VocaWorld, chapter 88 - Dibalik Sebuah Amarah

Ada major batu menyerang ke kediaman Megurine. Yg menjadi sasarannya nampaknya adalah Luka. Saat itu Luka tidak siap, namun untung saja ada Ray yg datang menyelamatkannya.
"Sebaiknya kamu keluarkan instrument mu, my queen." usul Ray yg saat itu berdiri di samping Luka.
"Ray-kun.." ucap Luka memandang wajah Ray yg sedang melihat ke arah major batu.
"Cepat!" sambung Ray.
"Baik." sahut Luka.
"Instrument: Rainbow Piano." ucap Luka mengeluarkan instrument nya.
"Serang pada titik yg aku perintahkan." ujar Ray.
"Iya aku mengerti." sahut Luka.
"2 serangan di kedua pangkal kaki, kemudian 1 serangan di ketiak!" suruh Ray.
Kemudian Luka mengeluarkan 3 cahaya warna warni, dan 2 diantaranya menyerang ke pangkal kaki. Satunya lagi menyerang ke ketiak major itu. Karena kekuatan power Luka telah kembali, nampak serangannya mampu membuat pangkal kaki major itu hacur dan retak. Begitu pula ketiaknya.
"Serang lagi! Kali ini di bagian samping pangkal paha. Lalu pergelangan bahu." suruh Ray lagi.
"Ray-kun, jangan-jangan kamu berniat.." ujar Luka menyadari rencana Ray.
"Kamu menyadarinya? Baguslah." sahut Ray.
Kemudian Luka pun mengarahkan 3 cahaya warna warninya lagi ke arah yg diperintahkan Ray. Tampak dua luka lubang akibat hantaman cahaya milik Luka masing-masing di bagian pangkal paha, dan dua luka lubang di bagian pangkal lengan. Retakan yg diakibatkannya pun bersambung, sehingga major batu itu kehilangan lengan yg satunya lagi dan kedua kakinya tepat saat ia melangkahkan kakinya ke arah Ray dan Luka.
"Giliranku. Wire: on!" ucap Ray sambil menjertikkan jarinya.
Saat tubuh major itu jatuh ditanah, nampak seperti ada halilintar menyambar dari tanah menghancurkan tubuh major batu itu dalam sekejap. Namun halilintar itu tidak sampai ke langit karena tingginya hanya setinggi rumah kediaman Megurine. Tapi cahayanya cukup terang untuk membuat Luka kesilauan dan menutup matanya sebentar dan mendekap Ray.
"Oh ya Megurine-san, kamu tidak memukulku? Bukankah kamu selalu memukul orang yg menyentuhmu tanpa ijin?" tanya Ray yg saat itu memang masih memeluk Luka.
Luka yg baru menyadarinya pun wajahnya tampak memerah lalu melepaskan dekapannya pada Ray, kemudian mengayunkan tangannya secara horisontal menyerang kepala Ray. Namun Ray membungkuk menghindari pukulan itu.
"Kenapa kamu menghindar!?" bentak Luka.
"Karena aku tak pantas dipukul. Aku kan memelukmu untuk menyelamatkanmu." jawab Ray melirik ke arah Luka dengan mata sayu.
"Kalau begitu jangan menyuruhku untuk memukulmu!!" bentak Luka lagi.
Ray pun berbalik dan menatap Luka seperti menunggu sesuatu.
"Kenapa Ray-kun menatapku seperti itu?" tanya Luka sambil mundur sedikit akibat takut.
"Ah, tidak ada apa-apa. Nampaknya aku terlalu berharap." jawab Ray sambil menoleh ke arah lain.
Luka nampak menyipitkan matanya.
"Jadi sekarang kamu akan tinggal dimana? Kamarmu sudah hancur begitu." tanya Ray.
"Aku tidak tahu." jawab Luka melihat ke arah kamarnya yg hancur.
Terlihat juga ada bekas bulat dirumput yg nampak hangus terbakar akibat serangan Ray barusan.
