VocaWorld, chapter 71 - Guncangan Pun Terhenti
Miku berlari sambil menangis. Dia menyusuri jalan di pinggir sungai.
"Ini semua salahku. Ternyata semuanya salahku." ucap Miku sambil menangis dan terus berlari ke arah barat.
Kaito nampak tertinggal jauh dibelakang dan berusaha mengejar Miku.
"Larinya cepat sekali, aku tak bisa mengikutinya." ucap Kaito tampak hanya bisa berlari pelan.
Di kediaman Gakupo, nampak Luka, Meiko dan Kamui masih diam disana.
"Kenapa hanya Kaito yg kamu suruh mengejar Miku-chan, Megurine-san?" tanya Meiko.
"Aku tidak tahu. Aku hanya punya firasat kalau hanya Kaito yg akan di dengarkan oleh Miku-chan saat ini." jawab Luka.
"Ya, mungkin memang hanya Kaito-dono yg bisa." sambung Kamui.
"Maksudnya?" tanya Meiko.
"Sebagai samurai, saya juga pasti akan sedih kalau sampai ada orang yg terluka karena saya. Karena saya yg terlalu lemah, teman saya yg jadi korbannya. Itu adalah hal paling memalukan dan menyedihkan bagi seorang samurai. Hanya perkataan dari orang yg berkorban demi saya saja yg akan bisa sampai ke telinga saya. Karena saya akan berpikir yg lain hanya akan berbohong untuk sekedar menghibur saya." jelas Kamui dengan wajah tenang.
Meiko pun tampak mengerti setelah mendengar penjelasan Kamui.
"Meskipun dia bodoh, dia tampak begitu hebat saat dia tenang seperti itu." ucap Luka dalam hati saat memperhatikan Kamui.
"Tunggu, kenapa aku berkata seperti itu?" sambung Luka dalam hati sambil berusaha menyembunyikan wajah malunya ke samping.
"Eh, kenapa Luka-tan malu-malu? Hmm.. nampaknya ini karena ketampanan dan kekerenanku saat ini." pikir Kamui lalu membuat pose sok keren memunculkan kilauan aneh disekitarnya.
"Sekarang aku jijik." ucap Luka melihat Kamui saat ini.
Miku tampak murung dan duduk di pematang pinggir sungai. Dia menangis sambil memeluk lututnya.
"Ini salahku, salahku!" ucap Miku sambil menangis sendu.
Kemudian tak lama Kaito pun sampai disana. Kaito melihat Miku ada di lereng pematang sedang duduk. Kaito menghampirinya.
"Hatsune.." panggil Kaito sambil berdiri dibelakang Miku.
Miku menoleh ke belakang.
"Kaito-senpai.." ucap Miku saat melihat Kaito sambil menahan tangis.
"Kaito-senpai tidak apa-apa? Kaito-senpai kenapa mengejarku kesini?" tanya Miku.
"Aku sudah tidak apa-apa. Lihat!" jawab Kaito lalu melakukan gerakan-gerakan dari peregangan sampai bela diri.
"Lihat kan." sambung Kaito sambil tersenyum.
"Maafkan aku, karena aku Kaito-senpai jadi terluka." ucap Miku sambil menundukkan kepalanya.
"Apa maksudmu? Memangnya Hatsune pernah menyerangku?" ujar Kaito.
"Bukan begitu!" sahut Meiko sambil berdiri.
"Maksudku, karena aku terlalu lemah dan tak bisa menjaga diri. Kaito-senpai jadi.. terluka." jelas Miku, tatapannya semakin sayu karena sedih.
"Hatsune, aku terluka bukan karena Hatsune terlalu lemah. Tapi aku yg terlalu lemah. Harusnya aku bisa melindungi Hatsune." balas Kaito.
"Tidak, Kaito-senpai tidak lemah. Tapi mereka yg terlalu kuat." ucap Miku membantah Kaito.
"Ya mungkin juga begitu. Jadi, kenapa harus dipikirkan. Ini bukan salah Hatsune kan?" sahut Kaito sambil tersenyum.
"Kaito-senpai benar. Ini bukan salahku. Hanya saja mereka terlalu kuat untuk kami saat ini. Yg bisa kami lakukan hanyalah terus berkembang dan bertambah kuat." gumam Miku dalam hati.
"Tidak ada waktu untuk bersedih, mulai saat ini aku harus bisa bertambah kuat!" teriak Miku ke arah langit.
Hal itu cukup mengejutkan Kaito.
"Aku tak percaya ini, mood nya bisa berubah secepat itu. Apa ini yg disebut ababil?" ujar Kaito dalam hati sambil tersenyum aneh.
Miku nampak mengusap air matanya yg keluar. Kemudian tersenyum ke arah Kaito dengan wajah memerah. Dengan senyuman ceria seperti biasanya.
