VocaWorld, chapter 102 - Angin Yang Menghilang
Ray melihat Luka membaca buku 'Diary of G'. Ray mengintip apa yg sedang dibaca oleh Luka kali ini. Lalu ia terkejut menemukan sesuatu yg tertulis dibuku itu.
"Itu kan?!" ucap Ray saat melihatnya.
Luka menoleh ke arah Ray saat mendengarnya.
"Ada apa Ray-kun?" tanya Luka.
"Tidak ada apa-apa. Oh ya, apa yg sedang kamu baca itu?" jawab Ray lalu bertanya balik.
"Ini? Ini adalah diary papaku." jawab Luka.
"Diary Meguzan-san? Pantas saja." ujar Ray.
"Ray-kun kenal papa?" tanya Luka terkejut.
"Ya, dulu sekali." jawab Ray.
"Apa kita pernah bertemu saat kecil?" tanya Luka lagi.
"Belum. Sejauh yg kuingat, kita belum bertemu. Saat pertama aku bertemu denganmu, my queen.. itu adalah 1 tahun yg lalu." jelas Ray.
Luka terlihat kecewa mendengar jawaban Ray.
"Jadi aku bukan teman masa kecilnya? Padahal kalau kami pernah dekat waktu kecil, kami akan lebih.." ujar Luka dalam hati dengan wajah memerah.
"Mmh.. kenapa aku begitu menginginkan hal itu? Saat ini kami kan sudah dekat." sambung Luka dalam hati sambil memegang kedua belah pipinya.
"Megurine-san." panggil Ray.
Luka menoleh ke arah Ray.
"Bolehkah aku membacanya juga?" tanya Ray sambil menunjuk diary itu.
"Hmm.. tidak boleh. Ini barang pribadi papaku." tolak Luka.
"Begitu ya. Ya sudah tak apa-apa." sahut Ray.
"Kenapa kalian terlihat akrab banget?" komentar Miku saat melihat Ray dan Luka.
"Eh, Miku-nee belum tahu?" ujar Len.
"Belum tahu apa?" tanya Miku.
"Yah.. ketinggalan info." sahut Len.
"Ray-niichan dan Luka-neesan kan..", "Aaaa!!! Rin-chan! Len-kun! Aku punya sesuatu untuk kalian. Kemarilah!" teriak Luka memotong perkataan Rin.
Rin dan Len pun terlihat senang dan menghampiri Luka.
"Ada apa Luka-nee?" tanya Len.
"Hadiah apa?" tambah Rin.
"Ray-kun apa kamu bawa sesuatu?" bisik Luka pada Ray.
"Hah? Jangan bilang kamu menawarkan mereka hadiah tapi tidak punya hadiahnya." ujar Ray dengan suara pelan.
"Aku mohon Ray-kun.. kamu bawa sesuatu tidak? Apa aja.." pinta Luka sambil menyentuh bahu Ray.
"Hmm.. sebentar.." ucap Ray sambil merogoh saku jaketnya.
Tampak wajah Ray sedikit memerah karena wajah Luka terlalu dekat dengan wajahnya saat ini. Menyadari dirinya terlalu dekat dengan Ray, Luka juga akhirnya merasa malu dan menarik kembali lengannya.
"Ini aku punya jeruk dan pisang untuk kalian." ujar Ray menunjukan satu buah jeruk dan pisang.
"Tadi aku mendapatkannya dari seorang pedagang secara gratis. Nih, untuk kalian." ujar Ray sambil menyodorkan kedua buah itu.
"Wah.. terima kasih!" ucap Rin dan Len bersamaan sambil menerimanya.
Rin mengambil buah jeruk sementara Len mengambil buah pisang.
"Kenapa hanya mereka saja yg diberi hadiah? Aku juga mau.." ucap Miku merasa cemburu.
Ray pun menoleh ke arah Luka sambil menatap sayu.
"Ma-maafkan aku, Ray-kun." ucap Luka saat ditatap oleh Ray seperti itu.
Ray pun menghela napas.
Saat itu Dante sedang berjalan sendirian. Dia mencari koneksi wifi gratisan di cafe-cafe sambil lewat.
"Aniki pergi kemana sih? Ini juga nyari koneksi pake di password semua." gerutu Dante.
Kemudian dia sampai di restoran tempat Meiko dan Kaito bekerja.
"Yo, Dante-kun!" panggil seseorang dari arah pintu depan
"Eh, ketua!" ucap Dante melihat ketua klub nya.
"Dante-kun kemarilah!" panggil Hydra yg nongol dari dalam restorant.
Dante pun menghampiri mereka, dan ternyata para senpainya di klub visual kei sedang berkumpul.
"Senpai semua sedang apa disini?" tanya Dante.
"Kebetulan kita bertemu, kami baru saja mau makan-makan bareng." jawab Hydra.
"Kami mau ajak kamu juga sebenarnya, tapi kami tidak tahu nomer HPmu ataupun emailmu." ujar Kiyoshi.
"Haha.. maaf, soalnya saat ini aku belum beli sim card nya. HP nya sih sudah ada." sahut Dante menunjukkan HP nya kepada para seniornya itu.
"Hmm.. kenapa belum beli?" tanya Hydra.
