VocaWorld, chapter 96 - Raja Kini Menemukan Ratunya

Luka datang setelah susah payah berlari sekuat tenaga. Dia terlihat sangat bahagia dan bersyukur melihat Ray masih berdiri. Diwajah Luka nampak senyum bahagia melekuk dengan indah. Luka berjalan mendekati Ray.
"Luka-tan! Menjauhlah darinya!!" teriak Kamui yg lalu berlari melesat ke arah Ray dan Luka.
Dan Kamui pun menebas Ray. Darah muncrat dari tubuh Ray. Dan tubuh Ray pun terkapar ditanah.
"Tidak!!!" teriak Luka yg kemudian berlari mendekati Ray.
Dante dan Gumi juga terlihat terkejut melihat Ray tertebas dan jatuh. Luka pun menarik tubuh Ray yg bertelungkup itu dan menyandarkannya di dadanya.
"Ray-kun, bertahanlah!" ucap Luka sambil mendekap tubuh Ray.
"Megu..rine-san.. kamu datang?" ucap Ray sambil menahan sakit.
"Iya, aku disini Ray-kun." sahut Luka terlihat hendak menangis.
"Luka-tan, apa yg anda lakukan? Dia itu..", "Diam bodoh! Apa yg barusan kamu lakukan pada Ray-kun!? Kamu baru saja menebas orang yg sedang membantumu!" bentak Luka memotong ucapan Kamui.
"Sudahlah, jangan salahkan dia. Aku memang pantas mendapatkan semua ini." ujar Ray sambil tersenyum.
"Kenapa kamu malah ngomong gitu? Kamu sama sekali tidak pantas dibenci. Kamu selama ini menolong kami untuk berkembang. Iya kan?" kata Luka memarahi Ray.
"Jadi kamu sudah menyadarinya?" tanya Ray yg lalu meringis kesakitan.
"Ya. Karena itu jangan menyuruhku membencimu lagi!" bentak Luka.
Kemudian Luka menyadari sesuatu. Saat ia diserang major batu waktu itu, ia diselamatkan oleh Ray. Luka saat itu memukul Ray, tapi Ray menghindar.
"Kenapa kamu menghindar!?" bentak Luka.
"Karena aku tak pantas dipukul. Barusan kan aku memelukmu untuk menolongmu." sahut Ray dengan tenang.
"Kalau begitu jangan menyuruhku membencimu!" bentak Luka lagi.
Mengingat kejadian itu Luka menyadari ada kesamaan dalam percakapan tersebut.
"Jadi waktu itu Ray-kun memberiku petunjuk?" tanya Luka.
"Kenapa begitu lama hanya untuk menyadari hal itu? A-aku sampai bosan menunggu." sahut Ray dengan suara tertahan.
"Megurine-san, apa maksudnya ini?" tanya Meiko.
"Ray-kun selama ini sengaja menjadikan dirinya sebagai orang jahat. Dia sengaja menyerang kita untuk melatih kita." jawab Luka.
"Melatih kita?" sahut Kaito.
"Melatih apa? Dia kan hanya menyerang kita membabi buta. Eh, tunggu sebentar. Babi itu buta ya?" ujar Miku yg lalu bingung sendiri.
"Apa kalian sadar? Saat kita menghadapinya, dia selalu memberikan saran. Dia juga selalu memberikan dorongan agar kita terus berkembang. Memberikan kita tekanan supaya kita menekan balik dengan lebih kuat." jelas Luka.
"Aniki pun sengaja menekan semua perasaannya. Dibenci dan dijauhi oleh kalian. Dia menjadikan dirinya penjahat hanya agar kalian serius melawannya. Hanya agar kalian bisa melampauinya." tambah Dante yg angkat bicara.
"Hah? The White Light-dono melakukannya?" tanya Kamui.
"Tapi nampaknya aku tak bisa menyelesaikan tugasku. Karena hal tak terduga terjadi." sambung Ray.
Luka pun mengingat kejadian saat Ray menyelamatkannya dari 5 major.