"Dia.. manis.." ucap Kaito dalam hati saat melihat senyum Miku.
Di rumah danau, Ray dan Dante terlihat masih memancing. Ray tampak sama sekali tak berekspresi, namun Dante nampak begitu malas. Bahkan sekarang dia menguap.
"Aniki, sudah kubilang jangan terlalu bergantung pada hasil mancing. Sudah 1 jam lebih kita belum dapat apa-apa." gerutu Dante dengan nada mengantuk.
"Diamlah saja Dante, ini kan baru 1 jam 47 menit 39 detik. Jadi jangan banyak menggerutu." balas Ray.
"Hah? Berapa tadi?" tanya Dante yg tak mendengar jelas.
"1 jam 47 menit 58 detik." jawab Ray.
"Perasaan ada yg berubah." komentar Dante.
"Sudahlah, jangan banyak bicara." suruh Ray.
"Baik." sahut Dante.
Suasana pun hening sejenak.
"Oh ya, Aniki.." ucap Dante.
"Ada apa lagi?" tanya Ray.
"Kukira gadis berkuncir dua itu adalah gadis yg ceria. Efek kejut yg kau bicarakan itu kelihatannya takkan bertahan lama padanya." sahut Dante.
"Memang." balas Ray.
"Terus kenapa kita mesti susah-susah melakukannya?" tanya Dante.
"Kalau itu, ada alasan yg tak bisa kujelaskan, Dante. Jadi sekarang diamlah!" jawab Ray.
"Baik." ucap Dante.
Di kediaman Gakupo, Kaito telah kembali bersama Miku.
"Kami pulang.." ucap Kaito.
Meiko menoleh, dan ia begitu senang saat melihat Miku kembali.
"Miku-chan! Kamu kembali!" ucap Meiko berlari ke arah Miku lalu memeluknya.
"Meiko-san.. lepaskan.. aku sesak." ujar Miku yg merasa sesak karena dipeluk terlalu erat.
"Kamu sudah tidak apa-apa kan sekarang?" tanya Meiko tampak khawatir sambil melepaskan pelukannya.
"Iya. Itu semua berkat, Kaito-senpai." jawab Miku sambil melirik ke arah Kaito sambil tersenyum dan wajah yg sedikit memerah.
Meiko menyadari wajah merah Miku, dia pun mulai melirik tajam ke arah Kaito.
"Kaito, sudah kubilang jangan merayu Miku-chan, dasar playboy kurang ajar!" ucap Meiko dengan logat preman sambil mengankat kerah baju Kaito.
"Meiko-san, jangan kasar pada Kaito-senpai." cegah Miku memegang tangan Meiko.
"Miku-chan, lepaskan. Aku sedang melindungimu dari playboy keparat ini!" ujar Meiko pada Miku.
"Kaito-senpai bukan playboy!" bentak Miku.
"Kenapa Miku-chan malah melindunginya!!? Dia itu berbahaya!" bentak Meiko.
"Kaito-senpai tidak berbahaya! Meiko-san lah yg berbahaya!" balas Miku.
"Apa?!" ucap Meiko.
Mereka pun saling menggeram dan bertatapan layaknya kucing yg berantem. Kemudian saling memalingkan wajah satu sama lain.
"Ka-kalian.. tolong jangan bertengkar.. waduh.." ucap Kaito berusaha mengakurkan mereka berdua tapi bingung mesti bagaimana.
"Apa ini? Cinta segitiga?" komentar Luka dengan tersenyum aneh.
"Nampaknya iya." ucap Kamui sambil melingkarkan tangan kirinya di pundak Luka.
Tiba-tiba di kepala Luka muncul urat marah. Dan dengan elegant dance, Luka pun membanting Kamui ke lantai. Gerakan itu mirip gerakan teknik membanting Aikido.
"Teknik ini.. seperti saat ibu membanting ayah dulu.." ucap Kamui sambil menahan sakit dan terkapar di lantai.
Luka berjalan menghampiri jendela.
"Mungkin kami terlalu banyak berpikir. Hati dan otak kami terlalu banyak menerima tekanan." ujar Luka dalam hati sambil melihat ke langit.
"Semuanya.. bagaimana kalau besok kita ke pantai!?" ucap Luka.
"Pantai?!" ucap Kamui yg bangun lagi.
"Hehehe.. aku jadi bisa melihat Luka-tan pakai bikini. Hehehe.." ujar Kamui dalam hati memasang wajah mesum.
"Yeah! Ke pantai!" ucap Miku melompat-lompat senang.
"Apa boleh mengajak Rin-chan dan Len-chan juga?" tanya Meiko.
"Tentu saja." jawab Luka.
Kaito saat itu hanya tampak lega.
"Nampaknya keputusanku tepat saat ini." pikir Luka sambil tersenyum khas nya.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.