terlihat Kamui dan Gumi sudah sampai di depan bangunan tempat El Rosyid di sekap.
"Jadi disini." ujar kapten Al Hadid.
"Kami akan masuk kedalam duluan. Kalian tetaplah disini dan panggil bantuan." suruh Kamui.
"Tunggu, itu terlalu berbahaya. Bisa saja disana banyak musuh." larang Aisyah.
"Justru karena itu kalian mesti disini. Itu karena saya yakin di dalam sana ada banyak pasukan pengintai berkumpul. Tapi tak perlu khawatir, kami terbiasa menyusup dan lain-lain." jawab Kamui.
"Ayo, Megu!" ajak Kamui lalu masuk ke dalam bangunan bersama Gumi.
"Kita percayakan saja pada mereka. Saat ini kita harus menghubungi markas untuk meminya bantuan dan persenjataan." ujar kapten Al Hadid pada semua bawahannya.
Kamui dan Gumi masuk ke dalam. Mereka sembunyi-sembunyi menyusuri ruangan itu dengan perlahan. 2 lantai diatas mereka, laki-laki bersorban terlihat berjalan melewati laki-laki bermata sipit.
"Kenapa begitu terburu-buru?" tanya laki-laki bermata sipit yg terlihat lebih tinggi daripada laki-laki bersorban.
"Karena, aku punya hal lain yg bisa aku lakukan daripada tetap diam disini." jawab laki-laki bersorban itu berhenti sejenak kemudian berjalan lagi.
Laki-laki bermata sipit itu menatap tajam dengan mata sipitnya itu.
"Kalian berhati-hatilah disini. Aku ada urusan lain. Aku harus pergi." ujar laki-laki bermata sipit itu pada teman-temannya lalu pergi juga.

Diluar tampak pasukan mindy sudah berdatangan, dan bersiap dengan persenjataan lengkap. Gitar kecil berbentuk senapan, pistol peluit, dan sebagainya.
"Kita tunggu tanda dulu. Angin Fajar dan Angin Senja saat ini sudah ada di dalam." ujar kapten Al Hadid.
Yg lainnya pun mengangguk tanda setuju. Sementara di dalam, Kamui dan Gumi yg sedang menaiki tangga ke lantai atas terhenti karena jalan keatas tertutup reruntuhan.
"Sial! Lift mati. Sekarang tangga darurat juga tertutup. Bagaimana ini?" gerutu Kamui merasa kesal.
"Ayo kita cari jalan lain." ajak Gumi.
"Ya, sepertinya cuma itu caranya." sahut Kamui.
Kemudian mereka pun mencoba mencari jalan ke dalam.
"Oh ya, kenapa kita tidak gunakan kekuatan tebasanku untuk menjebol runtuhan itu?" ujar Kamui.
"Hah? Kenapa tidak daritadi, dasar bodoh!" bentak Gumi.
"Haha.. maaf." sahut Kamui tertawa bodoh.
Tapi saat hendak kembali, jalan kembali mereka kemudian tertutup yg jatuh dari atas. Kamui dan Gumi terkejut melihat hal itu. Dan setelah asap debu menghilang, terlihatlah sosok seseorang berdiri di hadapan mereka. Itu adalah laki-laki bersorban.
"Senang bisa bertemu kalian." ujar laki-laki bersorban.
Kamui dan Gumi terlihat memasang kuda-kuda bersiap menyerangnya.
"Eits! Sebaiknya jangan. Kalian akan kehilangan kesempatan menyelamatkan pengkhianat kalian itu jika melawanku disini." larang laki-laki itu.
"Kamu pikir aku akan menuruti perkataan orang asing sepertimu." ujar Gumi menatap tajam ke arah laki-laki itu.
"Kalian pasti akan menurutiku. Karena tidak ada jalan lain untuk naik ke atas." jawab laki-laki bersorban itu tampak tenang.
"Apa?! Lalu bagaimana cara kami ke atas?" tanya Kamui.
"Mudah. Tinggal jebol saja dinding diatas kalian." jawab laki-laki itu.
"Iya juga, kenapa tidak terpikir." ujar Kamui baru terpikir.
"Lihat, kalian menurutiku kan?" sahut laki-laki bersorban itu.
"Cih, kami takkan mau melakukannya." tolak Gumi dengan wajah memerah.
"Ayolah Megu, kita tak punya pilihan lain." bujuk Kamui.
"Kalau begitu aku pergi dulu." ucap laki-laki bersorban itu lalu pergi meninggalkan mereka.
"Siapa dia? Kenapa dia malah memberi saran berguna seperti itu?" gumam Gumi.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】