VocaWorld, chapter 83 - Panasnya Sebuah Festival (Persiapkan Kembang Apimu)
Siang itu di kota yg tenang, Miku sedang berjalan sambil membawa belanjaan lagi.
"Kenapa aku terus yg disuruh belanja!!?" gerutu Miku sambil membawa 2 tas belanjaan.
Kemudian Miku tiba-tiba tersandung lagi ditempat yg sama dia pernah tersandung dahulu. Dan semua belanjaan pun berantakan.
"Ouch! Lagi-lagi.." ucap Miku saat tersandung dan tersungkur.
"Kenapa aku bisa tersandung lagi!!? Ditempat yg sama pula!" bentak Miku sambil membungkuk dan memukul tanah.
"Kenapa ya tuhan? Kenapa ini terjadi padaku?" ucap Miku dengan lebay dan tiba saja ada seperti sorot lampu menyorot ke arahnya sementara tempat lain jadi gelap.
"Aku tak sanggup jika mesti begini terus. Aku tersiksa. Aku gundah gulana. Aku takkan bisa bertahan dengan ini semua. Aku hanya gadis biasa." sambung Miku seperti seorang pembaca puisi berakting sedih.
"Aku tahu kamu gadis biasa. Tapi aku tahu kamu gadis yg kuat. Gadis yg takkan gentar di terjang badai. Gadis yg kan selalu ceria walau terkena berjuta kesedihan. Karena bagimu, dunia adalah milikmu kan?" ucap Ray yg berjalan dari arah belakang Miku yg juga tersorot lampu.
Ray berjalan ke depan Miku lalu mengulurkan tangannya.
"Terimalah uluran tanganku. Kan kubantu kamu berdiri. Supaya kamu tidak terjatuh lagi. Wahai, tuan putri." sambung Ray.
Miku pun menerima uluran tangan Ray tanpa melihat ke arah wajah Ray.
"Terima kasih pange.. whoa!! Shiro Ray!!" ucap Miku sambil menoleh ke arah depan melihat kalau itu Ray lalu terkejut.
Miku terperanjat kaget sambil mundur ke belakang. Miku nunjuk-nunjuk ke arah wajah Ray.
"Se-se-se-sedang apa kau disini?!" tanya Miku dengan panik.
"Kenapa kamu begitu kaget? Aku hanya pulang memancing. Lalu kulihat kamu sedang berakting ditengah jalan. Ya aku ikutan aja." jelas Ray.
"Hah?! Tidak mungkin hanya itu? Kamu pasti mengikutiku." ujar Miku tak percaya.
"Kenapa memangnya? Kamu nampaknya sangat ingin aku ikuti ya?" balas Ray.
"Ti-ti-tidak mungkin aku menginginkan hal itu. Aku tak ingin di ikuti oleh orang menyebalkan sepertimu! Aku lebih memilih di ikuti seekor anjing daripada di ikuti olehmu!" bentak Miku.
"Your wish are granted!" ucap Ray.
Kemudian terdengar suara anjing menggonggong dibelakang Miku. Seekor anjing pitbull yg galak nampak marah pada Miku.
"Aaaa..!! Bagaimana bisa?! Kurang ajar kau Shiro Ray!" teriak Miku sambil melewati Ray berlari sekuat tenaga.
Anjing itu pun mengejar Miku.
"Bodoh, kalau kamu lari anjing tentu saja mengejarmu. Padahal dia mengonggong karena tidak mengenalimu, Hatsune Miku-san." ujar Ray berdiri dengan santai.
Kemudian Ray melihat tas belanjaan yg tergeletak di tanah. Ditempat lain Miku nampak memanjat pohon.
"Hus! Hus! Hus! Pergi!" suruh Miku pada anjing itu dari atas pohon.
Tapi anjing itu terus menggonggong dari bawah pohon.
"Anjing baik.. anjing manis.. anjing imut.. pergilah dari situ.. aku mau turun.." bujuk Miku dengan manis.
Namun anjing itu masih menggonggong.
"Pergi sana!! Atau aku tendang nih!!!" bentak Miku yg mulai kesal.
Namun anjing itu malah menggonggong lebih keras saat Miku membentaknya.
