VocaWorld, chapter 80 - Kebencian Yang Membatu Dalam Hati

Miku berdiri diantara Ray dan Takuya. Dia terjebak dalam situasi yg berbahaya. Ditambah saat ini Miku juga lupa membawa earophoid nya. Ray yg berada di sebelah kiri Miku sekitar 5 meter, terlihat memandang Takuya dengan percaya diri yg berada 10 meter di depannya.
"Sepertinya aku harus mengalahkan kalian berdua sekaligus." ujar Takuya yg lalu membuka mulutnya.
Takuya kembali membuat bola transparan di depan mulutnya yg tak lain adalah bola shockwave.
"Sebaiknya kamu jangan terlalu sering menggunakan teknik itu. Itu bisa merusak pita suaramu." kata Ray dengan tenang.
Takuya pun menembakkan bola shockwave itu. Ray menghilang lalu muncul di samping kanan Miku dan menariknya ke belakang menggunakan tangan kirinya. Kemudian Ray juga mengeluarkan aliran listrik di telapak tangan kanannya dan digunakan untuk menyambut bola shockwave itu. Lalu dibelokanlaj bola shockwave itu dengan cara mengayunkan tangan kanannya ke kanan. Bola shockwave itu hampir mengenai wajah Miku yg terduduk ditanah akibat jatuh ditarik paksa ke belakang oleh Ray tadi. Bola shockwave itu lewat tepat disamping wajahnya lalu menuju ke sungai. Nampak bola shockwave itu meledakkan sungai dengan cukup kuat.
"Hebat sekali kau bisa membelokkan nya. Tapi tadi itu berbaya sekali, hampir saja kena temanmu sendiri." ujar Takuya.
"Hampir kena? Aku memang bermaksud menggunakan seranganmu untuk mengenainya. Namun nampaknya aku meleset." sahut Ray sambil tersenyum tenang.
"Oohh.. aku mengerti sekarang. Jadi dia adalah targetmu juga. Nampaknya kita bekerja pada orang yg sama. Walau lebih bisa dibilang, aku memanfaatkannya untuk membunuh Hatsune Miku-san." kata Takuya dengan wajah seperti mengerti sesuatu.
"Tapi dari yg kulihat disini, kamulah yg sedang dimanfaatkan." balas Ray.
"Ini kesempatanku. Aku harus pergi dari sini!" ucap Miku dalam hati bersiap berlari ke arah timur melalui sisi sungai.
Miku pun melangkahkan kakinya untuk berlari.
"Takkan kubiarkan!" ucap Takuya melompat ke arah Miku untuk mengejarnya.
Ray hanya menengok dengan senyuman saat itu. Takuya pun berhasil mencegat Miku.
"Kau adalah targetku. Akulah yg akan membunuhmu sebelum dia!" kata Takuya saat menghalangi jalan Miku.
Miku pun langsung berbelok dan berlari ke arah jalan.
"Perhatikan jalanmu, Hatsune-san." ucap Ray yg sudah ada di hadapannya.
Miku terkejut melihat Ray yg hanya beberapa cm di depannya, lalu dengan sigap Miku langsung berbelok sedikit ke kanan menghindari Ray. Ray kembali menengok ke arah Miku dengan senyuman diwajahnya. Kemudian dengan gerakan Ray mendahului Takuya yg hendak mengejar Miku dan juga Miku yg sedang berlari kemudian menghalangi jalan Miku. Dan hal itu membuat Miku berbalik ke arah barat lagi menyusuri jalan setelah menanjak di pematang pinggir sungai.
"Ada apa ini? Mereka seperti mempermainkanku?" pikir Miku sambil berlari.
"Bodoh kau, Shiro Ray! Dengan begini aku yg menang!" ucap Takuya yg ternyata sudah berada di depan Miku saat ini.
Takuya sudah siap melakukan serangan bola shockwave nya lagi.
"Tidak! Aku terjebak!" ujar Miku yg tak sempat lagi mengerem larinya sehingga tak bisa menghindar.
"Wire: on." ucap Ray sembari menjertikkan jarinya.
Ternyata ada sebuah benang aliran listrik dari tangan Ray ke tempat Takuya berdiri. Dan benang listrik itu mulai menghilang seperti sumbu yg terbakar ke arah Takuya. Dan saat sumbu itu habis, muncul aliran listrik yg cukup kuat dari tanah tempat Takuya berdiri. Takuya pun tersengat listrik yg sangat kuat itu, kemudian terjatuh diatas kedua lututnya dengan lemas setelah aliran listrik itu menghilang.
"Sial, kau menyimpan jebakan rupanya. Kau bermain-main denganku sejak awal. Memposisikan Hatsune Miku-san supaya aku bergerak ke arah yg kau inginkan. Kurang ajar.." ucap Takuya dengan nada lemah dan napas yg tersenggal.
