VocaWorld, chapter 90 - Putri Sakura Yang Menari Ceria

Siang hari di dalam dojo di kediaman Gakupo, Miku dan kawan-kawan sedang melakukan rapat. Rin dan Len pun terlihat ikut dalam rapat kali ini.
"Rin-chan, Len-chan.. kalian yakin mau ikut? Ini terlalu berbahaya untuk kalian." tanya Luka.
"Pokoknya kami mau ikut!" jawab Len dengan tegas.
"Iya, kami ingin memastikan Ray-niichan itu baik atau jahat sebenarnya." tambah Rin.
"Sudah kubilang, ini terlalu berbahaya untuk kalian. Kalian masih kecil." tolak Luka.
"Jangan remehkan kami!" bentak Rin.
"Kami bisa mengalahkan orang yg dirasuki oleh makhluk aneh." sambung Len.
"Makhluk aneh?" ucap Luka agak sedikit terkejut.
"Ya, warnanya hitam." jawab Len.
"Tapi kita dibantu Ray-niichan sih pas terakhirnya." ujar Rin sambil menyentuh pipi dekat bibirnya dan memiringkan kepalanya.
"Kalian mengalahkan orang yg dirasuki minor?" tanya Meiko.
"Eh, minor itu apa?" tanya Len.
"Minor itu nada ya?" tanya Rin yg juga bingung.
"Hahaha.. kalian tak tahu minor. Jelaskan Meiko-san!" ejek Miku lalu nepuk Meiko.
"Hah? Kenapa mesti aku yg jelaskan?" ucap Meiko.
"Jelas banget kalau dia juga tidak tahu." ucap Rin dan Len bersamaan dalam hati sambil menatap sayu pada Miku.
"Minor itu adalah salah satu jenis darksider. Selanjutnya biar Megurine-san saja yg menjelaskan." ujar Meiko.
Rin dan Len terlihat mengangguk-ngangguk mendengarkan perkataan Meiko, namun kemudian nampak sedikit kaget dan heran saat Meiko menyuruh Luka yg melanjutkan.
"Jangan bilang kalau Meiko-nee juga tidak tahu!?", "Jangan bilang kalau Meiko-neesan juga tidak tahu!?" ucap Len dan Rin bersamaan.
"Hahaha.. dasar kau Meiko, segitu saja tidak tahu. Padahal dulu kan sudah dikasih tahu." ujar Kaito dengan nada mengejek.
"Kalau begitu kamu saja yg jelaskan." sahut Meiko menatap tajam ke arah Kaito.
"Ah, kalau itu.. sebenarnya aku tidak begitu ingat juga sih. Hahaha.." ujar Kaito beralasan.
"Dasar.." ucap Meiko merasa kesal.
"Pokoknya kalian tak perlu tahu. Kalian tidak boleh ikut dalam pertarungan apapun. Kalian masih kecil." larang Meiko menengok lagi pada Rin dan Len.
"Kami tidak peduli, pokoknya kami mau ikut." kata Rin sambil merengek.
"Ya sudah kalian boleh ikut." ujar Luka.
"Megurine-san?!" sahut Meiko mencoba protes.
"Tapi dengan satu syarat.." sambung Luka.
"Apa syaratnya?" tanya Len.
"Kalian tak boleh terlibat dalam perkelahian melawan mereka. Kalian cukup menonton saja. Meiko-chan dan Kaito-kun akan melindungi kalian." jawab Luka.
"Hahaha.. jadi penonton doang." ledek Miku pada Rin dan Len.
"Kamu juga, Miku-chan." ucap Luka melirik ke arah Miku.
"E-Eeeeehhh?!! Aku juga!!?" ucap Miku tak percaya sambil menunjuk wajahnya sendiri.
Rin dan Len pun nampak tertawa-tawa kecil sambil menutup mulut mereka.
"Ya, tentu saja. Saat ini dance mu lah yg paling lemah diantara kami. Kalau kamu ikut bisa-bisa kamu kalah duluan. Miku-chan mau babak belur?" balas Luka lalu bertanya.
"Babak belur?" ucap Miku lalu membayangkan dirinya bonyok, dan wajahnya penuh benjolan.
"Tidak-tidak-tidak! Aku tak mau bonyok-bonyok. Nanti aku jadi tidak cantik lagi. Aku tidak mau!!" ucap Miku.
"Lalu bagaimana dengan kami?" tanya Kamui yg nampak tenang saat itu.
Terlihat Gumi juga menatap Luka.
"Hmm.. aku punya sebuah rencana, kuharap ini akan berhasil. Kalian mau melakukannya?" jawab Luka kemudian bertanya balik.
"Ya, tentu saja, Luka-oneesama." jawab Gumi.
"Saya juga akan melakukan apapun. Jika itu.. untuk Luka-tan!" sahut Kamui nampak tenang, namun tiba-tiba berubah menjadi seperti anak kecil dan hendak memeluk Luka.
Dan seperti biasa, Luka menggunakan gerakan salsa lalu membantingnya keluar dojo. Kamui pun nyungsep di tanah.
"Baiklah, sekarang kita akan bahas rencana kita." ucap Luka dengan lantang pada yg lainnya, selain Kamui yg nampak masih nungging nyungsep di luar.

