VocaWorld, chapter 89 - Keheningan Sebelum Badai

Pagi hari di rumah Miku, Miku terlihat tidur dengan nyenyak. Tanpa dia sadari, Luka sedang tidur di sebelahnya sambil memeluknya.
"Aahh.. Kaito-senpai.. jangan memelukku terlalu erat.." ujar Miku mengigau.
Miku pun mendekap Luka dan membenamkan kepalanya di dada Luka.
"Kaito-senpai, kenapa dadamu lembut banget? Jangan-jangan Kaito-senpai perempuan." sambung Miku dalam tidurnya.
"Tidak mungkin!" ucap Miku terperanjat kaget dan bangun dari tidurnya.
"Oh hanya mimpi rupanya. Kukira Kaito-senpai benar-benar perempuan." kata Miku dengan mata masih mengantuk.
Miku pun melihat ada Luka di hadapannya sedang tidur dengan pulas memeluk Miku sebagai gulingnya.
"Whooaa..!! Megurine-senpai!!!" teriak Miku sambil mundur ke belakang duduk bersandar ke bingkai jendela.
Luka pun terbangun akibat teriakan Miku. Luka mengucek-ngucek matanya dan melihat ke arah Miku.
"Se-se-se-sedang apa Megurine-senpai di kasurku?" tanya Miku tampak ketakutan.
"Dibawah, aku tak bisa tidur. Jadi aku naik aja ke atas lalu memeluk Miku yg imut." jawab Luka dengan nada masih mengantuk.
"Lagipula Miku-chan nampaknya tidak keberatan kok semalam waktu aku peluk." sambung Luka sambil bergeser mendekati Miku.
"Whoa.. jangan dekat-dekat!" tolak Miku sambil mendorong tubuh Luka.
"Miku-chan.." ucap Luka sambil tetap mendekati Miku.
"Aaa..!! Meiko-san tolong aku..!" teriak Miku sambil berlari keluar dari kamarnya dan menuruni tangga.
Dibawah terlihat Meiko sedang bersih-bersih.
"Meiko-san, tolong pindahkan saja Megurine-senpai ke kamarmu.." pinta Miku sambil memegang bagian bawah baju Meiko.
"Kenapa memangnya?" tanya Meiko.
"Dia tadi naik ke ranjangku dan memelukku sambil tidur." jawab Miku.
"Lah, kenapa? Kan dulu juga waktu kecil kita suka saling pelukan kalau tidur." sahut Meiko.
"Tapi.. inikan beda lagi. Terasa ada yg aneh dengan pelukannya." balas Miku.
"Selamat pagi.. Meiko-chan.." ucap Luka sambil menuruni tangga.
"Selamat pagi, Megurine-san." sahut Meiko.
"Whoa! Sembunyikan aku! Sembunyikan aku!" ucap Miku sambil bersembunyi dibalik punggung Meiko.
"Megurine-san apa yg kamu lakukan pada Miku-chan hingga dia seperti ini?" tanya Meiko sambil tersenyum aneh.
"Tadi semalam aku tidak bisa tidur. Lalu aku lihat Miku terlihat imut banget saat tidur, jadi aku peluk dia saja. Dan akhirnya aku bisa tertidur dengan lelap." jawab Luka sambil tersenyum.
"Hahaha.. ya pantas saja kalau begitu." ucap Meiko sambil tersenyum sinis.
"Miku-chan, cepat mandi dulu sana." suruh Meiko.
"Tidak ah, sekarang kan masih dingin." tolak Miku karena saat itu masih jam 6 pagi.
"Tak apa kok kalau tidak mau sekarang. Nanti kan kita bisa mandi bareng. Aku akan bantu menggosok seluruh bagian tubuhmu." ujar Luka sambil tersenyum.
"Bahkan sampai bagian tersembunyi." bisik Luka sambil mendekatkan kepalanya ke Miku yg bersembunyi dibalik Meiko.
"Iiihh.. tidak! Kalau gitu aku duluan saja!!" ucap Miku tampak ketakutan lalu berlari ke kamar mandi.
