VocaWorld, chapter 85 - Panasnya Sebuah Festival (Mulai Nyalakan Kembang Apinya)

Dibelakang panggung pertunjukkan, Miku dan yg lainnya nampak sedang bersiap-siap. Meiko terlihat sedang mengajari Miku menghapal lirik lagu 'Senbonzakura'. Sementara Rin dan Len sedang melatih dan menyelaraskan gerak dance mereka untuk di panggung nanti.
"Luka-tan.. bolehkah saya ikutan juga?" tanya Kamui pada Luka yg terlihat sedang berbicara dengan salah satu staf panggung.
"Ikutan? Ikutan apa?" sahut Luka bertanya balik.
"Ikut dalam acara ini. Akan saya tunjukkan kalau saya adalah ahlinya menyanyikan lagu tradisional." jawab Kamui sambil menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jari.
"Oh.. boleh saja. Mau nyanyi lagu apa memangnya?" tanya Luka lagi.
"Eh?! Hmm.. eto.." ucap Kamui terkejut lalu kemudian mencoba berpikir.
"Kaito-dono, saya mesti nyanyi apa?" tanya Kamui berbalik menghadap Kaito.
"Kenapa kau malah bertanya padaku? Mana aku tahu!" jawab Kaito.
"Kalau tak tahu lagu apa yg mau dinyanyikan, maka sebaiknya urungkan saja niatmu untuk ikut dalam acara ini." kata Luka dengan wajah judesnya.
"Tidak-tidak-tidak.. saya pasti akan segera mengatakan judulnya, beri waktu sebentar.." pinta Kamui pada Luka.
"Kaito-dono tolonglah.." kata Kamui pada Kaito memohon bantuan.
"Hmm.. bagaimana kalau nyanyiin lagunya S*12 aja?" usul Kaito.
"A-apaan tuh S*12?" tanya Kamui yg tidak mengerti.
"Kau tak tahu S*12?! Ya ampun.. padahal kan suaramu itu mirip banget dengan vocalis nya." ujar Kaito sambil nepuk jidat.
"Mirip dengannya? Haha.. Kaito-dono nampaknya salah dengar. Yang benar itu pasti, suara vocalis S*12 lah yg dimirip-miripkan dengan suara saya!" sahut Kamui dengan percaya diri dan muncul kilauan-kilauan di sekitarnya.
"Terserah dah.." ucap Kaito dengan suara pelan sambil memalingkan wajahnya dan tersenyum sinis.
"Kaito-dono emangnya mau nyanyi apa? Duet dengan saya saja, bagaimana?" tanya Kamui.
"Maaf, aku sudah berjanji untuk duet bersama Meiko." jawab Kaito menolak tawaran Kamui.
"Soalnya kalau sampai tidak, aku akan pulang dengan wajah babak belur dihajar olehnya." sambung Kaito dalam hati dengan wajah pucat.
Sebelumnya, saat menuju ke belakang panggung, Kaito diseret oleh Meiko. Kemudian dia disenderkan oleh Meiko di tiang.
"Takkan kubiarkan kamu menggoda gadis polos seperti Miku-chan. Pokoknya saat nyanyi nanti, kamu harus duet denganku! Karena, aku tak bisa menbiarkan playboy sepertimu duet dengan Miku-chan." ancam Meiko dengan tatapan kejam ala preman.
"Eh, tapi kan.." ucap Kaito dengan ketakutan.
Perkataan Kaito terpotong karena tiba-tiba Meiko memukulkan tangannya ke arah wajahnya, untung saja Kaito bisa mengelak dengan memiringkan kepalanya.
"Aaaaaaaa..!!! Besinya.. besinya penyok!?" ucap Kaito dalam hati terkejut dengan mata terbelalak melihat besi tiang yg penyok dipukul oleh Meiko.
"Ini bukan permintaan." sambung Meiko sambil mencengkeram bagian dekat leher yukata Kaito.
Kembali ke masa kini.
"Ayolah Kaito-dono.." bujuk Kamui.
Dari kejauhan Meiko menatap Kaito dengan tatapan iblis.
"Ooooooo..!! Padahal cuma dari jauh. Tatapan macam apa itu?!" komentar Kaito yg mulai berkeringat dingin
"Ma-maaf Gakupo, hehe.. aku masih harus menghafal liriknya." ujar Kaito lalu meninggalkan Kamui.
"Kaito-dono!" panggil Kamui, namun Kaito tetap berjalan menjauh.
Kamui kemudian berbalik dan menuju ke arah Gumi.
