VocaWorld, chapter 64 - Memori Musim Panas (Laki-Laki Itu Harus Mandiri)
Kaito tampak marah dan berjalan cepat ke suatu tempat. Dia tidak tahu berjalan kemana, dia hanya mengikuti langkah kakinya saja. Dengan wajah cemberut dia terus berjalan masuk ke kota.
"Komei itu, mentang-mentang dia laki-laki yg kuat dia berkata kalau aku akan terus jadi pecundang kalau berpikir kalau laki-laki harus kuat. Apa maksudnya coba?" ucap Kaito kecil itu sambil berjalan terus.
"Hey, anak tampan.. mau kemana?" tanya seorang anak memanggilnya dari arah gang.
Ternyata itu berasal dari seorang anak yg kelihatannya dia adalah anak jalanan yg nakal.
"Apa? Aku sedang kesal, jangan ajak aku ngobrol!" tolak Kaito.
"Jangan mentang-mentang kau berwajah tampan lalu sekarang belagu. Apa perlu kami menghajarmu hah!" bentak anak itu.
Dan nampaklah teman-temannya dari balik bayangan dan dari balik tempat sampah mulai menghampiri Kaito.
"Ayo maju kalian semua! Akan kuhajar kalian!" tantang Kaito.
"Serang dia!" suruh anak itu kepada yg lainnya.
Kemudian Kaito pun di keroyok oleh anak-anak itu.
"Hahaha.. pukulanmu lemah sekali. Kayak perempuan.." ejek salah seorang yg berhasil menangkis pukulan Kaito.
Pafa akhirnya Kaito lah yg dipukuli oleh mereka.
"Memukuli seseorang yg lebih lemah dengan beramai-ramai, sungguh tidak jantan sama sekali." ujar Komei yg berdiri sambil meletakan kedua tangannya di pinggulnya.
"Siapa kau?" tanya salah seorang dari anak yg memukuli Kaito.
"Dia itu Komei. Yg terkuat kedua di kota ini." sahut temannya.
"Komei?!" ucap anak itu sedikit terkejut.
"Hanya dengan melihatnya, dia membuat anak-anak ini gentar. Sekuat apa sebenarnya dia itu?" ucap Kaito dalam hati.
"Kita tidak perlu takut, jumlah kita lebih banyak. Ayo serang!" suruh anak itu pada teman-temannya.
Mereka pun menyerang Komei. Namun Komei bisa menghindari mereka dan menyerang balik. Anak-anak itu pun berlari ketakutan setelah kena pukul oleh Komei.
"Kami akan kembali membalasmu!" ucap salah seorang dari mereka.
"Selalu saja itu yg dikatakan oleh pecundang." sahut Komei.
"Kau sama sekali bukan nomer satu lagi. Ada yg lebih menakutkan dari dirimu saat ini!" teriak anak itu saat sudah jauh.
"Memangnya aku peduli." balas Komei.
"Kamu tidak apa-apa Kaito-kun?" ucap Komei sambil berbalik lalu membungkuk dan tersenyum pada Kaito yg terduduk.
Wajah Kaito memerah.
"Tidak-tidak-tidak.. apa yg aku lakukan. Dia itu laki-laki. Laki-laki.." ujar Kaito dalam hatinya sambil menggelengkan kepalanya mencoba menyadarkan dirinya.
"Maaf kalau aku kasar padamu sebelumnya. Aku tak bermaksud begitu. Aku hanya tidak suka kalau dituduh tanpa alasan." ujar Komei sambil berjalan melewati Kaito.
"Tapi kau memang cuma numpang nama ayahmu buat makan gratis kan?" sahut Kaito.
"Jangan mulai lagi deh. Sikapmu itu sama sekali tidak mencirikan kekuatan sama sekali." balas Komei.
"Emangnya kau tahu cara jadi laki-laki kuat itu gimana?" tanya Kaito.
