VocaWorld, chapter 103 - Serangan Tiba-Tiba

Malam hari adalah waktu yg tepat untuk menenangkan diri. Saat itu, di rumah danau Ray tidak tidur dan memancing sepanjang malam. Dante keluar dari kamarnya karena ingin buang air kecil.
"Eh, Aniki belum tidur?" ucap Dante saat melihat Ray masih memancing.
"Hoaaamm.. ini sudah jam 1 pagi lho." sambung Dante sambil menguap.
"Dante, kalau boleh aku beri saran.. sebaiknya kamu jujur pada perasaanmu." ujar Ray sambil tetap melihat ke depan.
"Eh?! Apa maksudnya? Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu?" ucap Dante terkejut dan tak mengerti menoleh ke arah Ray.
"Tidak apa kalau kamu tidak mengerti." sahut Ray dengan tenang.
"Aniki, jangan buat aku penasaran. Katakan saja apa maksudnya!" pinta Dante mulai merasa penasaran.
"Dante.." panggil Ray.
"Ya.." sahut Dante.
"Cari tahu saja sendiri.." sambung Ray.
Dante pun langsung diam terpaku saat mendengarnya.
"Aku merasakan angin berhenti berhembus. Ada apa ini? Ada perasaan yg aneh di dalam hatiku. Aku harus bersiap untuk hal yg terburuk yg akan terjadi." kata Ray dalam hati sambil menyipitkan matanya.
Saat pagi harinya, Ray sampai di kelasnya. Dia melihat ke arah bangku Miku, tapi Miku belum datang.
"Aku datang terlalu cepat ya?" ucap Ray yg melihat kelas yg masih kosong itu.
Lalu setelah meletakan tasnya Ray pun keluar lagi dari kelasnya.
"Aku harus menghubungi Megurine-san." ucap Ray sambil mengeluarkan ponselnya.
Di rumah Miku, Luka terlihat sedang membereskan peralatan belajarnya. Lalu ponselnya pun berbunyi.
"Dari siapa pagi-pagi seperti ini?" ucap Luka mengambil ponsel yg terletak di atas meja belajar itu.
"Ray-kun ya?" sambung Luka sambil tersenyum karena ternyata itu adalah email dari Ray.
'Megurine-san, apa Hatsune-san sudah berangkat?' tulis Ray dalam emailnya.
'Belum, saat ini dia masih sarapan. Memang kenapa?' balas Luka.
'Baguslah. Kalau bisa berangkatlah bersama Hatsune-san.' jawab Ray.
'Ada apa, Ray-kun? Apa ada sesuatu?' balas Luka.
'Tidak ada apa-apa. Namun kita tetap harus waspada.' jawab Ray.
'Iya, aku mengerti.' sahut Luka.
Kemudian Luka pun mengunci ponselnya lagi dan memasukannya ke saku. Luka mengambil tasnya dan turun ke bawah.
"Miku-chan.. cepetan makan nya." ujar Luka pada Miku yg masih saja makan.
"Bental lagi, Meguline-senpai.." sahut Miku sambil mengunyah makanan.
Rin dan Len berlari dan melewati Luka.
"Kami berangkat dulu!" ucap Rin dan Len selesai memasang sepatunya dengan cepat lalu pergi.
"Kalian bawa bekal makan siang kalian kan?" tanya Meiko nongol dari dapur.
"Iya." jawab Rin dan Len bersamaan.
"Oke, hati-hati dijalan.." sahut Meiko.
Setelah selesai makan, Miku pun berangkat bersama Luka. Mereka berjalan bersama ke sekolah.
"Aduh.. engap. Rasanya aku terlalu kekenyangan." ujar Miku sambil memegangi perutnya.
"Maka nya jangan kebanyakan kalau makan tuh. Harus dikira-kira dong." sahut Meiko.
"Gadis kok makannya banyak banget kayak kebo." sambung Meiko sambil nepuk jidat.
"Eh, siapa yg Meiko-san sebut kebo?!" ucap Miku terkejut.
"Iya. Jangan sebut Miku-chan kerbau." ujar Luka sambil tersenyum.
"Tuh benar yg dibilang Megurine-senpai." tambah Miku.
"Karena kerbau bukan hanya sebutan, tapi memang Miku-chan yg sebenarnya." sambung Luka tetap mempertahankan senyumnya.
"Tuh.." sahut Miku.
Kemudian terjadi loading di otak Miku.
"Eeehh?!! Tunggu! Itu tidak ada bedanya kan?!!!" ucap Miku saat sadar.