Malam harinya di sebuah kuil diatas bukit. Luka, Miku, Meiko, Kaito, Rin, dan juga Len berjalan menyusuri tangga. Mereka sudah siap dalam keadaan berubah. Saat sampai di beberapa anak tangga terakhir, terlihat Ray dan Dante sedang bersantai. Ray duduk di teras kuil, sementara Dante tiduran di sebelahnya. Luka terlihat jengkel melihat dua orang yg menantangnya ternyata malah santai-santai saja sementara dia panik menyusun rencana.
"Apa yg sedang kalian lakukan?" tanya Luka dengan tatapan seperti menahan kesal.
"Bersantai sejenak tidak ada salahnya kan?" sahut Ray
"Aniki, kita sudah disini sejak siang. Itu bukan sejenak." ujar Dante yg nampak bermalas-malasan.
"Dasar bodoh, kamu membuat kata-kataku jadi tidak bermakna lagi." kata Ray.
"Cukup! Kenapa kalian malah sibuk dengan diri kalian sendiri? Musuhmu ada disini." bentak Luka tak bisa lagi menahan rasa kesalnya.
"Dia bisa membuat Megurine-san kesal begitu." komentar Meiko dengan senyuman aneh diwajahnya.
"Hahaha.. ini pertama kalinya aku melihat seseorang bisa mengerjai Megurine." tambah Kaito sambil tersenyum aneh.
"Jadi yakin nih mau dimulai saja? Ini belum jam 8 pas lho." tanya Ray sambil berdiri.
"Ya iyalah, emang mau kapan lagi!? Aku tidak peduli dengan waktunya!" bentak Luka.
"Dia bisa membuat sang ratu tsukkomi?!!!" ucap Meiko, Kaito, dan Miku dalam hati dengan wajah sangat terkejut.
"Kamu harus peduli lah, kan kalian orang baiknya disini." kata Ray lagi.
"Kenapa aku malah diceramahi oleh orang jahat!!??" bentak Luka lagi.
"Double tsukkomi in time??!!!" ucap Miku, Meiko dan Kaito lagi dengan wajah yg lebih terkejut dari sebelumnya.
Ray kemudian tampak memalingkan mukanya dan menaruh kepalan tangan di dekat mulutnya.
"Aniki.." ucap Dante yg tiba-tiba saja bangkit dari tidurnya.
Entah kenapa tatapan mata Dante jadi seperti melihat sesuatu yg menakjubkan.
"Kamu nampak sangat imut walau sedang marah, my queen.." ucap Ray sambil menoleh.
Saat itu terlihat Ray tertawa-tawa kecil sambil menutupkan sebelah matanya. Dimata para gadis tampak ada kemilau disekitar Ray.
"Ray-kun.. imutnya.." ujar Luka dalam hati dengan wajah terkejut.
"Shiro Ray?!! Ini pertama kalinya aku lihat dia tertawa semanis itu?!! Aku harus kuat! Aku sudah punya Kaito-senpai!!" teriak Miku dalam hati berusaha menguatkan dirinya.
"Ooooo.. dia imut juga." ucap Meiko blak-blakan.
"Ray-niichan! Kyaa!!" teriak Rin seperti teriakan fans pada idolanya.
"Ada apa dengan mereka?" ucap Kaito yg tak mengerti.
"Aku juga tidak tahu, Kaito-nii." sahut Len.
"Baiklah, sebaiknya kita mulai saja." ucap Ray sambil menegakkan badannya menghadap ke arah Miku dan kawan-kawan dan tersenyum.
"Bersiaplah!" sambung Ray kali ini dengan wajah serius.
Luka, Meiko dan Kaito pun nampak memasang kuda-kuda. Sementara Dante dengan santai berjalan melewati Ray dan berdiri di depan Ray.
"Instrument: Devil Bone Guitar!", "Instrument: Harmoni of Fire!", "Dance: Fire Fighter!" ucap Dante, Kaito dan Meiko bersamaan.
Dari kejauhan, terlihat diatas bukit itu banyak nyala api dan suara-suara berisik bergemuruh.
"Go!" teriak Meiko sambil memukulkan tangannya ke arah depan.
Dari pukulan itu keluarlah api dan melesat lurus ke arah Dante. Dante membalas dengan memainkan satu nada yg membuat gitarnya menembakan satu tembakan api hitam. Tembakan api itu pun bisa dihentikan oleh Dante. Kaito kemudian memainkan sebuah nada juga lalu mengibaskan harmonika. Dan terbentuklah sebuah api memanjang bergerak seperti cambuk ke arah Dante. Dante juga melakukan hal yg sama dan menghentikan api biru Kaito dengan cambukan api hitamnya. Dan begitu pula seterusnya, serangan tembakan api Meiko dan cambukan api Kaito dapat dihentikan oleh Dante dengan mudah, dan yg lainnya bisa dihindari.
"Kalian yakin bisa mengalahkanku hanya dengan itu?" tanya Dante dengan percaya diri sambil menghindar dan menahan serangan-serangan Meiko dan Kaito.
"Diam!" bentak Meiko sambil melakukan serangan-serangan.
"Aku tak bisa menggunakan 'Blue Fire Dragon Tornado' disini. Kuilnya bisa terbakar." gumam Kaito dalam hati sambil terus memainkan melodi dan melakukan serangan pada Dante.
"Tunggu, apa barusan aku menamai teknikku? Aaahh!!! Kenapa aku jadi mirip Gakupo?!" gerutu Kaito dalam hati.
Ditempat lain Kamui terlihat bersin.
"Kamu tak apa, Gaku-Gaku? Kalau sakit pulang aja." ujar Gumi yg terlihat sedang berlari bersama Kamui.