"Tidak lah. Tidak mungkin aku tahu caranya. Hanya saja aku tahu laki-laki yg kuat itu seperti apa." jawab Komei.
Mereka pun berjalan pulang bersama.
"Memangnya yg kuat itu seperti apa?" tanya Kaito yg penasaran.
"Yg seperti ayahku!" jawab Komei.
"Hah? Apa?" ucap Kaito heran dan bingung.
"Kamu tidak kenal ayahku?" tanya Komei.
"Mana mungkin lah aku kenal! Aku belum pernah ketemu dia! Lagipula aku baru satu minggu disini!" bentak Kaito.
"Haha.. begitu kah? Maaf deh, aku lupa kalau kamu orang baru disini." ujar Komei.
"Aku akan belok kesini." ujar Komei menunjuk ke arah kanan di pertigaan di hadapannya.
"Kalau aku lurus." jawab Kaito.
"Oh.. kalau begitu sampai jumpa besok." ucap Komei.
"Ya." jawab Kaito dengan dingin.
Keesokan harinya, Kaito nampak bersiap-siap lagi untuk keluar.
"Kaito-dono, anda mau kemana?" tanya Kamui dari arah belakang.
"Aku mau main keluar." jawab Kaito yg hendak membuka pintu depan.
"Kalau begitu biar saya temani." ucap Kamui.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri." tolak Kaito.
"Tapi, Kaito-dono.." sahut Kamui.
"Tak apa, aku harus bisa mandiri kan? Laki-laki itu, harus bisa melindungi dirinya sendiri. Bahkan juga orang disekitarnya. Kalau diri sendiri saja tak bisa dilindungi, bagaimana aku bisa melindungi yg lain? Karena itu, saat ini aku ingin sendiri saja. Akan kubuktikan kalau aku bisa walau sendiri." jelas Kaito.
Kamui pun terkejut mendengar penjelasan Kaito. Penjelasan itu memang masuk di akal Kamui, dan memang benar. Jadi Kamui tak bisa menyangkalnya.
"Baiklah kalau itu mau Kaito-dono. Hati-hati dijalan." ucap Kamui sambil membungkuk memberi hormat.
"Ya." sahut Kaito yg lalu keluar dari rumah.
"Keputusan yg bagus, Kamui. Lagipula nampaknya dia sudah mulai mengerti bagaimana menjadi laki-laki." ujar ayah Kamui yg ternyata mendengarkan pembicaraan mereka dari ruang tamu dekat pintu depan.
"Ayah.. menguping itu tidak baik. Kita ini bukan ninja. Kita samurai." ujar Kamui.
"Ya-ya.. maaf deh kalau gitu." sahut ayah Kamui.
Ternyata saat itu Kaito pergi ke sebuah pasar. Karena saat itu belum ada mall dan supermarket.
"Disini banyak juga ya jenis sayuran dan dagingnya. Padahal aku tidak melihat perkebunan ataupun peternakan sekitar sini. Apa ini dari kota sebelah?" ucap Kaito saat melihat-lihat pasar itu.
Dan lalu terlihat Komei sedang melakukan tawar menawar dengan pedagang sayuran.
"Ini kecil banget kok bisa seberat itu?" tanya Komei.
"Ya saya tidak tahu." jawab pedagang dengan agak gugup.
"Ini aneh tahu. Kol ini lebih kecil, dan kemungkinan sudah lama. Hanya saja terus di kupas dan kemudian bagian bawahnya dipotong. Tapi anehnya pas ditimbang kok jadi seberat kol yg ada disana itu!" jelas Komei sambil menunjuk sebuah kol yg lumayan besar.
"Kenapa anak ini bisa tahu? Padahal harusnya trik ini berhasil. Ibu-ibu yg tua aja tertipu." ucap pedagang itu dalam hati.
"Perlihatkan aku tempat timbangan itu!" suruh Komei.
"Tidak boleh dong." tolak pedagang itu.