"Aaa.. kalau itu.. sebenarnya ekonomi keluargaku sedang bermasalah. Sudah beberapa tahun ini kami hanya makan ikan hasil mancing di sungai atau di danau. Kami tinggal di gubuk kayu yg hanya punya dua ruangan tanpa pintu dan jendela. Lalu.. saat ini.. aku ingin menghubungi Aniki.. tapi.. tapi.." jelas Dante dengan sedikit mendramatisir dan berakting sedih di akhir.
Para senpainya pun menangis dengan lebaynya. Bahkan ketua botak pun ikut menangis.
"Dante-kun.. biar kami saja yg belikan sim card nya." ujar Hydra sambil menangis.
"Ini pakai uangku. Belikan dia sim card yg terbaik." suruh ketua botak pada Hydra.
"Okay!" sahut Hydra mengambil uang itu lalu pergi keluar dari restoran.
"Hari ini juga biar kami yg traktir semuanya. Silahkan makan sepuasnya!" ujar ketua botak.
Di rumah Miku beberapa saat kemudian,Ray menerima sebuah email.
"Apa ini? Oohh.. dari Dante." ujar Ray sambil membuka email itu.
'Aniki, ini aku Dante. Hari ini tak perlu mancing. Aku akan bawakan makanan ke rumah. Senpai dari klub visual kei mentraktirku soalnnya. Yes!' tertulis dalam email itu.
'Ya, baguslah kalau begitu. Aku senang kamu punya senpai-senpai yg baik.' balas Ray.
"Dari siapa?" tanya Luka.
"Dari adikku." jawab Ray sambil memasukan kembali ponselnya ke sakunya.
"Hmm.. bicara tentang adikmu, bukankah waktu itu dia mengatakan kalau bos dari June Black adalah ayah kalian ya? Apa itu benar?" tanya Luka lagi.
"Tidak, ayah yg dia maksud dengan ayahku itu tidak ada hubungannya. Lagipula dia menganggap ayahnya sama seperti menganggapku sebagai kakaknya." jawab Ray.
"Hah? Tunggu sebentar.." ucap Luka karena bingung dengan jawaban Ray.
Luka kemudian berpikir sejenak.
"Ray-niichan darimana sih bisa dapatkan logika seperti itu?" tanya Rin sambil makan jeruk.
"Iya nih. Bagaimana caranya bisa sepintar itu?" tambah Len.
"Hmm.. tidak ada cara menjadi pintar. Yg ada hanyalah bagaimana kita menggunakannya." jawab Ray menoleh ke arah Rin dan Len yg sedang memakan hadiah darinya tepat dihadapannya.
"Hah? Kan itu sama saja." ujar Len.
"Tidak. Itu beda." sahut Ray.
"Aaarg! Aku jadi pusing!" ucap Len sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
Rin pun berusaha berpikir keras mencari tahu maksud Ray. Sementara Miku hanya bengong sambil memiringkan kepalanya melihat mereka.
Di kediaman Gakupo, Kamui masih duduk di depan dojo dan bermeditasi.
"Kaito-dono belum pulang juga. Megu saat ini sudah pulang. Saya jadi sendirian disini. Hanya ditemani cahaya matahari di sore hari. Tapi samurai harus tetap tegar menghadapi cobaan apapun." gumam Kamui dalam hati.
Tiba-tiba terdengar suara perut keroncongan. Kamui pun mulai berkeringat.
"Tetap tahan, tetap sabar.. karena saya adalah seorang samurai." ucap Kamui dalam hati dengan wajah mulai berkeringat.
Suara perut keroncongan itu pun semakin keras terdengar.
"Tahan.." ucap Kamui dalam hati.
Terdengar suara perut keroncongan itu semakin dekat.
"Om.. minta makan dong om. Lapar nih.." ucap seorang anak kecil yg ternyata sedang berdiri di depan Kamui.
Ditangannya dia memegang gulungan benang dan sebuah layang-layang. Dan terdengarlah suara perut keroncongan itu ternyata berasal dari anak laki-laki itu.
"Ternyata itu suara perutmu?!!!" pekik Kamui terkejut sambil berdiri dan menunjuk ke arah anak itu.
"Iya nih om. Minta makannya dong. Boleh kan?" pinta anak itu.
"Tidak boleh! Memangnya saya itu bapakmu apa! Sana pulang aja kalau mau makan!" tolak Kamui.
"Huh! Om pelit.." gerutu anak kecil itu sambil pergi.
"Siapa suruh minta!" sahut Kamui.
Kemudian perut Kamui pun keroncongan.
"Gara-gara bocah itu, saya juga jadi lapar." gerutu Kamui sambil duduk lagi.
"Dia membuat saya berpikir kalau itu saya, tapi ternyata bukan. Saya jadi merasa kesal. Saya sudah bersusah payah melakukannya, tapi yg berhasil malah dia." gumam Kamui nyambung ke masalah pribadi sambil mengepalkan tangannya dengan keras karena kesal.
Tidak jauh dari sana, anak kecil yg tadi terlihat sedang menerima uang dari seseorang. Saat anak kecil itu pergi, pemuda yg memberinya uang pun tersenyum.
"The White Light, kau telah kehilangan dua angin penting yg membatasi malam dan siang. Hahaha.." ujar pemuda itu yg ternyata adalah June.
"Sekarang tinggal langkah akhir! Aku tinggal mengambilnya darimu, dan kau pun akan mulai putus asa dan lebih memilih menyerahkan diri padaku. Aku hanya tinggal menunggu kesempatan. Saat kau jauh darinya.." sambung June sambil tersenyum licik.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.