VocaWorld, chapter 79 - Kebencian Mulai Nampak Keluar
Miku sampai ke rumah. Dia langsung di sambut oleh Meiko yg sudah menantikan belanjaan yg di pesannya. Namun Meiko terkejut karena mendapati isi tas belanjaan itu hanya ada bawang daun dan sayuran bumbu lain.
"Miku-chan, ngomong-ngomong kubisnya mana?" tanya Meiko menatap Miku dengan mata sipit.
"Ah.. kalau itu.. eto.." ucap Miku mulai gugup.
Meiko semakin curiga dan mulutnya semakin cemberut.
"Sebenarnya aku.. aku pertamanya memang mau beli kubis. Tapi.." ujar Miku mulai menjelaskan.
"Tapi apa?" tanya Meiko.
"Tapi.. ya gitu deh.. hehehe.. hehe.. he.." jawab Miku dengan tawa mencurigakan melirik ke arah lain sambil memainkan kedua telunjuk tangannya.
Miku pun mencoba melirik ke arah Meiko. Dan dia pun terkejut melihat Meiko sekarang sudah nampak seperti iblis, dan di belakangnya terlihat latar api yg membara.
"Gawat dah! Mak lampir mau ngamuk nih kayaknya..!" pekik Miku dalam hati dengan wajah keringatan dan bagian mata yg nampak gelap.
"Meiko-san, aku bisa menjelaskannya. Sebenarnya tadi waktu di toko swalayan aku memang mau beli kubisnya. Tapi aku juga ingin beli es krim. Dan kulihat ada es krim yg iklannya sering ada di TV itu. Lalu aku beli aja es krim itu karena aku ingin terlihat lebih dewasa kayak yg di TV. Tapi pas perjalanan ke sini aku kesandung dan es krimnya ikut jatuh jadi tidak kemakan deh. Dan akhirnya aku pulang. Tapi tak apa kan, lagipula aku bawa daun bawang yg banyak, cukup untuk kita semua soalnya lagi diskon. Hahahaha.. hahaha.." jelas Miku dengan cepat.
"Oh.. begitu ya. Baiklah.." ucap Meiko nampak mereda lalu berbalik dan melangkah ke arah dapur.
"Jangan anggap kami maniak daun bawang sepertimu! Dasar bodoh!!" bentak Meiko yg berbalik lalu menjitak Miku sekuat tenaga.
Miku pun ambruk dengan kepala benjol, dan nampak benjolan itu mengeluarkan asap. Meiko pun berjalan menuju ke arah telpon.
"Halo, ini layanan delivery K*C? Saya mau pesan paket keluarga." ucap Meiko melalui telpon.
"Mau yg biasa, atau yg jumbo?" tanya pelayan di telpon itu.
"Jangan banyak tanya dah! Kirimin aja paket keluarga!!! Mesti sesuai dengan kelurga ku, bego!!" bentak Meiko dengan nada premannya.
"Tapi nona pelanggan, masalahnya kan kami tidak tahu jumlah anggota keluarga nona pelanggan." sahut pelayan itu berusaha tetap tenang.
"Itu masalah kalian! Emang itu masalah buatku? Pikirin sendiri saja!! Saat ini aku sedang emosi nih. Apa perlu aku datangin kesana, lalu aku gantung semua pelayan disana diatas pohon kencur, hah!!!" bentak Meiko lagi.
Teriakan dan ancaman Meiko di telpon membuat pelayan itu shock dan ketakutan.
"Ba-baiklah nona pelanggan. Kami akan segera antarkan pesanan anda. Terima kasih sudah memesan." jawab pelayan itu dengan panik lalu menutup panggilan.
"Cepat buatkan paket keluarga super jumbo!! Kalau tidak, kita akan digantung diatas pohon kencur!!!" teriak pelayan itu pada yg bertugas di dapur dengan nada panik.
"Bro, tapi bukannya pohon kencur itu tingginya tidak sampai 5 cm?" jawab salah satu staf dapur.