"Apa kamu lupa? Tempatmu saat ini adalah tempatku berdiri beberapa saat tadi saat aku berbicara denganmu." jelas Ray.
"Begitu rupanya. Jadi ini juga sudah direncanakan. Si-sialan! Aku takkan biarkan kau menang begitu saja.." ujar Takuya lalu mengangkat lengan kirinya disaat terakhir.
Dan melesat sebuah bayangan hitam menuju ke langit. Takuya pun ambruk dan tak sadarkan diri. Dari tubuh Takuya muncul sosok hitam yg tak lain adalah darksider tipe minor.
"Itu?! Minor!?" ucap Miku terkejut.
"Aku datang, Aniki!" ucap Dante yg baru datang dan muncul dari atas karena habis melompat.
Dante pun menimpa minor itu dan minor itu pun musnah.
"Apa aku menimpa sesuatu?" ucap Dante yg tak sadar menimpa minor.

Miku pun saat ini kembali dalam keadaan terdesak. Dikepung oleh Ray dan Dante. Miku tak bisa bergerak lagi.
"Jadi mau kita apakan dia, Aniki?" tanya Dante.
"Ada hal yg lebih penting daripada harus bertarung dengannya, Dante." ucap Ray sambil melihat ke arah langit.
"Ada apa memangnya disana, Aniki?" tanya Dante yg tak melihat apapun.
"Hatsune Miku-san, aku punya saran untukmu." ujar Ray menoleh ke arah Miku.
Miku terkejut saat Ray tiba-tiba berbicara dengannya.
"Mulai panggil lah teman-temanmu kemari. Kalau bisa semuanya." sambung Ray.
"Aniki, apa maksudnya ini?" tanya Dante yg tidak mengerti.
"Kamu punya waktu 5 menit untuk mengirim pesan ke teman-temanmu. Karena kalau tidak, kami akan menyerangmu." tambah Ray dengan nada dingin.
"Atau kalau perlu, kami akan membunuhmu!" ucap Ray dengan tatapan dingin dan tajam.
Miku pun merasa ketakutan, dan lalu Miku mengambil ponsel disakunya. Miku mulai menulis pesan.
'Semuanya, tolong aku! Cepatlah datang kemari.. aku ada di jalan dekat sungai. Cepat.. aku dikepung Shiro Ray dan temannya!' tulis Miku lalu mengirimkannya ke Meiko, Luka, Gumi, Kaito dan Kamui.
Tampak dari tulisan di ponsel itu, pesan sudah terkirim.
"Baguslah. Kamu memang anak baik." ujar Ray sambil tersenyum.
"Sekarang kita pergi, Dante." ajak Ray pada Dante.
"Lah, kenapa?" tanya Dante, bingung.
"Saat ini urusan kita sudah berakhir disini. Lagipula sudah ada yg menggantikan tugas kita." jelas Ray lewat disebelah Dante.
"Tapi aku masih tidak mengerti." sahut Dante.
Namun Ray menarik jaket Dante dan melesat pergi dengan cepat. Ditempat lain Gumi dalam keadaan berubah nampak berlari sekuat tenaganya menuju ke arah Miku.
"Kenapa disaat seperti ini? Saat ini jarakku jauh banget.." gerutu Gumi yg memang jaraknya ketempat yg dimaksudkan Miku sangat jauh.
Gumi saat menerima email itu memang sedang ada di kontrakannya. Lalu Meiko nampak bergegas mengambil earophoid Miku dan miliknya sambil berlari keluar rumah.
"Ada apa, Meiko-neesan? Kok buru-buru banget." tanya Rin dari pintu depan.
"Ada yg lupa!" jawab Meiko sambil berlari.
"Lupa apa?" ucap Len merasa bingung.
"Mungkin maksudnya ada yg kelupaan minta dibelikan oleh Miku-neechan." sahut Rin.
Luka juga nampak berlari ke arah Miku dan nampak sudah dalam keadaan berubah.
"Ray-kun! Ray-kun menyerang lagi? Jadi dia serius mau dibenci olehku?" ucap Luka sambil memandangi ponselnya.
Luka mengantongi ponselnya lagi. Kemudian Luka seperti terkejut melihat apa yg ada dilangit saat itu. Ternyata ada gelombang riak air raksasa diatas langit.
"Major?!" ucap Luka.

Di tempat Miku, nampak Meiko sudah datang.
"Miku-chan kamu tidak apa-apa?" tanya Meiko.
"Tidak kok." jawab Miku.
"Siapa itu yg tergeletak disana?" tanya Meiko melihat tubuh Takuya yg terkapar ditanah.
"Itu teman sekelasku yg dirasuki minor." jawab Miku lagi.