"Dia menggunakan seluruh kekuatannya yg tersisa yg harusnya digunakan untuk saat ini. Dia menggunakannya untuk menyelamatkan seorang gadis." sambung Dante.
"Kenapa waktu itu kamu memilih untuk menyelamatkanku?" tanya Luka pada Ray.
"Aku tak mau melihatmu terluka lagi. Sudah cukup semua luka yg kuberikan padamu. Karena itu, aku hanya memastikan agar kamu bisa tersenyum lagi di keesokan harinya." jelas Ray.
Luka terkejut mendengar penjelasan Ray itu.
"Aku ingin melihatmu tersenyum lagi." tambah Ray sambil tersenyum.
Luka pun mulai meneteskan air matanya. Dia menangis lalu mendekap tubuh Ray lebih erat.
"Sakit, Megurine-san. Jangan terlalu erat." ujar Ray kesakitan.
"Kenapa Ray-kun sampai segitunya ingin melatih kami?" tanya Luka sambil menangis.
"Itu adalah tugasku sebagai seorang raja. Meski harus dibenci, meski harus dibuang, atau harus dibunuh sekalipun. Kalau itu bisa membuat kalian menjadi lebih kuat, membuat kalian bahagia dimasa depan. Itu sangat setimpal." jawab Ray.
"Tapi apa menurutmu kami akan bahagia membunuh orang yg telah melatih kami? Jangan mengatakan hal yg seperti itu. Aku tak ingin melihatmu mati. Aku tak ingin kamu meninggalkanku sendirian." ucap Luka sambil menangis dan berpindah mendekap kepala Ray.
Miku, Meiko dan Rin tampak kaget dan hendak menangis juga. Kaito, Len dan Kamui pun terlihat menundukkan kepala mereka dan melihat arah lain menyembunyikan rasa sedihnya.
"Maafkan aku karena membuatmu sedih lagi, my queen." ucap Ray sambil menengadah ke atas menatap wajah Luka yg menangis tepat diatas wajahnya saat itu.
"Rasanya mataku semakin berat." ujar Ray yg terlihat mulai memejamkan matanya.
"Dia kehilangan terlalu banyak darah." ujar Meiko.
"Saat ini lebih baik kita bawa dia ke rumah sakit." usul Gumi.
"Maafkan saya, The White Light-dono." ucap Kamui.
"Ya, tak apa kok. Aku mengerti. Kamu khawatir pada Megurine-san kan?" sahut Ray dengan mata semakin sayu dan hampir terpejam.
Luka pun kemudian mengangkat tubuh Ray lalu memapahnya.
"Tunggu sebentar." ucap laki-laki berjaket coklat muncul dari rimbunnya pepohonan hutan.
"Serahkan dia pada saya." sambung pemuda berjaket coklat itu.
"Siapa kau?" tanya Kaito.
"Kalau boleh memperkenalkan diri, nama saya June Black." jawab pemuda itu.

Miku dan kawan-kawan dikejutkan kedatangan pemuda misterius yg tiba-tiba saja meminta Ray diserahkan.
"Serahkan The White Light pada saya. Maka kalian akan selamat." suruh pemuda yg mengaku bernama June itu.
"Kami takkan menyerahkan Ray-niichan walau apapun yg terjadi." tolak Rin.
"Segeralah pulang, atau kamu akan kami tendang." sambung Len.
"Hahaha.. kalian berani menantangku? Aku punya ini!" ujar June sambil mengacungkan tangannya.
Namun tak ada apapun yg terjadi. Miku dan yg lainnya pun hanya bengong menyaksikan hal itu.
"Kenapa ini?!! Kenapa darksider nya tidak muncul?!!" pekik June bingung ternyata tak ada yg terjadi.
"Kamu masih saja seperti dulu ya. Sok-sokan keren tapi berakhir dengan hal memalukan." sahut Dante.
"Cih!" ucap June terlihat kesal.
Kamui, Kaito, Rin, Len, Meiko dan Miku pun mulai mendekati June.
"Maaf saja, sepertinya saya harus.." ujar June sambil tersenyum dan berpose bersiap bertarung.
Miku dan yg lainnya pun bersiap bertarung juga.