"Huwaa.. Meiko-san tolong aku.. aku takkan bisa pulang kalau begini." kata Miku sambil hendak menangis karena gonggongan anjing yg makin keras.
"Hei.. lihat kemari!" panggil Kaito yg tiba-tiba muncul.
Kaito nampak mengacung-ngacungkan tongkat kayu. Anjing itu pun mulai teralihkan ke arah Kaito.
"Tangkap!" teriak Kaito sambil melemparkan tongkat kayu itu sejauh-jauhnya.
Anjing itu pun mengejar tongkat kayu itu.
"Kau tidak apa-apa Hatsune?" tanya Kaito sambil menghampiri Miku yg masih nangkring diatas pohon.
"Tidak apa-apa kok. Tapi.." jawab Miku.
"Tapi apa?" tanya Kaito lagi.
"Aku tak bisa turun.." jawab Miku dengan mata berkaca-kaca hendak menangis.
"Ya ampun, kau bisa naik tapi kok turun tidak bisa?.." kata Kaito sambil garuk-garuk kepala.
Tiba-tiba saja Miku seperti ingat masa lalu. Bayangan dan kejadian yg seperti yg dialaminya sekarang. Seorang anak laki-laki menggaruk kepalanya sambil mengeluh.
"Ya ampun, kamu bisa naik tapi tidak bisa turun?" keluh anak laki-laki itu.
Miku pun seperti menyadari sesuatu saat mengingatnya, walau dalam hatinya masih bertanya-tanya.
"Apa lagi ini? Anak laki-laki itu lagi? Apa dia dari masa laluku? Jantungku selalu berdebar dengan kencang saat mengingatnya." ujar Miku dalam hati.
"Ayo coba turun saja, kalau jatuh aku akan menangkapmu dari bawah." ucap Kaito sambil bersiap-siap menangkap Miku dibawah pohon.
"Baiklah, aku akan turun.." ucap Miku sambil mencoba turun.
Namun sesudah beberapa langkah, Miku terpeleset jatuh. Namun untung saja ditangkap oleh Kaito.
"Ups!" ucap Kaito menggendong Miku yg terjatuh.
Miku merasa seakan melayang. Dia digendong layaknya seorang putri oleh pujaan hatinya. Jantungnya berdebar dengan kencang, wajahnya memerah.
"Kaito-senpai menggendongku?! Ini rasanya seperti mimpi.." ucap Miku dalam hati merasa sangat senang sekaligus malu dan memejamkan matanya.
"Kau tak apa?" tanya Kaito.
Namun Miku tidak menjawab karena tidaj mendengar Kaito saking senangnya.
"Hatsune!" panggil Kaito dengan nada lebih keras.
"Eh, iya.. ada apa?" tanya Miku saat sadar dari kebahagiaannya.
"Kalau kau baik-baik saja turunlah." ujar Kaito.
"Hmm.. baiklah.." sahut Miku sambil cemberut.
Kemudian Miku pun mau meletakan kakinya ditanah. Dan Miku kembali berdiri diatas kakinya lagi.
"Padahal aku masih ingin digendong oleh Kaito-senpai." gerutu Miku dalam hatinya.
"Untuk menenangkan hatimu, bagaimana kalau kita beli es krim?" ajak Kaito menawarkan membelikan es krim.
"Beneran?" tanya Miku terlihat senang.
"Ya." jawab Kaito.
"Yeah!" ucap Miku melompat senang.
Sambil menuntun sepeda pink nya, Kaito berjalan bersama dengan Miku. Mereka pergi ke suatu tempat menyusuri jalan ke dekat hutan. Terlihat di pertigaan jalan, ada lapak tukang es krim disana.
"Aku tak tahu disana ada tukang es krim?!" ucap Miku terkejut melihat ada tukang es krim disana.
"Aku melihatnya saat menuju ke rumah. Saat itulah aku melihat ada anjing menggonggong keatas pohon dan ada kau diatas pohon." jelas Kaito.
"Jadi Kaito-senpai kemudian memikirkan cara menyelamatkanku dari anjing itu? Wah.. terima kasih banyak, Kaito-senpai." ucap Miku dengan riang.
"Tidak sih, saat aku menemukan tongkat kayu. Lalu terpikir untuk mengalihkan anjing itu." jawab Kaito.