"Megurine-san, jangan bilang kalau kamu melakukan itu untuk.." ujar Meiko sambil tersenyum aneh.
Luka hanya tersenyum dengan anggun ke arah Meiko seperti membenarkan dugaan Meiko.

Sementara itu Ray bersama Dante sedang ada di tengah kota. Mereka sedang berada di pertengahan kota, disebuah taman yg terdapat air mancur berukuran besar. Ray dan Dante sudah dalam keadaan berubah saat itu.
"Ini sudah saatnya." ucap Ray.
"Aniki yakin akan melakukannya?" tanya Dante.
"Saat ini kita sudah tak punya waktu lagi. Sudah saatnya kita akhiri." ujar Ray sambil tersenyum.
Kemudian Ray menggunakan melody of silent nya dan menyelubungi seluruh isi wilayah terpadat Voca Town itu sejauh 5 kilometer. Sementara wilayah pinggiran siasanya tidak terkena, seperti rumahnya Miku dan yg lainnya. Saat menggunakannya, Ray terlihat memegang dadanya.
"Aku harus tahan. Ini semua adalah tugasku. Tanggung jawabku." ujar Ray dalam hati dengan nada berat seperti menahan sakit dan wajahnya juga terlihat meneteskan keringat.
"Aniki, ada apa?" tanya Dante.
"Aku tak apa-apa." jawab Ray dengan nada biasa menyembunyikan rasa sakitnya.
"Aniki yakin menggunakannya pada area seluas ini? Itu sangat berbahaya untuk Aniki." kata Dante terlihat khawatir.
"Jika memang ini yg diperlukan, maka aku akan melakukannya." jawab Ray.
"Walaupun begitu, Aniki terlalu memaksakan diri." sahut Dante.
"Daripada mengkhawatirkanku, lebih baik kamu pergi dan jalankan rencana kita." suruh Ray.
"Baiklah, Aniki. Aniki bertahanlah." terima Dante kemudian melompat pergi.
Voca Town terlihat berwarna hitam putih, kecuali orang-orang nya yg tampak masih berwarna.
"Aku tak menyangka, melody of silent bisa digunakan pada area seluas ini walau cuma dengan irama hati. Aniki memang hebat. Padahal yg aku tahu, dia perlu bersenandung untuk menggunakannya." ujar Dante sambil melihat-lihat Voca Town yg menjadi hitam putih.
"Sebaiknya aku cepat, aku tak boleh membiarkan Aniki menunggu terlalu lama." sambung Dante yg kemudian menambah kecepatannya.
Dia melompat lebih cepat melesat ke arah selatan, tepatnya ke arah rumah Miku. Sementara di rumah Miku, terlihat Rin dan Len sedang nonton TV. Kemudian mereka dikejutkan oleh sebuah berita darurat.
"Maaf memotong acara anda tiba-tiba. Kami mendapat laporan kalau ada fenomena aneh terjadi. Kita langsung ke TKP. Disana ada reporter kami." ucap suara pembaca berita di TV.
Rin dan Len terlihat memiringkan kepalanya saat mendengar suara itu.
"Ya, terima kasih. Ada fenomena aneh di Voca Town. Tiba-tiba saja semuanya jadi berwarna hitam putih kecuali kami. Ini benar-benar aneh sekali. Kejadian yg benar-benar langka." ujar suara reporter dari TV itu.
"Whoa.. ada suara tapi tak ada orangnya?!" ucap Len terkejut saat menyadari kalau sedari tadi tak ada orangnya di TV itu.
"Iya, berita ini aneh!" tambah Rin.
"Kenapa kalian begitu terkejut, mungkin mereka sedang menyorot sekitarnya dulu makanya tidak ada orang." sahut Luka dengan tenang.
"Tapi, posisi kamera tidak berubah." ujar Rin.
"Ini seperti sedang menyorot reporter, tapi reporternya tidak ada." sambung Len.
"Hah?" ucap Luka tidak percaya lalu mendekati Rin dan Len.
Luka pun melihat ke arah TV sambil mendekati mereka berdua. Betapa terkejutnya Luka, karena yg dikatakan oleh Rin dan Len ternyata benar.