Namun Komei naik ke tempat dagangan ke atas sayuran dan mengambil wadah itu.
"Seperti dugaanku. Kamu menambakan lapisan tambahan pada alasnya supaya lebih berat. Agar tidak ketahuan, kamu mengelasnya!" ujar Komei.
"Sialan!" ucap pedagang itu hendak memukul Komei.
"Stop!" ucap Kaito membuat pedagang itu berhenti.
"Kalau aku jadi kau, aku tidak akan melakukannya. Apalagi ditengah keramaian ini. Kau bisa babak belur dihajar warga yg melihatnya. Karena itu adalah tindak kekerasan pada anak." sambung Kaito.
Wajah pedagang itu mulai berkeringat.
"Ditambah kau juga melakukan kecurangan timbangan. Kau bisa masuk penjara, tuan pedagang." tambah Kaito sambil tersenyum percaya diri.
Wajah pedagang itu mulai pucat. Dan akhirnya pedagang itu pun memberikan kol yg besar. Komei dan Kaito pun pulang bersama.
"Hei, tadi itu keren sekali, Kaito.. eto.. -kun." ucap Komei.
"Kalau kamu merasa terpaksa menambahkan kata 'kun' nya, sudah panggil Kaito saja." suruh Kaito.
"Baiklah, Kaito." sahut Komei.
"Tapi apa memang benar yg tadi itu keren?" tanya Kaito sambil wajahnya sedikit memerah.
"Tentu saja. Kamu terlihat sangat laki-laki sekali." jawab Komei.
Kaito pun kaget dan menoleh ke arah Komei. Wajahnya memerah mendapat pujian itu.
"Terima kasih.." ucap Kaito sambil tersenyum dan melihat ke bawah.
Akhirnya setelah itu mereka pun semakin akrab. Setiap hari Kaito selalu bermain bersama Komei. Sampai suatu saat, ketika mereka sedang duduk diayunan.
"Hahaha.. kita bertemu lagi, Komei, Anak tampan!" ucap anak jalanan berandalan yg waktu itu.
Kali ini dia membawa lebih banyak teman dan membawa senjata seperti kayu dan batang besi.
"Kenapa kalian menemui kami lagi? Ingin dihajar lagi ya?" sahut Komei sambil berdiri.
Komei berjalan ke tengah sambil memukul-mukulkan tinjunya ke telapak tangannya.
"Kau akan menyesal telah meremehkan kami. Maju!" ujar anak itu lalu menyuruh seluruh temannya untuk menyerang Komei.
Mereka pun berlari ke arah Komei. Komei pun berhasil memukul beberapa diantara mereka.
"Hati-hati, mereka memakai senjata!" ucap Kaito.
"Aku juga tahu." sahut Komei.
Namun saat mereka menyerang balik, Komei tak dapat bertahan. Karena mereka memakai senjata. Kalau ia menangkisnya maka tangannya lah yg sakit. Akhirnya Komei mulai terpojok dan mundur ke belakang.
"Biar aku bantu." ucap Kaito.
"Jangan! Kamu takkan bisa melawan mereka!" larang Komei.
"Begitu juga denganmu! Aku tak bisa melihat seseorang disakiti tepat dihadapanku. Apalagi jika itu karena ku. Aku akan membantumu!" ucap Kaito dengan nada keras.
"Ta-da! Kamu lulus sebagai laki-laki, Kairyuu-kun!" ucap seorang anak laki-laki yg berdiri diatas seluncuran.
Kemudian dia pun meluncur ke bawah.
"Namaku, Kaito. Shion Kaito." ujar Kaito membenarkan.
"Tidak, harusnya namamu adalah Kairyuu Kaito. Karena nama marga ayahmu adalah Kairyuu. Shion itu nama ibumu." jawab anak laki-laki bertopi gambar mata kucing dan kaos hitam itu.
Kaito tampak terkejut mendengarnya.
"Siapa kau, berani ikut campur?" tanya anak berandalan itu.
