VocaWorld, chapter 94 - Badai Sudah Berlalu

Luka dikepung oleh 5 major batu. Luka terdesak dan tak bisa menghindar. Ray datang menyelamatkannya dan mengalahkan kelima major itu dengan mudah. Cahaya menyilaukan pun bersinar ditengah derasanya hujan. Dante yg melihat cahaya itu terlihat terkejut.
"Aniki??!!!" teriak Dante saat itu.
Ray terlihat jatuh diatas kedua lututnya.
"Selesai sudah.." ucap Ray sambil kebasahan oleh air hujan yg turun dari langit dengan derasnya.
Dikediaman Gakupo, Miku, Meiko, Kaito dan Kamui terlihat sedang berkumpul. Mereka berdiri dibawah hujan.
"Apa maksudnya tanda dari Shiro Ray?" tanya Meiko.
"Tadi aku ketemu ama dia di jalan. Terus dia ngambil earophoid nya Megurine-senpai dariku dan langsung pergi setelah bilang kalau dia bakalan ngasih tanda." jelas Miku.
"Kenapa kau biarin saja, Hatsune?!" bentak Kaito.
"Hmm.. masalahnya dia saat itu.. eto.. saat itu apa ya yg terjadi? Kenapa aku melepaskannya?" ujar Miku yg nampaknya lupa kejadian bersama Ray tadi.
Kaito pun nepuk jidat karenanya.
"Sebaiknya saya pergi ke tempatnya Luka-tan." ujar Kamui yg lalu melesat ke arah kota.
Di tempat Ray dan Luka, terlihat Ray mencoba berdiri lagi.
"Hebat sekali. Benar-benar heroik. Tak kusangka kau akan benar-benar menggunakannya lagi, The White Light." ujar pemuda berjaket coklat tampak berjalan dengan santai.
Dan dibelakang pemuda itu dari bayangan gedung, muncul beberapa sosok manusia yg berjalan layaknya mayat hidup. Ada sekitar 5 orang, 3 laki-laki dan 2 perempuan. Tatapan mata mereka nampak kosong.
"Mereka dirasuki minor." ucap Luka saat melihat mereka.
"Ya, sebaiknya kamu cepat pergi dari sini, my queen." sahut Ray.
"Kenapa aku harus pergi?" tanya Luka sambil menoleh ke arah Ray.
"Pergi saja! Ini urusanku dengannya." suruh Ray menjawab pertanyaan Luka.
"Pertama kamu meminta maaf karena melibatkanku dan teman-temanku. Sekarang kamu bilang kalau ini hanya urusan antara kalian saja. Jangan bilang kalau selama ini kamu hanya memanfaatkan kami untuk memancingnya keluar." tukas Luka sambil menatap tajam.
"Apa maksudmu? Aku..", "Diamlah! Aku tak perlu penjelasanmu. Akan kulawan kalian semua sekaligus." potong Luka pada penjelasan Ray dengan wajak kesal.
"Pertarungan acak ya? Kelihatannya akan seru, tapi.. nampaknya kaulah yg paling dirugikan disini, The White Light." ujar pemuda berjaket coklat itu menunjuk ke arah Ray.
"Kamu salah. Justru kamulah yg paling dirugikan disini. Karena kalau bukan aku yg mengalahkanmu, pasti dia yg akan mengalahkanmu. Ditambah, kemungkinan saat ini teman-temannya sedang menuju kesini." jawab Ray dengan tenang.
"Apa?!" ucap pemuda itu terlihat terkejut.
Pemuda itu mulai merasa terdesak. Dia mulai mundur kebelakang perlahan.
"Kalian! Serang mereka!!" teriak pemuda berjaket coklat itu memberi perintah pada orang-orang yg dirasuki minor itu.
Kelima orang yg dirasuki minor itu pun mulai menyerang.
"Kuharap, ini masih cukup." ujar Ray yg kemudian berjalan 3 langkah ke depan sambil menghilangkan instrument nya.
Ray pun memberi hormat dengan cara membungkukkan tubuhnya sambil mengayunkan tangan kanannya ke kiri bawah.
"Dance: Elegant Queen." ucap Luka.
