Catatan Penjelajah Mimpi - Romansa Gadis Misterius
Saat itu aku ada di sebuah warung. Nampaknya aku baru pulang sekolah karena ku lihat aku sedang memakai seragam sekolah kulihat. Kenapa aku disini? Aku juga tidak mengerti. Lalu kulihat ada yg sedang main kartu remi. Dua anak laki-laki itu tampak sedang memainkan permainan dengan kartu remi. Dengan wajah yakin anak laki-laki yg duduk di sebelah kiri berkata, "Nampaknya aku yg menang bro, lihat.." sambil menunjukan semua kartu ditangannya. Pemain yg ada di sebelah kananku pun langsung nepuk jidat dan menunjukkan kartunya karena nampaknya dia memang kalah saat itu. Aku tidak mengerti permainan apa yg sedang mereka mainkan. Tiba-tiba ada seorang gadis yg ngomel di depan bibi penjual warung mengomentari anak-anak yg bermain itu. "Jangan pada main kartu disini, mengganggu saja." omel gadis berjilbab itu. Siapa dia? Dia cantik, tapi aku tak mengenalnya. Gadis itu pun langsung meninggalkan warung saat itu. Lalu aku menghampiri bibi warung dan membeli sekitar 4 gorengan bala-bala. Lalu aku pun segera pulang. Tak kusangka arah yg kami tuju ternyata sama. Aku bertemu dengan gadis itu lagi. Aku terus berjalan di belakang gadis itu dan tak lama kemudian dia menoleh padaku. Aku berhenti melangkah, dia pun ikut berhenti melangkahkan kakinya. "Ada apa?" tanyanya. "Tidak kok." jawabku dengan sedikit malu. Kenapa ini, kenapa aku harus malu? Padahal biasa saja bisa kan karena aku tak kenal dia. Saat aku berpikir seperti itu aku baru sadar dia sedang menggigit bala-bala dimulutnya. Rupanya dia membeli bala-bala juga, yg membuat kaget adalah jumlahnya sama persis dengan yg aku beli.
Aku ada di sebuah sekolah. Sekolah SMP? Ya saat itu aku memang sedang memakai celana berwarna biru tua. Lalu aku melihat ada gadis itu lagi. Dia sedang sendirian di belakang bangunan, aku tak ingat itu kelas atau ruang lain. Namun dia ada disana berdiri sendirian bersender di dinding. Aku pun menghampirinya, namun ia malah pergi. Lalu ada orang yg muncul di belakangku. Dia seorang gadis lain yg juga tidak kukenal. "Kamu suka ama dia ya? Ciee.." ucapnya. "Ti-tidak kok.." jawabku dengan malu lalu pergi meninggalkannya.
Di warung aku kembali bertemu dengannya. Aku membeli air dingin dan air hangat. Kenapa aku membeli air? Aku juga tak mengerti. Dan saat aku menoleh ke arahnya dia sudah tidak ada. Aku pun memutuskan untuk pulang. Saat itu aku sedang minum hangat dan kulihat gadis itu sudah ada di depanku lagi. Dia berjalan dengan anggun dan melihat ke depan tanpa sadar aku ada di belakangnya. Aku pun menghampirinya. Kulihat dia sedang membuka pop mie dan hendak memakannya. Namun ia tak punya air untuk menyeduhnya. Aku pun berniat memberikan airku padanya. "Nih kuberikan ini padamu." ucapku sambil menuangkan air ke pop mie yg ia buka.
