VocaWorld, chapter 91 - Badai Mulai Datang

Miku sedang membicarakan kemenangannya melawan Ray. Miku menceritakan semuanya pada Luka, Meiko, Rin dan Len.
"Lalu kemudian aku tendang dia kebawah dan dia pun menghantam tanah dengan keras sekali. Setelah itu pun dia kabur dengan cara menyilaukan mataku dengan petir di sekitar situ." ujar Miku nampak begitu senang saat menceritakannya.
Luka nampak sedang berpikir dan memegangi dagunya.
"Miku-nee tidak bohong kan?" tanya Len yg terlihat tak percaya.
"Lagipula kenapa Ray-niichan memberitahukan Miku-neechan cara menyatu dengan irama dance?" tambah Rin.
"Aaa.. hmm.. eto.. mungkin dia.. bodoh?" jawab Miku.
"Kita tahu Ray-niichan itu tidak sebodoh itu." ujar Rin sambil menatap sayu pada Miku.
"Ya, bener banget dah." tambah Len berekspresi sama dengan Rin.
"Eh? Kalau itu kan.. bisa saja saat itu dia tiba-tiba saja jadi bodoh." sambung Miku.
"Tidak mungkin lah." sahut Rin dan Len bersamaan.
"Tunggu, jangan menatapku seperti itu. Itu seperti kalian tidak percaya dan mencoba memojokkanku." protes Miku pada Rin dan Len.
"Miku-chan, benar-benar mengalahkannya?" tanya Meiko.
"Kenapa semuanya seperti tidak percaya padaku? Aku sudah mengatakan semuanya! Aku benar-benar mengalahkannya!" jawab Miku mulai merasa tertekan.
"Tapi masalahnya Rin-chan dan Len-chan yg menyerangnya berdua bersamaan tak bisa mengalahkannya. Megurine-san juga bahkan tak bisa menyentuhnya. Memangnya sehebat apa sih dance barunya Miku-chan itu?" tanya Meiko.
"Hah? Aku harus menunjukannya sekarang? Baiklah. Akan kubuktikan pada kalian!" ucap Miku sambil bangun dan berdiri dari tempat duduknya.
Kemudian Miku pun berubah.
"Dance: Cherry Blossom Princess." ucap Miku.
Suasana hening sejenak menunggu Miku. Namun sama sekali tidak ada perubahan pada Miku.
"Eh?!" ucap Miku dengan tampang bego.
"Sudah kuduga Miku-nee bohong." ujar Len.
"Apa maksudnya ini Miku-chan?" tanya Meiko.
"Ah.. aku bisa jelaskan ini.. eto.." kata Miko dengan sedikit panik.
"Miku-neechan memang tak bisa diharapkan." ujar Rin sambil tersenyum sinis.
"Miku-chan, apa sebelumnya Ray-kun menyuruhmu melakukan sesuatu sebelum kamu menggunakan dance barumu?" tanya Luka.
"Hmm.. sebentar, biar ku ingat dulu.." ucap Miku meminta waktu lalu berpikir.
"Rin, menurutmu berapa lama waktu yg dibutuhkan oleh Miku-nee untuk berpikir?" tanya Len.
"Hmm.. 5 menit." jawab Rin.
"Itu kecepetan. Menurutku sih sekitar 15 menitan." ujar Len.
"Hei-hei.. jangan jadikan kakak kalian bahan tebak-tebakan." kata Meiko menoleh pada Rin dan Len.
Sekitar 10 menit berlalu dan Miku terlihat masih berpikir.
"Haha.. nampaknya aku akan menang." ujar Len terlihat senang.
Rin hanya cemberut saat itu.
"Kalian kira kakak kalian tuh apaan sebenarnya." komentar Meiko sambil menatap aneh pada Rin dan Len.
"Ah iya, aku ingat Shiro Ray memang mengatakan sesuatu sebelumnya." ujar Miku.
"Haha.. cuma 11 menit. Kamu juga salah Len! Hahaha.." ucap Rin kegirangan saat tahu Len juga salah.
