VocaWorld, chapter 87 - Memelukmu
Miku sedang bersantai di rumahnya. Dia terlihat sedang tiduran terlentang dengan wajah bosan. Kipas nampak berputar pada kecepatan maksimal meniup hawa panas di sekitar Miku.
"Bosan.. andai saja aku bisa jalan-jalan dengan Kaito-senpai. Lalu makan es krim bareng lagi. Hehehe.." ucap Miku lalu tertawa dengan penuh kebahagiaan diwajahnya.
"Miku-chan, kemana Rin-chan dan Len-chan?" tanya Meiko berjalan menghampiri Miku.
"Haah.. emang dikamarnya tidak ada?" sahut Miku dengan nada malas.
"Mereka tak ada. Apa Miku-chan tahu kemana mereka pergi?" tanya Meiko lagi.
"Tidak tahu. Paling juga main diluar." jawab Miku dengan wajah malas.
"Lalu sedang apa Miku-chan disini?" tanya Meiko.
"Meiko-san tidak lihat ya? Tentu saja sedang ngadem. Santai.." jawab Miku.
"Bagaimana kamu bisa ngadem saat seperti ini?! Cepat keluar sana! Cari Rin-chan dan Len-chan!" bentak Meiko.
Miku pun terperanjat lalu bangkit duduk dengan kaki menjulur ke depan.
"Hah? Kenapa? Tak perlu sekhawatir itu kan? Mereka sudah besar. Bisa jaga diri sendiri." sahut Miku sambil duduk.
"Bukan itu maksudku. Bagaimana kalau misalkan Shiro Ray menyerang mereka!? Sampai saat ini tidak ada satupun dari kita yg bisa benar-benar mengalahkannya!" sambung Meiko dengan keras.
"Aaahh.. iya juga sih. Tapi malas.." ucap Miku sambil kembali tiduran.
Kemudian Meiko pun mematikan kipas anginnya dengan cara mencabut colokkan ke listriknya.
"Aaaa..! Kenapa Meiko-san cabut colokkan listrik kipasnya?" ucap Miku sambil bangun dan melihat Meiko.
"Untuk hari ini tidak ada kipas angin untukmu." sahut Meiko dengan nada angkuh sambil membereskan kabel kips itu.
"Kenapa?" tanya Miku.
"Pikir sendiri." jawab Meiko sambil menatap tajam ke arah Miku.
Kemudian Meiko pun mengambil kipasnya dan membawanya pergi.
"Ke-kenapa ini harus terjadi? Kenapa!!!?" ucap Miku dengan mata berkaca-kaca dan suara bergema di akhir kalimat.
"Cepat keluar sana, dan cari adik-adikmu!!!" bentak Meiko dari arah kamarnya.
"Ba-baik!" ucap Miku sambil bangkit dan pergi.
Miku pun berjalan dengan sedikit membungkuk karena malas.
"Kenapa Meiko-san begitu memaksaku untuk mencari Rin-chan dan Len-chan?" ucap Miku berpikir dengan dramatis ala detektif.
"Meiko-san pasti sengaja mengambil kipas itu untuk dirinya sendiri." sambung Miku sambil membayangkan Meiko duduk di singgasana dengan kipas angin meniup lembut dan tawa jahat yg menggema.
"Sudah kuduga. Pasti begitu! Karena kebenaran hanya ada satu!" tambah Miku sambil berdiri dan berpose mirip Shinichi K*do dan tiba-tiba berubah dengan setelan baju mirip dengan tokoh detektif terkenal itu.
"Oi Hatsune!" sapa seseorang dari belakang Miku.
Miku pun menoleh, dan terlihat bajunya telah kembali ke semula saat itu.
"Kau sedang apa ngomong sendiri?" tanya orang itu lagi yg tak lain adalah Kaito.
"Hehe.. Kaito-senpai ternyata. Tidak lagi ngapa-ngapain kok. Hehehe.." sahut Miku dengan tertawa malu.
"Lucky! Aku bisa ketemu Kaito-senpai hari ini.." ujar Miku dalam hati dengan nada bahagia.
"Disuruh belanja lagi oleh Meiko ya?" tanya Kaito.
"Haha.. bukan. Hanya jalan-jalan saja." jawab Miku tampak melupakan tujuannya.
"Oohh.. kalau begitu, mau jalan-jalan denganku?" tawar Kaito.
"Wah.. iya aku mau." ucap Miku dengan senang.
"Semoga saja Meiko tidak tahu. Lagipula Gakupo menyuruhku untuk menjaga Hatsune." ujar Kaito dalam hati.
"Kita pergi kemana?" tanya Miku sambil memeluk lengan Kaito secara tiba-tiba.
