VocaWorld, chapter 70 - Guncangan Hebat Dalam Hati Yang Rapuh

Siang itu Miku sedang berjalan di dekat sungai dengan wajah murung. Miku nampaknya masih memikirkan kejadian yg menimpa Kaito kemarin. Kepala Miku nampak tertunduk lesu.
"Miku-chan!" panggil Gumi dari arah depan Miku.
Miku pun mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Gumi. Gumi berlari ke hadapan Miku.
"Miku-chan kenapa? Lagi sakit?" tanya Gumi.
"Tidak kok, aku baik-baik saja. Hehe.." jawab Miku lalu tertawa menyembunyikan murung diwajahnya.
"Oohh.. baguslah kalau begitu. Kamu habis dari rumah Gaku-Gaku ya?" sahut Gumi lalu bertanya lagi.
"Ya, aku tadi menjenguk Kaito-senpai. Nampaknya dia sudah baikan. Tadi saja dia makan makanan dari Meiko-san dengan lahap." jawab Miku.
"Wah.. syukurlah.." ucap Gumi.
"Gumi-chan sih mau kemana?" tanya Miku.
"Aku mau ke rumah Gaku-Gaku juga. Gaku-Gaku juga pasti belum makan. Jadi aku membawakan makanan." jawab Gumi sambil menunjukkan kotak makan yg dibawanya.
"Gumi-chan bisa masak?" tanya Miku lagi.
"Ya, bisa sih. Tapi cuma bikin yg sederhana doang. Kalau yg seperti masakan Meiko-oneesan, aku belum bisa." jelas Gumi.
"Bicara tentang makanan. Aku lupa kita belum sarapan, Dante." ucap Ray yg nampak berdiri di sebelah Dante.
"Itu karena salahmu, Aniki. Sudah kubilang jangan terlalu bergantung pada mancing." sahut Dante yg berdiri di samping Ray.
Gumi menoleh ke belakang dan melihat ada Ray dan Dante yg sudah dalam keadaan berubah. Gumi pun terkejut bukan main, karena baru menyadari keberadaan mereka.
"Jadi sekarang aku bingung, haruskah kita merebut kotak makanan itu? Atau gadis dibelakangnya." ujar Ray saat Gumi berbalik ke arahnya.
"Bagaimana kalau keduanya saja, Aniki!" usul Dante.
"Ide bagus." sahut Ray sambil tersenyum.
"Shiro Ray!" ucap Gumi dengan geram.
"Ya." sahut Ray.
"Kali ini takkan kubiarkan kalian lari!" sambung Gumi.
"Baguslah." balas Ray dengan santai.
Gumi pun berubah dan melempar kotak makan ke arah Miku. Miku pun menangkapnya. Gumi lalu mengambil posisi start jongkok. Dante melangkahkan kakinya untuk menghadapi Gumi.
"Tunggu Dante, kali ini biar aku saja." cegah Ray menghalangi Dante dengan tangan kanannya.
"Ah, baiklah. Kali ini aku akan menonton saja." ucap Dante yg kemudian melompat menjauh dari Ray dan mendarat di dahan sebuah pohon lalu duduk di dahan tersebut.
"Dance: Happy Rabbit!" ucap Gumi.
Gumi pun tampak seperti diam saja, namun itu hanya sisa bayangan saja dari gerakan cepatnya. Dalam gerak lambat, Gumi sudah ada di hadapan Ray yg nampak tak bergerak. Matanya pun tak menunjukkan reaksi terhadap gerakan Gumi, yg artinya Ray sama sekali tak bisa mengikuti gerakan Gumi tanpa bisa bereaksi. Gumi melompat dan menendang Ray, namun malah menembusnya. Ternyata itu hanya bayangan sisa saja. Ray yg sebenarnya berdiri di belakangnya dan memegang kerah baju bagian belakang Gumi dengan tangan kanannya. Kembali ke gerak biasa, Ray menarik kerah baju itu dan melemparnya ke arah depannya. Gumi pun terlempar kembali ke hadapan Miku.
"Ini tidak mungkin! Dia lebih cepat dariku?! Bagaimana bisa?" ujar Gumi dalam hatinya sambil berdiri lagi.
"Sekali lagi!" ucap Gumi menggunakan dance nya lagi.
Kali ini Gumi menghilang dan langsung muncul 4 Gumi di sekeliling Ray.
"Gerakan memutar ya? Dengan kecepatan seperti itu memang bisa menghasilkan bayangan di setiap kaki mendarat ditanah. Jadi ada 4 kemungkinan arah serangan. Namun.. kemungkinan yg paling besar adalah.." pikir Ray dengan cepat sehingga sekitarnya seperti dalam gerak lambat.
"Selalu dari belakang.." ucap Ray menebak gerakan Gumi.