"Walau aku tak mengerti bagaimana tongkat kayu itu bisa ada di tengah jalan, padahal pohonnya jauh." pikir Kaito yg tak mengerti.
"Tapi, terima kasih sudah mau menolongku." ucap Miku sambil tersenyum.
Tak lama, mereka sampai di tempat penjual es krim itu. Mereka pun mulai memesan es krim.
"Es krim rasa vanilla nya satu." pesan Kaito.
"Hatsune mau rasa apa?" tanya Kaito pada Miku.
"Samain aja ama Kaito-senpai." jawab Miku.
"Kalau begitu es krim vanilla nya 1 lagi." pesan Kaito lagi.
"Oke, tuan pelanggan." ucap paman penjual es krim itu.
Tidak berapa lama, paman itu pun menyodorkan dua es krim cone rasa vanilla.
"Ah.. tidak ada yg lebih menyegarkan selain memakan es krim di siang sepanas ini." ucap Kaito terlihat lega saat menyantap es krim itu.
Miku pun mulai memakan es krim itu. Dia menjilat es krim itu. Dan ia kembali terbayang akan masa lalu. Dia mengingat sedang duduk di pagar jalan sambil menyantap es krim vanilla bersama seorang anak laki-laki. Saat itu adalah siang yg panas seperti saat ini. Anak laki-laki itu nampak tersenyum padanya. Jantung Miku berdetak kencang.
"Ah apa ini ingatan masa laluku? Aku memang tak ingat apa-apa. Tapi sekarang tiba-tiba saja mengingat masa laluku?! Masa laluku dengan anak laki-laki itu. Kenapa jantungku ini? Rasanya sakit, tapi rasanya senang sekali. Atau mungkin ini kenangan cinta pertama? Iya, pasti begitu. Anak laki-laki itu cinta pertamaku. Apa mungkin itu Kaito-senpai?" gumam Miku dalam hatinya laly menoleh ke arah Kaito.
"Ada apa, Hatsune?" tanya Kaito.
"Oh.. kamu pasti pemuda yg waktu itu ya? Yg datang bersama gadis musim panas itu. Aku lupa sudah berapa tahun berlalu, tapi.. kamu sekarang sudah besar ya.." ucap paman penjual es itu.
"Paman berjualan disini juga waktu itu?" tanya Kaito yg nampaknya tak ingat.
"Ya, tepat disini. Aku memang selalu berjualan disini saat musim panas." jawab paman penjual es itu.
"Ya aku tak begitu ingat, tapi nampaknya memang aku pernah merasakan es krim ini sebelumnya. Pasti aku memang pernah memakannya sebelumnya. Lidahku tak pernah salah kalau soal es krim." ujar Kaito.
"Hahaha.. kamu masih seperti dulu bocah." ujar paman penjual es krim itu.
"Jadi benar Kaito-senpai pernah makan es krim disini juga. Itu berarti.. berarti.. dia memang cinta pertamaku dimasa lalu.." ucap Miku dengan bahagia dan wajah memerah sambil memegang pipinya.
Kemudian tiba-tiba ada email masuk ke ponsel Miku dan Kaito bersamaan.
"Dari Megurine? Ada apa?" ucap Kaito lalu membuka isi email itu.
"Besok akan ada festival musim panas. Kita akan mengadakan konser di festival itu. Kuharap kalian bersiap, karena ini untuk mengisi power earophoid kalian yg aku yakin sudah mulai menipis juga. Megurine Luka. PS: Pakailah pakaian tradisional dan kita nyanyikan lagu tradisional juga." baca Miku dan Kaito pada isi email itu.
"Jadi kita akan menyanyi? Dihadapan orang-orang? Yeah! Akhirnya aku bisa menyanyi diatas panggung!" ucap Miku dengan senang jingkrak-jingkrak.
Karena terlalu senangnya, tanpa sadar isi es krimnya jatuh. Saat jatuh Miku kemudian terdiam memandang es krim yg sudah ada ditanah itu.
"Aaaaa..!! Padahal aku baru makan sedikit! Bagaimana ini!!??" ucap Miku panik.
"Hahaha.. nona, kamu lucu sekali. Jadi kalian akan tampil di pertunjukkan musim panas ya?" tanya paman penjual es.
"Ya. Memang paman mau ke festival itu juga?" tanya Kaito.