Kaito sedikit terkejut karena hal itu.
"Tunggu, ini terlalu berlebihan.." ucap Kaito dalam hati terlihat gugup.
"Aah.. mungkin kita bisa pergi ke mall." balas Kaito dengan sedikit gugup.
"Kalau begitu kita berangkat!" ucap Miku sambil menunjuk ke depan dengan semangat.
"Ahaha.. kalau begini beneran bahaya dah kalau sampai ketahuan Meiko." kata Kaito dalam hati sambil tersenyum menyembunyikan rasa takutnya.
Di mall besar Voca Town, terlihat Rin dan Len sedang berada di sebuah toko baju.
"Hey Rin, kenapa aku harus ikut menemanimu belanja?" tanya Len protes pada Rin yg sedang sibuk memilih pakaian.
"Soalnya baju-bajuku sudah kekecilan, dan dirumah nampaknya hanya kamu yg sedang nganggur." jawab Rin.
"Tapi Miku-nee juga nganggur kan?" ucap Len tidak terima.
"Kamu tahu sendiri kan, Len? Miku-neechan itu kalau sedang bermalas-malasan dia takkan bisa diganggu." sahut Rin sambil menoleh ke arah Len.
Rin mengambil sepasang pakaian lalu masuk ke ruang ganti untuk mencoba pakaian itu.
"Diam disana! Nanti kamu kasih tahu apa pakaian ini cocok untukku!" suruh Rin dari dalam ruang ganti.
"Baik." sahut Len dengan malas.
Tak lama Gumi memasuki toko pakaian itu. Dia kemudian memilih-milih pakaian namun menyadari sesuatu yg sepertinya tak asing. Gumi pun menoleh, dan mendapati Len sedang berdiri di depan ruang ganti.
"Len-kun?" ucap Gumi dalam hati saat melihatnya.
"Sedang apa dia ditoko pakaian perempuan? Apa mungkin dia sedang bersama gadis yg disukainya?" sambung Gumi dalam hati sambil mengendap-ngendap ke sisi lain diantara pakaian yg berjejer.
Saat ini Gumi melihat Len dari belakangnya bersembunyi dibalik pakaian-pakaian. Tirai ruang ganti pun dibuka.
"Bagaimana menurutmu, Len?" tanya Rin sambil berdiri dengan anggun.
"Biasa saja." jawab Len dengan tampang poker face.
"Hah? Kenapa jawabnya begitu amat? Setidaknya kasih penilaian kek." gerutu Rin.
Gumi nampak sangat terkejut saat tahu yg dibalik tirai ruang ganti itu adalah Rin.
"I-itu Rin-chan?!! Apa maksudnya ini!!? Jangan bilang mereka sedang berkencan! Itu tidak diperbolehkan!! Mereka itu saudara kembar!" kata Gumi dalam hati terlihat begitu kagetnya.
"Baiklah, kamu cantik kok." ujar Len dengan wajah memerah.
"Serius?" ucap Rin dengan senang.
"Iya." jawab Len.
Rin terlihat melompat-lompat senang.
"Suasana romantis apa ini? Aku tak bisa membiarkan ini lebih jauh. Sebagai orang yg lebih dewasa, aku harus mengingatkan mereka." ujar Gumi dalam hati meyakinkan dirinya untuk bergerak.
"Rin-chan! Len-kun! Kalian tidak boleh! Itu salah!" kata Gumi tiba-tiba sambil berdiri tegak.
"Gumi-neechan?!" ucap Rin terkejut.
"Tuh kan, apa aku bilang. Memujimu itu salah. Harusnya aku bilang jelek saja tadi." ujar Len pada Rin.
"Hah?" sahut Rin tidak terima.
"Bukan begitu maksudku, maksudku itu..", "Nona pelanggan, tolong jangan bertengkar disini. Anda mengganggu pelanggan yg lain." potong penjaga toko itu pada perkataan Gumi.
Terlihat pelanggan yg lain memperhatikan ke arah Gumi, Rin dan Len semua.
"M-maaf." sahut Gumi dengan sedikit takut menutup sebagian wajahnya dengan pakaian.
Dari arah luar toko, Miku dan Kaito lewat. Mereka berdua berjalan berdampingan. Miku terlihat memeluk lengan Kaito.
"Jadi kita mau kemana dulu nih, Kaito-senpai?" tanya Miku penuh semangat.
"Ah, terserah lah.." sahut Kaito.
"Lho kok gitu sih? Ini kan date pertama kita." ucap Miku.
"Siapa yg bilang ini date!?" ucap Kaito terlihat kaget.