"Beda Miku-chan." jawab Luka sambil tetap tersenyum.
"Eh, benarkah?" ucap Miku berubah bingung.
Meiko hanya nepuk jidatnya sekali lagi saat itu.

Mereka pun sampai di sekolah, mereka bertiga menaiki tangga.
"Megurine-san tidak langsung ke kelas?" tanya Meiko yg heran Luka tidak ikut ke atas dan berhenti di lantai 2.
"Aku ada urusan sebentar. Meiko-chan duluan saja." jawab Luka.
"Ya sudah, kalau gitu aku duluan ya." ucap Meiko yg lalu naik ke lantai 3.
Luka mengejar Miku ke kelasnya. Dia masuk lewat pintu belakang dan melihat ke arah tempat duduk Ray. Namun Ray tidak ada.
"Kemana Ray-kun?" ucap Luka dalam hati saat itu.
"Luka-oneesama?" ucap Gumi saat melihat Luka.
"Sedang apa disini?" tanya Gumi sambil berjalan menghampiri Luka.
"Apa Gumi-chan melihat Ray-kun?" tanya Luka.
Gumi tiba-tiba jadi cemberut saat mendengar Luka menyebut Ray.
"Kenapa sih Luka-oneesama menanyakan dia? Aku tak melihatnya!" jawab Gumi dengan wajah sedikit jengkel dan lalu menuju tempat duduknya.
"Ada apa dengan Gumi-chan? Dia aneh banget hari ini." ujar Luka merasa heran.
Kemudian Luka meninggalkan kelas itu dan pergi ke kelasnya. Dia menaiki tangga dan menuju ke kelasnya. Saat Luka berbelok ke kelasnya, Ray turun dari lantai atas dan turun kebawah ke lantai 2.
"Megurine-san sudah datang, itu artinya dia juga sudah sampai." ujar Ray yg sempat melirik kecil melihat Luka.
Ray menuju ke kelasnya tapi saat lewat di depan kelas 1-C, dia dihentikan oleh Dante.
"Tunggu, Aniki. Ada yg ingin aku bicarakan denganmu." ujar Dante sambil menghalangi jalan Ray.
"Ada apa, Dante?" tanya Ray.
"Sebaiknya kita bicarakan di tempat lain." jawab Dante.
Di saat yg sama, Kaito baru sampai di sekolah. Dia sampai di kelasnya lalu melihat Meiko sudah ada ditemlat duduknya. Kaito menghampirinya.
"Meiko, syukurlah kamu sudah datang. Aku ingin meminta bantuan padamu." ujar Kaito sambil menghampiri Meiko.
"Oh selamat pagi, Kaito. Mau minta bantuan apa?" sahut Meiko bertanya pada Kaito.
"Tolong ambilkan sepedaku." jawab Kaito.
"Hah?! Memangnya kenapa dengan sepedamu?" tanya Meiko sedikit kaget dengan permintaan Kaito.
"Sebenarnya tadi saat aku kesini.." ujar Kaito dengan tersenyum aneh melihat ke arah lain.
Saat sebelum Kaito sampai ke sekolah, Kaito sedang mengayuh sepedanya melalui jalan belakang sekolah. Tapi ada beberapa gadis yg terlihat sedang berjaga di belakang.
"Mereka?!" ucap Kaito yg terlihat mengenal mereka dengan ekspresi terkejut.
Kaito pun langsung menjatuhkan dirinya ke samping dan membiarkan sepedanya terus berjalan ke depan. Para gadis itu pun terkejut ada sepeda berjalan sendiri sebelum akhirnya terjatuh setelah melewati mereka.
"Sedang apa mereka berjaga disitu?" kata Kaito dengan pelan sambil bersembunyi dan mengintip melalui rimbunnya semak.
"Kaito-sama kelihatannya memang tak mungkin lewat sini." ujar salah seorang siswi yg berjaga disitu.
"Tapi di gerbang depan pun tidak ada kabar dari yg lain kalau Kaito-sama sudah datang. Jadi Kaito-sama pasti lewat sini." sahut teman yg disebelahnya.
"Bisa jadi saat ini Kaito-sama sedang.. kya!" ujar siswi yg lainnya tampak membayangkan sesuatu tentang Kaito.
Kaito terlihat sembunyi-sembunyi melewati mereka melalui semak-semak. Kembali ke masa sekarang.
"Jadi kamu meninggalkan sepedamu karena takut dicegat oleh para fangirl mu?! Hahahaha.. bodoh sekali." ejek Meiko.
