VocaWorld, chapter 72 - Lembayung Tepi Pantai (Takdir Tak Bisa Dibohongi)
"Pantai dah!" teriak Miku dengan semangat menghadap ke arah lautan.
Saat itu Miku dan yg lainnya sedang ada disebuah pantai. Pantai yg indah, berpasir putih dan air yg jernih berwarna hijau kebiruan.
"Semuanya, ayo kesini dulu. Kita simpan barang-barang kita dulu sebelum bermain di pantai." panggil Luka dari arah kanan Miku dan yg lainnya.
Miku dan yg lainnya pun mengikuti Luka. Dan tak berapa lama, mereka melihat ada sebuah villa yg lumayan besar.
"Ini adalah salah satu villa milik keluargaku. Ayo masuk, jangan sungkan." ujar Luka sambil melangkah mendekati pintu depan, membuka kunci lalu membukakan pintu.
"Wah.. ternyata di dalamnya luas sekali." ucap Miku saat masuk.
"Wow.. kalau disini sih nampaknya kita bisa bermain bola." ucap Len sambil melihat-lihat ruangan tengah.
"Tidak mungkin lah Len, lapang bola dan luas rumah ini beda jauh." komentar Rin yg mengikuti Len.
"Apa kita tidak apa-apa menggunakan villa keluarga Megurine-san lagi?" tanya Meiko pada Luka.
"Tak apa kok, lagipula ini semua sekarang sudah jadi milikku. Jadi, aku bebas menggunakannya untuk apapun." jawab Luka sambil tersenyum.
"Untuk apapun?! Jadi saya dan Luka-tan boleh melakukan apapun disini?" ucap Kamui dengan semangat.
"Tentu saja tidak untukmu." sahut Luka dengan wajah judes.
Kamui pun langsung jongkok di pojokan dengan suram.
"Makanya jangan asal bicara pada Luka-oneesama, Gaku-Gaku." komentar Gumi.
"Padahal, saya hanya ingin lebih dekat dengan Luka-tan." ucap Kamui dengan nada lesu sambil masih suram dipojok ruangan.
"Tapi tidak apa-apa. Yg penting saya bisa melihat Luka-tan pakai bikini! Tapi, kira-kira sebesar apa ya? Seperti punya Lala-tan apa Momo-tan? Hehehe.." ucap Kamui yg kembali semangat lalu membuat ekspresi mesum sambil membayangkan 2 gadis berambut pink dari anime To Love R*.
"Hatsune." panggil Kaito pada Miku yg saat itu sedang melihat-lihat ke sekitar ruangan.
"Ada apa, Kaito-senpai?" sahut Miku.
"Kaito-senpai menyapaku.. aku seneng banget.." ucap Miku dalam hati dengan nada senang.
"Syukurlah kau sudah kembali ceria sekarang. Tetaplah seperti itu ya. Karena aku lebih suka Hatsune yg ceria." ujar Kaito sambil senyum.
"Tenang, aku Hatsune Miku, tahan banting! Hahaha.." ucap Miku dengan bangga.
"Tahan banting? Emangnya Miku-nee tuh ember plastik atau bak plastik itu?" komentar Len dari belakang Miku.
"Kau diam saja, Len-chan.." ujar Miku dengan geram sambil mencubit dan menarik kedua pipi Len.
"Hehe.. maksudnya yg suka di adu-aduin ama penjual nya itu ya?" ucap Kaito sambil tersenyum aneh dan melirik ke arah lain sambil membayangkan tukang bak atau ember yg lagi jualan.
"Oke semuanya.. ayo segera ganti baju! Kita main dipantai!!!" ucap Meiko dengan lantang.
"Yeah!" sahut Miku, Gumi, Rin, Len dan Kamui.
Miku, Rin dan Len tampak berlari ke arah pantai. Mereka berlari dengan penuh semangat. Dibelakang mereka menyusul Gumi, Meiko, Kaito, Luka lalu Kamui. Rin tampak berlari sambil membawa ban pelampung berbentuk bebek, sementara Len membawa sebuah bola berwarna putih dan kuning.
"Miku-chan imutnya, dia masih seperti anak-anak." ucap Meiko.
"Apanya yg imut dari gadis berusia 15 tahun tapi masih seperti anak kecil." komentar Gumi dalam hati.
Miku tampak sedang bermain air dengan Rin dengan wajah yg tampak bahagia.
"Gumi-chan ayo kemari! Kita bermain bersama!" panggil Miku.
Gumi hanya melambai saja merespon panggilan Miku. Mereka pun bermain di sekitar pantai itu. Tampak Miku bermain dengan riang bersama Rin dan Len. Miku saat itu memakai bikini berwarna hijau biru. Sementara Gumi hanya memperhatikan mereka dari tepian air laut. Gumi hanya berdiri sambil tersenyum melihat Miku, dia tampak manis dengan bikini berenda berwarna kuning dan jingga itu. Luka nampak menancapkan sebuah payung besar kemudian menggelar sehelai kain lalu duduk diatasnya.
"Kaito-dono, semangatlah sedikit. Lagipula gaya macam apa itu, pake jaket tapi dibuka resleting nya." ucap Kamui.
"Tapi disini panas banget. Aku tak tahan dengan yg panas-panas." sahut Kaito.
"Kamu lupa, elemen Instrument mu kan api?" komentar Luka.