"Tidak kok, mungkin karena kedinginan saja." jawab Kamui.
"Oke kita berpisah disini!" ucap Gumi.
"Ya!" sahut Kamui.
Kemudian mereka pun berpencar ke arah yg berbeda. Di kuil, Meiko dan Kaito terlihat bisa menyibukkan Dante.
"Ray-kun.. kelihatannya lawan yg pantas untukmu adalah aku." ujar Luka mendekati Ray yg saat ini sedang sendirian.
"Kamu yakin akan mendekatiku dengan sepercaya diri itu?" tanya Ray sambil menoleh ke arah Luka.
"Tentu tidak." jawab Luka dengan tatapan sama dinginnya dengan Ray.
"Instrument: Rainbow Piano!" ucap Luka mengeluarkan instrument nya.
"Instrument:.." ucap Ray.
Mendengar hal itu, Kaito langsung terkejut.
"Megurine! Hati-hati dengan instrument nya!" teriak Kaito.
Namun ternyata Ray tidak mengeluarkannya.
"Dia tidak mengeluarkannya?!" ucap Kaito dalam hati.
"Just kidding." sambung Ray sambil tersenyum.
"Kaito-senpai! Awas dibelakangmu!!" teriak Miku.
Terlihat ada api hitam berbentuk cambuk hendak menghantam Kaito dari atas.
"Sialan!" ucap Kaito sambil kemudian berusaha memainkan sebuah nada dan mengayunkan harmonika nya secepat mungkin.
Dalam gerak lambat, api hitam itu terlihat hampir menyentuh Kaito. Namun secara reflek Kaito menjatuhkan diri sambil memutarkan tubuhnya ke kiri dan mengayunkan harmonikanya di saat terakhir. Kedua cambuk api pun terlihat bertubrukkan. Namun cambuk api Kaito yg berada di bawah terlihat sedikit terdorong. Kembali ke gerak normal. Kedua api yg bertubrukan itu nampak meledak. Kaito tertutup api saat itu.
"Kaito!!" teriak Meiko saat melihatnya.
"Kaito-senpai!!!" teriak Miku dengan khawatir.
Luka terlihat terkejut dengan hal itu juga.
"Jangan bilang ini rencanamu." ujar Luka pada Ray.
Ray hanya diam dan tersenyum saja. Luka kemudian memainkan beberapa nada dengan piano nya dan muncul beberapa cahaya warna warni melesat ke arah Ray. Namun Ray bisa menghindarinya dengan tarian seperti elegant dance nya Luka. Cahaya itu terus mengejarnya, tapi terus bisa menghindarinya.

Api mulai padam, dan nampaklah sosok Kaito yg terlihat terbaring diantara api kecil yg masih menyala di sekitarnya.
"Kaito!!!" teriak Meiko.
"Kaito-senpai!" panggil Miku sambil berlari menghampiri Kaito.
"Bodoh jangan mendekat!" larang Meiko.
Dante terlihat melompat ke arah Miku.
Kaito terlihat berusaha untuk bangkit lagi dengan tubuh yg terlihat sudah lemah. Kemudian dia memainkan nada sekeras yg ia bisa dengan harmonika nya,  lalu mengibaskannya ke arah Dante disaat terakhir. Akibat cambukan api itu Dante terlempar kembali ke belakang.
"Takkan.. ku.. biarkan kau.. menang.." ujar Kaito dengan nada berat seperti menahan sakit yg nampak berdiri membungkuk membelakangi Dante.
Kaito berusaha melangkahkan kakinya, walau hanya beberapa langkah ke arah Dante. Dan kemudian dia pun terjatuh lagi ditanah.
"Sial! Tubuhku terasa panas sekali. Panas ini membuat tubuhku lemas." ujar Kaito dalam hati.
"Segitu saja ya? Kupikir kau bisa bangun lagi." ujar Dante nampak kecewa.
"Lawanmu saat ini adalah aku." sahut Meiko.
"Hah?" ucap Dante menoleh ke arah Meiko.
Terlihat Meiko sedang mengepalkan kedua tangannya dan ada api keluar dan berkobar begitu besar di tangannya.
"Haha.. nampaknya ini akan jadi merepotkan." kata Dante dalam hati sambil tersenyum grogi.
"Fire Storm!!!" teriak Meiko lalu melakukan pukulan cepat bertubi-tubi ke arah Dante.
Hal itupun menimbulkan tembakan api yg sangat banyak. Dalam gerak lambat puluhan bola api mengarah ke Dante sekaligus.
"Apaan ini?!!!" ucap Dante tampak terkejut dalam gerak lambat.
Kembali ke gerak normal, Dante pun langsung melakukan permainan nada dengan cepat. Dante berusaha menembakkan api secepat yg ia bisa untuk menahan serang Meiko itu. Namun Dante tak bisa menyamai jumlah bola api yg ditembakkan oleh Meiko, sehingga ia harus menghindari sisanya.
"Tanganku pegel!" pekik Meiko dalam hati sambil memejamkan matanya dan tetap melakukan pukulan.
"Meiko! Jangan memaksakan diri!" bentak Kaito masih terkapar ditanah.
"Aku tidak tahan lagi. Tanganku sudah tidak kuat.." ucap Meiko dalam hati.
Jumlah bola api yg ditembakan Meiko semakin berkurang.
"Haha.. kesempatan." ujar Dante yg kemudian mempercepat ritme permainan gitarnya.
"Dance: Sakine-chan on Fire!!" ucap Meiko yg kemudian pakaiannya berubah sedikit.