"Mungkin kamu sementara waktu tinggal saja bersama Hatsune Miku-san. Aku yakin mereka akan menerimamu." usul Ray.
"Hah? Kenapa aku harus menerima saran dari musuhku?" tanya Luka.
"Begitu ya, baiklah.. mungkin ini saatnya aku pergi sebelum aku ditangkap. Dah.." ujar Ray sambil tersenyum lalu menghilang.
"Apa yg tadi itu? Dia tidak melompat saat pergi?" ucap Luka saat melihat Ray menghilang.
"Luka-sama!! Yg tadi itu apa!?" teriak Tsugumi yg muncul dari dalam rumah besar yg sebagiannya sudah hancur itu.
Tampak Tsugumi dan beberapa pelayan lain dan seorang supir berlarian keluar.
"Tidak ada apa-apa. Nampaknya kita harus segera memanggil para kontraktor untuk membangun ulang bagian yg rusak." jawab Luka.
"Baik." ucap Tsugumi lalu menuju ke dalam lagi untuk menelpon.
"Yg lainnya, kumpulkan barang-barang di reruntuhan itu yg masih bisa terpakai." suruh Luka pada pelayannya yg lain.
"Aku baru sadar, tempat itu adalah tempat aku berdiri dengan Ray sebelumnya." ucap Luka dalam hati saat melihat ke arah bekas halilintar itu.
"Luka-sama, bagaimana dengan saya?" tanya supir.
"Ambilkan saja tasku. Aku akan pindah untuk sementara dari rumah ini sampai perbaikannya selesai." jawab Luka.
"Baik, Luka-sama." sahut supir itu sambil membungkukkan badannya.
"Kenapa Ray-kun tiba-tiba datang menyelamatkanku? Kupikir dia adalah orang yg mengendalikan darksider." pikir Luka sambil kembali ke wujud semulanya dan melepaskan earophoidnya.

Miku saat itu sedang berada di rumahnya. Dia terlihat sangat bosan dan tidak bersemangat. Hari sudah sore saat itu.
"Aaahhh.. bosannya.." keluh Miku dengan nada malas.
Rin dan Len saat itu terlihat sedang bermain game.
"Kena! Hahaha.." ucap Len sambil tertawa karena berhasil menembak karakternya Rin.
"Ah curang, padahal aku sudah di depan!" protes Rin tidak terima.
Saat itu mereka ternyata sedang bermain game balap yg bisa saling serang antar karakternya.
"Hahaha.. kan game ini bukan balap doang. Bisa saling tembak juga." jelas Len dengan puas sekarang memimpin di posisi pertama.
Rin hanya cemberut dengan mulut manyun saat dia turun jadi posisi ke 4 akibat terkejar karakter lainnya juga.
"Aaahh!! Harusnya aku bisa bersenang-senang lebih lama tadi itu!" ucap Miku dengan keras sambil kesal tiduran dilantai.
"Miku-nee, berisik!" sahut Len.
"Iya nih." tambah Rin.
"Huh, mereka ini tidak mengerti aku. Aku kan sedang galau." gerutu Miku dalam hati.
Miku pun bangkit duduk dilantai.
"Hmm.. coba Meiko-san tidak ganggu. Tadi itu pasti aku bisa bersenang-senang lebih lama dengan Kaito-senpai." sambung Miku dalam hatinya dengan wajah cemberut.
"Aha! Bagaimana kalau aku jalan-jalan keluar lagi saja? Kali aja entar ketemu Kaito-senpai lagi. Hehehe.." ujar Miku dalam hati memiliki sebuah ide cemerlang menurutnya.
Kemudian Miku pun bangkit berdiri dan berjalan keluar dari ruang tengah menuju ke lorong ke pintu depan.
"Miku-neechan mau kemana tuh sore-sore gini?" tanya Rin.
"Tidak tahu." jawab Len yg tiba-tiba saja jadi serius.
