VocaWorld, chapter 78 - Kebencian Tak Terbalaskan
Miku sedang berbelanja di sebuah toko swalayan. Dia nampak membeli banyak bahan makanan. Tapi kelihatannya yg paling banyak ia beli adalah daun bawang.
"Lagi diskon 30%, lumayan bisa borong." ujar Miku sambil mengambil daun bawang.
"Oh.. Hatsune!" ucap Kaito yg ternyata berada di toko swalayan itu juga.
"Kau disuruh belanja oleh Meiko ya?" sapa Kaito menghampiri Miku.
"Kaito-senpai." ucap Miku terkejut melihat Kaito.
"Aahh.. iya. Meiko-san menyuruhku membeli bahan masakan untuk hari ini." jawab Miku sambil malu-malu.
"Oohh.. tapi, kok beli daun bawangnya banyak banget?" tanya Kaito heran banyak daun bawang di keranjang belanja Miku.
"Hehehe.. soalnya lagi diskon. Buat persediaan sebulan." jawab Miku sambil tersenyum bodoh.
"Haha.. bilang aja doyan.. bukan karena diskon-diskon amat." ujar Kaito dalam hati sambil melirik ke arah lain dan tersenyum aneh.
"Kaito-senpai juga kenapa beli es krim banyak begitu? Mau pesta? Kok tidak undang aku?" tanya Miku melihat ada 2 es krim ukuran jumbo di keranjang belanja Kaito.
Mungkin itu sudah bukan cup lagi, tapi berupa ember.
"Ini gara-gara kemarin-kemarin tuh waktu liburan ke pantai. Otakku rasanya panas banget. Jadi aku butuh banyak es krim buat dinginin nya." jawab Kaito.
"Kalau begitu aku pulang duluan ya. Soalnya aku cuma mau beli ini aja." ucap Kaito yg lalu menuju ke arah kasir.
"Ya." sahut Miku.
Miku kemudian melanjutkan belanja sementara Kaito pulang lebih dulu menggunakan sepeda pink nya.
"Mungkin aku juga harus beli es krim kali ya. Biar sehati gitu ama Kaito-senpai. Hehehe.." ucap Miku yg lalu mendekati tempat es krim.
Dari luar nampak ada orang misterius yg memperhatikan Miku. Dia hanya bersender dekat pintu depan dan melihat melalui jendela.
"Hatsune-san, kamu harus mati." ucap orang itu dengan sorot mata tajam ke arah Miku.
"Nah, yg ini saja! Kayak di iklan-iklan tuh.. kayaknya enak banget. Mungkin saja kan aku bisa elegan seperti Megurine-senpai." ujar Miku dengan mata yg berbinar-binar melihat ke arah es krim bernama magn*m itu lalu membayangkan dirinya jadi dewasa dan elegan seperti Luka.
Dalam khayalan Miku.
"Kaito-kun." panggil Miku dengan wajah yg nampak dewasa dan tingkah yg elegan.
"Apa, Hatsune?" sahut Kaito.
"Jangan terlalu banyak makan es krim, itu tak baik untukmu, Kaito-kun. Nanti bagaimana kalau sampai otakmu beku?" ujar Miku dengan nada perempuan dewasa.
"Kau memang selalu nampak dewasa, Hatsune. Aku menyukaimu.." ucap Kaito sambil mendekap Miku.
"Aku juga menyukaimu, Kaito-kun." sahut Miku.
Kembali ke kenyataan, saat itu Miku nampak kegirangan hingga ia memejamkan matanya, menyentuh kedua pipinya dengan tangan, dan menggeleng-gelengkan wajahnya yg memerah itu.
"Maaf mbak, tempat es krim nya jangan dibuka terlalu lama. Nanti pada mencair." ucap salah satu penjaga toko swalayan yg menghampiri Miku.
"Hehe.. iya maaf." ucap Miku yg lalu mengambil es krim pilihannya dan lalu menutup tempat es krim itu.
"Aaaaaa..!!! Harganya.. mahal banget dah!!!" pekik Miku dalam hati terkejut melihat bandrol harga yg tertempel di tempat es krim itu.
