VocaWorld, chapter 114 - Angin Perubahan (Mengintai Dan Di Intai)
Kamui dan Gumi terlihat sedang bersiap-siap pergi. Mereka berdua mengenakan earophoid mereka dan berubah. Mereka pun pergi keluar dan berjalan menuju gerbang depan.
"Angin Fajar! Angin Senja! Kalian mau kemana?" tanya Aisyah yg berlari mengejar Kamui dan Gumi.
"Kami hendak mencari paman El Rosyid." jawab Gumi.
"Tapi kenapa diluar?" tanya Aisyah lagi sambil berhenti.
"Di dalam juga kalian sudah cari dan tidak ketemu kan?" ujar Kamui.
"Karena itu kami mau mencarinya diluar. Karena mungkin saja dia menyamar dan pergi keluar diam-diam." sambung Gumi.
"Tapi diluar itu berbahaya." ujar Aisyah.
"Kami tahu. Tenang saja, kami bisa mengatasinya." sahut Kamui.
"Kalau kami bisa kesini tanpa diketahui pasukan musuh, itu artinya akan lebih mudah kalau hanya berjalan-jalan disekitar sini tanpa ketahuan." tambah Gumi.
Aisyah pun terdiam karena sudah tak punya sanggahan lagi.
"Kalau begitu kami pergi dulu." ujar Kamui pamitan.
Dan mereka berdua pun berjalan menuju ke gerbang.
"Yg mereka lakukan benar. Aku baru saja tanya pada penjaga. Pagi tadi ada orang mencurigakan keluar dengan alasan hendak membuang sampah. Bisajadi itu El Rosyid." kata kapten Al Hadid yg sudah berdiri dibelakang Aisyah.
"Kapten?!" ucap Aisyah terkejut melihat kaptennya sudah berdiri dibelakangnya.
"Sebaiknya kita juga pergi. Aku akan menyiapkan pasukan untuk menyisir daerah sekitar sini. Kita akan pergi membantu mereka berdua." sambung kapten Al Hadid.
Setelah Kamui dan Gumi pergi, para pasukan bawahan kapten Al Hadid terlihat keluar dari markas dan berpencar menjadi beberapa kelompok dan menyebar ke segala arah. Sementara Kamui dan Gumi hanya berdua saja menuju ke arah barat.
"Megu, apa kamu yakin El Rosyid-dono memang keluar?" tanya Kamui pada Gumi yg ada disebelahnya.
"Ya, tidak salah lagi. Ditambah, kembang api malam itu terlihat mencurigakan. Dan nampak seperti semacam pengalihan." jawab Gumi.
"Maksudmu pengalihan adalah agar kita tidak sadar kalau El Rosyid-dono menghilang? Berarti El Rosyid-dono menghilang sejak semalam." kata Kamui.
"Ya, tepat sekali. Tapi kembang api itu tak mungkin disiapkan oleh dirinya, mengingat dia seharian menginterogasi tawanan." tambah Gumi.
"Jadi itu artinya El Rosyid-dono diculik oleh seseorang." ujar Kamui.
"Ya. Tumben kamu cepat tanggap, Gaku-Gaku. Habis makan apa tadi pagi?" sahut Gumi.
"Hah? Apa hubungannya dengan makanan?" tanya Kamui yg jadi bingung.
"Sudahlah, lupakan saja." balas Gumi.
Kamui dan Gumi pun melanjutkan perjalanan mereka. Saat sampai dipersimpangan mereka berhenti.
"Aku akan ke kanan, kamu ke kiri." suruh Gumi.
Dan mereka berdua pun berpencar kedua arah berbeda.
Jauh dibarat, disebuah bangunan kosong, El Rosyid terikat menggantung disebuah ruangan layaknya samsak tinju.
"Ini memalukan, aku bisa tertangkap oleh seorang anak kecil." ujar El Rosyid merasa kesal.
"Tidak apa-apa kan? Sekali-kali biar anti mainstream." ujar laki-laki yg kini mengenakan sorban untuk menutup wajahnya itu.
Dan mengenakan lagi goggle berwarna hitamnya.
"Siapa sebenarnya kamu ini? Kenapa kamu menangkapku seperti ini? Bukankah kita sama-sama dari pasukan pengintai?" tanya El Rosyid.
"Justru karena kamu dari pasukan pengintai, makanya aku menangkapmu." jawab laki-laki bersorban itu.
"Apa? Apa maksudnya?" tanya El Rosyid lagi karena tidak mengerti.
"Kamu akan mengetahuinya nanti. Saat ini kita akan kedatangan tamu." sahut laki-laki itu.
Tak lama kemudian datanglah orang-orang berjubah hitam. Mereka tidak lain adalah pasukan pengintai.
"Apa benar yg kau katakan itu kalau dia berkhianat pada kita dan dia sebenarnya adalah mata-mata musuh?" tanya salah seorang anggota pasukan pengintai yg paling depan.
Dia membuka penutup kepala jubahnya, dan nampaklah senyum menyeringai dan mata sipit yg terlihat seperti tertutup terus itu. Rambut ikalnya itu terlihat jelas berwarna krem.
"Jangan percaya pada bocah itu! Dia itu anak baru!" kata El Rosyid berusaha membela diri.
Orang yg berbada tinggi besar pun menghampirinya.