"Megu! Maukah..", "Tidak!" tolak Gumi memotong perkataan Kamui.
"Padahal aku belum selesai ngomong kan?!" protes Kamui.
"Apa memang mesti menyanyikan lagunya S*12 saja ya?" gumam Kamui dengan kepala tertunduk.
"Baiklah semuanya perhatikan kemari!" ucap Luka dengan suara lantang.
Miku dan yg lainnya pun mulai memperhatikan ke arah Luka.
"Acaranya akan dimulai satu jam lagi. Kalian masih punya waktu untuk bersantai. Untuk yg mau latihan, silahkan latihan saja dulu. Tapi untuk yg mau jalan-jalan disekitar festival juga silahkan jalan-jalan dulu. Asalkan, 10 menit sebelum konser ini dimulai, kalian harus berkumpul lagi disini." kata Luka menjelaskan tentang waktu dimulainya acara itu.
"Hmm.. jadi kami boleh jalan-jalan dulu?" tanya Len dengan bersemangat.
"Ya." jawab Luka sambil tersenyum.
"Yeah! Ayo kita lihat-lihat sekitar, Rin!" ajak Len pada Rin.
Rin pun mengangguk. Kemudian mereka berdua pun berlari keluar dari backstage.
"Aku juga mau ikut!" ucap Miku yg berlari menyusul Rin dan Len.
"Tunggu, Miku-chan!" cegah Meiko, namun Miku tak mendengarkan dan tetap berlari keluar dari backstage.
"Ya ampun anak itu.. padahal aku belum selesai memberikan pengarahan padanya." sambung Meiko lalu menghela napas.
"Gumi-chan, bisakah kamu pastikan mereka tidak tersesat dan telat sampai disini." pinta Luka pada Gumi yg sedang duduk di kursi menghapal lirik.
"Ah, baiklah Luka-oneesama.." sahut Gumi lalu menyimpan kembali kertas berisi lirik dan nada-nadanya itu.
Gumi pun keluar dari backstage.

Festival itu terlihat ramai, Miku, Rin dan Len terlihat berjalan kesana kemari, mampir dari satu ruko ke ruko lain. Menghampir stand jajanan yg ada di festival itu.
"Piscok! Yeah!" ucap Len saat melihat ruko bertuliskan 'PisCok' dengan lampu neon.
Kemudian Len pun mendekati ruko itu, Rin dan Miku mengikutinya dari belakang.
"Eh, kenapa tidak ada pisangnya? Bang, pisangnya mana? Bukannya disini jualan pisang?" tanya Len yg bingung hanya melihat kue di ruko itu.
"Eh, kata sapa ini toko jual pisang? Baca yg benar dong!" jawab abang penjual di ruko itu dengan logat batak sambil menunjuk ke atas.
Len, Rin dan Miku pun melihat lagi ke arah papan ruko itu. Dan terlihatlah ternyata ada neon yg menyala setiap 10 detik sekali. Ternyata di neon itu tertulis, 'Kue Lapis Bang Ucok'.
"Suster ngepo!", "Beranak dalam baki!", "Dokter keramas!" ucap Len, Rin lalu Miku berurutan dengan wajah terkejut, mata gelap, dan mulut menganga.
"Opo iki mas!!!??" sambung mereka bersamaan tetap dengan ekspresi yg sama.
"Terus yg jualan pisang coklat dimana?" tanya Len yg nampak masih terkejut terlihat dari wajahnya yg berkeringat.
"Oh kalau yg jual pisang coklat disebelah awak tuh." jawab penjual itu menunjuk ke arah ruko disebelahnya.
Len, Rin dan Miku pun menoleh ke arah ruko yg ditunjuk oleh penjual itu. Dan benar saja memang disana menjual pisang coklat. Mereka bertiga pun melihat ke arah papannya untuk memastikan. Disana tertulis, 'Beneran PisCok asli, tidak seperti toko disebelah' dengan tanda petunjuk ke ruko kue lapis bang ucok tadi.
"Mereka kreatif sekali ya." komentar Len.
Miku dan Rin hanya mengangguk-ngangguk saja. Akhirnya Len pun membeli 2 batang pisang coklat, sementara Miku dan Rin hanya membeli masing-masing satu.
"Akhirnya terkejar juga." ucap Gumi yg baru sampai mengejar Miku, Rin dan Len.
"Gumi-chan!" ucap Miku yg menyadari kehadiran Gumi.
