VocaWorld, chapter 110 - Angin Perubahan (Pahlawan Datang)

Setelah peperangan di bumi tengah, sang pahlawan The White Light tak terdengar lagi kabarnya. Ada yg mengatakan kalau dia telah mati, tapi ada juga yg mengatakan kalau dia telah berhenti jadi pahlawan karena tak sanggup lagi melawan pasukan Pangeran Kegelapan yg terus bertambah dengan pesat. Dan dimasa kosong itu, dua orang pahlawan baru muncul. Dua pahlawan dari ujung timur pengguna alat yg sama dengan si cahaya putih. Seorang samurai yg mampu menembus segala pertahanan, dan seorang gadis lincah yg bisa mematahkan segala serangan dalam sekejap. Mereka adalah hembusan angin perubahan yg membawa harapan. Laki-laki berambut ungu berkimono putih seperti warna langit pagi, dan gadis berambut hijau dan berpakaian jingga dan kuning seperti langit senja. Mereka pun dikenal sebagai Angin Fajar dan Angin Senja. Nama itu sampai ke telinga Pangeran Kegelapan. Lucifer, pemimpin pasukan terbesar yg menyerang ke arah timur.
"Tuan Lucifer, kita baru saja dapat kabar kalau seribu pasukan yg kita kirim ke timur telah dibantai habis." lapor salah satu kapten pasukan pada Dante.
Dante yg sedang duduk di singgasananya pun langsung berdiri.
"Apa?! Tidak mungkin! Selama ini kita belum lihat ada alat yg sama kecuali mindy. Bagaimana bisa!?" kata Dante yg tak percaya dengan apa yg didengarnya.
"Agen kita tak mungkin berbohong, tuan. Kemungkinan The White Light telah memberikan alat itu untuk mereka." sahut kapten itu sambil tetap menunduk dilantai.
"Kurang ajar! Padahal aku sudah tenang The White Light sudah hilang. Sekarang malah muncul lagi dua yg baru." gerutu Dante.
"Apa perlu saya kerahkan pasukan saya untuk mengalahkan mereka?" tawar kapten itu.
"Tidak. Aku tak mau kehilangan pasukan lagi. Kita harus cari tahu dulu siapa mereka. Suruh pasukan pengintai untuk mencari tahu tentang mereka!" suruh Dante menolak tawaran kapten itu.
"Baik, tuan." sahut kapten itu mengangkat kepalanya yg ternyata itu adalah June.
Sementara itu di suatu pertempuran, sebuah pasukan mindy sedang bertempur melawan pasukan Pangeran Kegelapan.
"Kapten, kita terdesak!" ucap salah seorang anggota pasukan pemakai mindy itu.
"Bertahanlah! Saat ini aku sedang mencoba menghubungi pusat komando untuk meminta bantuan." sahut kapten pasukan itu sambil berusaha membuat panggilan dengan radio dua arah nya.
"Kapten! Kita harus mundur! Jika kita terus disini kita akan habis!" teriak anggota pasukan yg lain.
Terlihat pertempuran itu berat sebelah. Pasukan mindy terus terdesak dan mereka mulai terkepung. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka kalah jumlah.
"Sial, tidak ada jawaban!" ucap Kapten pasukan itu merasa kesal sambil membanting mic radio itu.
"Kapten, mindy mulai kehilangan power. Kita harus mundur." ujar seorang anggota perempuan mendekati kapten pasukan.
"Baiklah. Kalian semua kita mundur!" terima Kapten lalu berteriak menyuruh pasukannya mundur.
Kemudian para pasukan mindy pun lari dan menjauh dari para pasukan Pangeran Kegelapan. Mereka berlari melewati gang-gang sempit dan melewati rute sulit agar pasukan Pangeran Kegelapan tidak mengejar mereka.
"Kita segera kembali ke markas besar." ujar Kapten pada perempuan itu lagi yg nampaknya adalah wakilnya.
"Kapten! Argh!!" ucap salah satu anggota pasukan mindy yg lalu tertembak dan terlempar ke depan.
"Mereka bisa mengejar kita?!!" ucap anggota pasukan yg lain.
