VocaWorld, chapter 97 - Bangun Setelah Jatuh
Libur musim panas telah berakhir, Miku dan kawan-kawan kembali sekolah. Miku datang pagi-pagi karena saking semangatnya.
"Aaaahh.. rasanya lega banget. Setelah sebulan penuh liburan dipakai untuk bertarung." ujar Miku tampak lega.
"Tidak sebulan penuh juga kan?" sahut Ray yg baru datang juga.
Saat itu kelas masih sepi dan hanya ada mereka berdua.
"Shiro Ray?! Kenapa kamu sering muncul tiba-tiba begitu? Ngagetin tahu!" gerutu Miku yg terkejut akan kedatangan Ray.
"Siapa yg kamu sebut muncul tiba-tiba? Aku datang beberapa detik setelahmu." sahut Ray.
"Masa? Maksudmu, kamu itu tak terlihat?" tanya Miku.
"Ya, bisa dibilang begitu." sahut Ray.
Lalu Miku langsung menutup bagian dada dan selangkangannya dengan tangannya.
"Kenapa kamu tiba-tiba begitu?" tanya Ray yg heran.
"Kamu pasti pernah menyelinap ke kamar mandi rumahku dan mengintipku!" tukas Miku.
"Hah? Untuk apa?" tanya Ray sambil duduk ditempat duduknya.
"Ya.. untuk mengintipku." jawab Miku.
"Kenapa malah kembali ke awal? Yg aku tanyakan bukan itu." ujar Ray yg kemudian mengeluarkan buku tulisnya.
"Lah kalau bukan itu apa lagi yg kamu tanyakan!" bentak Miku.
"Maksudku untuk apa kamu menutup bagian dada dan bagian bawahmu itu lagi kalau kamu yakin aku sudah melihatnya. Bukankah itu sudah tak ada gunanya?" jelas Ray.
"Eh? Bener juga sih. Tapi kan tetep aja aku tak mau kamu melihatnya lagi!" sahut Miku membuat tampang bego kemudian membentak Ray lagi.
"Tenang saja, aku belum pernah melihat bagian pribadi manapun darimu, kecuali pantsu mu yg belang-belang itu." jawab Ray dengan wajah tenang.
Wajah Miku pun memerah dan terkejut Ray mengatakan hal itu.
"Tolong lupakan hal itu! Dasar mesum!" bentak Miku.
"Bukan aku yg mesum, karena kamulah menunjukannya padaku." sahut Ray dengan tenang.
"Bodoh! Waktu itu kan aku tidak sengaja karena sedang melakukan dancing." balas Miku.
"Kalau begitu berarti aku juga tak sengaja melihatnya. Jadi jangan menyebutku mesum." tambah Ray.
"Aaahh!!! Kenapa kamu pinter banget ngelesnya!!?" ucap Miku merasa kesal.
Para siswa yg lain mulai datang. Miku terlihat menempelkan pipinya ke meja.
"Selamat pagi, Miku-chan." sapa Gumi yg baru datang.
"Pagi.." sahut Miku sambil manyun dan sedikit kesal.
"Apa yg terjadi? Pagi-pagi gini sudah cemberut saja." tanya Gumi sambil duduk di tempat duduknya.
"Itu tuh, Shiro Ray ngeselin." jawab Miku.
"Hah? Bagaimana bisa kamu kesal padanya? Apa ada sesuatu yg terjadi antara kalian berdua?" tanya Gumi penasaran.
"Aah.. aku tak ingin membahasnya." jawab Miku lalu melihat ke arah jendela sambil tetap menempelkan kepalanya ke meja.
"Sudah dirumah aku mesti bangun pagi karena Megurine-senpai, sekarang dikesalkan oleh Shiro Ray juga." gerutu Miku dalam hati.
Pagi hari sekitar jam 5 sebelum Miku berangkat sekolah. Saat itu Miku masih tidur nyenyak. Tiba-tiba Miku terbangunkan oleh Luka yg memeluk tubuhnya.
"Whoaa!! Megurine-senpai! Kenapa kamu ada dikasurku lagi!!?" tanya Miku yg langsung terperanjat bangun dan mundur ke dinding.
"Ray-kun.. peluk aku lebih erat.." ucap Luka tampak mengigau dalam tidurnya.
"Dia masih tidur rupanya. Tapi bagaimana caranya dia pindah ke kasurku dari bawah?!!" ujar Miku dalam hati bertanya-tanya.
Miku pun melihat ke arah jam, dan baru jam 5 lewat.
"Ini masih terlalu pagi untuk bangun. Tapi.." ujar Miku sambil melihat ke arah jam.
"Aku sudah tidak mengantuk lagi.." sambung Miku sambil menangis.
Miku pun keluar kamar lalu menuruni tangga dan menuju ke ruang tengah.
"Oh Miku-chan tumben bangun jam segini." sapa Meiko yg sedang memegang sapu.
"Jadi Meiko-san sering bangun jam segini?" tanya Miku terkejut melihat Meiko yg sedang menyelesaikan bersih-bersihnya.