"Uangnya tidak cukup. Kalau aku beneran beli es krim ini, aku tak bisa beli kubis itu. Tapi kalau aku beli kubis itu, aku tak bisa membeli es krim ini. Bagaimana ini?" ujar Miku dalam hati, wajahnya nampak berkeringat dan bingung.
"Kubis? Es krim? Kubis? Es krim? Kubis aja!" ucap Miku dalam hati hendak berlari ke arah kubis.
Namun tiba-tiba Miku berhenti karena tangannya seperti tertahan. Kemudian ia melihat ke arah es krim nya. Dan anehnya seperti muncul mata sedih di es krim itu dalam pandangan Miku.
"Miku-sama.. tolong jangan tinggalkan aku hanya untuk kubis itu?" ucap es krim itu bisa bicara.
"Tapi kalau aku tak bisa membeli kubis itu, Meiko-san akan marah besar." sahut Miku.
"Tapi aku ini tercipta hanya untukmu seperti lagu band *ngu. Jadi tolong jangan kembalikan aku kesana. Aku lebih rela kamu yg memakanku daripada orang lain." pinta es krim itu dengan mata yg memelas.
"Ta-tapi kan.." kata Miku hendak menolak.
"Miku-sama.. percayalah padaku. Meiko-sama pasti akan memakluminya. Lagipula Meiko-sama juga pasti lebih suka melihat Miku-sama yg lebih dewasa kan?" bujuk es krim itu.
Miku nampak masih bingung dan gundah.
"Baiklah jika Miku-sama memang tak mau memakanku. Buang saja aku!" bentak es krim itu nampak ngambek dan memalingkan wajahnya.
"Es krim-chan..?!" ucap Miku terkejut.
"Buang aku! Biarkan saja aku mencair di sudut ruangan!!" bentak es krim itu.
"Tidak! Aku takkan membuangmu! Baiklah.. aku akan memilihmu saja." kata Miku mendekatkan wajahnya ke es krim itu dengan mata berlinang air mata.
"Benarkah? Terima kasih.. aku cinta Miku-sama.." ucap es krim itu.
"Aku juga cinta kamu, es krim-chan!" ucap Miku memeluk es krim itu di pipinya.
"Ada apa dengan gadis itu? Kenapa dia ngomong sendiri? Iiyy.. udah abis kali obatnya." komentar penjaga toko tampak merinding.
Miku pun akhirnya memilih untuk membeli es krim itu daripada kubis. Miku berjalan pulang sambil membawa belanjaannya.
Di kediaman Megurine, nampak Luka sedang membaca buku berjudul 'Diary of E'. Dia sudah menyelesaikan 2 buku sebelumnya.
"Dr. Shiro dan Dr. Kuro nampak begitu marah saat menteri pertahanan membuat sebuah keputusan untuk mengubah fungsi lab pembuatan Mindy. Dr. Kuro bahkan hampir saja melemparkan sebuah asbak kaca yg ada di sampingnya ke arah menteri pertahanan kalau saja suaminya, Dr. Shiro tidak menahannya. Terlihat Gakupo pun menatap tajam ke arah menteri pertahanan. Nampaknya situasi semakin memburuk saat itu. Aku juga sebenarnya menolak keputusan itu. Namun, apa daya. Aku tak punya kekuasaan untuk menolak pemerintahan pusat. Pada akhirnya keputusan akhir menteri pertahanan itu tak bisa diubah. Lab itu sekarang menjadi.." baca Luka di buku itu.
Luka nampak terkejut melihat lanjutannya. Ia tak menyangka hal itu benar-benar telah terjadi di masa lalu kota ini.
"Ada apa ini? Apa ini benar-benar terjadi di masa lalu? Tapi, papa juga tak mungkin berbohong dalam diary nya. Namun, kenapa aku sama sekali tidak ingat satupun tentang kejadian itu. Yg kuingat hanyalah, gempa besar yg terjadi 10 tahun yg lalu. Dan 3 tahun sebelumnya walau samar-samar. Ditahun antara itu, rasanya.. semuanya gelap." ujar Luka sambil memegang kepalanya dengan tangan kirinya.
"Mungkin aku harus menanyakannya pada orang lain. Pelayanku pasti tahu sesuatu." sambung Luka menutup buku itu lalu meletakannya di meja.