"Eh, benarkah begitu?" ucap pelayan itu dengan tampang bodoh.
Meiko nampak menunggu di depan pintu dengan tatapan kesal dan tak sabar. Sementara Miku nampak berjalan ke arah sofa. Disana ada Rin dan Len sedang menonton TV.
"Miku-nee kenapa benjol gitu?" tanya Len yg melihat benjolan di kepala Miku.
"Pasti dia dijitak Meiko-neesan." sambung Rin.
"Aduh sakit banget. Mana panas pula." ucap Miku memegang kepalanya yg benjol itu lalu duduk diantara Rin dan Len.
Tak lama kemudian bel depan berbunyi. Meiko membukakan pintu. Ternyata itu adalah pengantar makanan dari K*C.
"Saya dari layanan K*C delivery. Ini pesanan anda." ucap pengantar itu dengan sopan.
Terlihat dia mengenakan topi dan wajahnya tertutup ujung topi itu. Namun saat itu ia tersenyum pada Meiko.
"Lama banget!" bentak Meiko yg nampak masih kesal lalu membayar makanan itu.
"Terima kasih telah menggunakan layanan delivery kami." ucap pengantar itu lalu kembali ke sepeda motornya.
Meiko pun menutup kembali pintu rumah dan berjalan menuju ke arah ruang tengah.
"Wah.. hari ini kita makan ayam goreng!" ucap Len nampak senang.
"Yeah!!! Tumben nih. Ada apa Meiko-neesan? Apa hari ini hari spesial?" tanya Rin.
"Bukan kok. Kita coba sesuatu yg beda aja khusus buat hari ini." jawab Meiko.
"Ternyata Meiko-san membelikan ini untukku agar aku bisa makan." ucap Miku dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf, untukmu tidak ada." sahut Meiko.
"Kenapa?" tanya Miku dengan wajah shock yg lebay.
"Kamu makan aja daun bawang itu. Kamu suka daun bawang kan? Lagipula ada banyak gitu." jawab Meiko.
"Tapi kalau aku kebanyakan makan daun bawang badanku akan bau. Entar Kaito-senpai takkan mau dekat-dekat denganku." jelas Miku berusaha membuju Meiko.
"Emangnya masalah buatku." balas Meiko lalu memalingkan wajah.
"Meiko-san.. aku mohon.. huwaa.. Meiko-san.. ijinkan aku makan ayam goreng juga." pinta Miku sambil nangis narik-narik baju Meiko seperti anak kecil.
"Oke, tapi dengan satu syarat. Kamu harus minta maaf dan jangan pernah ulangi kesalahanmu lagi." terima Meiko.
"Baik Meiko-sama. Maafkan saya atas kesalahan saya. Saya takkan pernah mengulanginya lagi." ucap Miku sambil bersujud pada Meiko.
"Mak lampir benar-benar menyeramkan. Kuntilanak tidak ada apa-apanya dihadapannya." ujar Rin dan Len dalam hati mengomentari hal itu.
Ditempat lain, seorang pengantar tampak mengendarai sepeda motor. Dia tersenyum dengan senyuman jahat.
"Hatsune Miku-san, dengan ini aku akan tahu pergerakanmu." ucap pengantar makanan itu nampak mengeluarkan aura gelap di sekutarnya.
Keesokan harinya, di rumah Miku. Nampak terlihat tenang-tenang saja saat itu. Miku pun terlihat tiduran dilantai sambil dikipasi oleh kipas angin yg terlihat sudah di servis.
"Beginilah hidup semestinya. Santai dan tenang, sambil ngemil bawang daun." ucap Miku sambil terlihat memegang bawang daun di tangan kanannya.
"Miku-chan!" panggil Meiko dari arah dapur.
"Ada apa, Meiko-san?" sahut Miku.
"Hari ini belanja lagi. Awas lho kalau tidak beres lagi." suruh Meiko.
"Siap, Komandan!" sahut Miku sambil meletakan tangan di keningnya memberi hormat.