Roknya nampak lebih panjang, dan warna pakaiannya lebih cerah.
"Haaaaa.. rasakan ini!!!" teriak Meiko anehnya kali ini dengan nada ceria.
Dan sekarang pukulannya jadi dua kali lebih cepat dari sebelumnya sehingga tangannya jadi terlihat sangat banyak. Ekspresi wajahnya yg tadinya seperti menahan sakit jadi ceria dan bersemangat.
"Apa?!!!" ucap Dante kembali terkejut.
"Dance baru? Disaat seperti ini?" ucap Kaito dalam hati yg juga terkejut.
Dante kali ini benar-benar terdesak sehingga harus mati-matian menghindari serangan Meiko.
"Ahhhh.. sudah cukup! Devilish slash!!" ucap Dante yg lalu melompat dan mengibaskan gitarnya kebawah.
Kibasan itu membuat sebuah api berbentuk bulan sabit berukuran besar melesat ke arah Meiko.
"Meiko!! Awas!!!" teriak Kaito yg tiba-tiba bangkit walau dengan kepayahan dan berlari ke arah Meiko secepat yg ia bisa.
Kemudian Kaito melompat menubruk Meiko dan memawanya menghindari serangan Dante yg hanya beberapa centimeter saja dari mereka saat itu. Dan nampaklah api hitam itu membuat sebuah ledakan api yg cukup besar dan sisanya melesat ke arah perumahan namun padam sebelum sampai. Kaito dan Meiko tertutup oleh ledakan api itu.
"Kaito-senpai! Meiko-san!" panggil Miku.
Rin dan Len nampak khawatir menyaksikan Kaito dan Meiko saat itu.
Ray terlihat manghindari cahaya warna warni milik Luka. Dia nampak tak kesulitan menghindari mereka.
"Aku mengerti sekarang, jadi kamu mempelajari elegant dance ku agar bisa menghindari mereka." ujar Luka.
"Benarkah begitu?" sahut Ray sambil tetap menghindar cahaya-cahaya itu.
Tiba-tiba ada yg melesat dari arah kiri dan kanan Ray dan Dante.
"Ultimate Rabbit's Kick!" teriak Gumi yg muncul dalam sekejap dan menendang Dante.
Dante dibuat kaget oleh hal itu dan terpental ke arah Ray.
"Iai technique: Batto jutsu! Angin pertama yg berhembus dipagi hari." ucap Kamui yg juga tiba-tiba muncul disamping Ray dan menghempaskan Ray dengan efek angin yg diakibatkan oleh tebasannya.
Ray dan Dante sama-sama terlempar ke arah masing-masing.
"Dante! Kita lakukan gerakan itu!" teriak Ray sambil terlempar.
Kemudian mereka saling berpegang tangan dan saling mengayunkan tubuh satu sama lain lalu melepaskan tangan mereka. Dan mereka pun saling terlempar kembali kearah mereka terpental tadi. Dante melesat ke arah Gumi. Gumi pun menengok dan terkejut Dante melesat ke arahnya lagi, lalu mereka pun mengadu tendangan. Gumi agak terseret ke belakang. Disaat yg bersamaan Ray melesat ke arah Kamui. Kamui juga terkejut dan hendak menebasnya. Namun Ray berputar dan menunduk menghindar tebasan Kamui lalu menangkap bagian belakang kimono Kamui kemudian berputar sekali lagi dan melempar Kamui. Kamui pun terlempar ke belakang.
"Ada apa ini? Mereka mampu mengantisipasinya." ujar Luka tak mengerti.
"Aku sudah menduga kalian akan membuat kami lengah lalu menyiapkan 2 serangan tiba-tiba. Karena aku bingung, kemana 2 knight mu pergi." ujar Ray sambil menoleh ke arah Luka.
"Hahaha.. Aniki bohong! Aniki sudah tahu dari siang makanya Aniki melatihku melakukan gerakan tadi itu kan. Baru tahu kalau gunanya untuk itu. Aku kira Aniki cuma sedang mempelajari dance baru." sambung Dante.
"Dasar bodoh, kenapa kamu malah membocorkannya." sahut Ray sedikit kesal.
"Ray-kun sudah menduganya sejak awal?! Kupikir dia cuma malas-malasan saja." ucap Luka dalam hati dengan wajah terkejut.
"Baiklah kalian berdua, bersiaplah untuk melompat." ujar Ray lalu mengangkat tangannya ke atas.
"First Wire: on!" ucap Ray menjertikkan jarinya.
Kemudian ada seperti sumbu yg menuju ke bawah kaki Kamui. Kamui pun melompat ke arah kanan dan nampak ada aliran listrik bertegangan tinggi bercahaya cukup terang.
"Second Wire: on!" sambung Ray dengan cepat sambil menjertikkan jarinya lagi.
Kali ini dibawah kaki Gumi lah yg di detonasi oleh Ray. Gumi melompat menghindar ke arah kiri.
"Third Wire: on! Fourth Wire: on! Fifth Wire: on! Sixth Wire: on!" ucap Ray terus menerus mendetonasi seluruh jebakan yg ia pasang.
Gumi dan Kamui nampak melompat kesana kemari hingga akhirnya bertemu di tengah.
"Tunggu, mereka?!" ucap Luka dengan wajah kaget karena menyadari sesuatu.