Dia kemudian keluar dari ruang baca dan berjalan ke aula.
"Tsugumi!" panggil Luka pada salah maid.
Maid itu yg memang selalu bersama Luka selama ini. Maid berambut hitam pendek yg nampak selalu anggun saat berjalan ataupun bertingkah laku.
"Ada apa, Luka-sama?" sahut Tsugumi menghampiri Luka.
"Bisakah kamu ceritakan apa yg terjadi 10 tahun yg lalu ke belakang? Soalnya aku tidak ingat." pinta Luka.
"Hmm.. saya juga tidak mengingatnya dengan jelas, Luka-sama. Saat itu saya melindungi anda dari reruntuhan yg jatuh, nampaknya kepala saya terbentur dan berdarah. Yg saya ingat hanyalah saat saya terbangun dan sedang mendekap tubuh anda. Nampaknya saya mengalami amnesia ingatan jangka pendek." jelas Tsugumi yg kelihatannya juga tak ingat.
"Ini aneh, kenapa kami berdua tak ingat? Mungkin aku harus bertanya pada Gaku.. hmm.. mungkin pada Gumi-chan saja. Aku tak mau dapat bom email seperti waktu itu." pikir Luka saat mengeluarkan ponselnya.
Beberapa waktu lalu sebelum ke pantai, Luka memang pernah mengirim email ke Kamui. Kejadiannya kira-kira seperti ini.
'Apa Gumi-chan sudah sadar dan baikan?' tulis Luka dalam emailnya lalu mengirimnya.
Kemudian muncul balasan, 'Ya, saat ini malah Megu sedang makan dengan lahap.' dari Kamui beserta foto Gumi yg nampak sedang makan dan Kamui nongol di pojokkan.
'Oh syukurlah kalau begitu. (^_^)' tulis Luka lalu mengirimkannya.
Namun ada balasan lagi, 'Saya juga saat ini sedang makan sayur terong.' beserta gambar Kamui sedang makan potongan terong.
'Aku tak peduli. (-_-)' balas Luka.
'Jangan begitu dong, Luka-tan. Saya kan jadinya galau.' balas Kamui dengan sebuah foto wajah Kamui yg nampak memelas.
"Ini orang mulai mengesalkan." gerutu Luka saat melihat isi email dari Kamui.
Lalu datang lagi email dari Kamui, 'Luka-tan, bilang aaaaaa..' dengan gambar Kamui sedang menyodorkan potongan terong.
Luka pun hanya mendiamkannya saja. Namun datang lagi email dari Kamui hingga berkali-kali.
Luka pun mulai geram lalu membuka email terakhir, 'Luka-tan.. chu~ <3' dengan gambar Kamui yg lagi manyun.
Luka pun akhirnya sampai pada batas kesabarannya. Urat dikepalanya mulai muncul.
Lalu datang email dari Gumi, 'Luka-oneesama sebaiknya tandai saja email dari Gaku-Gaku sebagai spam, atau sekalian block saja. Aku mulai jijik melihatnya terus narsis foto-foto sambil makan kayak anak alay.'.
'Ya, aku juga sependapat. (-_-')' tulis Luka lalu mengirimnya ke Gumi.
Dan akhirnya Luka pun akhirnya menandai Kamui ke daftar spam. Karena tidak tega kalau langsung di blok. Kembali ke masa sekarang, Gumi nampak mendapatkan email dari Luka. Saat itu Gumi nampak sedang bersantai di dojo milik Kamui sambil tiduran.
"Email dari Luka-oneesama?! Hmm.. apa ya isinya?" ucap Gumi terkejut melihat pengirimnya adalah Luka.
'Gumi-chan, aku boleh tanya sesuatu? Apa Gumi-chan ingat kejadian 10 tahun di kota ini?' tulis Luka dalam emailnya.
Gumi pun membalas, 'Tidak, sama sekali tidak ingat. Yg kuingat hanya masa kecilku bersama Gaku-Gaku. Setelah itu aku tidak ingat. Emang ada apa?'.
Luka pun membalas, 'Tidak ada apa-apa. Maaf sudah mengganggu. (^_^)'.