Miku pun bangkit dan menuju ke dapur. Miku mengambil uang dan daftar belanja dari Meiko dan lalu berjalan ke luar rumah. Ditempat lain yg nampak gelap, terlihat seorang laki-laki tersenyum di depan laptop yg layarnya menyala terang. Di telinganya terlihat ada headset yg terpasang.
"Belanja lagi kah? Sendirian? Ini kesempatan yg bagus. Memang alat yg kupasang di wadah itu memang ide yg bagus. Hahaha.." ujar orang itu.
Terlihat memang wadah tempat ayam goreng itu ada di tempat sampah, tepat di ruangan tengah rumah Miku. Kembali ke ruangan gelap laki-laki misterius.
"Sebaiknya jangan terlalu yakin. Kamu harus berhati-hati. Dia dijaga oleh orang yg sangat kuat." ujar laki-laki lain yg nampak bersandar di dinding dekat jendela.
Wajah laki-laki itu nampak gelap karena membelakangi jendela.
"Aku tahu itu. Jangan banyak omong!" bentak laki-laki misterius.
Miku berjalan menyusuri jalan di pinggir sungai ke arah barat.
"Kali ini aku tak boleh tergoda es krim lagi. Tidak boleh!" ucap Miku memberi sugesti pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba ada sebuah sepeda motor yg mengarah ke arah Miku dengan kecepatan tinggi. Miku tidak sadar karena sedang sibuk menyugesti dirinya.
"Mati kau!" ucap pengendara sepeda motor itu yg nampak mengenakan helm
Namun tiba-tiba ada bola yg mengarah ke padanya dan menghantam kepala pengendara sepeda motor itu hingga ia terjatuh. Dan Miku pun melewati pengendara sepeda motor itu nampak tak sadar telah terjadi kecelakaan di dekatnya.
"Bocah kurang ajar! Jangan main bola dekat jalan! Bahaya tahu!!" bentak pengendara motor yg segera bangkit itu sambil membanting helmnya lalu menunjuk ke arah para bocah itu.
"Maaf om!" ucap bocah yg nampak sedang bermain bola bersama temannya di dekat sungai itu.
Saat Miku pulang berbelanja. Nampak Miku kali ini memang benar-benar belanja dengan benar. Dia berjalan menyusuri jalan di pinggir sungai ke arah timur.
"Yeah! Ternyata kalau aku berusaha aku bisa melakukannya tanpa teralihkan oleh hal lain lagi." ucap Miku dengan senang.
"Tapi.. hari ini aku tak bisa ketemu dengan Kaito-senpai lagi." sambung Miku nampak kecewa.
Tak lama kemudian dia kembali tersadung batu yg menonjol dijalanan itu.
"Nooo.. noot agaaaiiinn...!!" ucap Miku dengan gerak lambat lalu nyuksruk alias nyungsep di tanah.
Kembali ke gerak normal, belanjaannya pun berantakan, dan kubisnya nampak menggelinding ke bawah ke dekat sungai. Dan tiba-tiba Miku seperti mendengar ledakan di depannya.
"Apa itu?!" ucap Miku terkejut dan mengangkat kepalanya melihat ke depan.
Jalan di depannya terlihat berlubang seperti terkena sebuah ledakan.
"Aku bingung kau ini sial karena ku lihat kau jatuh 2 kali ditempat yg sama, atau beruntung karena bisa menghindari seranganku?" ucap laki-laki misterius yg berdiri tak jauh di belakang Miku.
"Siapa kamu?" tanya Miku yg menoleh ke belakang.
"Kamu tidak mengenalku? Bagaimana bisa!! Kita sekelas disekolah!!" bentak laki-laki itu.
Miku pun bangkit dan membersihkan pakaiannya dari debu.
"Nampaknya kau memang tak bisa diharapkan. Bagaimana bisa gadis sepertimu lebih tenar dibandingkan aku? Namaku Amagai Takuya. Yg paling jenius di kelas 1-B!" ujar orang itu memperkenalkan dirinya.