"Kaburrr!!!" teriak June lalu melarikan diri masuk ke hutan.
Miku dan yg lainnya pun hanya bengong dan menatap heran.
"Hah? Apa-apaan yg barusan itu?" komentar Gumi tersenyum sinis.
"Dia aneh." ujar Rin.
"Ya." sahut Len.
"Ray-kun sadarlah! Ray-kun!!" teriak Luka mengagetkan yg lainnya.
Ternyata saat itu Ray sudah tak sadarkan diri.
"Ayo kita cepat bawa dia ke rumah sakit!" ujar Meiko.
Dan mereka pun bergegas pergi kembali ke kota untuk membawa Ray ke rumah sakit. Ray pun mendapatkan perawatan intensif. Luka nampak mondar-mandir karena cemas menunggu di ruang tunggu.
"Megurine-san, duduklah. Tenangkan dirimu. Shiro Ray pasti tidak kenapa-napa kok." ujar Meiko berusaha menenangkan Luka sambil duduk dan melihat Luka yg mondar-mandir terus.
"Hatiku mana bisa tenang. Ray-kun.. Ray-kun tak sadarkan diri saat ada di pelukanku." jawab Luka sambil tetap mondar-mandir.
"Tidak tenang sih tidak tenang. Tapi tak usah bulak-balik terus dong. Udah kayak setrikaan aja." sahut Len.
"Len-kun takkan mengerti perasaanku. Kamu pasti akan merasakannya juga saat sudah dewasa." balas Luka.
"Rin-chan kenapa? Daritadi seperti sedang menahan sesuatu. Rin-chan kebelet pipis?" tanya Miku yg duduk sebelah Rin.
"Tidak. Aku hanya khawatir. Apa Ray-niichan akan sembuh?" jawab Rin.
"Kenapa semua orang cemas tentang Shiro Ray sih? Kan dia waktu kena tebas dalam bentuk berubah. Pasti takkan dalam kok lukanya." tanya Miku.
"Nampaknya dia belum sadar tentang hilangnya kekuatan Shiro Ray." ucap Kaito.
"Miku-chan, kekuatan Shiro Ray itu sudah hilang saat menghadapi kita. Jadi saat ini Lukanya beneran parah." jelas Meiko.
"Eh, hilang kenapa?" tanya Miku masih belum mengerti.
Meiko pun nepuk jidat karena tak habis pikir Miku bisa tidak mengerti padahal sudah dijelaskan saat sebelumnya juga. Dan sekarang dia mesti menjelaskan untuk kedua kalinya.
"Kemarin saat melawan para darksider, dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk melawan Megurine-san." jawab Meiko.
"Oohh.. kenapa dia menolong Megurine-senpai?" tanya Miku lagi.
"Itu karena.. aah! Aku juga tidak mengerti! Pokoknya dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk menolong Megurine-san." jawab Meiko mulai kesal.
"Ssst.." ucap seorang suster yg lewat mengisyaratkan Meiko untuk tidak berisik.
Dante saat itu sedang berdiri bersandar pada dinding dan memikirkan sesuatu.
"Pangeran kegelapan.." panggil Gumi yg jongkok sambil bersandar di dinding tepat di sebelah kanan Dante.
"Apa?" sahut Dante.
"Apa kamu juga bertarung melawanku untuk melatihku?" tanya Gumk dengan malu-malu melihat ke bawah.
"Pada awalnya sih aku tak punya niatan. Dan akupun merasa terpaksa karena Aniki memintaku untuk melakukan semua rencananya. Bahkan Aniki memaksaku hanya menggunakan 50% kekuatanku." jelas Ray.
Wajah Gumi sedikit kecewa mendengar hal itu. Tampak wajahnya berubah murung saat itu.
"Tapi, setelah melihatmu begitu bersemangat dan berkembang sangat cepat karena ingin sekali mengalahkanku, aku jadi bersemangat untuk bertarung denganmu. Akhirnya, akupun jadi ingin melatihmu." tambah Dante.
Gumi terkejut dan menoleh ke atas ke arah wajah Dante.
