VocaWorld, chapter 106 - Kamu Telah Berbeda

Miku mulai tersadar dari pingsannya. Dia membuka matanya perlahan. Miku bingung karena tak kenal dengan tempat dimana ia tersadar. Disana hanya ada reruntuhan sebuah bangunan yg tidak diketahui bekas bangunan apa. Reruntuhan itu cukup luas, dan berada di tengah hutan mulai ditumbuhi lumut.
"Dimana ini?" ucap Miku bertanya-tanya karena tidak tahu dimana dia berada.
"Welcome home, Hatsune Miku!" ucap June yg duduk disebuah kursi sambil bergerser ke depan Miku.
"Whoa.. si penjahat bego!" ucap Miku saat melihat June.
"Kenapa aku terikat disini!?" sambung Miku saat sadar kalau dirinya di ikat ke sebuah tiang bangunan yg cukup besar.
"Jangan takut, kalau The White Light mau menyerahkan dirinya maka aku akan melepaskanmu. Bisa dibilang saat ini aku akan menjadikan mu alat barter." ujar June sambil tersenyum dengan penuh percaya diri.
"Hah? Apa? Hahaha.. tidak ada hubungannya kan Ray dengan barter." sahut Miku.
"Maksudnya?" tanya June tidak mengerti.
"Haha.. bodoh ya? Ray kan manusia. Kalau barter kan buat sumber energi listrik." jawab Miku.
"Kau yg bodoh! Itu baterai!" bentak June.
"Eh, benarkah?" ucap Miku dengan tampang bodoh.
"Iyalah.. aku yakin. Soalnya semalaman aku mencarinya di kamus supaya pas kamu bangun aku bisa menggunakan kata barter ini biar terlihat keren." sahut June.
"Hahaha.. ternyata kamu juga bego. Masa nyari kata barter aja sampai semalaman." ejek Miku.
"Jangat tertawa! Aku susah payah tahu nyarinya. Mesti dari huruf z dahulu!" kata June dengan geram.
"Jadi kamu mencari yg artinya 'tukar menukar' satu persatu dari huruf z dahulu? Sungguh tidak praktis sekali." ujar Ray yg sudah ada di belakang June.
"Oohh.. kau sudah datang ya? Baguslah.. jadi bisa kita mulai kan baterai ini?" ujar June saat berbalik dan melihat Ray.
"Baterai?" ucap Ray sambil memiringkan kepalanya.
"Aaaaaa!!! Sial! Aku jadi salah bicara!! Semua gara-gara gadis sialan ini!" teriak June dalam hati dengan suara dalam sambil menoleh ke arah Miku.
"Hahaha.. baterai. Hahahaha.. yg bener tuh barter kali. Hahaha.." ujar Miku menertawakan June.
"Jangan tertawa! Ini semua kan salahmu!! Gara-garamu aku jadi tidak keren!" bentak June pada Miku.
"Ah sial, oke kita lakukan saja sekarang. Ayo cepat berlutut ditanah serahkan dirimu!" suruh June pada Ray karena sudah kesal menunggu.
"Jadi aku mesti berlutut apa menyerahkan diri?" tanya Ray.
"Iya berlutut menyerahkan diri." jawab June.
"Ya kalau berlutut tak mungkin menyerahkan diri." ujar Ray.
"Maksudnya?" tanya June.
"Kan berlutut mah diam di tempat. Kalau menyerahkan diri itu aku harus bergerak ke arahmu." jawab Ray.
"Dia benar! Tapi kalau aku suruh dia menyerahkan diri kemari yg ada entar aku diserang olehnya." pikir June dengan wajah terkejut.
"Ya sudah kamu berlutut saja disana." suruh June.
"Lah katanya aku kesini disuruh menyerahkan diri untuk ditukar dengan sang putri. Kok sekarang malah di suruh berlutut?" tanya Ray.
"K-kau.. mengesalkan!!!" ujar June dengan greget dan kesal juga jengkel.
Ray hanya tersenyum ke arah June seperti meledek June.
"Jika kamu ingin gadis itu kembali, segera berlutut!" suruh June sambil menunjuk ke belakang.
"Gadis yg mana?" tanya Ray.
"Gadis yg itu!" jawab June sambil menoleh ke belakang.
Ternyata Miku sudah tidak ada dan hanya ada tiang dan tali yg tergeletak ditanah saja.
"Hah?!! Kemana dia!!! Bagaimana dia bisa meloloskan diri!!?" pekik June yg tak percaya dengan apa yg dia lihat.
June kemudian menoleh ke arah depan lagi dan Ray pun sudah hilang.
"Sialan! Aku ditipu!! Kurang ajar kau, The White Light!!!" teriak June ke arah langit karena marah.

Di dalam rimbunnya hutan, terlihat Meiko dan Kaito sedang bersama Miku dan berlari menuju Voca Town.
"Tadi itu benar-benar pengalihan paling aneh dalam sejarah pembebasan sandera." ujar Kaito.
"Sudahlah, Kaito. Yg penting kita berhasil mendapatkan Miku-chan kembali." sahut Meiko.