"Dia mengendalikan arah lompatan mereka dengan sebuah jebakan. Biasanya tak mungkin untuk melakukan hal itu. Apa ini hanya tebakan jitu? Tidak mungkin. Pasti Ray-kun menggunakan sebuah trik." pikir Luka dengam cepat sehingga semuanya bergerak lambat.
Luka membayangkan hal tadi sekali lagi dengan cepat.
"Letaknya! Benar, letaknya! Dia sengaja menyiapkannya agak miring dan meleset dari pendaratam lompatan mereka berdua, sehingga mereka tersugesti untuk melompat ketempat yg menjauh dari area yg lebih luas pada jebakan itu." gumam Luka berpikir cepat.
"Seven is lucky. Seven is jackpot. Seventh Wire: on!" ucap Ray lalu menjertikkan jarinya.
Lalu dibawah kaki Gumi dan Kamui mulai bercahaya. Gumi dan Kamui mulai melompat. Dan terlihat listrik yg lebih besar menyambar dari tanah. Tapi tanpa mereka sadari, Ray melompat juga. Dia nampak berjertikkan jarinya sambil meletakkan kedua tangannya di depan dada membuat sebuah bola shockwave. Kemudian memisahkan kedua tangannya, membelah dua bola shockwave itu dan ukurannya jadi setengah ukuran semula. Lalu memukulkan ke perut Gumi dan Kamui dan mereka pun terpental karena hempasan kuat diperutnya seperti terkena tembakan gelombang kejut.
"Dante! Giliranmu!" panggil Ray sambil mendarat diatas atap kuil.
"Baik Aniki!" sahut Dante yg lalu melompat mengejar Gumi dan Kamui.
"Baiklah sekarang kita lanjutkan." sambung Ray lalu melompat ke bawah.

Api mulai padam dan terlihat sosok Kaito yg nampak mendekap tubuh Meiko.
Kaito melindungi Meiko dari api dengan mendekapnya dari atas.
"Kaito?! Bukankah tadi kamu tak bisa bergerak?!" ucap Meiko terlihat terkejut melihat Kaito menyelamatkannya.
"Aku juga tak tahu, saat melihatmu dalam bahaya tubuhku bergerak dengan sendirinya." jawab Kaito sambil berusaha tersenyum.
Baju dipunggungnya terlihat terbakar, namun perlahan mulai padam.
"Kaito-senpai! Meiko-san! Kalian tak apa?" tanya Miku menghampiri mereka berdua.
"Aku tak apa, tapi nampaknya Kaito sudah tak bisa bertarung lagi." jawab Meiko.
"Aku.. aku masih bisa. Aku masih bisa bertarung, Meiko." ujar Kaito.
"Kalau kamu memang masih bisa, kenapa kamu tidak bisa melepaskan dekapanmu ini. Pasti kamu tak punya tenaga lagi." balas Meiko.
"Biar aku bantu, Kaito-senpai." ucap Miku sambil mencoba memindahkan tubuh Kaito dengan sekuat tenaga.
Setelah Miku berhasil memindahkan tubuh Kaito, Miku pun menidurkannya di pangkuannya.
"Miku-chan, jaga dia. Aku akan membantu Megurine-san." ujar Meiko bangkit yg nampak sudah kembali ke pakaian lama nya.
"Meiko.." panggil Kaito.
Meiko menoleh ke arah Kaito.
"Hati-hati.." ucap Kaito.
"Ya, aku juga tahu." sahut Meiko dengan wajah sedikit memerah.
Meiko pun berjalan mendekati Luka dan Ray. Begitu pula Rin dan Len.
"Kami tak bisa membiarkan Meiko-nee dan Kaito-nii terluka. Kami akan melawanmu." ujar Len.
"Ya, aku juga." sambung Rin.
"Kalian tidak boleh. Biar kami saja." larang Luka.
"Sebaiknya kamu jangan meremehkan mereka, Megurine-san." ucap Ray.
Luka hanya melirik dan menatap tajam ke arah Ray saat mendengarnya.
"Kami maju!" ucap Rin dan Len bersamaan.
Rin dan Len terlihat maju bersamaan ke arah Ray.
"Dance: Flying Butterfly!" ucap mereka berdua bersamaa.
"Dance: Elegant.." ucap Ray.
Ditempat lain, Gumi dan Kamui mendarat ditengah hutan. Dante mendarat diatas pohon tak lama kemudian.
"Kali ini aku akan menghadapi kalian berdua sekaligus. Kuharap aku takkan terlalu menyulitkan kalian." ujar Dante dengan percaya diri.
"Justru akan lebih mudah jika kami menghadapi anda berdua." sahut Kamui.
"Kami akan mengalahkanmu lagi seperti dahulu." sambung Gumi.
"Sungguh lucu." balas Dante.
Kemudian Gumi dan Kamui pun mulai maju dan mengeroyok Dante.
Di kuil, terlihat Ray sedang melawan Rin dan Len.
"Aku tak bisa menggunakan instrument ku. Aku tak akan mengambil resiko Rin-chan dan Len-kun ikut terkena seranganku." ucap Luka dalam hati.
Ray terlihat beberapa kali hendak menangkap Rin dan Len, namun dengan lincah mereka menghindar. Namun serang Rin dan Len pun bisa dihindari oleh Ray. Saat Ray hendak menangkap Rin, Len menyerangnya dari belakang. Namun Ray menghindar dan berbalik hendak menyerang Len. Len menghindar dan gantian Rin menyerang Ray dari belakang, namun Ray kembali menghindar dan hendak menangkap Rin lagi.