"Aku hanya orang lewat. Tapi mesti hanya lewat, aku tak mungkin membiarkan yg lemah disana itu kalian pukuli." ujar anak bertopi itu sambil menunjuk kebelakang ke arah Kaito dan Komei dengan jempolnya.
"Sialan.." ucap Kaito sedikit kesal.
"Kau kira kau siapa bisa mengalahkan kami semua." ucap anak berandalan itu.
"Aku bukan siapa-siapa. Dan lihatlah, badanku kurus dan lebih lemah daripada yg dibelakangku itu. Tapi aku yakin, bisa mengalahkan kalian semua dalam 3 detik." ujar anak bertopi itu sambil menunjukkan lengannya yg kurus itu.
"Sombong sekali. Ayo serang serang dia!" suruh anak berandalan itu pada temannya.
Teman-temannya pun berlari secara serentak ke arah anak bertopi itu.
"Sekarang!" ucap anak bertopi itu.
Kemudian ada tali keluar dari tanah. Tali tipis yg hampir tak terlihat. Sepertinya itu benang pancing. Dan kemudian semua anak yg hendak menyerangnya pun terjatuh karena tersandung benang pancing itu. Karena berlari sekuat tenaga, sehingga jatuhnya pun sangat keras.
"Eh, ternyata cuma 2 detik." ucap anak bertopi itu menghitung dengan tangannya.
Anak-anak yg terjatuh itu pun kemudian menangis dan kabur karena kepala mereka benjol, bahkan ada juga yg wajahnya baret-baret karena tergesek tanah.
"Hei, kenapa kalian lari?" tanya anak berandalan yg jadi pemimpin mereka itu.
"Kau bodoh ya? Kita itu kalah karena dia adalah yg terkuat di kota ini saat ini." jawab salah seorang temannya sambil menangis.
"A-apa?!!" ucap anak berandalan itu terkejut.
Kemudian dia pun lari bersama temannya yg lain.
"Anak ini? Dia.. yg terkuat? Bagaimana bisa? Bahkan tubuhnya itu lebih kurus daripada aku." ucap Kaito dalam hati tampak terkejut.
Kemudian ada seorang anak berjaket hitam menghampiri anak bertopi itu.
"Kerja bagus." ucap anak bertopi itu sambil mengelus kepala anak berjaket hitam melalui tudung jaketnya.
"Dia, sejak kapan? Jadi dia menggunakan pancingan itu untuk menjebak dan menjerat kaki mereka?!" ujar Kaito dalam hati saat melihat anak berjaket hitam yg membawa pancingan itu.
"Maaf, kami harus pergi, Kairyuu-kun. Sekarang setelah melihat itu, kamu harusnya mengerti kan? Laki-laki itu tidak bisa hanya dijelaskan oleh kekuatan fisik saja. Tapi lebih luas." ujar anak bertopi itu.
"Ayo kita pergi." ajak anak bertopi itu pada anak berjaket hitam.
"Oh ya, ini untukmu! Itu untuk mengingatkanmu kalau laki-laki itu bukan hanya kekuatan fisik." ucap anak itu melemparkan topinya ke arah Kaito.
"Tapi darimana kau tahu nama marga ayahku?" tanya Kaito.
"Itu akan kujawab saat kita bertemu lagi." sahut anak itu sambil berjalan menyusul anak berjaket hitam dan melambaikan tangan ke arah Kaito.
Kaito pun memapah Komei sambil membawa belanjaannya. Komei yg terluka lebam akibat pukulan benda tumpul itu memang hampir tak bisa berdiri saat itu.
"Jangan sok kuat maka nya. Baru dipukuli begitu saja udah ambruk." ledek Kaito.
"Haha.. haha.. lihat siapa yg bilang lemah. Padahal dia sendiri yg lemah kan." ujar Komei sambil tertawa sinis.
