VocaWorld, chapter 84 - Panasnya Sebuah Festival (Kembang Api Siap Dinyalakan)

Sore itu, Luka nampak berada di sebuah lahan kosong di wilayah selatan Voca Town. Dia terlihat sedang mengecek persiapan festival mulai dari panggung, stand jajanan dan permainan, hingga penataan hiasan dan lampu sudah ia periksa.
"Nampaknya persiapan sudah selesai. Malam ini bisa kita buka festival nya." ucap Luka.
Terlihat ada Tsugumi di belakang Luka.
"Kerja bagus, semuanya!" sambung Luka dengan lebih keras.
"Ya, sama-sama, Megurine-sama.." sahut para staf pekerja yg nampak masih mengecek panggung.
"Terima kasih karena telah menyiapkan semuanya, Tsugumi.." ucap Luka pada Tsugumi sambil tersenyum.
"Ya, sama-sama, Luka-sama.." sahut Tsugumi berdiri sambil membungkukkan tubuhnya.
Kemudian Luka mengambil ponselnya. Lalu Luka menulis email.
'Apa kalian sudah siap?' tulis Luka lalu mengirimkannya pada Miku, Gumi, Meiko, Rin, Len dan Kaito.
Di rumah Miku, terlihat Meiko sedang memasangkan yukata Miku saat menerima email dari Luka itu.
"Meiko-neesan.. ada email dari Luka-neesan. Katanya, ' apa kalian sudah siap?' begitu." ujar Rin pada Meiko saat menerima email itu.
"Balas saja, 'ya, kami disini sudah siap.' gitu." sahut Meiko sambil memasangkan kain dan melilitkannya di pinggang Miku.
"Lho, nanti dikira yg lainnya juga sudah siap kalau bilang 'kami'." kata Len.
"Ya tidak bakalan lah. Kan Megurine-san bukan Miku-chan." jawab Meiko.
"Eh, apa hubungannya denganku?" ucap Miku bingung dengan tampang bego.
"Hahaha.. ya benar juga ya." sahut Rin dan Len sambil tersenyum sinis.
"Meiko-san, masalah laguku bagaimana? Aku masih bingung mau nyanyi apa." tanya Miku.
"Ya udah, kamu nyanyiin lagu Senbonzakura milikku saja ya? Mau?" tawar Meiko.
"Wah.. ya, ya, mau.." jawab Miku dengan senang.
"Kalau begitu, setelah ini aku akan mulai mengajarkanmu liriknya." ujar Meiko yg memberi ikatan akhir pada kain di pinggang Miku.
"Yeah! Terima kasih, Meiko-san..!" ucap Miku lalu memeluk Meiko.
"Baiklah, sekarang giliranmu, Rin-chan.." ucap Meiko memanggil Rin setelah Miku melepaskan pelukannya.
"Akhirnya.." ucap Rin yg nampaknya sudah bosan menunggu.
Miku kemudian berdiri di lorong menuju pintu depan bersama Len.
"Len-chan sih sudah punya lagu buat dinyanyikan di festival?" tanya Miku pada Len.
"Sudah. Rencananya aku mau duet dengan Rin." jawab Len.
"Oohh.. lagu apa tuh?" tanya Miku penasaran.
"Iroha no Uta." jawab Len lagi.
"Siapa yg menciptakan lagunya?" tanya Miku lagi.
"Kami sendiri." jawab Len dengan singkat.
Miku pun shock mendengarnya. Hatinya seperti tertancap pedang saat itu. Wajahnya pucat pasi.
"Ada apa, Miku-nee?" tanya Len.
"Tidak, tak apa kok." jawab Miku sambil mencoba memalingkan mukanya dengan gerakan tersendat-sendat.
"Aku kalah ama anak SMP!!!" pekik Miku dalam hatinya merasa kesal.
Sementara itu di kediaman Gakupo. Kaito nampak sudah siap dengan dandanannya. Dia memakai yukata putih-putih.
"Oke, dengan begini aku sudah siap. Kau jaga rumah ya, Gakupo." ucap Kaito nampak berjalan ke arah pintu depan.
"Tunggu, Kaito-dono!" pinta Kamui dari arah dalam rumah.