"Dia senang melihat perkembanganku?" ucap Gumi dalam hati.
Dokter sudah keluar, dan Luka pun menghampirinya.
"Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Luka dengan wajah cemas.
"Dia tidak apa-apa kok. Untung saja dia segera dibawa kemari. Karena kalau terlambat sedikit saja dia pasti sudah tak terselamatkan. Dia kehilangan banyak sekali darah." jawab dokter itu.
"Syukurlah.." ucap Luka.
"Terus dia sekarang bagaimana dok? Apa sudah bisa pulang?" tanya Dante.
"Saat ini dia sedang istirahat. Besok atau lusa baru dia bisa pulang. Tergantung cepat tidaknya penyembuhan lukanya." jawab dokter itu lagi.
"Apa kami sudah boleh melihatnya?" tanya Luka.
"Ya silahkan.. asal jangan ganggu istirahatnya." jawab dokter itu membolehkan.
Kemudian dokter itu pun pergi. Luka dan yg lainnya pun masuk ke dalam. Terlihat Ray sedang tertidur pulas diatas tempat tidur di ruangan itu.
"Dia terlihat nyenyak sekali." ucap Luka.
"Shiro Ray terlihat tenang sekali saat tidur." ujar Miku.
"Aniki memang begitu. Dia memang mirip kucing saat tidur. Bergitu tenang." sahut Dante.
"Kucing?" ucap Luka lalu melihat ke wajah Ray.
Dan Luka pun terbayang kalau Ray memakai telinga kucing sambil tertidur pulas begitu. Wajah Luka pun jadi memerah karena membayangkannya.
"Haha.. kalau soal tidur pasti tidur saya lah yg paling terlihat mengesankan." ucap Kamui sambil mengacungkan jempolnya.
"Mengesankan darimananya? Kau kan kalau tidur suka berantakan." ujar Kaito sambil tersenyum aneh pada Kamui.
"Kenapa kalian malah jadi ngomongin masalah tidur sih? Kalian kan tahu ada yg sedang sakit disini." gerutu Meiko.
"Maaf.." sahut Kaito dan Kamui terlihat menyesal.
Len terlihat sedang menyeret kursi mendekat ke arah Luka.
"Luka-nee, silahkan duduk." ujar Len saat kursi itu diletakan disamping ranjang tempat Ray terbaring.
"Terima kasih, Len-kun." sahut Luka.
"Megurine-san, kami akan pulang dulu. Nanti kami bawain makanan kemari." ucap Meiko sambil menghampiri Luka dan berdiri disampingnya.
"Oh iya, silahkan saja. Biar aku yg menjaga Ray-kun." sahut Luka.
"Aku akan tetap disini juga." sambung Dante.
"Aku juga." tambah Gumi.
"Kalau begitu saya juga." ujar Kamui.
"Gakupo, kita pulang. Kitalah yg harus membawakan makanan untuk mereka nanti." jelas Kaito.
"Hah? Kenapa saya? Anda saja sendiri." tolak Kamui dengan tatapan malas.
Muncul urat dikepala Kaito akibat jengkel.
"Dasar bodoh, aku tak mungkin membawanya sendirian. Lagipula dari rumah kita kesini tuh jauh." ujar Kaito dengan wajah kesal.
"Megurine-san, kami pulang ya. Baik-baik disana!" ujar Meiko yg keluar ruangan bersama Miku, Rin dan Len.
"Gaku-Gaku, kamu seorang samurai sejati kan?" tanya Gumi.
"Tentu saja. Makanya saya tidak akan membawakan sesuatu yg harusnya dibawa oleh seorang perempuan." ujar Kamui dengan penuh kebanggan.
"Jadi kau mau bilang kalau aku ini perempuan?" tanya Kaito yg terlihat makin kesal dan gregetan.
"Tidak bukan begitu maksud saya. Anda bukanlah perempuan. Tapi anda itu, hanya seperti perempuan." ujar Kamui.
"Sama aja!!" bentak Kaito sambil menonjok wajah Kamui.
"Kalian cukup! Jangan ribut disini! Keluar sana!" kata Luka marah pada Kaito dan Kamui.