"Tapi tadi itu tidak keren banget. Harusnya yg namanya mengalihkan perhatian itu dengan aksi dan berkelahi dengan penyandera nya kan?" balas Kaito.
"Tapi menurutku tadi itu sudah keren kok. Jarang-jarang ada yg bisa membebaskan sandera hanya dengan mengajak penyandera nya mengobrol." jawab Meiko.
"Haha.. iya juga sih." ujar Kaito sambil tersenyum aneh.
"Tapi ngomong-ngomong Shiro Ray tidak kelihatan dari tadi? Kemana dia?" tanya Miku sambil menoleh ke belakang.
"Dia bilang setelah menyelamatkan Miku-chan, dia punya urusan lain. Jadi takkan kembali dulu." jawab Meiko.
"Ya, kami tidak tahu mau apa dia. Jalan pikiran orang itu sangat sulit ditebak." sambung Kaito.
Sementara itu di reruntuhan laboratorium, June kembali ke pesawat yg tak terlihat dengan menggunakan cahaya penyedot pesawat itu. Tak jauh dari situ, dibalik dinding reruntuhan, Ray tersenyum.
"Sudah kuduga, setelah semua rencananya gagal dia akan langsung pergi tanpa memeriksa daerah sekitar." ujar Ray sambil keluar dari balik dinding setelah memastikan June pergi.
Ray berjalan ke arah bangunan, atau mungkin sebuah ruangan yg masih berdiri tegak. Ray masuk ke dalam ruangan itu dan melihat ke sekitarnya.
"Pantas ruangan ini tidak ikut hancur waktu itu. Ternyata dindingnya dilapisi oleh baja." ujar Ray sambil mendekati dinding itu kemudian melihat bagian berlubang di dinding itu.
"Ini adalah sebuah penjara. Ada seseorang yg dikurung disini dan dipaksa melakukan penelitian." ujar Ray sambil mendekati sebuah tabung raksasa.
"Tapi siapa yg ada disini? Aku belum pernah masuk ruangan ini sebelumnya karena ruangan ini selalu terkunci. Bahkan ruangan ini masih terkunci setahun yg lalu. Jadi, dia memilih tempat ini karena dia ingin sekalian membuka ruangan ini. Namun bagaimana orang itu bisa membukanya? Hanya orang yg tahu passwordnya saja yg bisa membukanya." pikir Ray sambil berdiri.
Di rumah Miku, terlihat Luka, Rin dan Len sudah menunggu.
"Apa rencana kakak itu akan berhasil?" tanya Len merasa tak yakin pada Ray.
"Apa maksudmu, Len? Tentu saja rencana Ray-niichan akan berhasil. Dia kan pintar, tidak sepertimu." jawab Rin.
"Hah? Jadi maksudmu aku ini bodoh!" bentak Len merasa kesal melotot ke arah Rin.
Rin pun membalas menatap Len dengan wajah kesal.
"Sudah-sudah.. kenapa kalian jadi ribut sih? Kita tunggu saja hasilnya. Aku yakin sebentar lagi mereka akan datang." ujar Luka berusaha melerai mereka.
"Kami pulang!" ucap Meiko dan Kaito.
Miku, Meiko dan Kaito masuk dari arah pintu depan. Rin dan Len berlari ke arah pintu depan untuk menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang!" ucap Rin dan Len pada mereka.
"Wah.. Miku-nee sudah kembali ya. Berarti rencananya berhasil dong." ujar Len saat melihat Miku.
"Tuh kan apa aku bilang. Rencana Ray-niichan tidak mungkin gagal." sahut Rin.
"Tapi kan tetap saja kalau rencananya seperti itu sangat mengkhawatirkan." balas Len.
"Tapi kan pastinya Ray-niichan sudah mempertimbangkannya kan." kata Rin tidak mau kalah.
"Kenapa daritadi kalian malah membahas rencana-rencana terus? Apa kalian lebih khawatir pada rencana dibandingkan aku?" protes Miku.
"Ya! Memang kenapa?" jawab Rin dan Len bersamaan menengok ke arah Miku.
"Hahaha.. mungkin aku harusnya jangan pulang saja. Hahaha.." ujar Miku dengan suara suram jongkok dipojokan pintu depan.
Meiko pun langsung menjitak kepala Rin dan Len. Rin dan Len pun langsung berjongkok sambil memegangi kepalanya karena sakit.
"Lihat apa yg kalian perbuat! Ayo minta maaf!!" suruh Meiko dengan tegas.
"Maafkan kami, Miku-neechan.", "Maafkan kami, Miku-nee." ujar Rin dan Len bersamaan.
Kemudian Kaito pulang karena mesti menyiapkan makan malam untuk Kamui. Dan di sofa, terlihat Luka duduk dengan tidak tenang.
"Kenapa Ray-kun belum kembali juga?" tanya Luka sambil melihat jam di ponselnya dan tertera kalau itu jam 6 lewat 5 menit.
"Mungkin dia langsung pulang ke rumah." jawab Miku.
"Itu tidak mungkin. Tadi dia bilang kalau setelah menyelamatkan Miku-chan dia akan mampir kemari untuk makan." ujar Luka.