"Kalau bukan date, lalu apaan dong?" tanya Miku sambil memiringkan kepalanya dan menyentuh bibirnya.
"Bagimu mungkin ini date, tapi bagiku ini death!" ucap Kaito dalam hati dengan menahan takut.
"Ba-bagaimana kalau kita nonton film saja?" tawar Kaito.
Miku pun mengangguk tanda setuju. Akhirnya mereka pun menonton sebuah film romantis. Miku terlihat menangis saat menonton adegan sedih dalam film itu. Sementara Kaito hanya bisa menatap aneh seperti tak mengerti apa maksud filmnya.
"Film apa ini? Aku tidak mengerti. Aku lebih suka film action." ujar Kaito dalam hati.
Mereka pun selesai nonton film dan keluar dari bioskop. Kaito terlihat sedang mengetik-ngetik sesuatu di ponselnya. Lalu terdengar nada email masuk. Saat membuka email itu, Kaito terlihat shock. Kemudian Kaito terlihat menangis.
"Adegan terakhirnya itu sedih banget ya?" tanya Miku saat melihat Kaito menangis.
"Ya. Sedih banget dah." jawab Kaito sambil menangis.
"Adegan terakhir hidupku benar-benar menyedihkan." sambung Kaito dalam hati.
Terlihat di ponsel Kaito, dia sedang chat dengan Meiko menggunakan aplikasi LIME.
'Kaito, kamu dimana? Katanya mau nganterin belanja.' tanya Meiko di chat nya.
'Aku baru selesai nonton film di bioskop.' jawab Kaito.
'Dengan siapa?' tanya Meiko.
'Sendirian.' jawab Kaito.
'Aku tidak percaya. Aku akan kesana.' ujar Meiko.
'Memangnya kamu tahu aku dimana?' tanya Kaito.
'Di Voca Mall kan? Aku barusan bertanya pada Miku-chan. Dia pun baru selesai nonton film katanya. Nampak mencurigakan. Kalian selesai dalam waktu bersamaan.' jawab Meiko.
Begitulah yg isi chat di ponsel Kaito. Meiko terlihat berlari dengan kecepatan tinggi menuju mall tersebut. Dia masuk lewat pintu depan dan berpapasan dengan Gumi, Rin dan Len.
"Meiko-neesan?" sapa Rin saat melihat Meiko berjalan dengan wajah kesal.
"Rin-chan, Len-chan, kalian disini rupanya. Kalian langsung pulang ya." ucap Meiko sambil tersenyum.
"Gumi-chan tolong antar mereka sampai ke rumah ya.." pinta Meiko pada Gumi.
"I-iya.." sahut Gumi tersenyum namun merasa bingung apa yg terjadi.
Meiko kembali berjalan dengan wajah kesalnya. Sedangkan Gumi mengantarkan Rin dan Len pulang.
"Perasaanku mulai tak enak." gumam Kaito dengan wajah memucat.
"Hatsune, kita pulang saja yuk!" ajak Kaito.
"Eh, kenapa? Kan kita baru mulai nge-date nya." sahut Miku.
"Hatsune, sudah kubilang ini bukan date. Pokoknya kita mesti segera pulang. Aku merasakan mall ini mulai dipenuhi aura yg bikin merinding." jawab Kaito.
"Hahaha.. Kaito-senpai gimana sih? Mungkin itu cuma karena AC. Kaito-senpai belum pernah merasakan pake AC ya?" ledek Miku.
"Tunggu, mungkinkah ini sebuah sign. Jangan-jangan Kaito-senpai ingin memelukku." pikir Miku gaya dan nada seperti detektif.
Miku kemudian menoleh ke arah Kaito dengan dramatis. Lalu Miku pun memeluk Kaito. Hal itu mengejutkan Kaito.
"Hatsune?! Apa maksudnya ini?!!" ucap Kaito terkejut.
"Kaito ingin aku peluk kan? Maksudnya yg tadi itu gitu kan?" sahut Miku.
"Kata siapa!!?" tanya Kaito.
"Ayolah, Kaito-senpai jangan malu-malu. Kita kan sedang nge-date." jawab Miku memeluk Kaito lebih erat.
"Sudah kubilang ini bukan date!" kata Kaito berusaha melepaskan pelukan Miku.
"Oohh.. begitu rupanya. Jadi kamu membatalkan janji kita pergi belanja ke pasar ikan, agar bisa kencan dengan Miku-chan." ujar Meiko yg ternyata sudah berdiri di sebelah mereka.
Meiko menatap tajam dengan wajah yg kejam layaknya seorang preman.
"Ooooooo...!!!! This is the end of the world!!!" pekik Kaito dalam hati dengan wajah shock dan berkeringat saat melihat Meiko.
