VocaWorld, chapter 98 - Aku Kan Selalu Mengikutimu
Pulang sekolah, Miku langsung ke ruang klub light music dan disana sudah ada Kaito dan Meiko.
"Lho, dimana Gumi-chan?" tanya Meiko yg tak melihat Gumi bersama Miku.
"Katanya dia ada urusan. Jadi dia tak ikut." jawab Miku.
"Urusan apa?" tanya Kaito.
"Aku mana tahu." jawab Miku lagi sambil duduk.
"Oke, karena Gumi-chan tidak muncul mungkin kita mulai besok saja rapatnya." ujar Meiko.
"Rapat apa?" tanya Miku.
"Rapat untuk festival budaya saat pertengahan musim gugur nanti." jawab Kaito.
"Iya, kita kan harus tentukan mau melakukan apa untuk festival nanti." tambah Meiko.
"Tapi kan masih lama." ujar Miku.
"Mau bagaimana lagi? Kita kan butuh persiapan. Mulai dari membuat lagu, koreografi dance, dsb." sahut Meiko.
"Hmm.. iya juga sih." balas Miku.
"Oh ya Hatsune, aku dengar kau punya sebuah lagu ciptaanmu sendiri sejak kecil. Apa itu benar?" tanya Kaito.
"Ya, sejak aku berumur 5 tahun." jawab Miku.
"5 tahun? Hebat banget. Diusia seperti itu bisa menciptakan sebuah lagu." puji Kaito.
"Hehehehe.. terima kasih, Kaito-senpai." sahut Miku malu-malu sambil garuk kepala.
"Walau sebenarnya aku tidak ingat sih kapan dan bagaimana caranya aku menciptakannya." ujar Miku dalam hati.
Sementara itu, Gumi sedang berjalan pulang. Dan dia pun berhenti di sebuah halte bis.
"Mungkin aku naik bis saja. Aku sedang malas jalan kaki saat ini." ujar Gumi dalam hati.
"Sendirian, nona manis?" ucap seorang laki-laki berjaket coklat yg berdiri di sebelahnya.
Gumi terkejut mendengar suara itu.
"Sangat berbahaya sekali pergi sendirian keluar. Bagaimana kalau aku temani?" tawar laki-laki yg tak lain adalah June itu.
Gumi langsung berbalik ke kiri lalu menendang ke arah perut June saat sadar kalau itu June dari suaranya. Namun June mampu menahannya dengan lututnya.
"Sayang sekali, tendangan seperti itu takkan bisa melukaiku." ucap June dengan nada sombong.
Orang-orang di sekitar halte terlihat memperhatikan mereka berdua.
"Aku tak bisa berubah disini. Tempat ini terlalu ramai." ucap Gumi dalam hati.
"Menyerang seorang gadis? Benar-benar tidak cool sama sekali." ujar Dante yg berjalan dengan santai.
"Pangeran kegelapan? Sedang apa kamu disini?" tanya Gumi terkejut melihat Dante.
"Aniki menyuruhku untuk selalu mengikutimu." jawab Dante.
"The White Light menyuruh anda mengikutinya?! Haha.. dia memang pintar. Darimana dia tahu aku akan menyerang dia?" ujar June lalu bertanya.
"Karena Aniki sudah mengira kalau kamu hanya akan menyerang seorang gadis yg sedang sendirian." jawab Dante.
"Kurang ajar.." ucap June sambil tersenyum kesal.
"Nampaknya sebaiknya aku pergi saja. Aku tak mau mati hangus terbakar. Itu tidak keren jadinya." sambung June yg lalu berjalan pergi.
"Kenapa kamu menolongku?" tanya Gumi.
"Karena kau temanku tentu saja." jawab Dante.
"Aku senang bisa menolong temanku." sambung Dante sambil menoleh dan tersenyum pada Gumi.
Wajah Gumi sedikit memerah saat melihat senyum lebar Dante.
Ditempat lain, Ray dan Luka sedang berada diatap sekolah berdua saja. Mereka melihat pemandangan Voca Town bersama.
"Kamu yakin June Black itu akan menyerang? Kupikir dia itu lemah." tanya Luka pada Ray yg sedang melihat ke arah kota.
"Jangan melihat buku hanya dari sampulnya. Contohnya sudah ada didepan matamu sendiri kan?" jawab Ray sambil melirik ke arah Luka.
"Maaf. Tapi kenapa Ray-kun begitu khawatir dengan kehadiran June Black ini?" tanya Luka lagi setelah meminta maaf sambil menoleh ke arah Ray.
"Karena kehadirannya disini berarti mereka sudah mulai melakukan pergerakannya." jawab Ray.
"Mereka? Siapa yg Ray-kun maksud?" tanya Luka sedikit terkejut.
"Para satanism. Orang-orang pengguna nada hitam. Dan juga tentunya dia yg menjadi biang keladi dari peperangan beberapa tahun belakangan." jelas Ray.