"Ada apa ini? Semua orang jadi tak terlihat?" gumam Luka sambil memegang dagunya.
"Jangan-jangan.." ucap Luka lalu berlari keluar rumah melalui pintu depan.
Kemudian Luka melihat ke arah pusat kota. Namun tak ada yg aneh dari pandangannya.
"Hmm.. ini aneh. Mereka mengatakan kalau disana jadi hitam putih semuanya kecuali mereka." pikir Luka lebih jauh.
"Ada apa Megurine-senpai? Kenapa tiba-tiba lari keluar?" tanya Miku mengikuti Luka keluar.
"Tunggu sebentar, aku sedang berpikir." jawab Luka.
"Hitam putih. Tidak terlihat. Apa artinya ini? Rasanya aku pernah mengalaminya. Tapi dimana?" ujar Luka dalam hati sambil berusaha mengingat sesuatu dan memainkan ujung poni rambutnya.
"Ah, benar juga. Waktu itu di sekolah!" ujar Luka saat menyadarinya.
"Eh, ada apa dengan sekolah?" tanya Miku terlihat bingung.
"Miku-chan ingat saat melawan murid yg dirasuki darksider tipe minor disekolah?" tanya balik Luka.
"Hmm.." ucap Miku berpikir keras berusaha mengingatnya.
"Oh yg waktu itu ya? Iya aku ingat. Emang ada apa?" sambung Meiko yg juga keluar lalu bertanya balik.
"Saat itu disekitar kita jadi hitam putih kan? Semuanya, kecuali kita. Dan mereka yg hitam putih sama sekali tidak menyadari kita. Atau bisa dibilang kita jadi tak terlihat." jelas Luka.
"Begitu rupanya. Ini mulai masuk akal." sahut Meiko saat menyadarinya juga lalu memegang dagunya.
"Eh? Eh? Apa yg kalian bicarakan sih? Aku tidak ngerti." ujar Miku melihat ke Meiko dan lalu ke Luka dengan tatapan bingung.
"Kenapa kalian semua keluar sih?" tanya Len yg menghampiri mereka bertiga.
"Ada apa ini?" tanya Rin juga keluar dari rumah.
"Awas! Aku akan mendarat!" teriak Dante dari kejauhan.
Dante yg melayang dan melesat dengan cepat di udara itu pun lalu mendarat dan berhenti di depan Miku dan yg lainnya.
"Wah.. kebetulan kalian sedang berkumpul. Jadi aku lebih mudah menyampaikan pesan yg aku bawa dari Aniki. Sebelum mengatakannya, ijinkan aku memberi hormat pada gadis-gadis ini." ujar Dante sambil mengayunkan tangannya lalu membungkukkan badannya.
"Hey! Jangan bilang kamu menganggapku perempuan juga ya!! Hey!!" protes Len, namun Dante nampak mengabaikan.
"Saat ini seluruh kota akan jadi sandera kami. Mereka dihilangkan oleh Aniki. Walau tak benar-benar hilang sih." sambung Dante.
Miku dan yg lainnya pun nampak terkejut.
"Tapi tidak sulit bagi kami untuk melenyapkan mereka semua dalam sekejap. Karena Aniki telah memasang sebuah jebakan diseluruh bagian kota ini!" sambung Dante lagi.
Luka semakin terkejut mendengar hal itu.
"Jebakan? Apa maksudnya?" tanya Meiko.
"Apa itu? Bom?" tanya Miku.
"Tidak. Ini lebih mengerikan daripada bom. Aku pernah melihatnya menggunakannya. Dan dia bisa menghancurkan bagian tubuh major mirip batu itu dengan sekali serang." ujar Luka.
"Jadi kau sudah melihatnya juga? Memang itu adalah teknik yg sangat dahsyat. Dengan menyentuh sekali saja, dia bisa membuat sebuah bom dalam bentuk petir." jelas Dante.
"Kamu bilang sandera kan? Kalau begitu pasti ada syarat agar mereka dilepaskan." ujar Luka.