"Ada apa sih?" tanya Kaito yg hendak membuka pintu
"Saya juga ikut." jawab Kamui yg muncul dengan memakai yukata berwarna ungu dan putih.
"Bukannya kau tak diundang oleh Megurine?" tukas Kaito.
"Ya, saya memang tak mendapat email dari Luka-tan. Tapi kan mungkin saja Luka-tan lupa mengirim pada saya." jawab Kamui dengan percaya diri.
"Tuh kan, seperti yg kau bilang, dia telah melupakanmu. Jadi kau tak perlu ikutan, Gakupo." kata Kaito sambil membuka pintu.
"Ehh..?!! Tidak, tidak, tidak! Maksud saya itu.. mungkin Luka-tan hanya lupa email saya." ujar Kamui berjalan keluar rumah bersama Kaito.
"Emailmu saja lupa, apalagi tentang dirimu." tambah Kaito sambil berbalik dan menoleh ke arah Kamui.
"Ehh?!! Kenapa semakin parah?!!" ucap Kamui dengan terkejut.
"Kaito-dono! Tolonglah.. ijinkan saya ikut menyanyi dalam festival itu.." pinta Kamui sambil menggenggam tangan Kaito dan menatap Kaito dengan penuh pengharapan.
"Eh?!" ucap Kaito yg kaget dengan wajah yg berkeringat.
"Ya!" sambung Kamui sambil mendekatkan wajahnya ke Kaito.
Kaito memundurkan wajahnya menjauh dari Kamui.
"Ya!" ucap Kamui lagi sambil mendekatkan wajahnya lagi.
Kaito memundurkan kepalanya lagi.
"Ba-baiklah! Tapi lepaskan dulu tanganku, dasar bodoh!" ucap Kaito.
"Terima kasih Kaito-dono, anda memang laki-laki yg baik yg.." ujar Kamui.
"Kalau aku disini terus bisa terjadi kesalah pahaman kalau sampai ada yg lihat." gumam Kaito tidak memperdulikan lanjutan kata-kata Kamui.
"Mungkin lebih baik.." sambung Kaito dalam hati mengepalkan tangannya.
"Aku pergi duluan!!!" teriak Kaito sambil berlari meninggalkan Kamui.
"Tunggu saya, Kaito-dono! Saya tidak tahu tempatnya!!" pinta Kamui.
Kemudian Kamui bergegas mengunci pintu dan berlari mengejar Kaito.
"Tunggu Kaito-dono!!!" panggil Kamui berlari mengejar Kaito.
"Jangan dekat-dekat denganku!!!" teriak Kaito tetap berlari sekuat tenaga.
"Kaito-nii! Aku disuruh menjemputmu oleh Meiko-nee!" ucap Len sambil melambai.
Namun Kaito nampak sedang berlari dengan wajah menyeramkan menuju ke arah Len.
"Aaaa!!! Ada apa ini!!?" teriak Len yg kemudian ikutan berlari di depan Kaito.

Tak terasa hari sudah mulai gelap, tempat festival nampaknya sudah dibuka. Orang-orang sudah mulai berdatangan. Di depan gerbang terlihat Miku, Meiko dan Rin berdiri menunggu seseorang.
"Apa Kaito-senpai akan menyukai dandananku ya?" gumam Miku tersenyum dengan wajah memerah.
Saat itu ia mengenakan yukata berwarna biru tua dan rambut twintail panjangnya dibuat jadi seperti bola.
"Mereka lama sekali. Kemana aja sih mereka?" gerutu Meiko dengan wajah kesal.
Meiko saat itu mengenakan yukata warna merah menyala, dengan rambut yg diikat kebelakang lalu memakai tusuk rambut.
"Ayo kita masuk aja yuk! Aku sudah pegel nih berdiri terus.." ujar Rin dengan wajah bosan.
Saat itu Rin memakai yukata warna kuning, dengan rambutnya yg juga di ikat seperti twintail, hanya bedanya ikatannya lebih rendah.
"Miku-chan! Meiko-oneesan! Rin-chan!" panggil Gumi yg nampak melambaikan tangannya dari kejauhan.