Meiko lalu memisahkan Kaito dan Miku dengan cara mendorong mereka ke arah berseberangan dengan kedua tangannya. Miku pun jadi mundur ke belakang, sementara Kaito mundur dan bersender di pagar pembatas. Meiko lalu mencengkeram kerah baju Kaito membawanya berputar beberapa kali lalu melepasnya. Kaito pun terpundur kebelakang, sementara Meiko berputar sekali lagi lalu memukul perut Kaito. Sambil memukul dia terlihat mengetarkan tangannya sambil berteriak mirip Bruce L**. Kaito pun terpental kebelakang sekitar 3 meter, jatuh berguling-guling dan terseret dilantai hingga menabrak sebuah tong sampah sampai berantakan.
"Ayo Miku-chan kita pulang." ajak Meiko sambil menarik lengan Miku.
"Tapi bagaimana dengan Kaito-senpai?" tanya Miku sambil berjalan kareba ditarik Meiko.
"Tenang saja, dia akan baik-baik saja." jawab Meiko masih merasa jengkel.
Di kediaman Megurine, Luka kembali membaca buku itu. Kali ini dia sudah sampai di 'Diary of F'.
"Hari ini tanggal 10 November, anak dari Dr. Shiro dan Dr. Kuro lahir. Aku sendiri yg mengantarkan Dr. Shiro dan Dr. Kuro ke rumah sakit saat itu. Wajah Dr. Shiro nampak begitu bahagia saat menggendong putra pertamanya itu. Aku jadi tidak sabar menantikan kelahiran anakku juga. Begitu pula istriku yg nampak mengelus perutnya yg semakin membesar itu." baca Luka pada diary itu.
"10 November? Coba kulihat.." ucap Luka sambil membuka situs percarian web.
Kemudian Luka mengetikan, '10 november' dan klik cari. Dan ia menemukan sesuatu yg mengejutkan di wik*pedia. Ternyata pada tanggal itu adalah hari pahlawan di negara Indonesia.
"Mungkin hanya perasaanku saja. Lagipula ini tak ada hubungannya dengan Indonesia." pikir Luka.
Tiba-tiba Luka mendengar suara bising dari luar. Benda-benda disekitar mulai bergetar.
"Ada apa ini? Gempa?" ujar Luka bingung.
"Tidak, gempa tidak seperti ini. Ada jeda diantara getarannya. Ini.. langkah kaki?!" sambung Luka menyadari sesuatu.
Kemudian Luka bergegas bangun dari tempat duduknya dan menuju ke jendela. Dia melihat keluar melalui jendela itu. Luka pun terbelalak terkejut melihat ada tangan hitam besar mengarah tepat ke arahnya. Namun tiba-tiba datang Ray menendang tangan hitam itu. Serangan tangan hitam itu pun berbelok dari ruang baca ke kamar-kamar di sebelahnya. Dan bagian kanan kediaman Megurine pun nampak hancur. Luka melihat sendiri kalau kamarnya juga hancur. Kemudian Luka melihat ke arah Ray yg ada dibawah.
"Hei! Megurine-san! Sebaiknya kamu segera berubah!" ucap Ray dengan lantang melihat ke arah Luka.
"Ray-kun! Apa itu tadi?" tanya Luka.
"Kemarilah, dan lihat sendiri!" suruh Ray dengan santai.
Luka pun berubah lalu melompat ke bawah dan mendarat tepat disamping Ray. Luka kemudian menoleh ke arah kiri, dan sangat terkejut tangan itu memngayun mengarah ke arahnya lagi.
"Kamu menjebakku!" bentak Luka.
"Wire: on." ucap Ray sambil menjertikkan jarinya.
Dan tangan kiri raksasa itu pun nampak hancur sebelum menyentuh mereka. Yg ada hanya hembusan angin akibat ayunan tangan itu.
"Ray-kun? Kenapa?" ucap Luka terkejut sambil melihat ke arah Ray.
"Aku tak mungkin membiarkan ratuku terluka." jawab Ray sambil tersenyum dengan rambutnya nampak bergoyang tertiup angin.
Kemudian ada satu tangan lagi mengayun ke arah mereka. Ray langsung memeluk tubuh Luka dengan tangan kirinya dan membawanya melompat menghindar. Dan dari atas, nampaklah dengan jelas sosok major batu pemilik tangan itu.
"Sebaiknya kamu keluarkan instrument mu, my queen." usul Ray setelah mendarat ditanah lagi bersama Luka.
"Ray-kun.." ucap Luka dalam hati sambil melihat ke arah Ray yg melihat ke arah major batu.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.