"Bukan, sepertinya tidak mungkin mereka mengejar kita. Tapi.. kitalah yg terjebak." ucap Kapten itu saat menyadari kehadiran pasukan Pangeran Kegelapan di sekeliling mereka bersembunyi diatap gedung dan dibalik bayangan lorong sempit.

Pasukan mindy terkepung dan tak bisa kemana-mana lagi. Tak ada rute pelarian lagi selain menghadapi pasukan Pangeran Kegelapan.
"Kita sudah tak punya jalan lain, selain melawan mereka, Kapten." ujar salah seorang anggota pasukan mindy.
"Sial. Pasti mereka sudah mempelajari rute pelarian kita dan menyiapkan jebakan disini. Ditambah, power mindy sudah sangat sedikit. Pasukanku takkan sanggup menghadapi mereka semua." pikir Kapten diam dan melihat ke segala arah mencoba membaca situasi.
"Kita sudah tidak bisa lagi melawan mereka. Kalian sudah tahu itu kan?" ucap Kapten kepada semua anggotanya.
Anggota pasukan yg berkumpul disekitarnya pun tampak mendengarkan perkataan kapten itu.
"Saat kita melangkahkan kaki ke medan pertempuran itu artinya kita sudah siap mati. Dan sekarang mungkin saatnya kita melakukannya. Saatnya kita membuktikan kalau kita rela mati untuk melindungi orang-orang yg kita sayangi!" sambung Kapten dengan suara lantang.
Para anggotanya yg tinggal tersisa 10 orang itu pun terlihat mengerti hal itu.
"Apa kalian sudah siap!?" tanya Kapten.
"Ya!" sahut semuanya.
"Maju!!!" suruh Kapten itu sambil maju terlebih dahulu.
Kemudian para anggotanya pun menyusul Kapten nya berlari ke segala arah untuk menyerang pasukan yg mengepungnya.
"Ini bukan saatnya kalian untuk mati. Kalian masih punya waktu untuk bisa hidup lebih lama!" ujar seseorang dari kejauhan dengan suara keras.
"Saya, Gakupo Kamui! Naga dari timur akan membantu kalian!" ucap sosok laki-laki berkuncir satu yg nampak siluetnya saja karena muncul diatas bangunan.
Disampingnya juga ada bayangan seseorang berambut pendek memakai rok yg nampaknya perempuan. Dan perkataan itu membuat mereka terdiam dan berhenti. Mereka semua terkejut melihat kehadiran orang yg nampak asing dimata mereka.
"Whoaa!! Kalian! Angin Fajar dan Angin Senja!" ucap salah seorang pasukan yg mengenali sosok itu.
"Dia punya kesadaran penuh?" ucap sosok laki-laki yg tak lain adalah Kamui.
"Dia pasti kapten pasukannya." sahut sosok perempuan yg tak lain adalah Gumi.
"Gaku-Gaku kamu tangkap kapten pasukan Pangeran Kegelapan itu. Aku akan membantu mereka yg ada dibawah." suruh Gumi.
"Sejak kapan kamu jadi pemimpin, Megu?" tanya Kamui tidak terima.
"Hah? Aku tak mungkin kan membiarkan orang bodoh yg membuat rencana dan mengambil keputusan. Bisa berantakan entar." jawab Gumi lalu melompat turun.
Kamui pun melompat ke arah kapten pasukan Pangeran Kegelapan itu.
"Teknik Naga Langit Hentakan Kaki Ke Tanah!" ucap Kamui melesat dari atas menebas ke bawah ke arah kapten pasukan Pangeran Kegelapan itu.
Bagian atap gedung itu terlihat hancur oleh Kamui. Sementara dibawah Gumi bergerak cepat menendang semua pasukan lawan dalam sekejap.

June dalam perjalanan ke markas pasukan pengintai. Di sebuah ruangan besar dan gelap, terdapat beberapa orang berjubah hitam.
"Pasukan pengintai. Kalian baru saja dapat perintah dari tuan Lucifer. Segera berangkat ke kota ini. Dan cari informasi tentang orang yg ada di dokumen itu." ujar June sambil melemparkan sebuah dokumen ke atas meja di tengah ruangan itu.