Dalam gerak lambat, memang benar Gumi melakukan tendang ke arah Ray dari belakang. Dan lagi-lagi tendangan itu menembus bayangan sisa Ray. Ray yg sebenarnya ada dibelakang dan lagi-lagi sudah memegang kerah baju bagian belakang Gumi. Dalam gerak normal, Gumi terhenti. Lalu Ray berputar dan kembali melempar Gumi ke arah Miku.
Gumi pun terlempar dan terseret ditanah ke hadapan Miku lagi.
"Gumi-chan.. kamu tak apa? Biarkan aku membantu.." ujar Miku tampak khawatir dan meraih earophoid miliknya.
"Tidak Miku-chan. Kamu tidak boleh melawan mereka. Biar aku saja." tolak Gumi yg berdiri lagi.
"Ta-tapi.." ucap Miku berusaha membujuk Gumi.
"Tidak boleh. Miku-chan tidak akan sanggup menghadapi mereka. Miku-chan diam saja disana." potong Gumi.
"Aku berjanji, akan melindungi Miku-chan.." sambung Gumi sambil tersenyum ke arah Miku.
Miku pun menundukkan kepalanya.
"Kali ini, akan kuakhiri!" ucap Gumi sambil bergerak zigzag dalam kecepatan tinggi sehingga menghasilkan bayangan yg banyak.
"Gerakan zigzag? Punya kemungkinan yg sama antara kiri dan kanan. Jika menahan yg kiri, maka dia akan menyerang dari kanan. Begitu pula sebaliknya. Kedua pilihan itu adalah salah. Seperti buah simalakama. Namun.. bagaimana jika aku.." gumam Ray dalam hati berpikir cepat lagi hingga di sekitarnya seperti bergerak lambat.
"Menahan keduanya!" sambung Ray sambil menggerakan kedua tangannya ke kiri dan ke kanan.
Namun ternyata Gumi muncul dari depan Ray dan bersiap menendangnya.
"Kali ini berakhir sudah!" ucap Gumi melakukan tendangan.
Gumi tiba-tiba membuka matanya dengan lebar, dia tampak sangat terkejut. Ternyata tendangannya kembali menembus Ray. Dalam gerak lambat, Ray tampak melompat dan berjungkir balik diudara dan menangkap kerah baju bagian belakang Gumi lagi. Kemudian saat kakinya ditanah, dalam gerak normal, Ray kembali melempar Gumi lagi. Gumi pun kembali terlempar ke arah Miku. Gumi berusaha bangkit lagi.
"Dimana dia?!" ucap Gumi terkejut melihat Ray sudah tidak ada.
Tiba-tiba ada yg menarik kerah baju bagian depannya, dan menariknya ke atas.
"Nampaknya.. kamulah yg sudah berakhir." ucap Ray lalu melempar Gumi keatas.
Saat itu Miku hanya diam tertunduk dan tak melakukan apa-apa. Ray menatap sayu ke arah Miku sesaat, melihat kemurungan di wajah Miku. Kemudian Ray melompat melesat mengejar Gumi yg terlempar ke atas.
"Sial, diudara aku takkan bisa menghindar." ujar Gumi.
Kemudian Gumi kembali dikejutkan dengan Ray yg sudah ada di hadapannya. Gumi berusaha menendang Ray, namun Ray menangkap kakinya. Ray pun memutar-mutar tubuh Gumi dan melemparnya ke arah sungai selajur dengan sungai itu. Gumi pun terpental beberapa kali di permukaan sungai dan lalu tenggelam.
"Aniki!" panggil Dante yg lalu melompat menghampiri Ray yg mendarat di dekat Miku.
"Wire: on." ucap Ray menjertikan jarinya.
Ternyata ada aliran listrik seperti benang memanjang ke arah sungai tepat dimana Gumi tenggelam.
"Jebakan listrik kah?" komentar Dante.
Kemudian aliran listrik seperti benang itu perlahan menghilang seperti sumbu terbakar menuju ke arah tempat Gumi tenggelam. Saat sampai disana, tiba-tiba ada seperti cahaya di air sekitar Gumi berupa kilatan listrik. Mata Gumi pun perlahan tertutup karena tak sadarkan diri.

Di jalan di pinggir sungai itu, sekarang hanya ada Ray, Dante dan juga Miku yg masih menundukkan kepalanya.
"Begitu saja? Ah.. kalau Aniki yg turun tangan jadi tidak seru." gerutu Dante.
"Ya, maaf saja. Aku hanya ingin menyelesaikan ini secepatnya." balas Ray.
"Lalu bagaimana dengan dia?" tanya Dante menoleh ke arah Miku.
"Kita tidak bisa melakukan apa-apa saat ini." jawab Ray.
Dante menoleh ke arah Ray karena bingung.
"Kita sudah dikepung, Dante." sambung Ray.
Dan terlihatlah ada Meiko, Luka, dan Kamui yg sudah dalam keadaan berubah dan berdiri di depan dan belakang Ray juga Dante. Luka ada di samping Kamui, ada di belakang Ray dan Dante. Sementara Meiko ada di depan Ray dan Dante.