"Sekarang.." sambung Luka yg lalu menatap dingin dan kejam ke arah mereka berdua.
"Maaf.." sahut Kaito dan Kamui sambil tertunduk lalu keluar ruangan.
"Luka-oneesama memang hebat. Mampu menumbangkan 2 laki-laki bodoh sekaligus." komentar Gumi dalam hati.
"Dia mirip Aniki." ujar Dante dalam hati saat melihat Luka melakukan itu.

Ke esokan harinya, mentari terbit dengan indah. Hari itu cuaca kembali cerah.
"Ray-kun." ucap Luka mengigau dalam tidurnya.
Luka tertidur disamping Ray sambil memegang tangan Ray dan menyandarkan kepalanya di kasur Ray. Terlihat ada kotak makan yg sudah kosong diatas meja. Lalu Dante dan Gumi yg tertidur di kursi sambil duduk. Gumi perlahan mulai bangun dan membuka matanya. Dan saat sadar, Gumi terkejut karena ternyata dia tertidur di bahu Dante.
"Kya!" teriak Gumi sambil menendang Dante dari kursi.
Dante pun nyunsep di lantai.
"Aduh!" ucap Dante saat nyungsep dan langsung terbangun.
"Kenapa aku bangun-bangun nyungsep disini?" ujar Dante terlihat tak sadar kalau tadi ia ditendang oleh Gumi.
Keributan itu membuat Luka terbangun dari tidurnya.
"Ray-kun masih belum bangun juga?" ucap Luka saat melihat Ray yg masih tertidur.
"Aku mau cuci muka dulu keluar." kata Dante yg bangkit dan berjalan ke arah pintu.
"Sepagi ini?" tanya Gumi.
"Aku dan Aniki memang terbiasa bangun pagi-pagi." jawab Dante berhenti di pintu sambil menoleh ke arah Gumi lalu melanjutkan langkahnya lagi.
"Kenapa tadi kamu berteriak, Gumi-chan?" tanya Luka yg ternyata terbangun oleh teriakan Gumi.
"Aku tak ingin membahas itu." jawab Gumi dengan wajah malu.
"Kalau begitu aku mau beli minuman dulu keluar." ujar Gumi sambil berdiri kemudian keluar dari ruangan itu.
Saat ini Luka pun sendirian bersama Ray yg masih tertidur.
"Ray-kun.." ucap Luka menatap sedih ke arah Ray.
Tiba-tiba jari-jari lengan Ray bergerak dan mengenggam tangan Luka. Ray mulai membukakan matanya.
"Nampaknya aku ada di rumah sakit." ucap Ray dalam hati saat melihat langit-langit ruangan itu.
"Aku mencium bau obat di sekitar sini." sambung Ray dalam hati.
"Selamat pagi, Ray-kun.." ucap Luka sambil tersenyum pada Ray.
Ray pun menoleh ke arah datangnya suara itu. Dan dia melihat Luka tersenyum padanya.
"Megurine-san?" ucap Ray dalam hati terkejut melihat senyuman itu lagi setelah sekian lama.
"Selamat pagi, my queen." sahut Ray membalas senyum pada Luka.
"Syukurlah kamu tidak apa-apa. Padahal aku takut kamu akan meninggalkanku sendirian." ujar Luka dengan mata bekaca-kaca.
"Aku takkan mati semudah itu, my queen." sahut Ray mencoba menengkan Luka.
"Berjanjilah kamu akan tetap disisiku." pinta Luka sambil meletakan tangan ke pipinya.
"Ya, aku berjanji." jawab Ray sambil tersenyum.
"Pipinya halus sekali. Lebih halus dari yg kubayangkan." gumam Ray saat merasakan halusnya pipi Luka.
Wajah Ray sedikit memerah saat itu.
"Papa.. mama.. apakah ini yg disebut cinta? Rasanya aku bahagia sekali saat ini. Hanya dengan melihatnya tersenyum dan merasakannya menyentuh pipiku jantungku berdebar dengan kencang." ujar Luka dalam hati dengan wajah yg memerah juga.