"Kami tentu lebih percaya padanya, sebab kami melihat dengan jelas saat ini pasukan mindy sedang mencarimu." ujar orang berbadan tinggi besar dengan tatapan tajam itu.
"Darimana kalian tahu kalau mereka sedang mencariku? Bukankah kalian tak punya bukti?" kata El Rosyid bertanya dan tak mau mengaku.
"Ekspresi wajah dan pergerakan mereka. Secara psikologis, mereka tampak khawatir. Dan tak mungkin mereka khawatir pada musuh ataupun orang yg baru mereka kenal sampai seperti itu. Iya kan kak?" jelas seorang gadis sambil membuka penutup kepalanya lalu menoleh ke arah laki-laki disebelahnya.
"Tepat. Mereka terlihat begitu semangat mencarimu. Dan itu juga jelas terlihat dari mereka yg hanya mengirim satu pasukan kecil. Karena kalau kamu adalah tawanan atau buronan, pasti mereka akan mencari dengan pasukan yg lebih besar biar cepat tertangkap." sambung laki-laki disebelahnya sambil membuka penutup kepalanya.
Terlihatlah dengan jelas wajah kakak beradik itu yg sama-sama berambut coklat kemerahan. Sang kakak berambut panjang dan sang adik berambut pendek sebahu.
"Ya benar sekali, mereka khawatir padamu. Tapi kamu malah dengan kejamnya membongkar informasi rute pelarian mereka. Untung saja dua pahlawan menyelamatkan mereka." ujar si mata sipit terlihat masih saja tersenyum.
Sementara laki-laki bersorban hanya diam dan menyaksikan sambil bersandar di dinding dekat jendela. Dan terlihat orang-orang berjubah hitam yg lain juga mulai bermunculan di bangunan itu.
"Jika kamu mau mengatakan dimana mereka, mungkin kami akan memaafkanmu." sambung si mata sipit yg terus tersenyum itu.
Di suatu tempat, Aisyah menemukan sebuah sebuah sampah. Sampah kotak nasi terbuat dari stereofoam. Terlihat sangat mencolok dengan disekitarnya yg nampak kebanyakan sampahnya hanya berupa dedaunan, kertas dan plastik.
"Kenapa ini ada disini?" ucap Aisyah sambil mengambil kotak nasi itu.
"Kapten, saya sedang ada di barat daya dan saya menemukan sesuatu yg aneh? Ganti." lapor Aisyah pada kapten Al Hadid melalui radio.
"Sesuatu apa? Ganti." tanya kapten Al Hadid suaranya terdengar di radio.
"Saya menemukan sampah kotak nasi. Ganti." sahut Aisyah.
"Kalau cuma menemukan hal itu jangan lapor. Ganti." gerutu kapten Al Hadid.
"Tapi baunya mirip makan malam kita. Dan masih segar, belum busuk. Ganti." sahut Aisyah.
Kemudian radio itu hening sejenak.
"Baiklah laporan diterima. Kami akan segera kesana. Ganti." ujar kapten Al Hadid.
"Siap." balas Aisyah.
Di tempat lain, Gumi yg sedang mencari dikejutkan oleh sosok hitam lewat di depan Gumi. Gumi pun kemudian mengintip dari balik dinding, dan ia melihat kalau itu sosok manusia mengenakan jubah hitam.
"Siapa dia? Dia terlihat mencurigakan. Aku akan mengikutinya." ujar Gumi dalam hati lalu mengendap-endap mengikuti dari belakang.
"Dia menuju ke utara? Kenapa dia begitu terburu-buru?" gumam Gumi yg melihat dia berjalan cepat sejak tadi.
Gumi mengikuti dia dengan sembunyi-sembunyi. Sementara itu Kamui sedang berjalan dengan santai melihat ke kiri dan ke kanan.
"Disini sepi banget. Kota ini benar-benar telah ditinggalkan karena perang ya." ujar Kamui yg tampak santai bersila tangan.
Jauh di depan dia melihat Gumi mengendap-endap mengikuti seseorang.
"Wah.. itu Megu. Woy Megu!!!" teriak Kamui memanggil Gumi.
Gumi terkejut karena Kamui tiba-tiba memanggil namanya begitu saja padal Gumi sedang memata-matai seseorang. Orang yg sedang diikuti oleh Gumi pun menyadari kehadiran Gumi dan menoleh. Setelah dia melihat Gumi lalu dia pun berusaha kabur.
"Sial!" pekik Gumi kemudian berlari secepat kilat.
"Kamu takkan bisa lari." ucap Gumi muncul di depan orang itu.
Gumi menendang perut orang itu dengan lutut kaki kanannya. Kemudian Gumi juga menendang bagian tengkuk orang itu dengan kaki kirinya sehingga orang itu terjungkal ke depan.
"Megu!!!" teriak Kamui berlari menghampiri Gumi.
Gumi melompat dan menendang wajah Kamui hingga Kamui terpental kebelakang dan terseret ditanah sejauh 10 meter lebih.
"Dasar bodoh! Kenapa kamu malah memanggilku!? Aku itu sedang mengintai orang ini!!" bentak Gumi.
Jauh dari bangunan di ujung jalan, laki-laki bersorban melihat mereka berdua.
"Mereka sudah datang." ucap laki-laki itu menoleh mengintip melalui jendela disebelahnya.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.