"Oohh.. Takuya-san. Iya aku ingat sekarang. Yg menciptakan lagu yg judulnya lebih panjang dari liriknya kan?" kata Miku yg terlihat mengingat Takuya.
"Jangan dijelaskan! Itu memalukan tahu!!!" bentak Takuya.
"Sekarang kau ingat aku, Hatsune Miku. Rencanaku memang beberapa kali gagal sehingga aku harus turun tangan sendiri menghadapimu seperti ini. Aku tak tahu bagaimana bisa banyak kebetulan terjadi seperti itu. Tapi, sekarang aku pasti akan menyingkirkanmu!" ujar Takuya dengan kasar dan menatap tajam ke arah Miku sambil membayangkan beberapa kejadian yg sebelumnya terjadi.
Pertama tentu saja saat dia terkena bola saat hendak menabrak Miku. Kedua saat di toko swalayan menyimpan jebakan baruang di depan pintu masuk, eh tahunya Miku keluar lewat pintu belakang saat melihat tulisan 'Pintu Macet dan sedang diperbaiki', lalu penjaga toko itu pun menyadari ada jebakan aneh depan pintu saat melepas kertas di pintu lalu membuang jebakan itu ke tempat sampah. Ketiga saat berjalan dibelakang Miku dan hendak membius Miku namun terpeleset oleh kulit pisang yg dibuang seseorang saat melewati dirinya, dan akibatnya tangannya menyentuh pantat seorang ibu-ibu galak lalu ia pun ditampar habis-habisan. Kembali ke saat ini.
"Hatsune Miku-san! Bersiaplah untuk mati!" bentak Takuya sambil menodongkan pisau ke arah Miku.
"Tu-tu-tu-tunggu! Kenapa kamu begitu marah padaku?" tanya Miku dengan panik.
"Kenapa katamu!? Tentu saja karena kamu merebut ketenaranku! Hanya karena kamu punya wajah yg manis, kamu jadi centil dan sok imut. Itu membuatku marah!!!" jawab Takuya.
"Terima kasih.." ucap Miku sambil memejamkan sebelah matanya dan terlihat malu-malu.
"Itu bukan pujian!" bentak Takuya.
Miku nampak terkejut melihat ada aura aneh yg nampak samar menyelimuti tubuh Takuya.
"Apa itu? Sepertinya ini pernah terjadi. Aku pernah melihatnya disuatu tempat." ujar Miku dalam hati saat melihat aura hitam itu.
Takuya nampak membuka mulutnya dan menciptakan sebuah bola transparan.
"Akhirnya kamu keluar juga. Nampaknya rencanaku berhasil." ujar Ray yg tiba-tiba muncul dan sudah dalam keadaan berubah.
Ray berjalan dengan santai ke arah Miku dan Takuya dari arah belakang Miku saat ini. Bola transparan itu pun menghilang karena Takuya kembali menutup mulutnya.
"Shiro Ray. Anak pendiam misterius yg duduk dipojok ruangan dekat pintu belakang. Tak kusangka ternyata kaulah yg menggagalkan rencanaku. Lalu memaksaku untuk menunjukkan diriku terang-terangan." sahut Takuya.
"Kamu baru sadar? Padahal akulah yg melempar kulit pisang itu." jawab Ray sambil tersenyum
"Aku benci orang yg lebih cerdas dariku." balas Takuya dengan wajah kesal.
"Shiro Ray?!" ucap Miku terkejut melihat kedatangan Ray.
"Oh.. Hatsune Miku-san. Maaf telah menjadikanmu umpan." sahut Ray sambil tersenyum.
"Bagaimana ini? Aku tidak membawa earophoid ku. Harusnya aku selalu membawanya kalau tahu begini!" ucap Miku dalam hati kesal pada dirinya sendiri.
"Jadi mau apa kau kemari, Shiro Ray-san? Melindunginya?" tanya Takuya.
"Who knows?" sahut Ray.
Kali ini Miku terjebak diantara 2 laki-laki yg tak lain adalah musuhnya. Ia nampak semakin panik dan bingung.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.