Keesokan harinya, Luka dan Ray sedang berjalan naik gunung pagi-pagi sekali. Mereka mengenakan jaket supaya tidak kedinginan.
"Syukurlah kamu bisa keluar lebih cepat, Ray-kun." ujar Luka yg menuntun Ray.
"Ya. Tapi tidak mau kemana kita? Ini kan jalan ke rumahku." sahut Ray yg masih memegangi bagian dadanya yg masih terasa sakit.
"Ya kita memang mau ke rumahmu. Aku punya kejutan untukmu." jawab Luka sambil tersenyum.
"Jangan membuatku jadi penasaran." balas Ray menatap sayu.
Mereka pun sampai di danau itu. Dan terlihat disana masih agak berkabut karena masih pagi. Bahkan matahari pun belum terbit.
"Ada sesuatu yg berbeda." ujar Ray dalam hati yg melihat sesuatu yg aneh yg tersamarkan kabut.
Luka membawanya terus ketengah danau, namun ternyata memang ada yg aneh. Jembatannya bertambah dan terlihat ada jembatan lain disamping rumahnya menuju ke timur.
"Nampaknya selama aku di rumah sakit, kamu menambakan jembatan lain. Mengejutkan sekali mengingat hanya butuh satu hari melakukan itu." ujar Ray saat Luka mengajaknya menyusuri jembatan itu.
Ray nampak terkejut melihat apa yg ada di ujung jembatan itu.
"Piano?" ucap Ray saat melihat sebuah piano klasik di sebuah tempat khusus.
Ada sebuah saung, atau pondok tak berdinding di ujung jembatan itu dengan piano yg nampak menghadap ke arah timur.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Luka.
"Sama sekali tidak indah." jawab Ray dengan wajah datar.
"Ke-kenapa?" tanya Luka terlihat terkejut dan kecewa.
Ray kemudian berjalan melewati Luka menuju ke arah piano. Luka saat itu terlihat kecewa.
"Sama sekali tidak indah, jika ratuku tak mau menemaniku memainkannya." sambung Ray sambil menoleh dan sedikit berbalik ke arah Luka, dan tersenyum.
Luka terkejut mendengar pernyataan Ray barusan, kepalanya yg tertunduk kemudian melihat ke arah Ray lagi.
"Maukah kamu memainkannya bersamaku, my queen?" tanya Ray sambil mengulurkan tangan kananya pada Luka.
Luka pun malu dan wajahnya memerah karena telah salah sangka. Dan Luka pun menerima uluran tangan Ray. Dia berjalan dengan anggun mendekati Ray. Dan mereka berdua pun berjalan bersama ke arah piano sambil berpegangan tangan dengan elegan. Mereka duduk diatas satu kursi yg sama. Dan mereka pun mulai memainkan melodi-melodi indah bersama. Di arah timur, terlihat langit semakin terang. Dan nampak jelaslah matahari terbit dari danau itu. Menyinari mereka berdua yg sedang memainkan piano bersama. Luka memainkan yg sebelah kanan, sementara Ray yg sebelah kiri sesuai posisi duduk mereka saat itu. Luka saat itu sempat mencuri pandang ke wajah Ray yg tersinari cahaya mentari pagi. Saat Ray melihat ke arah Luka, Luka langsung melihat ke arah depan lagi seakan tak terjadi apa-apa.
"Kenapa aku tiba-tiba jadi gugup begini?" ujar Ray dalam hati yg melihat ke arah depan lagi.
"Jantungku berdegup dengan kencang." ujar Luka dalam hati sambil merem dan wajahnya nampak memerah.
"Awkward moment sedang terjadi disana." ujar seseorang berjaket merah melihat Ray dan Luka dari kejauhan melalui teropong.
"Kalian tiba-tiba menarikku keluar dari kamarku dan mengajakku kemari agar bisa melihat orang pacaran?" ujar Dante yg terlihat keberatan.
"Ini semua rencana Meiko. Aku tidak ikut-ikutan." sahut Kaito yg saat itu memakai sweater biru berdiri dibelakang yg berjaket merah yg sedang berjongkok.