'Ya, tak masalah, Luka-oneesama.' balas Gumi.
"Email dari siapa, Megu?" tanya Kamui yg duduk di depan dojo.
"Bukan urusanmu." jawab Gumi.
"Beberapa hari ini kalau aku ngirim email selalu tidak dibalas oleh Luka-tan. Kenapa ya?" ucap Kamui.
"Pikir saja sendiri." balas Gumi dengan tersenyum aneh.
Di kediaman Megurine, Luka semakin bingung saja.
"Kenapa ini bisa terjadi? Amnesia massal itu adalah fenomena yg sangat aneh." ujar Luka dalam hati sambil menaruh tangannya didagu dan berpikir.
Miku terlihat sedang berjalan, hari mulai sore. Miku berjalan di jalan tepi sungai sambil memakan es krimnya dengan bahagianya.
"Enak banget.." ucap Miku setelah menggigit beberapa kali batang es krim itu.
Namun tiba-tiba dia tersandung sebuah batu kecil yg mencuat ke atas dijalan itu. Miku pun jatuh dengan dramatis dalam gerak lambat. Es krimnya nampak terlepas dari pegangan tangannya.
"Nooooo..." ucap Miku dalam gerak lambat sehingga suaranya nampak besar.
Miku berusaha menjangkau es krim itu sebisa-bisanya. Namun es krim itu semakin menjauh. Dan akhirnya es krim itu pun hancur jatuh ditanah dan meleleh diatas aspal jalan itu.
"This is the end of the world!!!" teriak Miku sambil nyungsep di tanah beserta belanjaannya juga.
Kembali ke gerak normal, Miku pun nampak melihat ke arah es krimnya sambil masih terbaring.
"Es krim-chan!!! Tidak!!! Kenapa ini mesti terjadi!!??" teriak Miku sambil menangis.
Miku pun bangkit dan berlutut menangisi es krimnya.
"Why you leave me? Why you betraying me, ice cream-chan? Padahal aku sudah memilihmu. Aku lebih memilihmu daripada kubis-chan. Kenapa? Tell me why!" ucap Miku yg tertunduk diatas kedua tangannya.
"Oke kalau begitu maumu. Mulai sekarang kita udah tak ada hubungan lagi." ucap Miku sambil berdiri.
"I hate you!!!" bentak Miku sambil menunjuk ke arah sisa es krim yg mencair ditanah.
Miku pun kemudian mengambil belanjaannya, membersihkan rok dan bajunya dari debu, dan mulai berjalan lagi. Nampak laki-laki misterius itu masih mengikuti dan bersembunyi dibalik tiang listrik.
"Miku-chan!" teriak Gumi yg nampak berlari ke arah Miku.
"Gumi-chan." ucap Miku nampak senang melihat Gumi.
"Miku-chan, kamu habis belanja ya?" sapa Gumi saat sampai di hadapan Miku.
"Ya, aku disuruh Meiko-san." jawab Miku.
"Kenapa isinya kebanyakan bawang daun semua?" tanya Gumi heran.
"Hehe.. lagi diskon soalnya." jawab Miku.
"Diskon sih diskon, tapi ini kebablasan belinya." komentar Gumi.
Dan nampak laki-laki misterius itu nampak sudah tak ada lagi dibelakang tiang listrik. Kelihatannya dia sudah pergi. Ditempat lain di komplek rumah tak jauh dari situ, terlihat Dante sedang berdiri di dekat tiang listrik. Dan tak lama Ray datang menghampirinya.
"Bagaimana Aniki?" tanya Dante.
"Kali ini sulit. Nampaknya kali ini ia pintar." jawab Ray.
"Cih, lalu bagaimana kita melakukannya?" tanya Dante.
"Kita paksa dia muncul sendiri. Aku punya rencana." jawab Ray menoleh ke arah Dante.
"Takkan kubiarkan dia lolos dan bebas terlalu lama." sambung Ray sambil berbalik membelakangi Dante.
Saat itu Miku sedang tertawa ngobrol bersama Gumi. Dan Ray nampak menyipitkan matanya.
"Hatsune Miku-san, apakah kamu sudah siap?" ucap Ray.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.