"Sial! Bagaimana bisa?!!" ujar Len tampak tak terima.
"Eh, ada apa?" ucap Miku yg bingung sambil memiringkan kepalanya.
"Ray-kun memberitahukan cara menyatu dengan melody? Ini jadi semakin aneh. Jadi pertarungan kami kemarin itu apa maksudnya. Aku sama sekali tidak mengerti. Dia menyandera seluruh kota lalu menantang kami. Secara persiapan dan kemampuan dia bisa menang dengan mudah melawan kami sejak awal. Dia menculik Miku dan bertarung tapi akhirnya kalah dan lari? Itulah bagian anehnya. Kalau memang sejak awal incarannya adalah Miku, kenapa tidak menyuruh Miku datang sendiri saja kesana. Padahal Ray-kun bisa melakukannya karena sudah menyandera seluruh kota." pikir Luka.

Di rumah danau, Ray dan Dante sedang memancing bersama.
"Aniki, aku tak percaya kamu kalah oleh gadis itu." ujar Dante yg duduk di sebelah Ray.
"Memangnya kenapa kalau aku kalah?" tanya Ray.
"Ya rasanya tidak mungkin lah. Kamu bisa mengalahkan dan menghancurkan setiap pasukanku dulu. Tapi kenapa kamu kalah oleh seorang gadis?" jelas Dante lalu bertanya balik.
"Itu karena dia memang hebat." jawab Ray singkat saja.
"Biar kutebak, Aniki menghadapinya tanpa dance acceleration kan?" tukas Dante sambil menoleh ke arah Ray.
"Memang tidak. Bahkan aku tidak menggunakan melody of harmony seperti saat menghadapi si kembar." jawab Ray.
"Hah? Aniki bisa menggunakan melody of harmony juga?!" ucap Dante kaget.
"Iya, memang menurutmu aku tidak mempelajarinya setelah waktu itu? Aku selalu mempelajari sesuatu yg menurutku menarik." balas Ray.
"Sekarang Aniki benar-benar semakin menyeramkan." ujar Dante.
"Tapi walaupun aku menggunakan dance acceleration dan melody of harmony sekalipun, kemungkinan aku hanya bisa seri dengannya." tambah Ray.
"Memangnya dia sehebat itu ya?" tanya Dante.
"Sudah kubilang, dia adalah kunci dari semua ini." ujar Ray sambil melihat ke langit.
Di rumah Miku terlihat Miku sedang berada di kamarnya dan mencoba menggunakan dance nya saat mengalahkan Ray.
"Ayo! Keluarlah!!" teriak Miku mencoba mengeluarkan bunga sakura seperti saat menggunakan dance barunya waktu itu.
"Kenapa tidak keluar juga?!!" ucap Miku mulai stress.
"Waktu itu Shiro Ray mengatakan apa sih? Aku lupa. Sewaktu dekat dengannya, rasanya mudah sekali aku menggunakannya. Kata-katanya.. suaranya.. bisa diterima oleh hatiku." ujar Miku sambil memegang ke dadanya merasakan detak jantungnya.
"Aaaahh.. kenapa aku malah memikirkannya?! Aku harus kembali fokus mempelajari lagi cara menggunakan dance itu." ucap Miku lalu memberi semangat pada dirinya sendiri.
"Dance: Cherry Blossom Princess!" ucap Miku.
Di lantai bawah, Rin dan Len sedang bermain game.
"Berisik banget dah, Miku-nee." gerutu Len.
"Soalnya Miku-neechan masih belum bisa menguasai dance yg dikatakan bisa mengalahkan Ray-niichan itu." sahut Rin.
Di lorong, Meiko terlihat lewat sambil membawa kotak makan berukuran besar.
"Meiko-neechan mau kemana?" tanya Rin yg melihat Meiko lewat.