Gumi datang dari arah depan. Dia mengenakan yukata berwarna hijau dan rambutnya di ikat kebelakang.
"Oo.. Gumi-chan!" ucap Miku sambil berlari menghampiri Gumi.
"Wah.. Gumi-chan terlihat cantik banget." puji Miku saat sampai di depan Gumi.
"Haha.. Miku-chan juga terlihat imut banget." balas Gumi.
"Ayo kita kesana.." ajak Miku untuk menghampiri Meiko dan Rin.
Gumi pun mengangguk. Dari arah samping kiri, terlihat Len sedang berlari dengan pelan. Dia nampak lemas dan kelelahan sekali.
"Aduh.. aku tak sanggup lagi.. ampun dah.." ucap Len dengan terengah-engah dan nampak berkeringat.
Kemudian Len pun sampai di tempat Miku dan yg lainnya.
"Eh, Len-chan? Kenapa kamu berkeringat gitu? Abis marathon?" tanya Miku terlihat heran.
"Mana Kaito?" tanya Meiko.
"Itu dibelakang." jawab Len.
Meiko dan yg lainnya pun melihat ke arah belakangnya Len. Terlihat dibelakang Len, Kaito juga nampak sudah sangat lelah. Dia berlari dengan gerakan lunglai dan di ikuti oleh Kamui dibelakangnya.
"Aku tak sanggup lagi berlari.." ucap Kaito dengan ngos-ngosan dan napas yg hampir habis saat sampai di dekat Meiko.
Kaito membungkuk sambil memegang lututnya karena kecapekan.
"Kenapa anda lari dari saya, Kaito-dono?" ucap Kamui dengan suara yg tak ada bedanya dengan Kaito karena sama lelahnya sambil memeluk leher Kaito.
"Kyaaa! Itu Kaito-sama dan Kamui-sama!" ucap salah seorang gadis seumuran Miku yg melihat Kaito dan Kamui dengan nada histeris.
"Mereka berpelukan dan nampak berkeringat!!!" sambung teman disebelahnya dengan begitu senang.
"Aaa! It's the best moment!" ucap teman yg sebelahnya lagi.
Hal itu pun membuat para gadis lain pun ikutan berkumpul. Dan mereka mulai memotret Kaito dan Kamui dengan ponselnya. Nampak lampu flash kamera terus berkelip ke arah Kaito dan Kamui. Kaito saat itu shock dengan mulut menganga.
"Lepaskan aku, Gakupo!" ucap Kaito sambil melepaskan pelukan Kamui dengan paksa.
Kemudian Kaito pun berlari ke arah Meiko dan yg lainnya. Dan ia pun nampak menunduk dengan suram sambil memegang tiang gapura festival.
"Hancur sudah masa depanku.." ucap Kaito dengan nada suram.

Di dalam keramaian, terlihat Luka sedang berjalan mengenakan yukata berwarna pink tua. Rambut panjangnya terlihat di buat jadi seperti bola dibelakang kepalanya. Dia sedang berjalan dengan anggun diantara keramaian, dan ia pun melihat sesuatu yg tak asing dihadapannya. Seorang laki-laki mengenakan yukata berwarna biru dengan motif putih melihat ke arah stand menangkap anak ikan mas.
"Ray-kun?" ucap Luka saat menyadari kalau itu Ray.
"Oo.. Megurine-san kah?" ucap Ray saat menoleh dan melihat Luka.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Luka.
"Aku hanya sedang menikmati festival ini." jawab Ray dengan santai.
Kemudian Ray seperti sedikit terkejut, dia memperhatikan ke seluruh tubuh Luka.
"Aku baru menyadarinya, ternyata kamu terlihat manis sekali hari ini." ujar Ray dengan wajah datar dan mata yg sedikit lebih terbuka lebar karena terkejut.
"Apa maksudmu?" tanya Luka sambil menyipitkan matanya.
"Ini diluar ekspektasiku. Kamu lebih cantik dari yg kubayangkan saat ini." jawab Ray sambil menggaruk-garuk kepala tetap dengan wajah datarnya.
"Hah? Jangan merayuku!" ucap Luka dengan wajah sedikit memerah namun dengan ekspresi kesal.