"Kenapa kau malah menertawakanku!? Ayolah, tolong ambilkan sepedaku. Kalau aku yg mengambilnya.. aku bisa ketahuan bawa sepeda pink penuh gambar gadis imut-imut itu." kata Kaito dan membisikkan bagian akhirnya.
"Aku tidak mau. Kecuali kamu bersujud dan memanggilku dengan tambahan '-sama'." ujar Meiko dengan nada sombong.
"Hah?!!" ucap Kaito terlihat keberatan.
"Meiko-chan.. itu terlalu kejam." komentar Luka.
"Apa itu yg kudengar dari seseorang yg lebih sering mengakali orang lain? Kalau Megurine-san pasti akan menjadikan Kaito sebagai pelayan seumur hidup." sahut Meiko sambil tersenyum licik.
"Maaf, tapi aku tak tertarik menjadikan orang seperti Kaito-kun menjadi pelayan." jawab Luka.
"Oh iya, aku baru ingat. Notice me.. Kouhai-kun.. notice me.." ujar Meiko menggoda Luka.
Wajah Luka memerah karena digoda oleh Meiko.
"Bagaimana, Kaito? Mau aku bantu atau tidak?" tanya Meiko.
"Sialan.. aku harus melakukannya ditempat seperti ini? Awas kau, Meiko. Akan kubalas nanti." gerutu Kaito dalam hatinya merasa kesal sambil membungkuk dilantai.
"Tolonglah aku, Meiko-sama!" ucap Kaito sambil bersujud.
"Baiklah kalau begitu, Kaito-kun.." sahut Meiko dengan penuh kebanggaan.

Sementara itu, Ray dan Dante sedang mengobrol di pojokan tangga.
"Jadi begitu. Aku mengerti sekarang." ujar Ray sambil menaruh telunjuknya di kepala bagian kanannya.
"Jadi apakah aku perlu mencarinya dan menghancurkannya?" tanya Dante yg berdiri bersandar di dinding.
"Tidak perlu. Kamu akan membuat warga Voca Town panik kalau melihat singgasana pangeran kegelapan masih ada. Apalagi kalau mereka melihatmu dan api hitammu. Mereka akan segera mengenalimu, Dante." tolak Ray.
"Saat ini, kita tetap pada rencana, Dante." sambung Ray sambil berbalik membelakangi Dante.
"Baiklah, Aniki." sahut Dante.
Di dalam kelas, Miku dan Gumi sedang mengobrol.
"Gumi-chan tahu tidak? Drama 'Notice Me, Senpai!' ada season 2 nya lho minggu depan." ujar Miku tampak ceria.
"Hah? Drama yg waktu itu?" tanya Gumi.
"Iya. Drama yg aku banget itu." jawab Miku.
"Haha.. aku bingung kehidupannya yg mirip drama itu apa drama itu yg mirip kehidupannya." ujar Gumi dalam hati sambil tersenyum aneh.
Tiba-tiba para siswa dikelas 1-B mendekat ke jendela seperti melihat sesuatu yg aneh diluar.
"Ada apa Takuya-kun?" tanya Miku pada salah satu siswa.
"Ada benda terbang aneh diluar." jawab Takuya.
"Benda terbang aneh?" ucap Miku lalu menoleh ke arah jendela.
Begitu pula dengan Gumi. Tiba-tiba seperti melihat sesuatu yg tak bisa dipercaya, Gumi terbelalak dengan wajah terkejut.
"Bukankah itu?!" ucap Gumi merasa tak percaya dengan apa yg dia lihat.
Di tempat lain, tepatnya di tangga Ray dan Dante juga melihat hal itu dari jendela.
"Aniki, bagaimana ini?" tanya Dante.
Ray hanya diam melihat benda mirip pesawat besar yg melayang di udara itu.
"Bersiaplah untuk sebuah ledakan!!! The White Light!!!" teriak June dari dalam.
"Dante! Cepatlah ke atap!!" suruh Ray pada Dante.
Dante pun berlari ke atas secepat yg dia bisa.
"Sialan kau, JB!!!" pekik Dante merasa kesal sambil memakai earophoid nya.
"Hahahahaha.." tawa June sambil menekan sebuah tombol di kursi singgasana yg dia duduki.
Kemudian di bagian depan pesawat aneh itu keluar benda seperti meriam. Dan meriam itu mulai bersinar. Gumi yg melihatnya mulai pucat. Meriam itu bersinar semakin terang seperti siap menembak tepat ke arah kelas 1-B.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】