"Kenapa Gumi-chan tampak kecapean gitu?" tanya Miku.
"Aku dari tadi ngejar-ngejar kalian tahu. Kenapa kalian jalannya cepat-cepat gitu sih? Padahal ramai banget." gerutu Gumi.
"Hahaha.. maaf.." sahut Miku tertawa bodoh.
Kemudian saat Miku melihat-lihat sekitar, tak sengaja ia melihat Kaito.
"Kaito-senpai..!" panggil Miku sambil berlari menghampiri sosok Kaito.
"Miku-chan, tunggu.." ucap Gumi.
"Ayo Rin, kita berburu makanan lagi!" ajak Len.
"Ayo.." sahut Rin.
Kemudian Rin dan Len pun berlari ke arah yg berbeda dengan Miku.
"Hei kalian tunggu! Ya ampun.. kenapa ini harus terjadi padaku!!" kata Gumi merasa kesal ditinggal sendirian.
Gumi pun akhirnya memutuskan mengejar Rin dan Len, karena yakin Miku aman bersama Kaito.
"Paman ternyata beneran jualan disini." ujar Kaito pada paman penjual es krim yg kemarin yg ternyata buka ruko juga.
"Hahaha.. iya dong. Mana mungkin aku melewatkan kesempatan berjualan ditempat ramai begini." jawab paman penjual es.
"Kaito-senpai." sapa Miku yg sampai di sebelah Kaito.
"Eh, Hatsune?" ucap Kaito saat melihat Miku.
"Ohh.. nona yg kemarin! Haha.. jadi beneran kalian akan bernyanyi dalam konser malam ini?" tanya paman penjual es.
"Ya, aku akan menyanyikan lagu dengan ceria. Paman nonton ya!" jawab Miku dengan ceria.
"Oh.. tentu saja. Aku senang melihat dan mendengar seseorang bernyanyi dengan senyuman diwajahnya." balas paman penjual es.
"Oh ya, paman kami beli es krimnya ya 2. Yg rasa vanilla." pesan Kaito.
"Oke, tuan pelanggan." sahut paman penjual es.
"Oh ya, aku lupa bilang padamu nona. Tadi itu ada teman nona yg terus mengikutimu." ujar paman penjual es krim.
"Oh maksud paman yg berambut hijau?" tanya Miku.
"Bukan. Tapi yg bertopeng kucing. Tapi saat dia melihat nona bersama tuan ini, dia pergi." jawab paman penjual es.
"Topeng kucing?" ucap Kaito dalam hati.
Miku hanya memiringkan kepalanya karena bingung.

Diantara keramaian, Gumi nampak berjalan mencari-cari keberadaan Rin dan Len. Namun tidak menemukannya dimanapun.
"Aduh, mereka kemana sih? Kan bahaya jalan-jalan ditengah keramaian begini." ujar Gumi sambil menoleh ke kiri dan ke kanan mencari Rin dan Len berjalan ditengah keramaian.
"Aduh!" ucap Gumi menabrak seseorang lalu terjatuh di tanah.
"Sakit.." rintih Gumi sambil memegangi pantatnya.
"Ma-maaf.. kau tidak apa-apa?" tanya seorang laki-laki berambut putih mengulurkan tangannya.
"Aaaa!!" teriak Gumi saat melihat laki-laki itu ternyata berwajah iblis sambil merem ketakutan dan membalikan tubuhnya.
"Kenapa? Ohh.. ini cuma topeng kok." sahut laki-laki itu menunjuk ke wajahnya yg ternyata tertutup topeng itu.
Gumi tak tahu kalau itu adalah Dante karena suaranya tersamarkan akibat memantul di dalam topeng kayu berbentuk wajah menyeramkan, dengan taring mencuat dan lidah menjulur itu.
"To-topeng?" ucap Gumi dengan nada sedikit gemetar, dan terlihat ada sedikit air mata di pinggir matanya.
"Iya. Ya ampun, aku tak tahu kau penakut seperti itu.." ujar Dante.
"Eh, kamu kenal aku?" tanya Gumi sambil bangun lalu menepuk-nepuk yukatanya.
"Lupakan saja.. oh ya, sedang apa kau ditengah keramaian begini?" tanya Dante.
"Aku sedang mencari dua anak kecil, mereka seumuran anak kelas 1 SMP. Apa kamu melihatnya?" jawab Gumi lalu bertanya balik.
"Hmm.. maaf, aku tak melihat mereka. Akupun disini sedang mencari seseorang. Dia meninggalkanku begitu saja.." jawab Dante sambil menggaruk kepalanya.