"Sial, kenapa tiba-tiba kamu jadi cepat gitu? Darimana kamu dapat turbo itu?" ujar Len saat tak bisa lagi mengejar Rin yg jauh meninggalkannya.
Saat itu Rin kembali ke posisi satu, sementara Len ada jauh dibelakangnya di posisi 2.
"Hehe.. aku sudah mulai mengerti cara mainnya." ujar Rin kali ini dengan wajah yg puas bisa mengalahkan Len.
"Lho, Miku-chan kemana?" tanya Meiko yg nongol dari arah dapur.
"Tidak tahu." jawab Len singkat saja.
"Tadi Miku-neechan keluar tanpa bilang apapun." tambah Rin.
"Mau kemana lagi anak itu?" kata Meiko sambil menghela napas.
Miku terlihat berjalan menyebrangi jembatan, lalu berjalan menyusuri sungai. Di jalan di seberang sungai, terlihat Luka sedang menyeret tas beroda dan menuju ke arah rumahnya Miku. Luka pun sampai di depan rumah Miku dan memencet bel.
"Ya sebentar.." sahut Meiko sambil berjalan menuju ke pintu depan.
Meiko nampak memakai apron saat itu, kelihatannya dia sedang memasak di dapur. Meiko pun membukakan pintu.
"Oohh.. Megurine-san.. ada apa?" tanya Meiko saat melihat kalau tamunya itu adalah Luka.
"Bolehkah aku sementara tinggal disini?" tanya Luka.
"Hah? Boleh saja kok. Memang apa yg terjadi hingga kamu mau tinggal disini sementara?" jawab Meiko lalu bertanya balik.
"Rumahku barusan hancur di serang major. Jadi.. sementara rumahku diperbaiki aku mau tinggal disini." jelas Luka.
"Oohh.. eh?! Diserang major?!! Kapan?" tanya Meiko lagi yg tadinya tampak biasa saja langsung jadi kaget.
"Tadi, sekitar siang tadi." jawab Luka.
"Hmm.. baiklah, ayo masuk." ajak Meiko mempersilahkan Luka masuk.
Setelah Luka masuk, Meiko pun menutup pintu.

Miku saat itu tampak berjalan dengan agak lemas karena belum makan.
"Aku lupa aku belum makan sejak siang." ujar Miku dengan lemah.
Terdengar suara keroncongan di perut Miku.
"Tapi ini untuk kesempatan bertemu Kaito-senpai!" sambung Miku berusaha menyemangati dirinya.
"Tapi tunggu, apa mungkin Kaito-senpai belum pulang? Ini kan sudah sore." pikir Miku sejenak.
Miku pun menyadari sesuatu dan terkejut.
"Benar juga!!! Ini kan saatnya makan malam! Kaito-senpai pasti sudah pulang. Kenapa aku begitu bodoh!!!" gerutu Miku kesal sendiri.
Miku kemudian berjalan ke arah taman bermain anak-anak di dekat situ. Dia duduk diayunan dengan kepala tertunduk.
"Kalau aku pulang sekarang, Meiko-san pasti akan marah besar padaku." ucap Miku dengan sedih.
Miku pun membayangkan Meiko ngomel-ngomel dengan wajah yg sangat marah saat itu.
"Aaaaaa..!! Bagaimana ini!!?" ucap Miku sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya dan menengadah keatas.
Waktu sudah menunjukkan jam 7 malam. Langit sudah gelap, dan bulan nampak bersinar menerangi malam. Miku masih terduduk lesu diatas ayunan.
"Mau sampai kapan kamu disana?" tanya Ray yg duduk diatas sebuah besi permainan berbentuk kubus.
Miku kaget mendengar suara itu. Dia langsung menoleh ke arah asal datangnya suara itu. Dan saat melihat Ray, Miku semakin terkejut.
"Whoa! Shiro Ray?!!" ucap Miku sambil menunjuk Ray dan mencondongkan tubuh kebelakang.