"Apa yg telah kalian lakukan pada Megu!" bentak Kamui sambil hendak mencabut pedangnya.
"Tahan! Sebaiknya kamu selamatkan Gumi-chan dulu." cegah Luka dengan tenang.
Kamui pun tidak jadi mencabut katananya itu.
"Sudah kuduga, ketenangannya itu membuat hati saya berdebar." ucap Kamui dalam hatinya sambil menatap Luka.
Saat itu Luka tidak melihat ke arahnya dan fokus ke arah Ray dan Dante dengan wajah yg tenang.
"Baiklah, saya akan menyelamatkan Megu." sahut Kamui yg lalu berlari ke arah sungai.
"Melawan perempuan lagi?" ucap Dante dengan nada tak puas.
"Memangnya kenapa kalau perempuan? Jangan meremehkan kami." sahut Luka.
"Instrument: Rainbow Piano." ucap Luka mengeluarkan instrument nya.
"Kita mundur, Dante." suruh Ray.
"Kenapa?" tanya Dante.
"Kita takkan bisa menghadapi queen saat ini. Area serangannya sangatlah luas. Lagipula, tujuan kita sudah tercapai. Kita mundur!" jawab Ray.
"Baiklah." sahut Dante.
Kemudian mereka pun melompat dengan kecepatan tinggi terlihat seperti menghilang. Luka pun menyimpan lagi instrument nya.
"Miku-chan, syukurlah kamu tidak apa-apa." ucap Meiko sambil menghampiri Miku lalu memeluknya.
Dan setelah itu, dikediaman Gakupo. Tampak Gumi terbaring disamping Kaito yg sedang istirahat. Di ruang tengah, nampak Kamui, Meiko dan Luka sedang duduk melingkar mendiskusikan kejadian tadi.
"Bagaimana ini, Megurine-san? Miku-chan terus jadi incaran mereka. Dan tak ada satupun dari kita yg bisa menandingi mereka." ucap Meiko dengan resah.
"Sepertinya kita tak perlu khawatir. Tidak aku sempat mendengar mereka mengatakan kalau tujuan mereka sudah tercapai. Jadi tidak akan ada korban lagi." jawab Luka.
"Tujuan? Memang apa tujuan mereka?" tanya Meiko.
"Aku juga tidak tahu. Aku masih belum mengerti. Ini terlalu rumit." jawab Luka.
Di dalam kamar, terlihat Kaito sudah terbangun. Dia melihat di samping nya ternyata ada Gumi yg terbaring lemah.
"Megupo? Jangan-jangan dia juga.." ucap Kaito saat melihat Gumi.
Kemudian Kaito bangkit dan berjalan ke luar kamar. Saat sampai di ruang tengah, Kaito melihat ada Luka, Kamui dan Meiko disana.
"Kalian sedang berkumpul rupanya. Apa ada penyerangan lagi?" tanya Kaito sambil berdiri berpegang pada dinding.
"Ya, kali ini Gumi-chan yg jadi korban. Nampaknya Gumi-chan berusaha melindungi Miku-chan. Namun tak bisa menandingi mereka berdua sendirian." jelas Luka.
Tiba-tiba ada suara benda jatuh. Kaito, Meiko, Kamui dan Luka pun menoleh ke arah suara itu. Ternyata ada Miku, dan benda yg jatuh itu adalah kotak makan Gumi.
"Jadi, ini semua salahku?" ucap Miku dengan wajah terkejut.
Miku pun langsung lari ke luar. Dia berlari sambil menangis.
"Miku-chan..!" teriak Meiko.
"Tunggu, jangan-jangan maksud semua penyerangan ini? Tujuan yg tercapai itu maksudnya.." ucap Luka dalam hati sambil berpikir.
"Kaito, kejar dia!" suruh Luka.
"Baiklah!" sahut Kaito yg lalu berlari keluar mengejar Miku.
"Aku mengerti sekarang." ucap Luka.
"Mengerti apa?" tanya Meiko.
"Target mereka memang Miku-chan. Mereka seperti hendak menyerang Miku-chan namun tujuannya adalah menyerang orang yg melindunginya." jelas Luka.
"Saya tidak mengerti. Apa maksudnya?" tanya Kamui.
"Dengan menyerang orang terdekatnya akan memberikan efek pada hatinya. Artinya, mereka tidak menyerang Miku-chan secara fisik. Namun secara psikis. Dan tujuan mereka memang sudah tercapai." tambah Luka.
Kamui dan Meiko pun terkejut mendengarnya.
"Ini gawat.. benar-benar gawat.." ucap Luka dalam hati mulai khawatir.
Ray dan Dante yg sedang bersantai di rumah danau dan terlihat tenang.
"Checkmate! Again.." ucap Ray saat itu.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】