"Ya, sejak kecil sudah terbiasa bangun pagi biar bisa diajari masak oleh ayah. Jadi sampai sekarang kebiasaan itu masih terbawa." jawab Meiko.
"Meiko-san emangnya tidak ngantuk?" tanya Miku yg lalu duduk di sofa.
"Tidak kok kalau sudah biasa. Lagipula bangun jam segini bikin otak seger." jawab Meiko sambil melewati Miku dari belakang.
"Oohh.. begitu ya.." sahut Miku.
Setelah meletakkan sapunya di belakang, Meiko langsung menuju ke dapur. Dia meletakan sebuah penggorengan, menyalakan kompor lalu menggoreng margarin.
"Miku-chan mandi aja dulu sana. Biar nanti bisa langsung berangkat." ujar Meiko dari dapur.
"Tidak ah, dingin.." tolak Miku.
"Kan ada air hangat." tambah Meiko.
"Malas ngisi nya. Entar keburu beku pas nunggunya juga." ujar Miku.
"Kan bisa pakai shower aja, Miku-chan yg manis.." kata Meiko dengan nada jengkel.
"Tidak ah, kalau cuma pakai shower tuh kurang greget." jawab Miku.
"Memangnya Miku-chan pikir kalau Miku-chan itu siapa? Murid Mad D*g kah?" komentar Meiko sambil tersenyum sinis.
"Pokoknya aku tidak mau mandi kalau air hangatnya belum siap." ujar Miku dari ruang tengah.
"Anak itu, sejak dulu tidak berubah." kata Meiko dengan suara pelan sambil nepuk jidat.
Akhirnya setelah selesai memasakkan tumisannya, Meiko menuju ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk Miku. Setelah selesai, Meiko pun kembali ke ruang tengah.
"Miku-chan airnya sudah si.." ucap Meiko terpotong saat melihat ke arah sofa.
Ternyata Miku saat itu sedang tertidur.
"Bangun kau!!!" bentak Meiko mengagetkan Miku.
Miku pun langsung melompat dan bangun dari tidurnya.
Kembali ke masa sekarang, Dante terlihat sudah datang dikelasnya. Kemudian dua mendengar pembicaraan teman-teman sekelasnya.
"Kalian sudah selesai belum PR musim panasnya?" tanya salah seorang laki-laki sedang berdiri di dekat meja temannya.
"Aku mah udah dong." jawab laki-laki yg sedang duduk.
"Aku juga." sambung laki-laki yg berjongkok.
"Baguslah kalau begitu. Karena kalau tidak, kita bisa dihukum." sahut laki-laki yg berdiri.
"PR musim panas ya. Hanya orang yg bodoh saja yg melupakan hal itu." komentar Dante dalam hati sambil tersenyum.
"Tunggu, apa aku juga sudah mengerjakannya? Hmm.." pikir Dante.
Dante pun mencoba mengingat-ngingat apa ia sudah mengerjakan PR nya.
"Whooaa..!!! Aku baru ingat aku belum mengerjakannya!" teriak Dante sambil memegang kepalanya.
"Aniki!!!" panggil Dante sambil berlari keluar kelas menuju ke kelas 1-B.
Pintu belakang kelas 1-B pun dibuka dengan tenaga penuh. Suara yg keras pun membuat semua orang menoleh padanya.
"Aniki! Apa Aniki sudah mengerjakan PR musim panas?" tanya Dante sambil berjalan ke samping Ray.
"Sudah." jawab Ray.
"Syukurlah.." ucap Dante terlihat sangat bersyukur.
Memangnya kamu belum?" tanya Ray.
"Belum lah Aniki, kita kan sibuk melatih mereka saat musim panas." jawab Dante."Tunggu.. bukankah Aniki juga sibuk waktu itu? Kok bisa mengerjakan semuanya sih?" tanya Dante yg baru sadar akan keanehan itu.
"Tentu saja. Berbeda denganmu, aku mengerjakan semuanya sambil mancing ataupun sambil merencanakan pertarungan." jawab Ray sambil menyangga dagunya.
"Hah? Kok aku tidak melihatnya?" tanya Dante yg tak percaya.
"Bagaimana mau lihat, kan saat mengerjakannya, kamu sedang tidur." jawab Ray.
"Apa?!! Kalau gitu bilang saja kalau Aniki tidak mau mengajakku mengerjakan PR!!" bentak Dante.
"Siapa bilang? Aku sudah mengajakmu kok. Waktu aku ajak mancing di sungai di tengah hutan waktu itu, kamu malah tidur dibawah pohon. Waktu aku ajak mancing di sungai kota juga kamu malah tidak mau ikut." ujar Ray menyalahkan perkataan Dante.
"Ya kan itu ngajaknya mancing. Coba kalau ngajaknya ngerjain PR." sahut Dante.
"Ya kan harusnya kamu lebih peka, karena memancing itu butuh waktu untuk menunggu, dan saat menunggu itu kita kan bisa melakukan berbagai hal." balas Ray.
"Kenapa malah jadi aku yg salah!!!" pekik Dante.
"Ya sudahlah, kalau begitu aku bisa mencontek dong." ucap Dante.