"Ya, syaratnya mudah. Temui kami di sebuah kuil di perbukitan. Kami akan tunggu saat jam 8 malam." jawab Dante.
"Lalu apa yg harus kami lakukan setelah kesana?" tanya Meiko.
"Maaf, aku tak diperbolehkan menjawabnya. Sampai jumpa.." ucap Dante lalu melompat pergi.

Luka dan keluarga Miku nampak sedang melakukan rapat di dalam rumah. Mereka berkumpul duduk di sofa dan berpikir.
"Bagaimana menurutmu, Megurine-san? Sebaiknya kita harus apa?" tanya Meiko.
"Mungkin kita harus memenuhi keinginan mereka. Ini demi seluruh warga Voca Town." jawab Luka.
"Kalau tidak salah yg tadi itu temannya Ray-niichan kan?" ucap Rin.
"Dia memanggil kakak itu dengan sebutan 'aniki'. Sudah pasti dia itu adiknya kakak itu kan?" sahut Len yg duduk di sebelah Rin.
"Tapi aku masih tak percaya Ray-niichan menjadikan semua orang jadi sandera nya. Kupikir dia bukan orang jahat." ujar Rin tampak kecewa.
"Sejak awal dia memang orang jahat kan? Dia hanya berpura-pura baik saja supaya lebih mengenal kita dan tahu kelemahan kita." balas Miku yg duduk di sebelah Meiko.
"Tumben Miku-nee jadi pinter." sahut Len.
"Aku memang dari dulu pinter kan? Haha.." ucap Miku dengan bangga.
Luka yg duduk di sebelah Meiko terlihat sedang berpikir.
"Berpura-pura baik? Ray-kun?.." ucap Luka dengan nada sedih.
"Megurine-san, jadi selanjutnya kita harus bagaimana menghadapi mereka?" tanya Meiko.
Namun Luka hanya diam dan masih berpikir.
"Megurine-san!" bentak Meiko.
"Eh, iya ada apa?" tanya Luka saat sadar dari lamunannya.
"Selanjutnya kita harus apa?" tanya Meiko sekali lagi.
"Kita tidak bisa menghadapi mereka sendiri. Kita juga harus meminta bantuan Kaito-kun dan yg lainnya." jawab Luka.
Di pusat kota di dekat air mancur. Ray nampak masih berdiri dengan sabar sambil bercucuran keringat.
"Aniki, aku sudah kembali." ujar Dante saat mendarat di depan Ray.
"Oh baguslah.." sahut Ray kemudian menghentikan melody of silent nya.
"Apa benar tak apa menghentikannya sekarang Aniki? Waktu pertemuannya kan masih lama." tanya Dante.
"Tenang saja, mereka takkan tahu. Mendengar kita menyadera orang di seluruh kota pasti membuat mereka panik, apalagi ditambah dengan ancaman akan menghancurkan seluruh kota. Pasti mereka akan melakukan rapat tanpa sempat menonton TV." jelas Ray.
"Aniki beneran yakin itu yg akan terjadi?" tanya Dante lagi yg merasa belum yakin.
"Tentu saja. Melihat dari seperti apa mereka itu, aku yakin mereka pasti akan melakukan seperti apa yg aku perkirakan." jawab Ray.
"Apalagi, saat ini dia masih belum bisa memecahkan teka tekinya." sambung Ray dalam hati sambil menundukkan kepala dan tersenyum.
"Hmm.. Aniki memang sukar dipercaya. Darimana asalnya semua ide-ide itu? Padahal bentuk dan ukuran otak manusia kan tidak jauh beda." ujar Dante.
"Jika kamu meluaskan pandanganmu akan dunia, maka kamu akan selalu menemukan apa yg kamu cari." ujar Ray sambil tersenyum.
"Hmm.. lagi-lagi pake pepatah. Aku sulit untuk mengerti hal semacam itu, Aniki." gerutu Dante.
"Daripada memikirkannya, mending kita bersiap-siap. Ayo, Dante!" kata Ray sambil melompat pergi.
Dante pun mengikutinya dari belakang.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】