VocaWorld, chapter 66 - Kamu Yang Tak Menyadarinya

Di sebelah barat Voca Town, tepatnya di depan rumah kakek Taka dan nenek Toko terlihat sepasang kakek nenek itu sedang senam pagi.
"Tangan diangkat ke atas. 1.. 2.. 3.. 4.." suara radio terdengar cukup keras.
Kakek Taka dan nenek Toko pun mengikuti instruksi di radio itu.
Tidak berapa lama, datang Luka yg membawa sesuatu. Sebuah kantong plastik berisi makanan, minuman, dsb.
"Selamat pagi, kakek Taka, nenek Toko." sapa Luka sambil tersenyum ramah.
"Oh.. neng yg grup duo nya bubar." sahut kakek Taka sambil tetap senam.
Luka sedikit kesal mendengarnya, namun ia tetap mencoba mempertahankan senyumnya.
"Aku membawakan sesuatu. Kalian pasti cape kan setelah berolahraga." ujar Luka sambil berjalan masuk ke area halaman rumah dan meletakan kantong plastik itu diatas meja.
"Wah.. queen-chan baik sekali. Shiro-kun pasti bahagia telah menikahimu." ucap nenek Toko.
"Eh, kapan aku menikah dengan Ray-kun?! Lagipula, namaku bukan queen, tapi Luka!" balas Luka yg terkejut dan malu mendengar perkataan nenek Toko.
"Oohh.. kukira kalian sekarang sudah menikah. Tehe.." sahut nenek Toko sambil mukul pelan kepalanya sendiri dan melet.
"Ya ampun.. bagaimana bisa kalian sampai mengira aku menikah dengan Ray-kun?" gerutu Luka dengan wajah memerah dan memainkan ujung rambut poninya yg paling panjang.
"Biasanya kalau seorang perempuan tampak murung dan bingung, lalu sering tersenyum palsu maka dia punya masalah dalam rumah tangga." jawab nenek Toko.
"Eh, emang begitu ya?" sahut kakek Taka tampak bingung.
Nenek tokok tampak menatap aneh pada kakek Taka.
"Dasar bodoh dan tidak peka!" bentak nenek Toko sambil memukul perut kakek Taka.
Luka hanya menatap kakek Taka dan nenek Toko dengan wajah cemberut.
"Dasar mereka itu, tidak bisa serius apa. Tapi.. apa benar aku tampak seperti seorang istri yg sedang bermasalah dengan suaminya?" gumam Luka dengan wajah memerah.
Nenek Toko pun mengecilkan volume suara radio dan berhenti senam. Lalu duduk di kursi dekat meja tempat Luka meletakan kantong plastik tadi.
"Dasar kakek bodoh itu, udah tua juga masih aja belum peka." ujar nenek Toko dengan kesal.
"Tapi kalian nampaknya masih bugar saja ya walau sudah tua." kata Luka sambil duduk di kursi di seberang nenek Toko.
"Mungkin itu karena dulu kami pernah ikut dalam perang sebelum pensiun. Sehingga tubuh kami jadi terlatih." jawab nenek Toko.
"Apa? Kalian ikut dalam perang itu juga?" ucap Luka terkejut.
"Ya. Emang Shiro-kun belum mengatakannya padamu? Ya ampun, aku tak percaya Shiro-kun juga jadi suami tidak bertanggung jawab seperti kakek tua itu." jawab nenek Toko.
"Sudah kubilang kami belum menikah!" protes Luka dengan wajah memerah.
"Belum? Jadi kalian akan menikah ya?" tambah nenek Toko.
Luka tak bisa berkata apa-apa, dia hanya memalingkan muka sambil menahan malu.
"Mana mungkin aku menikahinya setelah dia jadi penjahat.." ucap Luka dengan suara pelan.
"Apa?" kata nenek Toko penarasan dengan perkataan Luka.
"Aku tak mungkin menikahi Ray-kun setelah dia jadi penjahat!" jelas Luka sambil memegang bagian pinggir meja dengan kuat.