Salah seorang dari lima musuh pun hendak menubruk Ray yg sedang membungkuk. Ray menyadari itu dan berputar ke kanan sambil bergerak ke kirinya. Ray menangkap tangannya dan lalu membawanya berputar dan melemparnya ke arah Luka. Luka menyambut orang yg di dorong ke arahnya itu, dan bersamaan dengan Ray yg mengayunkan tubuh orang kedua ke arah Luka, Luka juga memutar dan mengayunkan tubuh orang pertama ke arah Ray. Sehingga tubuh orang pertama dan kedua saling berbenturan dan tak sadarkan diri jatuh ditanah yg basah. Keluar lah kedua minor dari tubuh mereka. Ray melompat ke arah kedua minor itu mencengkeram leher mereka lalu mendorongnya ke arah Luka. Luka menahan pundak kedua minor itu kemudian menariknya kebawah hingga minor itu terputar diudara dan jatuh menghantam tanah. Kedua minor itu pun menghilang. Ray mendarat tepat di hadapan Luka. Kemudian mereka pun saling berpegangan tangan dan mereka saling memutar, saling mendorong, tapi daripada pertarungan itu lebih terlihat seperti dancing. Mereka berdua seperti menari elegant dance bersama. Ketiga musuh mereka pun menyerang ke arah mereka. Namun Ray kemudian memangku tubuh Luka dan memutarnya sehingga menendang mereka bertiga. Ketiga musuh itu pun terpental kebelakang.
"Kenapa ini? Bahkan dia tidak menggunakan dance acceleration nya. Tapi dia masih bisa lebih dominan dariku." pikir Luka sambil adu dance dengan Ray.
Ketiga musuh itu pun mencoba menyerang ke arah mereka lagi. Ray kemudian mendekap tubuh Luka lalu memegang tangan kanannya. Mereka berjalan bersama menuju ke arah musuh. Saat yg paling depan hendak menyerang mereka, mereka pun berpisah dan menangkap yg ada di kiri dan kanannya. Ray dan Luka pun mengayunkan mereka sehingga menghantam yg paling depan hingga mereka semua pun ambruk.
"Apa?! Mereka mampu mengalahkan para minor itu? Tidak mungkin. Padahal mereka bilang akan semakin menyerang, tapi kenapa mereka malah seperti bekerja sama?" ujar pemuda berjaket coklat itu dalam hati bertanya-tanya.
Terlihat saat itu Luka dan juga Ray menyerang musuh-musuh mereka dengan gerakan yg serasi.
"Ini tidak mungkin!!! Mereka punya gerakan yg seperti itu? Padahal mereka musuh. Tapi kecocokan gerakan mereka.. tidak mungkin.." ujar pemuda itu tak percaya melihat Ray dan Luka yg melakukan dancing berdua secara sempurna.
Padahal saat itu Luka memang benar-benar hendak menyerang Ray. Dia berusaha mendominasi gerakan, namun selalu kalah oleh Ray.
"Aku ratu, tapi aku tak bisa mendominasi dancingku sendiri saat bersama Ray-kun. Kenapa?" ucap Luka saat diputar oleh Ray lalu menendang salah satu musuh dan setelah itu ditarik kembali mendekati Ray.

Dibawah hujan yg masih turun dengan deras itu, Ray dan Luka terlihat sedang berdansa dengan indah. Ray dan Luka kemudian saat itu terpisah, dan mereka menyerang musuh mereka masing-masing. Mereka membuat musuh mereka berdansa bersama lalu membantingnya. Ray nampak memberi hormat seperti saat pertama, sementara Luka berpose seperti seorang ratu.
"Shall we continue?" tanya Ray menengok ke arah Luka sambil tersenyum.
Kemudian mereka berputar sambil saling menghampiri. Dan saat dekat, mereka pun berhenti dan tangan Ray pun memegang tangan Luka yg ada diatas tangan Ray. Minor dari kedua musuh yg dijatuhkan mulai keluar. Ray dan Luka pun saling menarik, dan lalu menendang minor yg ada dibelakang pasangan mereka. Dan kedua minor itu pun menghilang.
"Jangan bilang kalau dugaanku salah. The White Light masih.. cih, kelihatanya orang itu memberikan informasi palsu padaku. Saatnya pergi." gerutu pemuda berjaket coklat itu yg lalu melompat pergi.