"Tidak." jawab Ray yg terlihat sedang menyangga dagunya dengan tangan sambil melirik ke arah lain.
"Lho, kenapa? Tolonglah Aniki.. ini darurat.." pinta Dante lagi sambil memegang dua bahu Ray.
"Tapi Dante, kamu kan harus mengerjakannya sendi..", "Kumohon!!!" ucap Dante memotong perkataan Ray sambil bersujud pada Ray.
Wajah Ray pun mulai berkeringat, dia mulai tidak tega karena melihat Dante bersujud terus.
"Baiklah, kamu boleh menconteknya." ujar Ray sambil menyodorkan setumpuk buku tulis di mejanya.
"Terima kasih, Aniki!" ucap Dante sambil menaikan kepalanya lalu bersujud lagi.
"Sudah jangan bersujud lagi. Itu memalukan." pinta Ray.
Setelah mengambil setumpuk buku tulis itu Dante pun pergi kembali ke kelasnya.
Dikelas 2-C, tampak Kaito sedang suram di tempat duduknya.
"Hancur sudah hidupku ini." ujar Kaito dengan kepala tertunduk lesu.
"Kaito-sama!!!" teriak para gadis di depan pintu kelas.
Tapi dihalangi oleh para anggota OSIS.
"Wah.. nampaknya kamu semakin terkenal, Kaito-kun." ucap Luka sambil tersenyum.
"Aku tak ingin terkenal karena hal itu." sahut Kaito dengan tak bersemangat hidup sama sekali.
"Sebenarnya siapa sih yg nempelin fotoku dan Gakupo saat festival itu di mading sekolah?" gumam Kaito dalam hati.
"Kaito-sama!!! Apa benar kamu berpacaran dengan Kamui-sama!!?" teriak seorang siswi dari kerumunan fans nya itu.
"Siapa bilang?!! Tentu saja tidak!!" bentak Kaito sambil berdiri.
"Kyaaa!!! Kaito-sama tsundere!!!" teriak para gadis itu semakin heboh.
"Siapa yg kalian bilang tsundere!!!?" protes Kaito.
Namun para gadis itu terlihat tidak menghiraukannya.
"Mereka mulai menyebalkan.." ucap Kaito sambil nepuk jidatnya dan kembali tertunduk duduk di bangkunya.
Kemudian Meiko menyentuh bahu Kaito dari bangkunya. Kaito pun menoleh.
"Selamat." ucap Meiko dengan wajah datar.
"Kenapa kau malah bilang selamat?!!" bentak Kaito.
Saat istirahat, Kaito berjalan menuju ke kantin.
"Kaito-senpai!" panggil Miku sambil menubruk ke arah Kaito.
Tapi Kaito kemudian berjongkok, dan Miku pun tersungkur dilantai.
"Kenapa malah menghindar?!" bentak Miku.
"Hatsune pun kenapa tiba-tiba hendak menubrukku seperti itu?" tanya Kaito balik.
"Aku kan ingin memberikan pelukan kasih sayang pada senpai." jawab Miku.
Terlihat diantara mereka, ada beberapa gadis yg terlihat marah.
"Maaf Hatsune, saat ini aku sedang tidak dalam mood untuk bercanda." kata Kaito sambil menjutkan langkahnya ke kantin.
Para gadis yg terlihat marah tadi sekarang jadi tenang dan tersenyum.
"Kaito-senpai ini kenapa sih? Setidaknya bantu aku bangun kek." gerutu Miku yg masih terduduk dilantai.
"Sedang apa kamu duduk disana?" tanya Ray dari belakang Miku berjalan ke depannya.
"Bukan urusanmu, Shiro Ray!" jawab Miku menatap tajam ke arah Ray.
"Ayo aku bantu berdiri." ujar Ray sambil mengulurkan tangannya pada Miku.
"Tidak mau!" sahut Miku sambil memalingkan mukanya.
"Kenapa?" tanya Ray.
"Tanganmu itu kan kotor." jawab Miku sambil memejamkan matanya.
"Memangnya kamu pikir aku apa? Justru lebih kotor lantai itu kan?" sahut Ray.
"Malah lantai ini lebih higienis daripada tanganmu." balas Miku.
"Ya sudahlah, tak apa kalau tak mau. Paling juga nanti disebut suster ngesot." ujar Ray sambil berjalan meninggalkan Miku.
"Siapa yg kau bilang suster ngesot?!!" bentak Miku sambil berdiri dan nunjuk Ray.
"Akhirnya mau berdiri juga." ucap Ray tersenyum menoleh ke arah Miku.
"Aaaa??! jadi kau menjebakku?! Kurang ajar! Kemari kau!" kata Miku saat sadar merasa kesal dan jengkel.
Ray pun menjutkan kembali jalannya tidak menghiraukan Miku. Miku pun mengejarnya. Dan saat itu, seseorang melihat kejadian itu menggunakan teleskop dari kejauhan.
"Haha.. mungkin ini bisa digunakan." ujar yg mengintip menggunakan teleskop itu yg tak lain adalah June.
June pun tersenyum jahat seperti punya rencana.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.