"Shiro-kun jadi penjahat?!" ucap nenek Toko sedikit terkejut.
"Rasanya tidak mungkin Shiro-kun jadi jahat." sambung kakek Taka yg menghampiri mereka sambil memegangi perutnya.
"Apanya yg tidak mungkin! Dia mengatakannya sendiri kalau sekarang dia akan jadi penjahatnya, dan aku juga teman-temanku sebagai orang baiknya jangan segan-segan menyerangnya. Karena jika tidak, dia akan menyerang kami. Begitu.." jelas Luka.
Kakek Taka dan nenek Toko pun saling bertatapan beberapa saat. Lalu mereka pun saling tertawa kecil.
"Kenapa kalian tertawa?" tanya Luka merasa sedikit kesal.
"Shiro-kun benar-benar imut.." ucap nenek Toko.
"Hah? Apanya yg imut dengan menjadi penjahat?" tanya Luka mulai bingung.
"Luka-chan.. sebaiknya saat ini kamu turuti saja apa kata Shiro-kun. Jika dia ingin kamu melawannya sekuat tenaga, ya lawanlah dia dengan sekuat tenagamu. Jangan ragu." jawab nenek Toko.
"Ya, akan sangat berbahaya kalau melawannya dengan hati yg ragu." tambah kakek Taka.
"Dan ingatlah tugasmu sebagai ratu, Luka-chan." sambung nenek Toko.
"Baiklah, aku akan mulai melawannya dengan sekuat tenagaku. Walau aku masih tidak mengerti tentang ratu yg kalian maksudkan." sahut Luka sambil berdiri lalu pergi.
"Oh iya, satu lagi Luka-chan.." ucap nenek Toko.
Luka pun berhenti dan menoleh ke belakang.
"Jangan pernah hadapi dia dengan amarah. Karena Shiro-kun suka senyummu." sambung nenek Toko.
"Ya, baiklah.." sahut Luka yg lalu melanjutkan jalannya.
"Hmm.. apa kita memberi tahunya terlalu banyak?" ucap kakek Taka.
"Kurasa tidak. Dia masih belum bisa memecahkan puzzle nya." sahut nenek Toko.

Luka berjalan menuju ke rumah nya sambil memikirkan kembali perkataan kakek Taka dan nenek Toko.
"Walau sudah kupikirkan berulang-ulang, aku masih belum mengerti juga apa maksudnya menjadi ratu itu. Dan kenapa aku mesti melakukan tugas itu." gumam Luka dalam hati sambil memegang dagunya.
"Cape.. lebih baik ku panggil jemputanku saja.." ucap Luka sambil mengeluarkan ponselnya.
Saat itu memang sudah mulai siang, dan nampak Luka sudah berkeringat setelah jalan kaki barusan.
"Walau sudah berkeliling-keliling, tak ada tanda-tanda penyerangan mereka lagi. Ini sudah lebih dari satu minggu." ujar Kamui yg nampak sedang berjalan-jalan di daerah barat Voca Town.
Kemudian ia pun melihat ada Luka sedang bersandar di pagar jalan dan menunduk sambil menelpon.
"Itu, Luka-tan.." ucap Kamui sambil tersenyum bahagia dan berlari ke arah Luka.
"Tunggu, saya tak boleh begini. Saya harus terlihat cool.." pikir Kamui sambil berhenti.
Kemudian Kamui pun berjalan dengan tenang sambil membuat tampang keren dan ada kilauan disekitarnya. Kamui lewat di hadapan Luka berharap Luka menyapa nya. Namun sudah lewat beberapa meter Luka malah mengabaikannya dan sibuk menelpon.
"Kenapa Luka-tan mengabaikan saya?!!" teriak Kamui kembali ke hadapan Luka.
Luka saat itu tampak sudah menutup panggilannya dan meletakan ponsel nya ke sakunya lagi.
"Oohh.. kamu ternyata.. hmm.. Gaku-Gaku-kun ya?.." ucap Luka saat melihat Kamui.
