VocaWorld, chapter 111 - Angin Perubahan (Sembunyikan Diri)
Di suatu tempat di padang pasir. Seorang berjubah hitam sedang berjalan sendirian ditengah badai pasir.
"Aku punya keuntungan karena ikut mereka. Aku bisa mendapatkan informasi penting dengan mudah. Tapi, anak baru itu mencurigaiku. Kupikir dengan berjalan bersama badai ini, aku bisa mengelabuinya." ujar laki-laki menoleh kebelakang dan tak melihat apa-apa kecuali pasir yg berterbangan.
"Sepertinya dia tidak mengikutiku. Aku bisa ketempat mereka dengan aman." sambung laki-laki berambut hitam sebahu dengan poni menutupi mata itu sambil berjalan lagi.
Tanpa disadari olehnya, ada seseorang yg mengikutinya dari belakang mengenakan jubah hitam yg ditutupi kain berwarna coklat. Dia memakai goggle dengan mulut juga ditutup oleh kain coklat. Yg terlihat jelas hanya rambut hitam pendek dibalik balutan kain coklat.
"Dia mau pergi kemana? Berbeda dengan yg lain. Sepertinya dia tahu kemana ia harus pergi. Aku harus memgikutinya terus." gumam laki-laki berkain coklat itu.
Disebuah bangunan yg cukup besar. Disana banyak orang berlalu lalang. Kelompok Kapten Al Hadid terlihat sedang membawa tawanan, diikuti oleh Kamui dan Gumi dibelakangnya.
"Ini kah markas pasukan mindy kota ini?" tanya Kamui.
"Ya kamu bisa lihat sendiri kan, Gaku-Gaku? Masih aja tanya." sahut Gumi.
"Ya maaf. Kenapa sih sinis amat?" gerutu Kamui.
"Aku bukannya sinis. Cuma cape saja mesti jawab pertanyaan yg jawabannya kamu sudah tahu sendiri." balas Gumi.
"Sudah-sudah.. kalian kan pahlawan. Harusnya menjadi teladan untuk yg lain. Jangan bertengkar gitu." ujar kapten Al Hadid pada Gumi dan Kamui.
"Oh ya, kalian pergilah isi power mindy kalian. Biar aku sendiri yg mengantar tawanan kita ini." suruh kapten Al Hadid pada para bawahannya yg tinggal sedikit.
"Baik kapten." sahut para bawahannya.
"Aisyah, antarkan dua tamu kehormatan kita jalan-jalan. Jamu mereka dengan makanan enak. Aku yakin mereka cape karena melakukan perjalanan jauh dari timur." suruh kapten Al Hadid pada Aisyah.
"Siap, laksanakan." sahut Aisyah sambil memberi hormat.
"Ayo ikut saya, Angin Senja dan Angin Fajar." ajak Aisyah lalu berbelok dan berjalan di depan.
Kamui dan Gumi pun mengikutinya.
"Kalian ini kelihatannya akrab sekali? Apa kalian berteman sudah lama?" tanya Aisyah sambil berjalan.
"Ya, kami adalah teman sejak kecil." jawab Kamui.
"Tidak beneran sejak kecil sih. Kami bertemu dan aku numpang dirumahnya saat berusia 4 tahun." tambah Gumi.
"Oohh.. kalian berasal darimana?" tanya Aisyah lagi.
"Kami?" ucap Gumi dan Kamui bersamaan kemudian saling bertatapan.
"Maaf kalau yg itu, kami tidak bisa menjawabnya. Kami dilarang untuk mengatakan asal kami." jawab Gumi menoleh lagi ke arah Aisyah.
"Pemerintah kami takut akan diserang habis-habisan kalau sampai tempat asal kami ketahuan." sambung Kamui.
Aisyah pun mengerti maksud mereka. Dan tidak melanjutkan pertanyaannya pada mereka.
Laki-laki berjubah hitam terlihat datang ke sebuah bangunan besar tak terurus. Dan saat hendak masuk, tiba-tiba dia dihentikan oleh suara dari pengeras suara yg tertempel diatas pagar.
"Tunjukan siapa dirimu!" suruh seseorang lewat pengeras suara.
Laki-laki itu pun membuka tudung jubahnya.
"Ini aku, El Rosyid." jawab laki-laki itu menunjukan wajahnya.
Melalui kamera pengawas, para penjaga terlihat mengenali wajah laki-laki itu.
"Baiklah, kamu lebih masuk." ujar penjaga itu melalui pengeras suara.
Ternyata di depan ada deteksi laser berwarna merah, tapi sekarang jadi berwarna hijau tanda laser itu sudah aman dan jadi cahaya biasa. El Rosyid pun masuk ke dalam.
"Jadi disana markas rahasia pasukan mindy." ucap laki-laki berjubah hitam yg terbungkus kain coklat dalam hatinya.
Dia memperhatikan dari kejauhan mengintip dibalik dinding sebuah pagar rumah.
"Aku harus mulai membuat persiapan pengintaian. Aku yakin Angin Senja dan Angin Fajar ada disana." ujar laki-laki itu dalam hati lalu berjalan menjauhi tempat itu.
"Jadi ini alasan kenapa dia pergi sembunyi-sembunyi dari yg lainnya. Untung saja aku mengikutinya. Dengan begini aku akan bisa mendapatkan informasi lebih cepat." sambung laki-laki itu sambil berjalan dengan santai.