"Hehe.. ya, benar juga sih." ujar Kaito tersenyum sinis.
Saat itu Kaito memakai jaket putih, resletingnya sengaja dibuka karena kepanasan, dan dia juga memakai celana pendek berwarna biru.
"Lelaki sejati itu harusnya memakai yg seperti ini!" ucap Kamui sambil menunjuk pakaiannya.
Kamui saat itu memakai atasan kimono berlengan pendek dengan dada terbuka, dan celana pendek bergambar lukisan ombak.
"Kayak om-om pedagang mie goreng pinggir pantai." komentar Kaito.
Kemudian Kaito pun duduk di sebelah Meiko yg sedang tengkurap berjemur diatas sehelai kain. Meiko saat itu pakai bikini berwarna merah.
"Kaito.. bisakah kamu oleskan krim tabir surya itu." pinta Meiko yg tampak sudah tiduran tengkurap dibawah sinar matahari sambil menunjuk ke arah krim tabir surya disamping Luka.
"Eh? Kenapa mesti aku?" ucap Kaito tampak gugup karena melihat Meiko dalam posisi itu.
"Sudahlah lakukan saja." suruh Meiko sambil membalikan wajahnya ke arah lain.
Kaito tampak menelan ludah. Wajahnya seketika memerah melihat punggung Meiko yg begitu bersih dan putih itu.
"Wah.. Kaito-dono sudah memulai langkah awalnya. Sekarang giliranku." ujar Kamui dalam hati.
"Luka-tan.. saya akan mengusapkan tabir surya ini dipunggung anda. Segeralah buka jaket itu dan berbaringlah." ucap Kamui tampak dia sudah meneteskan krim tabir surya itu ke telapak tangan kanannya dan memegang botolnya dengan tangan kirinya.
"Maaf, aku tidak suka berjemur terlalu lama dibawah sinar matahari. Lagipula, saat ini aku ada dibawah payung, jadi tak butuh krim tabir suryamu itu, Gaku-Gaku..-senpai." sahut Luka dengan wajah judesnya dan menekankan kata Gaku-Gaku pada perkataannya itu.
"Gagal lagi." ucap Kamui dengan suram memeluk lututnya membelakangi Luka.
Miku tanpa sengaja melihat ke arah Meiko dan Kaito. Dia pun terkejut dan lalu berlari dengan dramatis seperti yg sedang lomba lari ke arah Kaito dan Meiko. Kemudian Miku menjatuhkan diri di pasir. Dan berhenti tepat di sebelah Kaito. Melihat hal itu, Rin, Len dan Gumi pun tampak terkejut.
"Kaito-senpai!" panggil Miku.
Kaito menoleh ke arah Miku.
"Oleskan krim itu padaku juga." pinta Miku.
"Miku-chan.." panggil Luka yg berada tepat di sebelahnya.
Miku menengok ke arah Luka.
"Apa tidak panas tuh tengkurap diatas pasir tanpa alas?" sambung Luka.
Miku pun nampaknya baru merasakan panasnya.
"Panas!" ucap Miku sambil berguling kebawah payung ke depan Luka yg sedang duduk sambil tampak kepanasan.
"Ya, ampun kamu ini, apa tidak bisa santai saja. Kenapa tiba-tiba lari dan jatuhin diri dipasir kayak gitu.." gerutu Gumi yg sudah berada di hadapan Miku.
Gumi membangunkan Miku. Sementara Luka juga bangkit dan berjalan meninggalkan mereka.
"Luka-oneesama mau kemana?" tanya Gumi.
"Aku mau jalan-jalan sebentar." jawab Luka tetap melangkah pergi.
Luka berjalan menuju ke barat. Melewati bebatuan karang, dan terus saja hingga melewati hutan bakau tepi pantai.
"Kalau tidak salah, disini tempatnya. Tempat yg diceritakan dalam diary papa." ucap Luka sambil terus berjalan. Kemudian tampaklah sebuah jembatan ke tengah laut. Mungkin panjang jembatan itu sekitar 200 meter. Lebarnya sekitar 3 meter. Di belakang jembatan itu tampak sebuah jalan.
"Ini pasti jalan lain ke perkampungan penduduk sekitar sini." ujar Luka saat melihat jalan itu.
Lalu Luka berjalan menyusuri jembatan ke tengah laut. Disana dia melihat seseorang berjaket hitam sedang memancing.
"Siapa itu?" ucap Luka dalam hati.
Luka semakin mendekat ke orang itu hingga jaraknya hanya tinggal 5 meter lagi.
"Tunggu, jangan bilang itu Ray-kun." ucap Luka lagi dalam hati menduga-duga.
Terlihat disebelah orang berjaket hitam itu ada jaket putih tergeletak.
"Mau memancing juga? Atau hanya menikmati pemandangan laut?" tanya orang itu.
Dari suaranya, itu suara laki-laki. Tiba-tiba ada angin yg cukup kencang, dan membuat tudung jaket itu terbuka.
Tampaklah kepala laki-laki itu dengan jelas. Rambut hitam belah pinggir yg khas itu membuat Luka semakin kuat dugaannya.
"Apa itu kamu, Ray-kun?" tanya Luka.
Laki-laki itu pun menoleh, dan tersenyum.
"Takdir memang tak bisa dibohongi." ucap laki-laki yg benar saja itu Ray.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.