VocaWorld, chapter 112 - Angin Perubahan (Api Amarah)

Kapten Al Hadid datang ke ruangan istirahat pasukannya setelah selesai meninterogasi tawanan.
"Oh Kapten, lama tak bertemu!" sapa El Rosyid pada kapten Al Hadid.
"Rosyid! Kamu sudah pulang rupanya. Senang bisa bertemu lagi. Apa kamu punya kabar baru?" sahut kapten Al Hadid berjalan menghampiri El Rosyid.
El Rosyid bangun dari tempat duduknya dan memberikan pelukan salam.
"Tidak ada. Saat ini informasi yg kudapat dari pasukan Pangeran Kegelapan masih nihil. Yg ada hanya aku mendengar banyak tentang informasi kalian." jawab El Rosyid.
"Hmm.. begitu ya." ucap kapten Al Hadid.
"Kudengar kamu punya seorang tawanan dari pasukan musuh. Apa kamu sudah menginterogasinya?" tanya El Rosyid.
"Ya, aku selama 3 hari ini berusaha mendapatkan informasi darinya. Tapi hasilnya minim. Dia lebih takut pada Pangeran Kegelapan daripada padaku." jawab kapten Al Hadid.
"Apa perlu aku turun tangan?" tawar El Rosyid.
"Memangnya kamu bisa?" tanya Al Hadid merasa ragu pada El Rosyid.
"Ya, kita coba saja dulu. Aku menjadi pasukan pengintai Pangeran Kegelapan bukan tanpa hasil sebenarnya. Aku mendapatkan teknik menginterogasi yg bisa memudahkan ku mendapatkan informasi dari mereka." jawab El Rosyid.
"Walau sedikit ekstrim sebenarnya.." sambung El Rosyid dengan senyum menyeringai.
"Baiklah. Akan kuserahkan padamu saja." ujar kapten Al Hadid menerima tawaran El Rosyid.
"Terima kasih, kapten." ucap El Rosyid.
Sementara itu jauh dari markas, terlihat laki-laki berjaket coklat sedang menyiapkan sesuatu.
"Aku sudah menyiapkan ini diseluruh tempat strategis di kota ini. Untung saja bagian toko kembang api tidak tersentuh. Karena dengan menggunakan ini, aku bisa menarik mereka keluar. Dan aku bisa memisahkan dia dari mereka." ujar laki-laki itu dengan yakin.
"Rencana ini akan dimulai nanti malam. Kuharap para pengintai yg lain tidak curiga karena ini." sambung laki-laki itu sambil berdiri.
Terlihat setiap sumbu mercon kembang api itu tersambung dengan bagian tengah obat nyamuk yg sudah dinyalakan.
"Ini sudah jam 4 sore. Kuharap jam 7 nanti akan cukup gelap untuk bisa menarik perhatian mereka." kata laki-laki itu melihat ke sebuah bangunan dengan jam besar.
Kemudian laki-laki itu pun pergi. Dia meninggalkan reruntuhan itu dan pergi kembali ke tempat pengintaian nya. Dibelakang laki-laki itu terlihat ada seseorang yg mengikutinya. Mereka melewati sebuah gang sempit. Laki-laki berkain coklat itu nampak berbelok mengikuti jalan itu. Orang itu pun ikut berbelok. Tapi kemudian orang itu berhenti dan terlihat terkejut. Ternyata jalan di depannya buntu dan dia tidak menemukan laki-laki berkain coklat itu. Dan ternyata laki-laki berkain coklat itu ada dibelakangnya.
"Ada apa? Apa ada yg salah dengan temboknya?" tanya laki-laki berkain coklat itu.
"K-kau.. bagaimana bisa?!" ucap orang yg mengikutinya.
Dan laki-laki berkain coklat itu pun memukul bagian belakang leher orang itu hingga jatuh tak sadarkan diri.
"Maaf, aku tak perlu menjawab pertanyaan dari orang yg tak sadarkan diri." ujar laki-laki itu berdiri dengan santai.
Laki-laki itu mengikat orang yg tak sadarkan diri itu menggunakan kabel yg ada di bangunan kosong, dan mengikatnya ke sebuah kursi.
"Duduk yg tenang dan nikmati pemandangannya." ujar laki-laki itu lalu memutar kursi itu ke arah jendela.
"Sampai jumpa lagi, tuan pengintai.." ucap laki-laki itu berjalan pergi dengan santai.