Sementara orang yg dirasuki minor itu tinggal satu lagi. Dan dia hendak menembakkan bom shockwave. Ray dan Luka pun kembali berpisah dan berputar menghindari tembakan itu. Terlihat bom itu menimbulkan ledakan angin yg cukup kuat. Kemudian mereka pun lari di dua sisi berbeda mendekati musuh, lalu mereka menangkap kedua tangannya. Mereka berlari bertukar posisi sehingga orang yg dirasuki minor itu pun berbalik. Ray saat itu menangkap tangan kiri sementara Luka tangan kanan. Ray dan Luka kemudian sama-sama menginjak pundak orang itu sambil menarik lengannya. Dan minor itu pun keluar, lalu Ray juga Luka melompat bertumpu pada pundak orang yg dirasuki minor tersebut tadi. Mereka berputar ke arah yg berlawanan lalu menendang minor hingga musnah. Dan saat ini Ray dan Luka pun nampak berhadapan.
"Itu mereka." ucap Kamui yg melihat Ray dan Luka dari kejauhan.
"Menjauh dari Luka-tan!!!" teriak Kamui yg melompat dan melesat dengam cepat ke arah Ray hendak menebas.
Ray yg melihat Kamui hendak melakukan tebasan langsung saja mendorong tubuh Luka. Sementara Ray juga melompat kebelakang untuk menghindar. Tebasan Kamui pun hanya mengenai tanah.
"Menjauhlah dari Luka-tan." suruh Kamui sambil menodongkan katana nya ke arah Ray.
Katana yg bersinar keunguan itu ujungnya tepat ke arah hidung Ray. Kamui pun melakukan tebasan tiba-tiba, hal itu membuat Ray terkejut dan mundur ke belakang.
"Ayo gunakan dance anda." suruh Kamui.
"Maaf, aku tidak bisa." jawab Ray.
"Anda meremehkan saya ya, The White Light-dono? Kalau begitu akan kutunjukkan kalau saya benar-benar hebat." ujar Kamui sambil mengambil kuda-kuda.
Kemudian Kamui berlari ke arah Ray dan menebasnya. Ray mampu menghindar dengan baik, namun Kamui mempercepat tebasannya. Ray mulai kewalahan dan beberapa bagian tubuhnya banyak luka sayatan kecil. Ray melompat kebelakang, menunduk, dan berputar melewati Kamui menghindari tebasan Kamui.
"Gerakannya sedikit berbeda. Ini aneh.." komentar Luka dalam hati.
"Hiiaaa..!!" teriak Kamui sambil menebas diagonal ke kanan atas.
Tebasan sangat cepat itu pun mampu menyayat tubuh Ray meskipun mencoba melompat kebelakang.
"Ray-kun jadi lebih lambat." ujar Luka dalam hati.
Kamui hendak melakukan tebasan lagi, kali ini vertikal ke bawah. Disaat seperti itu, Dante datang menahan tebasan Kamui dengan gitarnya. Kemudian Dante menendang perut Kamui untuk menjauhkannya dari Ray. Kamui pun terpental.
"Aniki, kau tak apa?" tanya Dante.
"Iya." jawab Ray.
"Kenapa Aniki menggunakannya sekarang? Kupikir itu sengaja disimpan untuk nanti?" tanya Dante.
"Aku tak punya pilihan lain, Dante." jawab Ray.
Tak lama kemudian Miku, Meiko, Kaito, Rin dan Len pun datang.
"Megurine-senpai!" panggil Miku sambil menghampiri Luka.
"Ray-kun!" panggil Luka.
Ray pun melirik ke arah Luka sambil membelakangi Luka.
"Tolong katakan padaku, apa benar selama ini kamu melakukan hal ini hanya untuk memanfaatkan kami? Atau bahkan menggunakan kami sebagai bahan percobaan melawan major dan bahan latihan untuk dia itu?" suruh Luka menanyakan kejujuran Ray.
"Kalau aku bilang tidak, apa kamu percaya?" sahut Ray.
Luka hanya menatap tajam tanpa bicara apapun.
"Alasan apapun yg kuungkapkan padamu saat ini, hanya akan ditolak mentah-mentah oleh pikiranmu. Jadi tidak akan ada gunanya." sambung Ray.
"Tapi jika kamu memang butuh jawaban, akan kukatakan. Saat ini aku melakukan apa yg harus kulakukan." tambah Ray.
"Dengan cara memanfaatkan kami?" tanya Luka lagi dengan wajah marah.
"Jika memang itu yg diperlukan." jawab Ray.
"Aku membencimu, Ray-kun!" ucap Luka dengan lantang.
Ray pun menundukkan kepalanya lalu tersenyum.
"Begitu ya.. kalau begitu aku akan umumkan pertarungan terakhir kita nanti." ujar Ray dengan mata yg terlihat gelap.