Di atas langit, gelombang riak air itu mulai menjatuhkan gumpalan hitam raksasa mirip tetesan air. Dan kemudian gumpalan berubah jadi wujud monster. Namun ada yg berbeda kali ini. Semua bagian tubuhnya mengeras seperti batu. Monster itu sekarang berwujud raksasa batu berwarna hitam.
"Apa ini? Major? Tapi nampaknya berbeda dari yg biasanya." ucap Meiko terkejut melihat major yg jatuh tepat di lahan kosong dekat mereka.
"Hatsune! Meiko!" panggil Kaito dari kejauhan.
Dan nampak Kamui berlari tak jauh dibelakang Kaito.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Kaito saat sampai di dekat Miku dan Meiko.
"Tidak kok." jawab Miku.
"Dimana The White Light-dono?" tanya Kamui.
"Dia pergi tepat sebelum Meiko-san datang kemari." jawab Miku.
"Sekarang ada yg lebih gawat. Nampaknya major kali ini nampak berbeda." ujar Meiko.
"Major?" ucap Kaito tidak mengerti.
Meiko pun menunjukkan posisi major itu dengan menggerakan kepalanya. Kaito menoleh kearah yg ditunjukkan Meiko. Dan terlihat major yg tampak hendak berdiri itu. Kaito dan Kamui terlihat sangat terkejut melihat major yg terlihat garang itu. Makhluk bermata satu itu nampak lebih menakutkan dengan tubuhnya yg nampak tidak seperti gemuk lagi dan jadi lebih berotot dengan bentuk batunya. Namun kali ini major itu tidak punya mulut seperti yg biasa.
"Nampaknya kita punya masalah serius disini." ucap Luka yg baru saja datang.
Major itu pun mulai berdiri dan badannya nampak semakin tinggi saja. Luka mulai meneteskan keringat diwajahnya karena panik.
"Aku takkan bisa menggunakan pixie party ku saat ini karena energi di earophoid ku sudah pada batas bawah. Kelihatannya aku harus memikirkan sesuatu untuk mengalahkannya. Tapi apa?" gumam Luka dalam hati sambil meletakan tangannya di dagu mencoba berpikir.
Namun major itu sudah siap menyerang dan mengayunkan tangannya ke arah Miku dan yg lainnya.
"Rabit's Kick!" teriak Gumi yg tiba-tiba muncul dan menendang major itu dengan kedua kakinya sambil berbalik.
"Keras!" pekik Gumi dalam hati merasa kesakitan.
Tendangan Gumi hanya membuat major itu memundurkan satu kakinya ke belakang. Gumi pun terjatuh ke bawah. Kamui melompat dan menangkap tubuh Gumi.
"Kau tak apa, Megu?" tanya Kamui pada Gumi yg ada dipangkuannya saat ini.
"Ya, kakiku hanya sedikit keram saja saat ini." jawab Gumi.
Meiko dan Kaito berubah secepat yg mereka bisa karena melihat major itu hendak menyerang Kamui dan Gumi.
"Instrument: Harmoni of Fire!" ucap Kaito mengeluarkan instrument nya.
"Dance: Fire Fighter!" ucap Meiko menggunakan dance acceleration nya.
Kemudian Kaito dan Meiko menebas dan menembakkan api ke arah major itu. Serangan gabungan mereka berdua cukup membuat major itu terseret beberapa langkah kebelakang. Namun nampak serangan itu tidak membuat lecet sedikitpun pada major itu.
"Maaf Megu, saya mesti menurunkanmu. Saya harus membantu juga." ucap Kamui lalu menurunkan tubuh Gumi.
"Iya, tak apa kok. Aku masih kuat kalau hanya berdiri." jawab Gumi lalu berdiri dengan kaki gemetar.
"Kemari, biar aku bantu memapahmu." ujar Luka yg menghampiri Gumi sambil melingkarkan lengan Gumi kepundaknya.
"Luka-oneesama?!" ucap Gumi terkejut akan hal itu dan wajahnya terlihat memerah.
"Bahkan serangan gabungan Meiko dan Kaito yg dapat menahan devilish slash milik pangeran kegelapan pun tak dapat menggoresnya sedikitpun." ucap Luka dalam hati terlihat bingung.
"Enka." ucap Kamui dan mencabut katananya yg mulai bercahaya keunguan.
Kamui pun melangkah ke depan Meiko dan Kaito.
"Posisi yg bagus. Knight yg bergerak bebas di depan dan 2 bishop dengan serang yg luas dibelakang." puji Ray yg nampak menonton dari atas atap sebuah rumah.
"Tapi apa itu sudah cukup untuk mengalahkannya? Apa rencanamu sekarang, my queen?" sambung Ray sambil tersenyum.
Wajah Luka nampak meneteskan keringat karena masih bingung harus melakukan apa.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】