"Oohh.." ucap Gumi sambil tertunduk.
"Kenapa suasananya jadi seperti ini?! Kami bernasib sama?!! Apa yg harus aku lakukan?" ujar Gumi dalam hati.
"Sangat berbahaya untuk gadis manis sepertimu sendirian ditengah keramaian begini." ujar Dante.
"Kenapa aku menyebutnya gadis manis?" ucap Dante dalam hati.
"Mau aku temani kembali ke backstage?" sambung Dante sambil melihat ke arah lain.
"Da-darimana kamu tahu aku dari backstage?" tanya Gumi terkejut.
"A?! Kalau itu.. eto.." jawab Dante mulai bingung.
"Bagaimana ini? Aku tak mungkin membuka topengku dan menjawab, 'Karena aku adalah Yami Dante.'. Bisa-bisa aku dihajarnya. Kalau aku sampai bertarung ditengah keramaian begini, bisa-bisa aku dibunuh oleh Aniki." pikir Dante mulai panik.
"A-apa mungkin karena kamu tahu aku akan menyanyi di konser malam ini?" tanya Gumi lagi.
"Nah.. iya, karena itu. Karena aku yakin gadis manis sepertimu memang seorang penyanyi. Haha.." jawab Dante dengan grogi.
"Kenapa aku malah memujinya lagi??!!! Ada apa dengan diriku? Kenapa jantungku berdebar seperti ini? Apa yg terjadi denganku, Aniki?!!" ujar Dante dalam hati.
"Kurasa lebih baik kau kembali ke backstage, aku yakin anak-anak itu sudah kembali kesana." ujar Dante.
"Ya, kurasa kamu benar." sahut Gumi yg sedari tadi entah kenapa menjawab dengan kepala tertunduk.
"Peganglah tanganku, supaya kamu tidak tersesat." ujar Dante mengulurkan tangannya.
Namun Gumi malah mundur dan takut. Dante menyadari Gumi masih takut padanya.
"Ya sudah, kalau kamu takut cukup peganglah yukataku. Berjalanlah dibelakangku." sambung Dante.
Kemudian Dante pun melewati Gumi dan berjalan di depan, sementara Gumi berjalan di belakangnya sambil memegangi bagian lengan yukata Dante.

Di tempat lain di tengah keramaian, Rin dan Len nampak masih berjalan-jalan. Kemudian mereka berjongkok melihat permainan menangkap anak ikan mas.
"Wah.. ikannya imut-imut." ucap Rin saat melihatnya.
"Haha.. mungkin aku harus nangkap satu buat dimasak dirumah." ucap Len berjongkok disamping Rin.
"Tidak! Tidak boleh! Jangan dimasak! Kan kasihan ikannya." bentak Rin.
"Hah? Apa maksudnya? Ikan tentu saja untuk dimasak kan?" bantah Len.
"Tidak-tidak! Pokoknya ikannya kita pelihara!" balas Rin lebih keras.
"Wah-wah.. ada apa ini? Kenapa dua bersaudara yg manis ini bertengkar?" ucap seorang laki-laki bertopeng kucing berjongkok dibelakang mereka.
"Jangan ikut campur!" bentak Len.
"Tunggu.." ucap Rin lalu mengendus tubuh laki-laki itu.
"Ray-niichan.. sudah kuduga ini Ray-niichan." ujar Rin setelah mengendus laki-laki.
"Bagaimana kamu tahu hanya dengan mengendusku, gadis kecil?" tanya Ray sambil menggeserkan topeng kucingnya ke atas.
"Eh, kakak yg waktu itu?!" ucap Len terkejut.
"Kakak jangan ikut campur, pokoknya aku akan tangkap dan masak ikan ini." ujar Len kemudian mengambil penangkap ikan dari bambu dan kertas itu.
"Takkan kubiarkan, pokoknya kalau aku yg dapat aku akan pelihara. Takkan kubiarkan kamu memasaknya." sahut Rin juga mengambil penangkap ikan tersebut.
Mereka pun bertanding, namun berkali-kali gagal karena kertas nya selalu jebol.
"Aaa..! Kenapa ini?! Kenapa kertasnya jebol terus? Uangku sudah habis. Paman! Bisakah ditebalkan dikit kertasnya?" ujar Len sambil memegang kepalanya lalu bertanya.
"Haha.. tidaklah. Entar itu jadi tidak adil." jawab paman penjaga permainan tersebut.