Di sebuah ruangan gelap, seorang tawanan yg tak lain adalah kapten pasukan Pangeran Kegelapan sedang duduk terborgol disebuah kursi. Di depannya ada meja dan lampu yg menyorot tepat ke arah dirinya dan meja itu.
"Apa kabar tuan kapten pasukan Pangeran Kegelapan." ujar seseorang yg hanya terlihat bagian badan kebawahnya saja, karena bagian atasnya gelap tak terkena cahaya lampu.
"Siapa kau?" tanya tawanan itu.
"Disini bukan kamu yg berhak bertanya. Kamu hanya berkewajiban menjawab. Aku lah yg berhak bertanya disini." sahut orang itu.
"Sudah kubilang aku takkan mengatakan apapun saat ini." tolak tawanan itu sambil menatap tajam.
"Apa benar begitu? Aku tak yakin kamu akan benar-benar menutup mulutmu itu." ujar orang itu dengan nada sombong.
Dari luar ruangan interogasi, kapten Al Hadid sedang berdiri menunggu. Disebelahnya ada Aisyah, Gumi dan Kamui.
"Apa dia akan bisa menarik informasi darinya?" tanya Aisyah pada kapten Al Hadid.
"Dia adalah mantan wakil kaptenku yg paling aku percaya. Jika dia mengatakan bisa, maka dia pasti benar-benar bisa." jawab kapten Al Hadid.
"El Rosyid-dono itu orangnya seperti apa?" tanya Kamui.
"Dia orangnya cukup lemah lembut sebenarnya. Tapi dia tidaklah lemah sama sekali. Karena walaupun sifatnya begitu, kalau sedang serius dia pasti bisa melakukan apapun." jawab kapten Al Hadid.
Di dalam ruangan, El Rosyid menggebrak meja dengan keras.
"Katakan padaku, apa yg membuatmu begitu setia pada Pangeran Kegelapan?" tanya El Rosyid pada tawanan itu.
Namun tawanan itu tak mau menjawab dan hanya diam saja.
"Begitu ya.. jadi kamu masih memilih untuk tetap diam. Mari kita lihat apakah kamu akan tetap diam setelah ini." ujar El Rosyid sambil mengangkat sebuah dirigen bensin.
Tawanan itu tampak terkejut dengan apa yg dilihatnya. Tawanan itu kemudian meronta-ronta saat El Rosyid mulai menuangkan bensin itu ke lantai.
"Tolong penjaga! Dia mau membakarku! Tolong lepaskan aku!!!" teriak tawanan itu mulai panik.
El Rosyid mundur kebelakang untuk menjauhi genangan bensin di lantai itu.
"Suara berisik apa itu di dalam?" tanya Kamui saat mendengar teriakan tawanan itu walau samar-samar.
"Dia pasti menggunakan cara ekstrim yg dikatakannya padaku tadi." sahut kapten Al Hadid.
"Cara ekstrim?!!" ucap Aisyah terkejut.
Gumi saat itu langsung mengintip ke dalam melalui lubang di pintu besi ruang interogasi itu.
"Dia hendak membakar tawanannya!" ucap Gumi saat melihat El Rosyid mengeluarkan korek api.
"Hah?! Itu terlalu ekstrim!!" sahut kapten Al Hadid yg terkejut saat mendengar perkataan Gumi.

Kapten Al Hadid kemudian membuka pintu besi itu dengan terburu-buru.
"Rosyid! Hentikan itu!!" larang kapten Al Hadid.
"Tapi hanya ini caranya agar dia mau bicara. Karena kelihatannya dia lebih takut pada api Pangeran Kegelapan. Jadi kemungkinan dengan dibakar juga dia mau bicara." jawab El Rosyid.
"Tapi itu terlalu ekstrim." kata Aisyah.
"Kamu tidak tahu apapun. Meskipun kita tidak membakarnya saat ini, saat dia kembali kepada Pangeran Kegelapan pun pasti dia akan dibakar juga disana. Jadi, tak ada bedanya. Aku hanya mempercepatnya saja." balas El Rosyid lalu menyalakan korek api itu.
"Hentikan!" ucap kapten Al Hadid.
Namun El Rosyid melemparkan korek api itu ke arah genangan bensin. Dan bensin itu pun mulai menyala. Api mulai berkobar dilantai di sekitar meja dan kursi tawanan itu. Tawanan itu berteriak dan merintih kesakitan karena kakinya mulai terbakar. Kamui dan Gumi terlihat keluar dari ruangan itu.
"Aaaarrgh!! Baiklah aku akan mengatakannya. Aku akan menjawab semua pertanyaan kalian. Aaargh!!!" rintih tawanan itu kakinya mulai terbakar api dari kursi yg juga ikut terbakar.
"Baguslah." ucap El Rosyid sambil tersenyum.
Gumi dan Kamui tampak kembali menyeret alat pemadam kebakaran dan mulat menyemprotkan gas berwarna putih dari tabung berwarna merah itu dan memadamkan apinya.
"Syukurlah apinya sudah padam." ujar kapten Al Hadid.
Aisyah terlihat marah dan menghampiri El Rosyid. Kemudian Aisyah menjambak dan menarik kerah baju El Rosyid.
"Yg tadi itu keterlaluan! Itu terlalu kejam!!" bentak Aisyah.
"Kejam? Aku tidak kejam. Merekalah yg kejam. Aku hanya membuat mereka mengakui kekejaman mereka." ujar El Rosyid.
"Tapi cara yg tadi itu tidak manusiawi. Takkan ada satupun orang baik yg akan melakukan hal itu." kata Kamui sambil menatap tajam ke arah El Rosyid.
"Benar. Karena jika kita melakukan itu, itu artinya kita sama saja dengan mereka." tambah Gumi.
"Anak kecil tahu apa? Kalian jangan ikut campur urusan dewasa. Walau kalian seorang pahlawan, tapi tanpa alat itu aku yakin kalian takkan ada bedanya dengan anak kecil yg lain." balas El Rosyid.
"Dan kau Aisyah! Perempuan lemah sepertimu menyingkirlah dari hadapanku!!!" bentak El Rosyid menepuk lengan Aisyah dan membuat cengkramannya lepas.
Melihat hal itu, Kamui tidak bisa tinggal diam. Dia mencabut katananya dan mengayunkannya dengan cepat ke leher El Rosyid dan berhenti tepat setengah centimeter dari leher El Rosyid.
"Kami memang anak kecil. Tapi kami tahu mana yg benar dan mana yg salah. Kami takkan membiarkan siapapun menyakiti seorang perempuan didepan mata kami." ujar Kamui menyipitkan matanya penuh amarah.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】