Akibatnya Miku pun terjatuh dari ayunan.
"Aduh!" ucap Miku saat terjatuh.
"Kamu tak apa?" tanya Ray sambil melompat turun lalu menghampiri Miku.
"Sakit.." rintih Miku sambil memegangi punggungnya dan membungkuk membelakangi Ray.
"Kamu masih saja ceroboh ya.." kata Ray sambil mengulurkan tangannya.
Namun Miku malah menggigitnya.
"Kenapa malah menggigitku?" tanya Ray dengan wajah datar.
"Kamu haski au engerangku kang?" tukas Miku sambil tetap menggigit telapak tangan Ray.
"Apa maksudmu? Aku ingin menolongmu. Kalau aku ingin menyerangmu, aku akan menendang pantatmu tadi." jawab Ray.
"Gangang gohong. Agihula kengaha kau kigak kehakikan?" sambung Miku tidak percaya.
"Tentu saja ini sakit. Sudahlah, bisakah kamu lepaskan gigitanmu ini?" jawab Ray lalu meminta Miku melepaskannya.
Akhirnya Miku pun mau melepaskan gigitannya. Terlihat ada bekas merah dari gigitan gigi Miku di telapak tangan Ray.
"Sebaiknya kamu pulang sana. Berbahaya bagi gadis manis berkeliaran malam-malam begini sendirian." suruh Ray pada Miku sambil menggosokan bekas gigitan Miku ke bajunya.
"Tapi kalau aku pulang sekarang, Meiko-san pasti marah." jawab Miku sambil bangkit dan berdiri.
"Dia marah pasti ada alasannya kan? Dia begitu pasti karena khawatir dan tak mau kamu keluyuran malam-malam." balas Ray.
"Tidak mungkin. Saat ini saja dia sama sekali belum menanyakan aku pergi kemana." bantah Miku.
"Mungkin dia punya alasan untuk itu juga. Bisa saja saat ini dia sedang kedatangan tamu dan semacamnya, sehingga dia tak sempat bertanya padamu." tambah Ray meyakinkan Miku.
"Ingatlah.. dia orang yg membesarkanmu. Dia sudah seperti ibumu dan kakakmu sendiri kan? Apa yg kamu pikirkan dengan membuatnya khawatir dan sedih?" sambung Ray.
Miku pun mulai tersadar akan hal itu.
"Kamu benar juga. Tak kusangka kamu pintar juga, Shiro Ray!" ucap Miku.
"Jadi selama ini kamu anggap aku bodoh ya? Dasar kamu ini." sahut Ray sambil tersenyum.
"Ingat, kamu harus segera pulang ya." tambah Ray kemudian berbalik dan pergi dari situ.
"Baiklah, aku akan pulang.." ujar Miku sambil melakukan peregangan tubuh sebentar.
Saat Miku sampai di rumah.
"Aku pulang.." ucap Miku.
Meiko berlari dari ruang tengah ke arah Miku.
"Dasar bodoh! Kemana saja kamu!!? Makanannya sudah dingin tuh!" bentak Meiko.
Kemudian Miku pun memeluknya erat. Meiko sedikit kaget akan pelukan Miku yg tiba-tiba itu.
"Miku-chan?" ucap Meiko.
"Maafkan aku karena telah membuatmu khawatir, Meiko-san." ujar Miku.
"Baguslah kalau kamu sadar. Ayo makan dulu. Nanti aku hangatkan dulu makanannya ya." sahut Meiko sambil mengelus kepala Miku yg bersandar di dadanya.
Miku pun berjalan ke ruang tengah. Dan dia terkejut melihat Luka sedang menonton TV bersama Rin dan Len.
"Megurine-senpai?! Sedang apa senpai disini?" tanya Miku.
"Mulai hari ini Megurine-san akan tinggal sementara disini. Dia akan tidur dikamarmu." ujar Meiko yg lewat untuk menghangatkan makanan.
"Eehhh??!!!" ucap Miku terkejut.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】