Kamui hanya membuat ekspresi seperti hatinya tertusuk dan merasakan sakit saat itu.
"Hmm.. salah, harusnya aku lebih sopan lagi. Dia itu seniorku. Gaku-Gaku-senpai mungkin lebih baik.." sambung Luka.
Hati Kamui pun tertusuk lagi.
"Luka-tan bisa tolong hentikan.." pinta Gakupo dengan suara parau karena menahan sakit di hatinya.
"Tapi kenapa namamu Gaku-Gaku? Bukankah itu nama yg aneh untuk samurai?" tambah Luka sambil melihat ke arah lain tanpa memperhatikan Kamui.
Kamui pun akhirnya seperti tertusuk tombak tepat di jantungnya. Dia mundur ke belakang dan menabrak tiang lampu jalan. Lalu terduduk di trotoar.
"Megu!!! Ini pasti salahmu!!!" teriak Kamui ke arah langit.
Di tempat lain, Gumi yg sedang jogging pun tampak bersin.
"Nampaknya semangat kalian sudah kembali ya." ucap Ray yg memperhatikan dari seberang jalan.
Melihat ada Ray, Kamui langsung berubah. Begitu pula Ray bereaksi pada gerakan Kamui.
"Hiyaaa..!" teriak Kamui sambil berlari ke arah Ray.
Ray pun melompat menghindari ke tengah jalan. Ray terus melompat-lompat mundur menjauh dari kejaran Kamui.
"Stop!" ucap Ray.
Kamui pun berhenti.
"Ada apa?" tanya Kamui.
"Kamu yakin akan menghadapiku bersama mereka?" ujar Ray sambil menunjuk ke atas.
"Ada apa memangnya?" sahut Kamui yg tak melihat apapun.
Luka pun datang mengejar dan sudah tampak dalam keadaan berubah. Luka kemudian juga melihat keatas saat melihat Ray menunjuk ke atas.
"Disaat seperti ini?!" ucap Luka yg terkejut ternyata ada 3 gelombang riak air di atas langit.
Gelombang yg sangat besar yg menandakan kalau itu tanda kemunculan major.
"Ada apa Luka-tan, aku tak melihat apa-apa." ujar Kamui pada Luka yg berada di sebelahnya.
"Bersiaplah untuk menghadapi lebih banyak musuh, Gaku-Gaku-senpai." ujar Luka.
"Dia kembali memanggilku begitu.." ucap Kamui hatinya kembali sakit.

Di ketiga gelombang besar dilangit itu, muncul seperti tetesan air hitam raksasa. Lalu jatuh ke bawah, yg pertama mendarat dijalan, yg kedua mendarat di lahan kosong di samping kanan jalan, sementara yg ketiga mendarat di perumahan. Sentak yg ketiga membuat warga ketakutan dan berlarian meninggalkan tempat itu.
"Apa ini ulahmu, Ray-kun?" tanya Luka dengan wajah serius.
"Aku tidak perlu memberi tahumu sebenarnya. Lagipula kamu harus mencari tahu sendiri kan?" jawab Ray.
"The White Light-dono, bersiaplah menerima serangan saya." ujar Kamui yg mencabut pedangnya dan menodongkannya pada Ray.
"Ide yg buruk. Bertarung denganku sambil mengalahkan major itu terlalu beresiko kan? Benarkan, my queen?" sahut Ray lalu bertanya pada Luka.
Ketiga major itu mulai mendekati mereka.
"Dia benar, kita tak bisa menghadapi mereka semua sekaligus." ujar Luka.
"Sebaiknya kalian mulai bersiap-siap. Serangan besar akan datang." ucap Ray.
Saat itu major yg berada di belakang Ray terlihat mengurus. Ternyata saat itu major itu sedang membuat bola shockwave berukuran besar di mulutnya.
"Aku akan membiarkan kalian menghadapi mereka. Dan Megurine-san, sebaiknya kamu berpikir cepat." ujar Ray lalu memberi saran pada Luka sambil tersenyum.