"Lagipula, ada satu pertanyaan untukmu. Kenapa laki-laki rambutnya dikuncir dua begitu?" tanya Kaito.
"Hah? Siapa yg bilang aku laki-laki? Aku perempuan." jawab Komei.
Kaito pun tiba-tiba bengong seperti orang bodoh untuk sesaat.
"Apa?!!!" teriak Kaito sangat terkejut.
"Kenapa kamu begitu terkejut. Harusnya kamu menyadarinya kan? Tidak mungkin ada laki-laki dengan rambut twintail seperti ini." ujar Komei sambil menunjuk rambutnya dengan tangannya yg lain.
"Hehe.. iya sih, tapi sikapmu itu kayak laki banget tahu." ujar Kaito dalam hati sambil tersenyum aneh.
Kaito pun sampai di depan rumah Komei. Komei memencet belnya. Dan seorang om-om berkumis tebal dengan badan kekar pun keluar dari rumah.
"Whoaa!! Siapa om ini? Ayahnya kah? Serem banget!" pekik Kaito dalam hati terkejut melihat wajah garang om itu.
Kemudian om itu pun menatap tajam ke arah Kaito. Lalu ia melihat tubuh Komei yg lebam-lebam dan tampak sedikit membiru.
"Bocah!" ucap om itu sambil menjambak baju Kaito.
"Iya!" sahut Kaito dengan panik.
"Apa yg kau lakukan pada putri kesayanganku ini hah?!!! Jangan bilang kau menyiksanya untuk kesenanganmu!!" bentak om itu yg ternyata ayahnya Komei.
"Ayah! Hentikan!" bentak Komei.
"Tapi, putriku sayang.. dia telah menyiksamu kan?" sahut ayahnya.
"Itu hanya khayalanmu saja! Aku itu habis berkelahi dengan anak-anak berandalan yg sering mengacau dikota." jelas Komei.
"Oohh.." sahut ayahnya dengan wajah bodoh.
"Sekarang cepat bawa belanjaan itu, dan bawa aku masuk!" suruh Komei pada ayahnya.
"Baik." jawab ayahnya membawa belanjaan lalu menuntun Komei.
"Apa ini? Ayah takut pada putrinya. Sungguh laki-laki yg tragis." ujar Kaito dalam hatinya sambil tersenyum merasa aneh.
"Hei bocah! Terima kasih mau mengantar putriku dengan selamat ke rumah." ucap ayah Komei dengan wajah serius, tanpa tatapan tajamnya.
"Ya sama-sama, melindungi seorang gadis adalah tugas laki-laki kan?" jawab Kaito.
"Itu jawaban yg bagus, bocah!" sahut ayah Komei.
Kaito pun berjalan pulang. Saat sampai di rumah, dia pun dikejutkan oleh ibunya yg berdiri sambil menatap tajam ke arahnya.
"Kaito! Kemana aja kamu hah?" bentak ibunya.
"Habis main keluar." jawab Kaito.
"Sudah kubilang jangan main keluar lagi kan! Lagipula kenapa pula ayahmu malah menyarankan untuk menitipkanmu bersama orang-orang tidak berguna ini." kata ibunya Kaito yg lalu melihat ke arah Gakupo yg duduk memeluk pedang kayunya sambil memejamkan mata dan ayahnya Gakupo sedang tiduran dan menguap.
"Memangnya kenapa?" tanya Kaito.
"Hah? Kenapa kamu bilang! Diluar itu berbahaya. Bagaimana kalau kamu terluka?" jawab ibunya Kaito.
"Laki-laki itu harus mandiri! Dia harus bisa menjaga dirinya sendiri. Kalau melindungi diri sendiri saja tidak bisa, bagaimana bisa melindungi orang lain!" balas Kaito sambil berjalan melewati ibunya.
Ibunya terlihat terkejut mendengar kata-kata Kaito.
"Kata-kata itu.. Kairyuu.. dia mirip denganmu?!" kata ibu Kaito dalam hati.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.