"Ray-niichan.. bantu aku menangkap ikannya..!" pinta Rin merengek pada Ray.
"Iya-iya.. begini.." sahut Ray lalu memegang lengan Rin.
Ray memegang penangkap ikan yg sedang dipegang oleh Rin sekaligus menggenggam tangan Rin. Kemudian dia mengarahkan dengan perlahan. Dan ikan mas itupun berhasil ditangkap. Terlihat mereka berhasil mendapatkan yg paling besar diantara anak ikan mas itu.
"Bagaimana bisa?!! Tadi aku juga pake teknik sama namun tidak berhasil!!" ucap Len nampak terkejut melihat Rin berhasil.
"Tidak mungkin!! Aku yakin berat ikan yg besar itu tidak kuat diangkat oleh kertas itu?!! Tapi kenapa kertasnya tidak jebol?!! Impossible!!!" kata paman penjaga stand tersebut nampak lebih terkejut dari Len.
"Eh, kenapa paman juga ikut terkejut?" tanya Len yg menyadarinya.
"Haha.. tidak kok." sahut paman itu tertawa bodoh.
Akhirnya Rin pun berjalan dengan ceria sambil membawa sebungkus anak ikan mas di dalam plastik berisi air itu. Sementara Len hanya tertunduk.
"Kau curang, Rin. Dibantu oleh dia." gerutu Len.
"Salah sendiri mau masak ikan mas imut-imut ini." sahut Rin lalu menjulurkan lidah pada Len.
Len merasa kesal, dan hendak menjambak pakaian Rin. Namun Ray menghalanginya.
"Sudah-sudah.. lebih baik kalian segera kembali ke backstage. Acaranya hampir dimulai kan?" ujar Ray melerai mereka.
"Iya juga, kami lupa!" ucap Len terkejut saat baru sadar.
"Bagaimana ini, Ray-niichan?" tanya Rin dengan khawatir.
"Ayo, aku antar. Aku punya jalan pintas." ujar Ray sambil memejamkan sebelah matanya.
Kemudian Ray memegang tangan Rin dan Len dan membawanya berlari menuju ke semak belukar. Kemudian mereka berlari menyusuri hutan di samping jajaran stand makanan dan permainan dan tak lama mereka melihat panggung.
"Sampai!" ucap Ray menghentikan larinya.
Mereka sampai tepat di samping backstage.
"Hmm.. sampai disini saja ya. Aku masih ada urusan. Aku menantikan pertunjukan kalian. Kuharap kalian bernyanyi dengan baik." ujar Ray sambil menurunkan kembali topengnya menutupi wajahnya.
"Tonton kami!" pinta Rin dan Len.
"Iya-iya.. tenang saja.." sahut Ray sambil mengusap kepala Rin dan Len.
Kemudian Ray pun pergi meninggalkan mereka. Lalu Rin dan Len pun berjalan menuju backstage.
"Eh, kalian ternyata sudah ada disini?" ujar Gumi yg baru datang.
"Seperti yg kubilang kan?" sambung Dante.
"Siapa dia?" tanya Rin pada Gumi.
"Kami bertemu saat di keramaian." jawab Gumi.
"Kalau begitu aku pergi ya." ujar Dante lalu berbalik.
"Tu-tunggu, terima kasih sudah mengantarku kemari." ucap Gumi.
"Sama-sama.." sahut Dante.
"Apa kamu akan menonton konser ini?" tanya Gumi.
"Ya tentu saja, aku akan menontonmu. Dah.." jawab Dante kemudian melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan mereka.
Wajah Gumi terlihat sedikit memerah.
"Ciieee.. apa yg terjadi nih selama kami tidak ada?" ucap Len menggoda Gumi.
"Ti-tidak ada apa-apa kok. Beneran!" jawab Gumi membantah Len dengan wajah memerah.
Tak jauh dari sana, Dante berjalan diantara orang yg sudah berbaris hendak menonton konser. Kemudian tiba-tiba ada seseorang bertopeng tengu merah menghentikannya.
"Apa kabar, tuan Lucifer?" sapa orang dengan yukata berwarna coklat itu.
"Siapa? Bagaimana kau tahu aku?" tanya Dante.
"Apa anda sudah lupakan saya? Nama saya.." jawab pemuda bertopeng tengu berambut coklat itu membisikkan sisanya ditelinga Dante.
Kemudian Dante terlihat sangat terkejut, matanya terbuka lebar dibalik topeng iblisnya.
"Tidak mungkin.." ucap Dante dalam hati.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】