VocaWorld, chapter 68 - Bunyi Menggelegar Di Siang Hari

Miku bersama Kaito, Rin, dan Len sedang berada di tengah hutan. Len berjalan paling depan diikuti oleh Rin. Sementara Miku dibelakang Kaito.
"Hatsune, kau tak apa-apa?" ucap Kaito karena melihat Miku tertinggal jauh di belakang karena terlalu pelan.
"Ya, tak apa kok." sahut Miku.
"Kalau cape kita istirahat dulu saja." ujar Kaito.
"Tidak kok, aku tidak cape. Mungkin aku hanya tak terbiasa jalan terlalu cepat saja." jawab Miku.
Kaito pun kembali dan berjalan ke arah Miku.
"Ayo, jangan jauh-jauh dariku. Aku tak mau Hatsune tersesat." ucap Kaito sambil memegang tangan Miku.
Kemudian mereka pun berjalan bersama sambil berpegangan tangan. Wajah Miku memerah saat itu.
"Ka-Kaito-senpai.. memegang tanganku.. lagi?" ucap Miku dalam hati sambil melihat ke arah tangan kanannya yg di genggam tangan Kaito.
"Ini.. terlalu tiba-tiba. Hatiku tidak kuat menahannya. Jantungku.. jantungku rasanya deg-degan." kata Miku dalam hati sambil menahan malu, tampak wajahnya begitu merah saat itu.
"Kaito-nii! Miku-nee! Ayo kemari! Kami menemukan satu kumbang disini!" panggil Len.
"Ya, kami segera kesana!" sahut Kaito dari kejauhan.
Tampak Rin dan Len sedang memperhatikan ke bagian atas sebuah pohon.
"Terlalu tinggi, aku takkan bisa menggapainya." ucap Len
"Kalau begitu tinggal manjat aja kan, gampang." sahut Rin sambil melihat ke arah Len.
"Manjat gimana? Lihat dong batangnya kasar gitu. Yg ada entar aku baret-baret." balas Len yg kini melihat ke arah Rin.
"Ada apa ini ribut-ribut?" ucap Kaito saat sampai dibawah pohon itu.
"Itu, aku suruh manjat tidak mau. Katanya mau nangkap kumbang yg ada disana." jawab Rin sambil menunjuk ke arah kumbang yg ada diatas pohon itu.
Letak kumbang itu memang terlalu tinggi untuk digapai dengan tongkat jaring yg dibawa Len dan batang pohon itu memang agak susah dipanjat oleh anak kecil seperti Len. Karena diameternya yg cukup besar.
"Kenapa mereka berpegangan tangan? Kenapa Miku-neechan juga tampak malu-malu seperti itu? Jangan bilang.." ucap Rin dalam hati saat melihat Miku dan Kaito berpegangan tangan.
"Ya udah, naik ke pundakku." suruh Kaito sambil melepaskan tangan Miku lalu berjongkok di dekat batang pohon.
Len pun naik ke pundak Kaito.
"Hati-hati.. pegangan ke batang pohon biar tidak jatuh." suruh Kaito.
Len pun menurutinya. Lalu Kaito pun berdiri.
"Wah tingginya.. hehe.. dari sini aku bisa menangkapmu." ujar Len sambil menyiapkan tongkat jaringnya.
Lalu Len pun mengayunkan tongkat itu dan berhasil menangkap kumbang itu.
"Yes, dapat!" ucap Len yg terlihat senang.
Namun dia lupa untuk berpegangan pada batang pohon dan kehilangan keseimbangan.
"Awas Len!" ucap Rin saat melihat Len jatuh.
"Whoaa.." ucap Len saat terjatuh.
Miku dan Rin memejamkan matanya karena takut, begitu pula dengan Len. Kaito nampak berusaha berbalik secepat yg ia bisa. Tapi tiba-tiba tubuh Len seperti tertahan diudara dan berhenti jatuh.
"Itu tadi berbahaya sekali, bocah kecil." ucap seseorang yg menangkap dan memeluk tubuh Len.
"Suara itu.." ujar Kaito mengenal suara tersebut.
Orang itu pun meletakan Len ke bawah, dan nampaklah dengan jelas kalau itu Ray. Dibelakangnya pun ada Dante.
"Len, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Rin sambil menghampiri Len.
"Tidak apa-apa kok." jawab Len.
"Terima kasih Ray-niichan." ucap Rin pada Ray.
"Ya, sama-sama." sahut Ray sambil mengelus kepala Rin dan Len.
"Hatsune, segera bawa Rin dan Len pergi dari sini." suruh Kaito pada Miku yg berada di dekatnya.
"Tapi, Kaito-senpai.." sahut Miku tampak khawatir.
"Jangan takut, aku yakin bisa menghadapi mereka sendirian." jawab Kaito.
Miku masih ragu untuk pergi.
"Percayalah padaku.." ucap Kaito sambil tersenyum.
Miku pun seperti mengingat sesuatu tentang perkataan itu.
"Lagi-lagi.. apakah ini?.. aku seperti pernah mendengar ini dan tiba-tiba aku melihat gambaran laki-laki itu. Perkataan yg sama dan ekspresi yg sama." ucap Miku dalam hati terlihat terkejut.
"Baiklah. Kaito-senpai hati-hati ya.." terima Miku yg lalu berlari ke arah Rin dan Len.
"Rin-chan! Len-chan! Ayo kita pulang.." ajak Miku yg memegang punggung Rin dan Len.