"Ada apa ini? Ini tidak akan ada batasnya." ucap Luka dalam hati.
"Mereka bisa mengimbanginya?!" ujar Meiko terkejut.
"Len kita berhenti. Ini tak ada gunanya. Ray-niichan terlalu hebat." ujar Rin yg kemudian berhenti menyerang.
"Apa kita gunakan saja dance kita yg itu?" tanya Len sambil berhenti juga.
"Ya, kita gunakan saja. Apa kamu sudah bisa yakin bisa melakukannya kali ini?" jawab Rin lalu bertanya balik.
"Ya, aku bisa." jawab Len.
"Dance: Unlimited Twin Mirror!" ucap Rin dan Len bersamaan nampak cahaya kuning yg menyelimuti mereka makin terang.
"Dance baru juga? Banyak yg punya dance baru ya.." komentar Ray.
Di tengah hutan, pertarungan semakin memanas. Gumi melancarkan serangan-serangan cepatnya. Namun Dante bisa dengan mudah menahan dan menghindarinya. Lalu dia menjauhkan Gumi dengan mencambukkan api ke arah Gumi. Gumi pun terlempar terkena cambukkan api Dante. Kamui muncul dari atas dan menebas ke arah Dante. Dante menahannya dengan gitarnya, kemudian memutarkan gitarnya memukul Kamui dengan badan gitar. Dante pun melompat melakukan overhead kick menendang Kamui menjauh darinya. Gumi muncul lagi, dan menyerang Dante dengan membuat 4 bayangan di depan, kiri, kanan, dan belakang. Dante pun mengayunkan gitarnya memutar dan menghempaskan Gumi dengan api hitamnya.
"Ada apa? Apa kalian sudah kelelahan?" tanya Dante.
"Aku tak mengerti. Terakhir kali aku bisa mengalahkanmu." ujar Gumi.
"Kamu melupakan ini? Saat ini aku menggunakan ini." kata Dante sambil mengangkat gitarnya.
"Hanya dengan memegang instrument, bisa mengubah pola gerakan jadi semakin beragam. Seorang legenda memang hebat." ujar Gumi dalam hati.
"Kalau begitu bagaimana dengan serangan jarak jauh." ucap Kamui dari belakang Dante.
"Enka!" ucap Kamui kemudian memegang katana dan meletakannya di depan keningnya.
"Tu-tunggu.. jangan gunakan teknik itu disini!" larang Dante terkejut Kamui menggunakan pose itu.
Kamui memang saat ini hendak menggunakan teknik Kamikaze. Terlihat cahaya keunguan menjulang ke angkasa.
"Nampaknya serangan jarak jauh membuat anda takut." ujar Kamui sambil tersenyum.
"Bukan begitu, jika kau melakukan serangan itu hutan disini bisa rata. Aniki bisa marah besar padaku." jawab Dante.
"Hah? Kenapa kalian begitu khawatir tentang hutan?" tanya Gumi menatap aneh ke arah Dante.
"Aku juga tidak mengerti. Tanyakan sendiri saja pada Aniki." jawab Dante lagi.
"Benar juga. Kalau menggunakan kamikaze, hutan disini bisa habis." ujar Kamui sambil berpikir dan menghentikan teknik itu.
"Kenapa pula kamu malah menurutinya?!" bentak Gumi pada Kamui.

Di kuil, Ray terlihat kewalahan menghadapi Rin dan Len. Dia di serang dari dua arah dengan serangan beruntun tanpa jeda sedikitpun. Rin dan Len memutari Ray sambil menyerang Ray. Ray harus menahan dan menghindari serang dari dua arah sekaligus, dan tidak diberi waktu untuk berpikir sedikitpun.
"Mereka hebat!" ucap Miku.
"Gerakan mereka benar-benar serasi dan tak ada cacatnya." ujar Luka.
"Walaupun mereka kembar sekalipun, sangat sulit untuk menyamakan ritme gerakan saat dance berpasangan. Tapi mereka.." kata Meiko.
Rin dan Len menyerang dengan harmonisasi yg sempurna. Saat Rin menyerang bagian bawah Ray, maka Len menyerang bagian atas. Begitu pula sebaliknya. Dan kemudian Rin dan Len pun berhasil memojokkan Ray. Rin melakukan tendangan ke arah kepala Ray. Sementara dibelakang Ray, Len melakukan tendangan ke arah kaki Ray. Ray melompat, namun itu membuat tubuhnya terdorong oleh tendangan Rin. Kemudian Len menendang tubuh Ray ke atas. Dan Rin melompat lalu menendang tubuh Ray kebawah lagi dengan tendangan salto. Rin dan Len kemudian berputar menjauh dari Ray.
"Mereka mengalahkannya?!" ujar Luka, Meiko dan Miku terkejut.
Ray pun bangkit lagi setelah terbaring di tanah.
"Aku tak tahu kalian berkembang begitu pesat cuma dalam beberapa bulan saja." ujar Ray sambil tersenyum.
"Anak yg lahir bersama melody of harmony memang beda ya." gumam Ray.
Rin dan Len kemudian berlari ke arah Ray lagi.
"Kalau begitu aku juga." ucap Ray.
Dan tiba-tiba seluruh tubuhnya seluruh tubuhnya diselimuti aura berwarna warni.
"Ada yg beda dengan Ray-kun. Tapi apa itu?" ucap Luka.