"Jadi dia mau numpang makan disini? Enak saja, emang dirumahnya tidak ada makanan?" gerutu Miku yg terlihat tak setuju.
"Bukan dia sebenarnya yg meminta makan disini, tapi aku. Aku menyuruhnya untuk makan disini." jelas Luka.
"Ehh!? Kenapa menapa Megurine-senpai malah mengajaknya? Entar jatah makananku berkurang." kata Miku sambil cermberut.
"Kalau itu tenang saja. Aku sudah belikan bahan masakan lebih banyak dari biasanya." jawab Luka sambil berdiri dan meletakan ponselnya di telinganya.
Luka berjalan mendekati jendela. Terdengar suara nada tunggu panggilan telpon.
"Halo, Ray-kun? Kenapa belum pulang juga?" tanya Luka melalui ponsel itu.
"Haha.. Megurine-san kata yg kamu pakai sedikit keliru. Kalau pulang itu kerumah sendiri. Kalau kesana kan artinya aku hanya mampir." sahut Ray melalui panggilan telpon, terdengar dari ponselnya Luka.
"Iya sih.. tapi kan.." ujar Luka.
"Atau jangan-jangan kamu menganggap aku itu..", "Aaa! Tidak kok, kamu salah! Aaaa!! Sudah! Pokoknya terserah kamu! Mau kesini atau tidak pun aku tidak peduli. Dah!" potong Luka pada perkataan Ray lalu menutup panggilan.
Wajah Luka terlihat sangat merah karena malu.
"Kenapa wajah Megurine-senpai merah begitu?" tanya Miku saat melihat Luka malu.
"Haha.. paling dia telponan dengan pacarnya itu." sahut Meiko.
"Pacar?! Megurine-senpai punya pacar?!!" kata Miku terkejut.
"Haha.. bercanda kok." jawab Meiko.
"Aku lupa Megurine-san menyuruhku merahasiakannya." kata Meiko dalam hati.

Sementara itu disebuah atap gedung Gumi dan Dante sedang berdiri berhadapan.
"Jadi kamu yakin akan menantangku?" tanya Dante.
"Ya, aku yakin bisa mengalahkanmu. Kalau dia saja bisa, aku juga pasti bisa." jawab Gumi.
"Dia? Maksudmu Aniki? Yg perlu kamu ketahui cara Aniki mengalahkanku itu berbeda. Dia..", "Diam! Jangan banyak bicara! Lawan saja aku!" bentak Gumi memotong penjelasan Dante.
"Kelihatannya aku sedikit mengerti apa yg terjadi." ujar Dante.
Gumi dan Dante pun berubah dan saling bersiap untuk menyerang
"Dance: Happy Rabbit!", "Dance: Brutal!" ucap Gumi dan Dante bersamaan.
Gumi pun melesat dengan cepat ke arah Dante dan menendang Dante. Dante menahan tendangan itu dengan kedua tangannya meski sedikit terseret kebelakang.
"Tendangannya kuat sekali. Tapi.." ucap Dante dalam hati saat berhenti terseret ke belakang.
Gumi datang lagi dari depan. Dia menendang lagi dari depan, Dante bisa menghindarinya dengan mudah dengan bergerak kesamping. Gumi lalu menendang ke arah samping ke arah Dante. Tapi Dante dengan mudah menendang kaki Gumi hingga terjatuh.
"Sudah kuduga. Kamu kehilangan ketenangan hatimu. Seranganmu terlalu brutal dan membabi buta." ujar Dante.
"Sudah kubilang jangan banyak bicara!" bentak Gumi lalu berusaha menendang wajah Dante.
Namun Dante mampu mematahkan serangan itu dengan begitu mudah. Dia hanya memiringkan kepalanya ke kanan sambil melakukan tendangan dengan kaki kirinya. Tepat ke arah pantat Gumi sampai Gumi terlempar ke samping kanannya dan berguling dua kali di lantai.
"Kalau terus seperti itu, jangankan aku yg sekarang. Aku yg dulu pun bisa mengalahkanmu dengan mudah!" bentak Dante.
"Apa kamu menganggapku lemah! Aku ini lebih kuat dari dia! Aku lebih kuat!! Kalau seandainya waktu itu dia tidak memanfaatkan kami, kami pasti.. kami pasti bisa mengalahkanmu saat itu!!" bentak Gumi balik.
"Kau salah! Sejak dulu aku tak pernah menganggapmu lemah!! Kemana sang pahlawan Angin Senja yg kukenal!!? Kemana hembusa angin yg mampu meniup 1.000 pasukanku dalam sekejap!! Kemana!!?" tanya Dante dengan marah.
"Hahaha.. pemandangan yg luar bisa. Tuan Lucifer, akhirnya anda berani juga mendekati seorang gadis. Saya sangat terharu.." ujar June yg tiba-tiba muncul bersama pesawat besar.
"Kau muncul disaat yg tidak tepat, JB." kata Dante kesal terhadap kedatangan June.
"Senang rasanya bisa membuat anda kesal, tuan Lucifer." sahut June sambil membungkukkan badannya memberi hormat.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】