Di dalam markas besar, terlihat El Rosyid sedang berjalan menuju ke sebuah ruangan. Disana ada Aisyah dan pasukan kapten Al Hadid.
"Apa kabar kalian?" sapa El Rosyid melempar senyum pada mereka.
"Wakil kapten, senang melihatmu. Buruk sekali. Kita kehilangan banyak pasukan." jawab salah seorang anggota pasukan itu.
"Sayang sekali, aku juga mendapatkan informasi kalau kalian telah dijebak." ujar El Rosyid.
"Iya, mereka nampaknya mengetahui rute pelarian kami." sahut Aisyah.
"Begitu ya. Mereka jadi semakin pintar saja. Lalu, aku juga dapat infomasi kalau kalian ditolong oleh Angin Fajar dan Angin Senja. Dimana mereka sekarang?" tanya El Rosyid.
"Mereka disana." jawab Aisyah menunjuk ke arah Kamui dan Gumi yg sedang makan di meja seberang.
"Makanan disini lumayan enak juga." ujar Gumi.
"Ah lebih enak makanan di negara kita." sahut Kamui.
"Angin Fajar, Angin Senja, senang bisa bertemu kalian." ujar El Rosyid menyapa Kamui dan Gumi.
"Siapa?" tanya Kamui.
"Aku El Rosyid, mantan wakil kapten. Sekarang aku jadi intelejen untuk menyamar jadi pasukan pengintai Pangeran Kegelapan. Salam kenal.." jawab El Rosyid.
"Oh.. ninja." ujar Kamui saat mendengarnya.
Gumi langsung menjitak Kamui saat itu.
"Ninja? Ooh.. kalian berasal dari Jepang ya." sahut El Rosyid saat mendengar kata ninja.
"Tenang saja, rahasia kalian aman kok. Kita kan sama-sama dipasukan yg sama. Dipihak yg sama. Jadi kalian tak perlu khawatir." sambung El Rosyid sambil tersenyum.
"Ya syukurlah mulut bodohnya bocor ditempat yg aman." sahut Gumi.
"Oh ya, ada sesuatu yg sangat ingin aku tanyakan pada kalian." kata El Rosyid.
"Apakah gerangan itu?" sahut Kamui.
"Apa kalian mengenal The White Light? Kulihat kalian punya alat yg sama dengan nya." tanya El Rosyid.
"Siapa memangnya di dunia ini yg tidak kenal dengan The White Light-dono yg hebat. Beliau adalah orang yg berhasil mengalahlan 10.000 pasukan pangeran kegelapan sendirian. Tapi soal siapa beliau, tidak ada yg tahu." jawab Kamui.
"Alat yg kami pakai saat ini pun baru saja dikembangkan beberapa tahun sebelumnya. Dan tidak tahu siapa pencipta awalnya." jelas Gumi.
"Begitu rupanya." ujar El Rosyid nampak memikirkan sesuatu.
Diluar, terlihat laki-laki berkain coklat sedang mengintai dari dalam kamar kosong sebuah gedung. Dia menggunakan teropong melihat ke arah pintu gedung markas pasukan Mindy.
"Hmm.. tidak ada tanda-tanda darinya. Mungkin aku harus memancing mereka dengan sesuatu." ujar laki-laki itu.
Kemudian laki-laki itu mengangkat lengannya keatas lalu menjertikan jarinya. Dan kemudian muncul sebuah ledakan di sebuah gedung di depan gedung markas pasukan mindy. Gedung itu runtuh oleh ledakan yg sangat kuat itu. Mendengar suara dentumam dan gemuruh bangunan runtuh, orang-orang didalam markas terkejut.
"Suara apa itu?" ucap El Rosyid yg terkejut.
"Itu seperti suara ledakan." ujar Gumi.
"Sebuah serangan kah?" tambah Kamui.
"Ayo kita keluar." ajak El Rosyid.
Kemudian mereka pun keluar dari markas dan melihat sebuah bangunan yg tadinya ada di depan sudah runtuh rata dengan tanah.
"Cuma satu gedung?" ucap Gumi.
"Nampaknya ini hanya serangan acak." sahut El Rosyid.
"Ketemu. Ternyata itu memang markas mereka. Lalu, aku juga menemukan dua orang penting disana." ucap laki-laki berkain coklat melihat melalui teropongnya.
"Perasaan saya kurang enak." ujar Kamui.
"Apa kamu mendapat firasat lagi?" tanya Gumi.
"Eh, firasat apa? Aku hanya merasa kurang enak." jawab Kamui.
"Dasar bodoh, itu tuh firasat namanya." gerutu Gumi.
"Oohh.. firasat ya. Megu, kamu memang jenius!" ucap Kamui.
"Bukan aku yg jenius, tapi kamu yg bego." sahut Gumi menatap jengkel pada Kamui.
"Sebaiknya kita masuk lagi, kita harus menyembunyikan keberadaan kalian dulu. Saat ini pasukan pengintai sedang mencari kalian." ujar El Rosyid.
Kemudian mereka pun masuk kembali ke markas.
"Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus bisa memisahkan mereka. Tak ada jalan lain." ujar laki-laki berkain coklat terlihat sedang berpikir.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.