Saat sadar, aku salah menuangkan air. Ternyata yg kutuangkan ke dalam pop mie nya adalah air dingin. Aku pun panik dan langsung menuangkan air hangat ke pop mie nya. Tampak ada asap mengepul di wadah pop mie nya itu. Api air hangatku sepanas itu? Nampaknya ada yg salah dengan lidahku meminum air sepanas itu dan masih terasa hangat. Lagipula kenapa aku begitu bodoh menuangkan air dingin. Mungkin maksudku tadinya ingin memberikan air dingin sebagai minumnya, karena itu aku sengaja beli dua air dan mengejarnya. Tapi karena melihat pop mie, aku jadi reflek menuangkan ke pop mie nya. Gadis itu nampak cemberut saat itu. Dalam pikirku ini gawat, karena kalau sudah cemberut biasanya perempuan susah ditangani dan aku jadi serba salah. Tapi dia tiba-tiba saja menarikku dan duduk di pinggiran jalan. Aku tak tahu saat itu kami duduk dibangku atau cuma di bagian pinggir batas jalan itu. Namun saat itu dia memberikan pop mie nya padaku. "Ini untukmu saja." ujarnya sambil memberikan sewadah pop mie itu sambil cemberut. Ini benar-benar gawat pikirku. Dia marah dan memberikan pop mie nya karena ia takut rasanya tidak enak karena dingin. Namun ia tiba-tiba berkata, "Aku tak tahu kamu juga suka pop mie atau tidak. Tapi kurasa rasa yg itu enak." dengan wajah ngambek dan memalingkan muka. Akhirnya aku memakan pop mie itu karena aku tak mau dia semakin ngambek. "Ini enak kok." ucapku setelah memakan beberapa suap. "Benarkah?" sahutnya melirik ke arahku. Kulihat mie nya sudah mulai jadi besar, mungkin karena efek ku seduh pake air dingin dahulu. Setelah makan beberapa suap, dia terus memperhatikanku. Aku pun langsung melilitkan mie dengan garpu plastik itu dan lalu menyodorkan ke arah mulutnya. Aku berniat menyuapinya saat itu, "Ayo kamu juga makan." ucapku. Dia pun membuka mulutnya dan memakannya dengan malu-malu. Aku pun tersenyum. Aku tak pernah melihat gadis manis semalu itu. Apalagi ini pertama kalinya aku menyuapi seorang gadis. Semakin lama aku semakin akrab dengan gadis itu, dan aku jadi semakin dekat dengannya. Aku tak ingat kejadian lengkapnya, namun aku jadi lebih sering bertemu dengannya.
Sudut pandang tiba-tiba berubah jadi sudut pandang orang ketiga, seperti sedang menonton TV. Gadis itu sudah dewasa. Dia terlihat sedang bersama seorang laki-laki yg tampan. Aku berpikir kenapa bukan sudut pandang orang pertama saja seperti tadi? Aku pun akhirnya tahu alasannya, karena laki-laki yg bersamanya itu bukan aku. Mereka terlihat sedang berjalan menuju rumah yg besar. Aku tak tahu dan aku tak ingat pula kenapa dan apa yg terjadi sebelumnya. Mereka masuk kerumah yg besar itu, dan disana ada seorang kakek paruh baya. Laki-laki yg bersama gadis itu terlihat memberikan semua uang di dompetnya pada kakek itu. Gadis itu marah dan bertanya, "Kenapa kamu berikan semuanya?". Laki-laki itu pun beralasan agar mereka bisa tinggal disana selama yg mereka mau. Kupikir gadis itu marah bukan tanpa alasan. Kemungkinan semua uang yg diberikan itu adalah untuk biaya hidup mereka untuk beberapa bulan ke depan sebelum si laki-laki bekerja. Gadis itu pun akhirnya tinggal disana dan laki-laki itu tak pernah terlihat pulang. Gadis itu mulai sakit-sakitan dan si laki-laki masih belum juga terlihat kembali. Dan setelah itu, si gadis memutuskan untuk pergi mencari si laki-laki itu. Dilihat dari ke khawatiran si gadis, nampaknya mereka adalah sepasang suami istri. Gadis itu ingin pergi tapi dicegah oleh si kakek. Dan si kakek pun seperti mengatakan sesuatu yg mengejutkan pada gadis itu. Gadis itu terlihat terkejut lalu berlari ke arah pintu depan. Si kakek mengejar namun tiba-tiba ada seorang nenek paruh baya menghalanginya. Nenek itu berkata pada gadis itu untuk sebaiknya pergi dan cari suaminya. Gadis itu pun mengangguk dan pergi. Gadis itu sampai di suatu tempat. Aku tak tahu itu tempat apa, karena sekeliling bangunan itu di kelilingi dengan kain hitam. Gadis itu masuk ke dalam bangunan kosong itu dan terlihat suaminya sedang melakukan latihan aneh. Gadis itu bertanya sedang apa dia disana. Laki-laki itu menjawab kalau dia hanya sedang melakukan latihan sehari-harinya. Gadis itu pun akhirnya seperti tampak sadar akan sesuatu. "Apa kamu yg membunuh orang tuaku?" tanya gadis itu.
"Ya, akulah yg membunuh mereka." jawab laki-laki itu. Apa ini? Apa ada yg kulewatkan disini. Tapi aku tak ingat apa itu. Dan rasanya aku juga tidak melihatnya sama sekali. Karena adegan dari saat terakhir aku akrab dengan gadis itu langsung lompat ke adegan di rumah besar. Gadis itu pun langsung jatuh diatas lututnya dan menangis. Laki-laki itu pun menyuruhnya pergi. Karena kalau tidak pergi, dia pun akan dibunuhnya juga. Lalu gadis itu pun pergi.