"Aku masih tidak mengerti. Bukannya orang dibalik peperangan itu adalah adikmu itu?" tanya Luka yg semakin bingung dan penasaran.
"Bukan. Dia hanyalah salah satu mantan komandan perang dari 4 komandan yg menyerang melalui 4 penjuru dunia." jawab Ray.
"Apa? Tidak mungkin. Diberitanya tidak ada yg menyebutkan ada 4." ujar Luka tak percaya.
"Tentu saja. Karena aku mengalahkan 3 yg lain sebelum penyerangan mereka diketahui oleh pihak media manapun." tambah Ray.
Luka terkejut mendengar hal itu. Dia baru mengetahui semua itu. Malam harinya, Luka terlihat sedang mencari informasi di laptopnya. Dikamar Miku yg sepi itu dia mengubek seluruh situs yg membahas perang nada hitam.
"Tidak ada. Memang tidak ada. Berarti Ray-kun mengatakan hal benar. Tapi, dia bisa juga berbohong." ujar Luka sambil membuka dan membaca artikel disetiap situs yg ia temukan.
"Tunggu, kenapa aku malah meragukan Ray-kun. Ray-kun tak mungkin membohongiku!" gerutu Luka pada dirinya sendiri.
"Kalau begitu Ray-kun adalah orang yg sebenarnya menyelamatkan dunia. Tapi kenapa dia malah membuat kepahlawanannya tidak diketahui. Ditambah, kenapa bisa salah satu komandan satanism berada dipihaknya saat ini?" pikir Luka yg masih tidak mengerti.
"Mungkin aku harus menghubunginya." ucap Luka sambil mengeluarkan ponselnya.
"Aku lupa Ray-kun tidak punya HP!!" ucap Luka.
Keesokan harinya, Luka terlihat tertidur di depan laptopnya. Lalu ia terbangunkan oleh suara alarm dari jam waker milik Miku.
"Sudah pagi ya? Hoaam.." ucap Luka saat terbangun dan lalu menguap dan menutup mulutnya dengan tangannya.
Luka melihat ke arah Miku yg terlihat masih tertidur lelap.
"Bocah itu, alarm sekeras itu juga tidak membuatnya bangun?" ucap Luka merasa heran.
Di laptopnya terlihat dia sedang membuka situs jual beli online. Dan saat itu ada banyak gambar HP di layar laptopnya.
"Mungkin aku harus turun tangan lagi membangunkannya." ujar Luka sambil menutup laptopnya.
Luka pun berjalan ke arah ranjang Miku. Miku masih tidur dengan nyenyaknya.
"Miku-chan.. Miku-chan.." ucap Luka sambil duduk disebalah Miku yg sedang tertidur.
"Ah.. Kaito-senpai jangan.." ujar Miku mengigau.
"Oohh.. aku mengerti sekarang." kata Luka sambil tersenyum.
"Miku-chan.. Kaito-kun datang tuh. Katanya mau jemput Miku-chan. Tapi kalau Miku-chan tidak bangun katanya dia mau jemput Meiko-chan saja." ujar Luka di telinga Miku.
"Tidak, Kaito-senpai aku sudah bangun kok." ujar Miku langsung terbangun.
Kemudian Miku menuju ke jendela dan melihat-lihat sekitar rumahnya, namun tak menemukan Kaito dimanapun.
"Kaito-senpai!" panggil Miku sambil melihat ke kiri dan kanan.
"Lho kenapa tidak ada?" ujar Miku saat sadar tidak ada Kaito di depan rumahnya.
"Waa!! Kamu menipuku!!" bentak Miku sambil berbalik lalu nunjuk ke arah Luka.
"Siapa?" tanya Luka seolah tak terjadi apapun.
"Megurine-san lah! Siapa lagi memangnya?" jawab Miku
"Hah? Benarkah? Daritadi aku disini sedang membuka mainin laptop." ujar Luka yg saat itu memang sedang duduk di depan laptopnya.
"Mungkin Miku-chan cuma mimpi kali." sambung Luka.
"Eh, benarkah?" sahut Miku dengan wajah polosnya.
"Iya. Biasanya kan kita tidak sadar kalau kita sedang mimpi." balas Luka.
"Hmm.. benar juga sih." ujar Miku menerima pendapat Luka begitu saja.
Di suatu tempat tak diketahui, sebuah ruangan yg terbuat dari metal, June sedang mencorat-coret disebuah kertas. Sumber cahaya hanya dari lampu diatas meja, mirip lampu belajar. Sehingga wajahnya tidak terlihat karena gelap.
"Hahaha.. selesai. Rencanaku akhirnya selesai. The White Light, aku akan segera menangkapmu dan menyerahkanmu pada nya. Tunggu disana, The White Light!!!" ucap June sambil tertawa jahat.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.