"Aku mau ke rumahnya Gakupo-san. Soalnya Kaito sedang terluka, mereka pasti belum masak. Jadi aku mau mengantarkan ini." jawab Meiko sambil menunjukkan kotak makan itu.
"Oohh.." sahut Rin.

Di kediaman Gakupo, terlihat Kaito terbaring di kamarnya. Sementara Kamui sedang bermeditasi di depan dojo bersama Gumi yg sedang duduk sambil numpang minum air dingin setelah jogging.
"Gaku-Gaku!" panggil Gumi.
Kamui tidak menjawab karena sedang berkonsentrasi.
"Menurutmu apa pangeran kegelapan selama ini bermain-main dengan kita?" tanya Gumi.
Kamui masih tidak menjawab.
"Nampaknya dia masih belum mengeluarkan seluruh kemampuannya selama ini. Lagipula, saat ini rasanya dia berbeda dengan yg dulu." sambung Gumi.
Kamui masih terdiam dalam meditasinya.
"Tatapan matanya tidak semenakutkan waktu dulu." tambah Gumi sambil mengingat semua hal yg terjadi.
Saat berhadapan pertama kali diatas gedung, saat berhadapan di hutan pinus, saat dipantai, lalu saat kemarin di tengah hutan gelap.
"Woy Gaku-Gaku apa kamu mendengarku?" panggil Gumi lagi.
Kamui tetap diam.
"Gaku-Gaku!!" teriak Gumi sambil menghampiri Kamui.
"Hooaaamm.. ada apa Megu?" tanya Kamui sambil menguap.
"Jadi kamu selama ini tertidur?!!" bentak Gumi sambil menendang punggung Kamui hingga tersungkur di tanah.
"Ti-tidur juga salah satu meditasi, Me-Megu.." ucap Kamui kesakitan dan masih tersungkur itu.
"Hiiiyaaaa!!! Super shooooooot-o!!" teriak Gumi sambil mengambil ancang-ancang menendang seperti di anime Captain Ts*b*sa.
Kemudian Gumi menendang pantat Kamui hingga Kamui terpental jauh.
"Aaaaa...!!! Tidak! Jangan sungai lagi!! Kimono saya nanti basah!!" teriak Kamui saat melesat ke arah sungai lalu mendarat di sungai dan tenggelam.
Saat itu Meiko datang sambil membawa kotak makan.
"Ada apa ini? Latihan tendangan bebas?" ucap Meiko saat melihat sesuatu melesat ke arah sungai beberapa saat sebelumnya.
"Meiko-oneesan!" sapa Gumi yg melihat kedatangan Meiko.
"Oh Gumi-chan sedang disini. Selamat pagi!" sahut Meiko.
"Selamat pagi, Meiko-oneesan." balas Gumi.
"Kaito nya ada?" tanya Meiko.
"Iya, dia masih beristirahat di dalam sepertinya." jawab Gumi.
"Oohh.. Gumi-chan udah makan belum?" tanya Meiko lagi.
"Belum." jawab Gumi.
"Ya udah kita makan dulu. Saat ini aku bawa makanan untuk kalian." ujar Meiko sambil menunjukkan kotak makannya.
Lalu Meiko pergi ke dalam rumah. Gumi juga ikut masuk ke rumah. Meiko membuka kain yg membungkus kotak makan itu dan membuka kotak makan. Kemudian dia mengambil beberapa untuk dibawa ke kamar Kaito. Dia pun menuju ke kamar Kaito sambil membawa makanan. Gumi dibiarkan untuk memilih sendiri mau makan apa.
"Semoga saja dia tidak memasang poster-poster aneh itu lagi." kata Meiko dalam hati lalu membuka pintu kamar Kaito.
Dan untunglah saat ini memang tak ada poster disana. Meiko akhirnya mendekati Kaito yg masih tertidur. Meiko meletakkan makanan itu disebelahnya, kemudian menggoyang-goyangkan tubuh Kaito untuk membangunkannya.
"Kaito, ayo bangun dulu. Makan.." ucap Meiko membangunkan Kaito.