"Iya, aku juga akan berjualan disana. Karena kalian yg akan jadi artis tahun ini, akan aku kasih gratis satu cone lagi. Bagaimana?" jawab paman penjual es.
"Eh, benarkah?" ucap Kaito dan Miku bersamaan.
"Iya." sahut paman penjual es.
"Yeah!" sorak Kaito dan Miku.
Setelah selesai memakan es krim, Kaito mengantarkan Miku pulang ke rumah.
"Kaito-senpai yakin tak mau mampir?" tanya Miku.
"Haha.. tak usah. Lain kali saja." jawab Kaito.
"Kalau sampai Meiko tahu aku berduaan dengan Miku, aku bisa dibunuh." ujar Kaito dalam hati sambil melirik ke arah lain.
"Oohh.. kalau gitu sampai jumpa besok ya.." ucap Miku.
"Ya, sampai jumpa di festival." sahut Kaito.
Kaito pun menaiki sepeda nya dan pergi meninggalkan Miku. Miku tampak melambaikan tangannya. Lalu setelah itu ia menuju ke arah pintu rumahnya.
"Whoaa..! Aku lupa belanjaanku?!! Bagaimana ini!? Aku bisa dibunuh Meiko-san!!" ucap Miku dengan panik sambil memegangi kepalanya.
"Tapi pasti saat ini walau aku kesana pun sudah ada yg ngambil. Bagaimana ini? Apa aku coba meminta maaf saja? Mungkin saja Meiko-san mau memaafkanku kalau aku menjelaskannya." sambung Miku sambil menggigit pelan jarinya.
Miku pun berjalan dengan pelan dan ragu ke arah pintu. Miku membuka pintu dengan perasaan sedikit takut.
"A-aku pulang.." ucap Miku dengan nada pelan.
"Selamat datang Miku-chan.." sahut Meiko dengan menatap curiga ke arah Miku.
"Ma-maafkan aku.. belanjaannya.. eto.. sebenarnya tadi itu ada kecelakaan kecil.. eto.." ujar Miku mencoba menjelaskan.
"Bagaimana aku menjelaskannya?!!" teriak Miku dalam hati sambil merem takut dibentak.
"Ya ampun, kalau mau main itu bilang dulu dong. Masa belanjaan di simpan depan pintu gitu aja." gerutu Meiko.
"Eh?! Depan pintu?!" ucap Miku terkejut.
"Iya. Yg meletakannya Miku-chan kan? Mana cuma mencet bel lalu langsung ngilang gitu aja." sambung Meiko.
"He.. hehehehe.." Miku tertawa bodoh begitu saja saat mendengarnya.
"Bagaimana bisa? Padahal kan aku yakin itu tertinggal di dekat sungai." ujar Miku dalam hati merasa heran.
"Apa yg aku pikirkan? Pasti ada orang baik yg menemukannya dan mengantarkannya ke rumah. Terima kasih untuk siapa saja yg mau mengantarkan belanjaan ini." ujar Miku nampak bersyukur sekali, itu terlihat dari wajah bahagianya.
"Tapi Miku-chan, darimana kamu dapatkan ikan itu?" tanya Meiko.
"Ikan?" ucap Miku tak mengerti.
"Iya, ada seekor ikan seberat 1 KG di dalam kantong plastikmu. Miku-chan yg beli kan?" tanya Meiko.
"Eh, benarkah?" ucap Miku dengan tampang bego.
Di tempat penjual es krim.
"Bocah, bagaimana caranya kamu buat mereka tak sadar walau kamu berada tepat disebelah mereka?" tanya paman penjual es krim.
"Itu rahasia." jawab Ray yg terlihat duduk di pagar pembatas jalan.
"Oohh.. aku ingat, kamu juga pernah makan es krim disini. Kamu yg selalu bawa pancingan itu kan?" tanya paman penjual es.
"Paman pasti salah orang. Saat dulu aku beli es krim disini, aku tidak membawa pancingan." jawab Ray sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan paman penjual es krim itu.
"Hmm.. ingatanku tak mungkin salah. Jaket hitam.. pancingan.. itu pasti dia. Dia bersama seseorang saat itu. Seorang laki-laki." sambung penjual es krim itu setelah Ray pergi.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.