"Aku tidak sedang merayumu. Aku hanya sedang berkata jujur." balas Ray.
Jantung Luka pun berdegup kencang saat mendengarnya.
"Ah, maaf kalau aku mengganggu. Tenang saja, saat ini aku kesini benar-benar sedang menikmati festival. Jadi lupakan saja, anggap saat ini kita tak pernah bertemu. Dah.." pamit Ray lalu berjalan melewati Luka dan menghilang dalam keramaian.
Luka menoleh ke arah Ray, namun Ray sudah menghilang dari pandangan. Kemudian Luka pun kembali berjalan menuju ke depan. Nampak di depan gerbang masuk festival, Miku dan yg lainnya sudah menunggu.
"Maaf membuat kalian menunggu." ucap Luka saat sampai di dekat mereka sambil tersenyum.
"Waahh.. Luka-oneesama terlihat luar biasa.." puji Gumi.
"Terima kasih, Gumi-chan." sahut Luka sambil tersenyum ke arah Gumi.
"Wooow.. Luka-tan memang luaarrr biasaaa..!!" ucap Kamui sambil berlari ke arah Luka.
Kemudian Luka menangkap lengan yg hendak memeluknya itu, berputar dan memelintirnya. Tubuh Kamui pun terjungkir dan jatuh ditanah.
"Kenapa dia bisa ada disini?" tanya Luka dengan wajah kesal.
"Kaito yg membawanya." jawab Meiko.
"Kaito-kun..!!" panggil Luka.
Namun terlihat Kaito masih nampak suram berpegangan ke gapura.
"Ada apa dengannya?" tanya Luka terlihat heran.
Kemudian mereka semua pun diajak masuk ke area festival oleh Luka. Kaito nampak berjalan dengan tertunduk dan suram dibelakang.
"Masa depanku.. hancur.." ucap Kaito dengan nada pelan.
"Kaito-senpai." panggil Miku yg nampak memperlambat jalannya dan berjalan disamping Kaito.
"Hah?" sahut Kaito dengan tak bersemangat.
"Bagaimana menurut senpai?" tanya Miku sambil berdiri di depan Kaito dengan malu-malu menegang kipasnya.
Kaito pun berhenti melangkah karena terhalang Miku.
"Apanya?" tanya Kaito balik.
Miku terkejut akan ketidak pekaan Kaito.
"Maksudku tuh yukataku, yukataku!" jawab Miku dengan kesal dan mulut yg manyun.
Meiko menoleh ke belakang karena merasa aneh Miku tidak disampingnya. Saat dia melihat Miku bersama Kaito tiba-tiba wajahnya jadi jengkel. Dia pun berjalan ke arah Miku dan Kaito lalu menarik kerah bagian belakang yukata Kaito dan menyeret Kaito bersamanya.
"Takkan kubiarkan kamu menggoda Miku-chan, dasar playboy maniak es krim!" ucap Meiko dengan logat premannya sambil menyeret Kaito menjauh dari Miku.
"Ah.. Meiko-san curang.. main tarik Kaito-senpai ku gitu aja.." gerutu Miku.
Kemudian Miku pun mengikuti Meiko dan Kaito.
"Tak ada yg lebih menyenangkan dari melihat tingkah mereka." ujar Ray yg nampak memakai topeng kucing di atas kepalanya.
Ray nampak berdiri diantara keramaian dan memperhatikan Miku dan yg lainnya.
"Kenapa kita mesti kemari, Aniki? Kalau sampai tertangkap kan bahaya." tanya Dante yg nampak memakai topeng iblis di samping wajahnya berdiri disebelah Ray.
"Tenang saja, dengan topeng ini kita aman." jawab Ray sambil menggeserkan topeng dari atas kepala ke depan wajahnya.
"Kalau begitu aku pergi dulu.." sambung Ray yg kemudian pergi meninggalkan Dante.
"Tunggu, Aniki.." ucap Dante mencoba mencegah Ray, namun Ray sudah menghilang dari pandangannya.
"Kemampuan Aniki untuk menghilang dalam keramaian itu terlihat menyeramkan.." komentar Dante lalu menghela napas.
"Kira-kira mau kemana dia?" tanya Dante dalam hati.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】