"Kaito.. bangun.." sambung Meiko.
Kaito pun mulai tersadar dan membukakan matanya.
"Ada apa sih?" tanya Kaito tampak masih mengantuk.
"Ini, aku membawakanmu makanan. Ayo makan dulu.." jawab Meiko.
"Kenapa mesti repot-repot sih? Kayak udah jadi istriku saja." kata Kaito sambil meregangkan tubuhnya lalu bangkit dan duduk.
Mendengar perkataan Kaito wajah Meiko jadi memerah.
"Kamu kenapa Meiko? Tiba-tiba wajahmu merah gitu?" tanya Kaito.
"Tidak, tak apa kok." jawab Meiko sambil menundukkan kepalanya.
"Kamu demam? Pulang aja kalau emang demam." ujar Kaito.
"Sudah kubilang aku tak apa-apa, dasar bodoh!!" bentak Meiko lalu berpaling dan pergi.
"Kaito bodoh!" ucap Meiko dengan pelan saat keluar dari kamar Kaito.
"Hah? Ada apa dengannya? Padahal kan aku mengkhawatirkannya." gerutu Kaito.
Meiko berjalan menghampiri Gumi lalu duduk di seberangnya.
"Ada apa Meiko-oneesan? Kok jadi cemberut gitu?" tanya Gumi.
"Kaito itu bodoh sekali, padahal tadi itu aku.. aaarrgh! Aku tak ingin membahasnya. Membuat kepalaku pusing!" gerutu Meiko.
Tiba-tiba datang Kamui dengan kimono yg serba basah.
"Gakupo-san habis darimana? Kok basah gitu? Perasaan tadi tidak hujan deh?" sapa Meiko saat melihat Kamui.
"Dia baru saja berenang disungai buat nangkap ikan tuh." potong Gumi.
"Hah? Siapa yg nangkap ikan? Tadi itu kan kamu yg nen..", "Semur terong!" potong Gumi pada ucapan Kamui.
"Semur terong?! Mana? Mana semur terongnya!!?" tanya Kamui setelah mendengar kata-kata Gumi.
Kamui pun melihat ada kotak makanan di atas meja. Dan benar saja ada semur terongnya di dalamnya.
"Yeah!! Semur terong!!!" sorak Kamui.
Kamui pun hendak duduk di sebelah Gumi.
"Stop!!!" ucap Gumi.
"Ada apa lagi, Megu?" tanya Kamui yg tak jadi duduk.
"Ganti baju dulu sana. Masa mau makan dengan pakaian basah begitu." suruh Gumi.
"Seorang samurai itu tidak peduli seperti apa pakaiannya saat makan." jawab Kamui.
"Cepat ganti baju saja sana!!!" bentak Gumi sambil menendang bagian belakang lutut Kamui.
Kamui pun jatuh diatas lututnya dan tertunduk bertumpu diatas tangannya.
"Ini memalukan. Seorang samurai dibuat tertunduk oleh seorang gadis." ujar Kamui dengan pelan dan mengeluarkan aura suram.
"Entah kenapa tiba-tiba saja dia jadi suram." kata Gumi dalam hati merasa heran.
Di rumah danau, Ray dan Dante masih memancing. Di ember dibelakang mereka sudah ada 3 ikan.
"Prakiraan cuaca esok hari, kemungkinan akan terjadi hujan yg sangat deras. Begitu pula untuk lusa." terdengar suara radio yg sedari tadi mereka nyalakan.
"Hah? Hujan? Padahal hari ini cerah banget." ujar Dante melihat ke langit.
"Hujan bisa datang kapanpun, Dante." sahut Ray.
"Masa iya? Kan harusnya ada mendung dulu kalau mau hujan." balas Dante.
"Mendung juga bukan berarti akan hujan, Dante. Ditambah, ada perasaan aneh yg mengangguku." jawab Ray dengan tenang.
"Aku merasakan ada sesuatu yg datang bersama hujan." sambung Ray sambil menyipitkan matanya.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】