"Eh, kenapa tiba-tiba?" tanya Rin dengan nada kecewa.
"Ini udah siang, kalau terlalu siang entar pulangnya kepanasan." jawab Miku sambil mendorong punggung Rin dan Len agar menjauh dari Ray dan Dante.
"Tapi kenapa Kaito-nii tidak ikut?" tanya Len.
"Oohh.. katanya ada sesuatu yg ingin dia bicarakan dengan dua kakak-kakak yg tadi itu. Pembicaraan laki-laki. Jadi kita para perempuan tak boleh dengar." jawab Miku lagi.
"Tunggu, jangan bilang aku ini dianggap perempuan juga?" ujar Len dengan wajah tak terima.
"Hehehe.." Miku tertawa bodoh sambil berjalan menjauh dari Kaito, Ray dan Dante.
"Kenapa Miku-nee tertawa!" bentak Len.
Rin pun terlihat tertawa kecil sambil memalingkan wajahnya.
"Aku ini laki-laki!!!" teriak Len.

Sementara itu, Kaito masih ada di tempat yg tadi bersama Ray dan Dante.
"Jadi kamu menyuruh Hatsune Miku-san membawa kedua anak kembar itu pergi, agar pertarungan kita tidak melibatkan si kembar dan Hatsune Miku-san terjauh dari kami." ujar Ray dengan ekspresi datarnya.
"Ya." sahut Kaito.
"Cukup pintar juga untuk orang bodoh yg tidak peka." ujar Ray.
Urat dikepala Kaito pun langsung muncul karena jengkel mendengarnya.
"Aniki, kalau cuma dia saja bukankah ini tidak seru?" ucap Dante.
"Jangan menganggapnya lemah, Dante. Selama ini dia menahan diri menggunakan apinya karena terlalu banyak orang di sekitarnya." ujar Ray melirik ke arah Dante.
"Tapi waktu itu saja, dia butuh bantuan gadis api itu untuk menahan apiku." sahut Dante.
"Kalau kamu tidak mau melawannya, biar aku saja." ucap Ray melangkah ke depan.
"Start up! Vocaloid system: on! Power: 100%! Flame on!!!" teriak Kaito sambil memakai earophoid-nya yg kemudian berubah.
"Instrumen: Harmony of Fire!" ucap Kaito mengeluarkan harmonika nya.
Kemudian Kaito pun memainkan melodi tunggal dan mengibaskan harmonika nya mengeluarkan api biru. Ray dan Dante mundur ke belakang menghindari api itu.
"Gerakan yg cepat juga.." ujar Ray tampak dengan santai memakai earophoid-nya yg kemudian terpotong karena melihat Kaito.
Kaito tampak memainkan semacam melodi dengan harmonika nya sambil melakukan gerakan. Dia menggerakan tubuhnya ke kiri ke kanan lalu berputar menciptakan pusaran api. Kemudian di melodi terakhir dia pun melemparkan pusaran api itu ke arah Ray. Memang tak sebesar pusaran angin teknik Kamikaze milik Kamui, dan besarnya pun hanya 1/3 nya saja. Tapi itu cukup kuat untuk membuat hutan dalam radius 50 meter tampak terbakar.
"Ini menarik!" ucap Dante yg kemudian berubah dan melompat ke depan Ray.
Dante mengeluarkan instrument nya.
"Devilish Slash!" ucap Dante mengibaskan gitarnya sambil membuat melodi tunggal.
Api hitam dan pusaran api biru itu pun bertubrukan. Namun nampaknya pusaran api biru itu lebih kuat dan mendorong mundur api hitam Dante.
"Apa?!" ucap Dante yg terkejut melihat apinya tidak bisa menandingi teknik Kaito.
"Kau takkan bisa mengalahkannya! Itu adalah teknikku yg ku kembangkan bersama Gakupo. Blue Fire Dragon Tornado!" jelas Kaito dengan nada keras.
"Tidak mungkin.." ucap Dante tak percaya.
"Sudah kubilang biar aku saja." ujar Ray yg melangkah ke samping Dante.
"Instrument.." ucap Ray dengan nada santai dan wajah yg datar.
Lalu seketika muncul cahaya bersamaan dengan bunyi melengking. Dan setelah itu terdengar bunyi menggelegar di langit.
"Apa itu? Siang hari yg cerah seperti ini terdengar bunyi petir?" ucap Kamui yg duduk di depan dojonya terlihat terkejut.
Kemudian Kamui pun menoleh ke arah selatan. Sementara di tempat pertarungan tadi.
"Kau meleset, Aniki." ucap Dante yg berada di sebelah Ray.
"Ya, maaf saja, aku sudah lama tidak menggunakannya. Mungkin daya incarku sudah berkurang." sahut Ray sambil berbalik dan berjalan meninggalkan Dante.
"Tunggu, Aniki." ucap Dante.
Terlihat daerah di sekitar itu terbakar akibat pusaran api Kaito sebelumnya. Namun saat ini pusaran api biru dan api hitam Dante itu sudah tak terlihat lagi. Disana hanya ada Kaito yg berdiri dengan mata terbelalak seakan terkejut melihat sesuatu.
"Apa ini? Meskipun meleset, tapi tubuhku tetap terkena efeknya. Kakinya serasa lemas dan tak sanggup berdiri lagi. Tanganku mati rasa. Aku tak bisa menggerakan tubuhku." ucap Kaito dalam hati yg lalu terjatuh di atas dua lututnya dan lalu ambruk di tanah.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】