Saat bola shockwave itu di tembakan, Ray menghilang tepat saat bola shockwave itu hampir mengenainya.
"Biar saya yg memotongnya." ucap Kamui berdiri di depan Luka lalu menyarungkan pedangnya.
"Tunggu jika bola itu ditebasnya maka itu akan pecah. Apa jadinya jika itu pecah? Dan kenapa Ray-kun menyuruhku berpikir cepat? Kemungkinan, karena jika bola itu mengenai kami maka itu adalah akhir kami. Mungkin kalau dilihat dari rupanya, bola itu lebih mirip gelembung berisi udara atau semacamnya yg saat pecah menimbulkan gelombang kejut yg dapat menghancurkan. Begitu kah?" pikir Luka dengan cepat sehingga waktu di sekitar terasa berjalan lambat.
Bola shockwave itu semakin mendekati mereka dengan cepat.
"Jangan memotong dengan asal-asalan. Lakukan tebasan tepat di tengan dengan cepat namun lembut!" suruh Luka.
"Bagaimana caranya saya melakukan itu!" ucap Kamui menoleh ke belakang.
Namun ia melihat wajah serius Luka yg tampak yakin dengan perkataannya.
"Ah, baiklah!" ucap Kamui.
Bola itu akhirnya tiba tepat di hadapan Kamui.
"Iai technique: Batto Jutsu." ucap Kamui.
Dalam gerak lambat, Kamui melakukan tebasan dengan cepat namun gerakannya sangat halus. Kembali ke gerak normal, tampak bola itu terbelah dua tepat ditengah.
"Bunga teratai mekar didanau." sambung Kamui saat bola shockwave itu melewati mereka di sisi kiri dan kanan dan sedikit berbelok ke atas.
Kemudian kedua bola shockwave itu pun menghantam 2 major lain tepat di bagian matanya. Bola shockwave itu pun meletus dan membuat kedua major itu kehilangan bagian badannya lalu menghilang.
"Sekarang tinggal satu lagi." ujar Luka.
"Ini mudah." ucap Kamui yg melihat major itu tampak sedikit mengecil dari ukuran semulanya.
"Enka." ucap Kamui dan pedang katananya pun bercahaya keunguan.
Kamui pun berlari menghampiri major itu. Major itu pun tak tinggal diam, dan melakukan pukulan ke arah Kamui. Kamui melompat kesamping ke arah bangunan dan bertumpu pada dinding lalu melompat ke atas. Major melihat kw arah atas, Kamui datang dengan cepat dari atas. Tanpa sempat bereaksi, major itu disayat oleh Kamui hingga kebawah.
"Hiya!" teriak Kamui saat sampai kebawah dan melakukan tebasan berbalik membelakangi major itu.
"Naga terbang turun dari surga." ucap Kamui sambil menyarungkan katananya membelakangi major.
Terlihat major dibelakangnya terbelah 2 lalu menghilang.
"Kerja bagus!" ucap Ray yg muncul kembali tepat dibelakang tempat major itu menghilang.
"Karena kalian berhasil mengalahkan mereka, akan kuberi hadiah. Akan kuberitahukan sesuatu yg menarik." sambung Ray.
Kamui dan Luka hanya diam dan menatap Ray.
"Targetku tidak berubah. Targetku tetaplah, Hatsune Miku-san. Dan takkan berubah sampai tujuanku tercapai. Ingatlah itu.." tambah Ray tetap dengan ekspresi datarnya.
"Ada satu hal yg ingin kutanyakan." ucap Luka.
"Apa itu?" sahut Ray.
"Kenapa kamu selalu memanggilku queen?" tanya Luka.
"Tentu saja karena kamu adalah ratuku." jawab Ray.
"Hah? Jadi kamu masih mau menyembunyikannya?" ujar Luka.
"Aku tidak pernah menyembunyikan apapun dirimu, my queen. Hanya saja kamu tidak menyadarinya. Dah.." balas Ray yg lalu menghilang.
"Apa maksudnya ini?" ucap Kamui.
Luka hanya terdiam dan berpikir.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】