"Bagaimana Meiko-neesan? Apa mereka sudah melakukannya?" tanya Rin yg ternyata juga ikut pada yg berjaket merah.
"Ini kelamaan." gerutu Len.
Rin dan Len saat itu memakai jaket pikach* dari anime pokem*n.
"Makanya kubilang jangan ikut." sahut yg berjaket merah yg tak lain adalah Meiko.
Dikediaman Gakupo, hanya ada Kamui, Gumi. Kemudian tak lama datanglah Miku yg nampak berjalan setengah tidur.
"Selamat pagi Gumi-chan.." sapa Meiko dengan nada mengantuk.
"Selamat pagi, Miku-chan.." sahut Gumi yg duduk di teras samping dojo.
"Aku bingung kenapa rumah sepi banget. Pas bangun tidak ada siapa-siapa disana." ujar Miku sambil duduk lalu menyenderkan kepalanya di tiang dojo itu.
"Ya, Kaito-dono pun menghilang entah kemana." sambung Kamui nongol dari depan dojo.
"Tuh kan, ada sesuatu yg mencurigakan nih pasti." ujar Miku sambil mengucek-ngucek matanya.
"Hahaha.. aku tak bisa mengatakannya pada mereka. Yg ada entar mereka bakalan mengacau." ujar Gumi sambil tersenyum sinis.
"Luka-oneesama.. berjuanglah!" ucap Gumi dengan lantang dalam hati sambil mengepalkan tangannya di depan wajahnya.
Dirumah danau, tepatnya di saung piano Ray dan Luka masih memainkan pianonya bersama.
"Aku harus memberanikan diriku! Aku harus melakukannya!" ucap Luka dalam hati sambil memejamkan matanya lagi berusaha memberikan motivasi pada diri sendiri.
Tiba-tiba Luka pun menghentikan permainan pianonya. Ray pun kaget dan langsung menghentikan permainannya juga.
"Ada apa Megurine-san? Kenapa berhenti?" tanya Ray.
"Ray-kun!" panggil Luka.
Ray agak sedikit kaget juga Luka memanggilnya seperti membentak.
"Aku.." sambung Luka.
Ray hanya menatap Luka dengan penasaran.
"Aku.." ucap Luka lagi terlihat masih gugup.
Ray semakin penasaran. Dan suasana pun hening sejenak.
"Aku tak apa. Lupakan saja." ujar Luka sambil memalingkan wajahnya.
"Hah?" ucap Ray malah jadi heran.
"Aku tak sanggup mengatakannya. Jantungku tak kuat." ujar Luka dalam hati hampir seluruh wajahnya memerah karena malu.
"Megurine-san.." panggil Ray.
Luka pun menoleh. Dan tiba-tiba saja Ray mencium bibirnya. Luka pun terkejut.
"Kenapa Ray-kun menciumku?!!" kata Luka dalam hati merasa terkejut dan wajahnya semakin memerah saja.
Akhirnya Luka pun memejamkan matanya karena malu.
"Mereka melakukannya." ujar Meiko.
"Mana? Aku mau lihat." ucap Rin yg lalu mengambil teropong dari Meiko.
"Oooo.." sambung Rin saat melihatnya juga.
"Hahaha.. untung saja Gakupo tidak diajak. Kalau tidak, bisa ngamuk-ngamuk dia." ujar Kaito dalam hati tersenyum aneh.
Ray dan Luka pun melepaskan ciuman mereka.
"Kenapa kamu menciumku, Ray-kun?" tanya Luka.
"Kupikir kamu juga sudah tahu kan jawabannya." jawab Ray sambil melihat ke arah lain dengan wajah sedikit memerah.
Menyadari Ray sedang malu, Luka pun ikutan malu.
"Bagaimana kalau kita mainkan satu lagu lagi?" ajak Ray sambil tersenyum ke arah Luka.
Luka pun menyandarkan kepalanya di bahu Ray. Dan Ray mulai memainkan melodi-melodi indah dengan piano itu. Dan pagi hari itu mereka lewati berdua dengan alunan sebuah lagu.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】