Rin dan Len menyerang Ray, tapi kali ini Ray mampu menahan semua serangan Rin dan Len dengan mudah. Len hendak menubruk Ray dari atas, Ray menunduk dan menghindar ke samping. Dan Rin men-sliding Ray, namun Ray melompat bersalto menghindari serangan Rin.
"Ini hanya perasaanku, atau dia jadi semakin lincah." ucap Meiko.
"Ya, dia bisa mengimbangi serangan Rin-chan dan Len-kun." ujar Luka.
Rin memukul ke arah kepala Ray, sementara Len memukul ke arah ulu hati Len. Ray menahan serangan Rin yg dari kiri dengan tangan kanan, lalu berputar untuk menahan serangan Len dengan tangan kirinya. Ray pun menangkap pergelangan tangan mereka berdua lalu mendorongkan tubuh mereka searah dengan serangan mereka dengan berputar ke kiri. Kemudian berputar-putar mengayun-ngayun tubuh Rin dan Len.
"Kalian bersiaplah untuk pendaratannya!" ucap Ray.
Kemudian Ray melempar mereka berdua ke arah Luka. Rin dan Len pun mendarat dengan pantat mereka dan tergusur ditanah beberapa meter.
"Aduh.. panas-panas!" ucap Len sambil banngun dan memegang pantatnya.
"Sakit! Aduh.." ucap Rin yg juga memegangi pantatnya.
"Mungkin kita harus sudahi saja. Ini sudah terlalu malam. Aku pinjam Hatsune Miku-san nya ya." ujar Ray yg kemudian tiba-tiba menghilang.
"Hilang?! Tidak mungkin. Dia berteleportasi?" ucap Luka dalam hati.
"Megurine!" teriak Kaito.
Luka dan Meiko langsung menengok ke arah Kaito. Sementara Rin dan Len masih kesakitan di pantat mereka.
"Hatsune tiba-tiba hilang." ujar Kaito.
Luka dan Meiko sentak saja terkejut. Tidak mungkin Miku hilang begitu saja tanpa ketahuan, tapi dari wajah Kaito yg juga terkejut sepertinya memang Miku benar-benar hilang.

Ray tampak sedang melayang di udara, dan terlihat dia sedang membawa Miku. Ray membawa Miku dengan memegang kerah baju bagian belakangnya seperti anak kucing. Kemudian sebelum mendarat, Ray melemparkan Miku. Miku pun mendarat tak jauh dari Ray. Terlihat itu adalah sebuah lahan kosong di tengah hutan.
"Sekarang kita satu lawan satu. Ayo lawan aku." ujar Ray menantang Miku.
"Siapa takut." sahut Miku.
"Dance: Rolling Girl!" ucap Miku kemudian berputar kemudian memukul ke arah Ray.
Ray pun menangkap tangan Miku dengan mudah dan menghentikan putaran Miku.
"Jangan samakan aku dengan minor, Hatsune-san." ujar Ray mendorong Miku.
Miku pun mundur ke belakang.
"Sekali lagi!" teriak Miku berputar lagi kemudian melakukan tendangan.
Tendangan kaki kanan itu mampu ditahan oleh Ray dengan sebelah tangan saja. Miku berputar lagi kemudian menendang kaki Ray dengan kaki kirinya. Ray menggeserkan kaki kanannya ke belakang untuk menghindari serangan Miku itu. Kemudian dengan bertumpu pada tangan, Miku melakukan tendangan berputar. Ray hanya mundur dan berputar ke arah belakang sesuai arah putaran Miku.
"Belang-belang?" ucap Ray.
Mendengar ucapan Ray, Miku langsung mendaratkan lagi kakinya dan menutup bagian pangkal pahanya dengan tangan, dan wajahnya tampak memerah.
"Ecchi!" ucap Miku merasa malu.
"Hah? Siapa suruh melakukan gerakan itu terlalu lama." sahut Ray.
"Jangan nyahut! Aku pasti akan mengalahkanmu untuk membalas hal ini!" bentak Miku.
"Kalau kamu memang ingin mengalahkanku, menyatulah dengan melodimu." balas Ray.
"Menyatu dengan melodi?" ucap Miku tidak mengerti.
"Saat menyanyikan Senbonzakura waktu itu, kamu tampak sangat menikmatinya kan? Bagaimana menurutmu lagunya?" tanya Ray.
"Hmm.. iya sih. Lagunya ceria gitu. Membuatku semangat menyanyikannya." jawab Miku.
"Kalau begitu bayangkanlah kamu jadi seorang putri yg menari dibawah guguran bunga sakura sambil di iringi musik Senbonzakura." suruh Ray.
"Membayangkannya?" ucap Miku.
"Ya, bayangkanlah. Rasakan kalau kamu begitu bahagia bersama bunga sakura yg menari-nari disekitarmu." balas Ray.
Miku pun memejamkan matanya. Miku terlihat tersenyum-senyum.
"Kalau kamu menari dibawah sakura, maka dance mu akan kamu namakan?" tanya Ray sambil tersenyum.
"Dance: Cherry Blossom Princess." jawab Miku.
Kemudian pakaian dan rambut Miku jadi berwarna pink dan bermotif bunga sakura. Miku pun membuka matanya.
"Eh?! Ada apa dengan pakaianku?! Rambutku juga?!!" ucap Miku nampak terkejut melihat pakaian dan warna rambutnya saat ini.
"Sekarang coba serang aku." suruh Ray.
"Baiklah jika itu maumu.." sahut Miku.