"Siapapun yg bisa mendapatkan informasi tentang mereka lebih dulu, akan mendapatkan tambahan kekuatan setingkat major." tambah June sambil berbalik kemudian melangkah pergi dari ruangan itu.
"Jadi kita harus mencari informasi tentang mereka berdua?" ucap salah seorang dari pasukan pengintai itu.
"Pahlawan dari timur. Codename, Angin Fajar dan Angin Senja. Nama asli tidak diketahui. Memakai alat yg sama dengan The White Light. Menarik.." sambung yg disebelahnya membaca dokumen itu.
"Julukan yg bagus untuk seorang pemula." ujar yg berdiri di pojokan.
"Pemula? Apa maksudnya?" tanya yg sedang memegang dokumen.
"Karena seorang profesional takkan membiarkan dirinya diketahui sebanyak itu oleh musuh. Kita ambil contoh, The White Light. Sampai sekarang kita tidak tahu dia berasal dari mana bahkan siapa sebenarnya dia." jawab yg tadi dipojokan melangkah mendekati dokumen.
"Aku tak tahu kalau kau sepintar itu, anak baru." puji yg sedang bersandar di dinding.
"Karena itu aku bergabung dengan pasukan pengintai daripada yg terjun langsung ke medan perang." sahut orang itu tampak mulutnya tersenyum dalam remang-remang ruangan itu.
Kemudian masuk salah seorang anggota pasukan pengintai dari luar.
"Kita baru saja menemukan keberadaan mereka saat ini. Menurut informasi, mereka ada di pesisir selatan. Mereka baru saja mengalahkan pasukan penyerbu disana." lapor orang yg baru masuk itu.
Mendengar laporan itu para pasukan pengintai itu tersenyum, kecuali satu orang yg tadi dipojokan itu. Dan lalu mereka pun pergi dari ruangan itu bersamaan. Sementara di tempat Kamui dan Gumi, para pasukan mindy terlihat sangat senang akan kedatangan mereka berdua. Pasukan mindy itu mengelilingi mereka.
"Terima kasih! Terima kasih kalian mau datang dan menolong kami." ucap Kapten pasukan.
"Tidak apa-apa. Tak usah berterima kasih seperti itu. Saat ini kita punya musuh yg sama, jadi tak masalah membantu teman satu perjuangan." sahut Kamui.
"Gadis manis itu siapa? Dia hebat sekali. Apa dia Angin Senja?" tanya Kapten itu menghampiri Gumi.
"Kya! Jangan dekati aku!" teriak Gumi lalu bersembunyi dibalik Kamui.
"Eh, dia kenapa?" tanya Kapten yg terlihat bingung.
"Dia malu dan takut kalau dekat dengan orang asing. Terutama kalau itu laki-laki." jawab Kamui.
Salah satu anggota pasukan mindy yg perempuan pun menghampiri Gumi.
"Wah.. kamu masih kecil sudah jadi pahlawan. Hebat.. namamu siapa?" tanya perempuan berumur 20 tahunan itu pada Gumi.
"Na-namaku Gumi. Kalau kakak?" tanya Gumi sambil malu dan tetap bersembunyi dibelakang Kamui.
"Wah.. nama yg bagus. Kalau namaku Aisyah.." jawab perempuan itu sambil tersenyum ramah.
"Kalau aku Al Hadid. Mereka semua adalah bawahanku sekaligus temanku dimedan perang ini. Panggil saja Kapten." sambung Kapten lalu menunjuk teman-teman dibelakangnya.
Para anggota pasukan itu pun tersenyum pada Gumi berusaha menunjukkan wajah yg ramah. Namun Gumi masih nampak malu-malu.
"Keputusan bagus kalian tidak membunuh dia." ujar Kapten pada Kamui yg terlihat membawa kapten pasukan musuh yg saat ini tergeletak dibelakangnya.
"Kami kesini memang bukan untuk membunuh." jawab Kamui.
"Ya, baguslah. Kami jadi punya seseorang untuk di interogasi. Kita akan buat dia mengatakan dimana markas Pangeran Kegelapan. Agar kita bisa menyerang mereka dengan serangan besar." ujar Kapten berumur 30 tahunan itu terlihat senang.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】