Kembali ke sudut pandang orang pertama. Aku mendengar kabar kalau gadis itu telah meninggal. Dan ia meminta untuk dikuburkan dibelakang warung tempat aku dan dia bertemu untuk saat pertama. Dari yg kudengar dia meninggal karena sakit. Sakit apa? Aku juga tidak tahu. Hanya dalam surat wasiatnya dia hanya meminta dikuburkan di bawah pohon dibelakang warung itu. Agar ia bisa tetap berada dekat dengan bibi penjual di warung itu yg saat ini sudah tua. Aku berkunjung ke warung itu dan bertaya pada si bibi kenapa bisa gadis itu minta di makamkan dibelakang warung itu. Dan sibibi pun menjawab kalau itu adalah permintaan gadis itu. Dan gadis itu menambahkan dalam wasiatnya kalau dia merasa aman dekat si bibi. Mungkin karena dia akrab dengan si bibi itu saat dulu masih sekolah bersamaku. Beberapa tahun kemudian si bibi itu meninggal. Aku kembali ke warung itu yg nampaknya sudah dibongkar. Kulihat masih ada satu kuburan di belakang tempat bekas warung itu. Nampaknya si bibi dibawa oleh keluarganya dan dikuburkan di tempat lain. Dan beberapa bulan kemudian aku mendengar banyak kejadian aneh di sekitar kuburan itu. Orang-orang dikampung itu mulai mengalami poltergeist. Mereka di serang oleh sosok hantu. Kupikir ini ada hubungannya dengan gadis itu. Dan aku kembali melihat kuburannya. Lalu saat hendak ke kuburan gadis itu, aku mendengar keributan di rumah sebelah rumah itu. Ada penyerangan lagi? Mungkin aku harus melihatnya. Dan benar saja. Barang-barang berterbangan ke segala arah. Pemilik rumah ketakutan dan pergi keluar. Aku pun berjalan, walau tak dapan melihat sosoknya. Aku mengambil sebuah tongkat kayu. Aku mengarahkannya ke segala arah, dan saat aku merasa seperti membentur sesuatu, itu pasti dia. Aku berkata, "Cukup, hentikan semua ini. Kamu tak boleh menyerang mereka.". Namun dia kembali bergerak. Aku tak tahu posisinya sekarang jadi perkataanku terhenti. Aku kembali mencari posisinya dengan tongkat kayuku. Saat kutemukan lagi dia aku melanjutkan perkataanku. "Kubilang cukup. Mereka tidak ada hubungannya denganmu. Kita bicara berdua!" ucapku. Benda-benda pun berhenti bergerak. Aku keluar dari rumah dan menuju ke kuburan gadis itu. Aku melihatnya, nampaknya dia sengaja menampakkan dirinya padaku. Aku berdiri di depannya. Kulihat dia melepas jilbabnya. Padahal dia tampak cantik dengan jilbabnya. Aku pun menduga dia juga telah melepas keimanannya. "Apa kamu mengingatku?" tanyaku. Dia tidak menjawab dan hanya tertunduk. Kupikir dia pasti ingat aku, karena kalau tidak, ia takkan mau menurutiku dan menunjukkan wujudnya padaku. "Cukup, jangan mengganggu orang-orang lagi." pintaku padanya. Aku pun memeluknya tanpa berpikir.
"Mereka tak punya salah padamu. Jangan menyalahkan orang lain karena kesalahanmu. Itu salah mu sendiri karena memilih orang lain hanya karena dia lebih tampan dan meninggalkanku." sambungku. Aku tak tahu kenapa aku mengatakan itu. Namun nampaknya ada sebuah kejadian dimana aku ditolak olehnya, namun tidak ditunjukkan di mimpiku ini. "Kalau pun kamu ingin melampiaskannya, lampiaskan saja padaku. Aku akan selalu berada di sisimu. Aku akan menanggung segala rasa sakitmu." tambahku sambil tetap memeluknya. Perlahan kurasakan tubuhnya mulai menghilang jadi butiran cahaya. Dan aku pun terbangun dari tidurku. Saat terbangun aku sadar itu mimpi yg tragis. Dan kipas disampingku berhenti berputar. Tunggu? Sejak kapan kipas ini berhenti? Seingatku sejak semalam dan subuh saat aku terbangun sebelum tidur lagi kipas masih menyala. Tidak mungkin mati lampu karena semua lampu dirumahku juga masih menyala. Dan kulihat tombol kipasku dalam keadaan off. Siapa yg mematikannya? Aku tinggal sendirian dan semua pintu dalam keadaan terkunci. Aku pun bingung sendiri. Tapi aku hanya tersenyum, mungkin dia kasihan padaku karena mungkin aku akan kedinginan kalau terus dikipasi walau saat itu sudah pagi dan udaranya sangat dingin. Terima kasih gadis misterius..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.