Miku melesat ke arah Ray, dan terlihat dijalur serangannya bunga sakura terbang tertiup angin. Miku menendang lurus ke arah perut Ray, dan Ray pun menggeserkan kakinya ke kanan dan membalikkan badan untuk menghindar. Namun tendangan kaki kanan Miku itu diubah arahnya dari tadinya ke depan jadi kekanan. Ray menangkap kaki Miku, dan Miku langsung menendangkan kaki kirinya ke arah wajah Ray. Ray menangkap kaki kiri Miku juga, namun Miku menjepit tangan kanan Ray dengan kedua kakinya. Dan sambil bertumpu pada tangannya dia melempar Ray dengan kakinya. Ray pun terlempar, Miku mengejar dengan gerakan seperti menari namun cukup cepat. Ray dapat kembali berdiri tanpa terjatuh, dan Miku kembali menyerang dengan menendangkan kaki kirinya ke ulu hati Ray. Ray menahannya, namun kemudian Miku menendang ke arah kaki Ray dengan membelokkan serangan kaki kirinya ke bawah. Ray melompati tendangan Miku, dan Miku pun berputar dan menendang Ray dengan kaki kanannya lurus ke depan. Ray menahannya, tapi Miku langsung saja menendangkan kaki kirinya ke arah kepala Ray. Ray menahannya dengan tangan kiri. Kemudian Miku mendaratkan kaki kanannya ditanah lalu berputar dan menendang perut Ray dengan kaki kirinya. Ray pun kembali terpental ke belakang.
"Aku tak tahu dia bakal jadi sehebat ini saat aku mengajarinya untuk menyatu dengan irama dancing nya. Dan dia baru menggunakan tendangan saja. Bagaimana jadinya kalau dia juga menggunakan pukulannya?" pikir Ray dengan cepat.
Miku maju dan mulai memukul lurus ke depan dengan tangan kanan, Ray menahannya dengan tangan kiri. Miku kembali melancarkan pukulan uppercut dengan tangan kirinya, dan Ray menahannya dengan tangan kanan. Namun Miku membelokkan serangannya dengan memindahkan tangan kanannya dan menangkap tangan kanan Ray. Kemudian Miku menarik tangan Ray dan melakukan pukulan backhand dengan tangan kiri ke wajah Ray. Ray pun mencondongkan kepalanya ke belakang untuk menghindar. Saat Ray hendak meraih Miku dari belakang, Miku bergerak ke depan dan menghindari tangkapan Ray.
"Dia menghindarinya." ujar Ray dalam hati.
"Entah kenapa tubuhku menari dengan riangnya. Tubuhku bergerak dengan lincah begitu saja." ujar Miku.
Miku kemudian berbalik melihat ke arah Ray.
"Tubuhnya ringan sekali, tapi serangannya kuat. Ditambah gerakannya yg lincah dan sukar ditebak mirip bunga sakura. Sukar untuk ditangkap." gumam Ray sambil tersenyum.
"Kali ini aku pasti akan mengalahkanmu." ujar Miku sambil menunjuk ke arah Ray.
"Oh, baguslah kalau begitu." jawab Ray.
Miku kembali menyerang Ray. Ray semakin terdesak karena ia selalu terkena serangan Miku sementara ia tak bisa menangkap Miku. Saat itu Ray tidak sedang menggunakan dance acceleration ataupun kemampuan aneh saat menghadapi Rin dan Len.
"Nampaknya aku akan kalah." ujar Ray dalam hati.
Miku menangkap tangan kiri Ray menggunakan tangan kanannya, lalu mengayunkannya ke kanan. Dan Miku pun berputar ke kiri dan menendang kaki Ray dengan kaki kirinya kemudian menendang Ray ke atas dengan kaki kanannya. Ray terpental ke atas, Miku tampak sudah ada diatas Ray lagi dan menendang Ray ke bawah tumitnya. Ray pun menghantam tanah cukup keras sehingga membuat tanah sekitarnya retak dan terangkat dalam radius 3 meter. Miku mendarat tak jauh dari Ray.
"Dia benar-benar bisa mengalahkanku." ujar Ray sambil tersenyum dan terkapar ditanah.
Ray mengangkat tangannya ke atas dan menjertikkan jarinya.
"Eightth Wire: on." ucap Ray.
Dan dari tempat Luka terlihat ada sebuah petir menyambar di kejauhan. Begitu pula dari tempat Dante.
"Ini tandaku. Aku harus pergi. Maaf semuanya.." ujar Dante yg kemudian melompat pergi.
Di tempat Miku, terlihat Ray juga sudah lenyap entah kemana.
"Dia kabur?" ucap Miku melihat Ray tidak ada lagi setelah kilat menyilaukan itu.
"Yeah! Aku menang!!" sorak Miku tampak sangat senang.
Tak lama Luka dan yg lainnya pun sampai disitu.
"Miku-chan?!" ucap Luka saat melihat Miku.
Rambut dan pakaian Miku terlihat kembali seperti semula.
"Aku mengalahkannya! Aku mengalahkan Shiro Ray!!" ucap Miku nampak sangat senang.
"Kamu mengalahkannya?" tanya Luka nampak tidak percaya.
Meiko, Kaito, Rin dan Len pun nampak tidak percaya. Saat itu Kaito nampak dipapah oleh Meiko. Di suatu tempat dihutan, Ray dan Dante terlihat sedang berlari.
"Bagaimana Aniki?" tanya Dante.
"Semuanya hampir selesai. Kita hanya tinggal menunggu waktunya saja." jawab Ray.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】