"Terakhir?" ucap Luka sambil menyipitkan matanya.
"Ya, jika kalian mampu membunuhku, maka kalian menang." jawab Ray.
Semuanya pun terkejut mendengar hal itu.
"Tempatnya bebas. Kalian bersiap-siap saja dengan kedatanganku. Waktunya, besok sore hari." tambah Ray.
"Aniki.." ujar Dante.
"Dante, kita pulang." kata Ray sambil menatap ke arah Dante.
Dante terlihat mengetahui sesuatu, kemudian Dante mendekap tubuh Ray dan membawanya pergi.

Hujan sudah mulai reda, matahari mulai bersinar melalui sela-sela awan. Di dojo kediaman Gakupo, Luka dan yg lainnya pun melakukan rapat. Mereka tampak duduk dengan posisi membentuk lingkaran.
"Megurine-san, tadi maksudnya apa?" tanya Meiko.
"Iya, maksudnya memanfaatkan kita tuh apa?" tambah Kaito.
"Selama ini dia menggunakan kita untuk melawan para darksider adalah untuk mendapatkan data cara mengalahkan mereka. Ditambah, dia menyuruh kita melawan adiknya itu untuk melatih kemampuan bertarung adiknya." jelas Luka.
"Menurutku ada yg salah dengan teori Luka-oneesama." ujar Gumi.
"Salah dimana nya?" tanya Luka.
"Aku sudah bertarung berkali-kali melawan pangeran kegelapan sebulan ini, dan rasanya tidak seperti itu." jawab Gumi.
"Kenapa Gumi-chan tiba-tiba jadi membela mereka?" tanya Luka lagi.
"Bukannya membela sih, cuma.. perasaanku mengatakan begitu." jelas Gumi.
"Iya, Ray-niichan bukan orang seperti itu. Dia sangat baik padaku." sambung Rin.
"Itu hanya kamuflase. Agar kita lengah saja." bantah Luka.
"Tapi kalau dipikir-pikir ada benarnya juga. Tak ada alasan untuknya melakukan semua itu. Memang kalau sudah tahu cara mengalahkan darksider mereka mau apa? Itu yg membingungkan." ujar Meiko sembari berpikir.
"Kenapa kalian semua malah jadi menyalahkan aku?" gerutu Luka.
"Saya tidak menyalahkan anda, Luka-tan!!!" teriak Kamui sambil melompat ke arah Luka.
Luka pun menangkap tangan Kamui dan mendorongnya searah dengan lompatan Kamui. Dan hal itu membuat Kamui terlempar keluar dojo dan nyuksruk alias nyungsep di tanah.
"Lebih baik aku keluar saja. Disinipun aku hanya disalahkan." ujar Luka yg ngambek lalu pergi keluar dojo.
Luka pun pergi meninggalkan kediaman Gakupo. Di rumah danau, Ray terlihat sedang di perban oleh Dante. Ray melanjutkan memancing yg sempat tertunda.
"Aniki kenapa menggukan teknik itu?" tanya Dante.
"Sudah kubilang aku tak punya pilihan lain." jawab Ray menegaskan.
"Hmm.. apa karena gadis itu?" tanya Dante.
Ray hanya terdiam saat ditanya begitu.
"Tapi bagaimana caranya kita menghadapi mereka besok? Aniki sudah menggunakan teknik itu tadi. Aniki pasti.." ujar Dante yg kemudian terpotong karena tatapan mata Ray.
"Tenang saja, kalau kamu tak ikut kamu takkan terlibat." kata Ray sambil menatap sayu pada Dante.
"Tidak! Pokoknya aku akan selalu mengikuti Aniki!" tolak Dante menyelesaikan balutan perbannya di tubuh Ray.
"Merepotkan sekali." sahut Ray.
"Kenapa malah bilang merepotkan?!!" protes Dante.
Luka saat itu sedang berjalan menyusuri sungai ke arah barat. Luka nampak berjalan sambil memikirkan sesuatu.
"Aku yakin aku benar. Tapi kenapa mereka malah membela Ray-kun?" pikir Luka.
Tanpa disadari saat itu rumahnya sudah kelewatan karena terlalu sibuk berpikir.
"Alasan? Memangnya mesti ada sebuah alasan untuk itu semua? Mereka itu penjahat kan?" gumam Luka sambil berjalan terus ke barat.
"Mungkin aku harus menemui mereka lagi." ujar Luka sambil menegakkan kepalanya lagi dan melihat ke depan.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】