VocaWorld, chapter 86 - Panasnya Sebuah Festival (Bunga Yang Bermekaran Di Angkasa)

Dante berjalan meninggalkan Gumi. Dia menuju keramaian orang-orang yg hendak menonton konser. Disana Dante dihalangi oleh seseorang bertopeng tengu merah. Saat ini juga sebenarnya Dante mengenakan topeng iblis.
"Apa anda sudah lupakan saya? Nama saya.." ucap pemuda bertopeng tengu berambut coklat dengan yukata coklat itu membisikkan sisanya ditelinga Dante.
"Tidak mungkin.." ucap Dante terlihat terkejut mendengar apa yg dibisikkan pemuda bertopeng tengu itu.
"Kau sudah mati!" bentak Dante sambil berusaha menyikunya.
Namun pemuda itu menahan siku Dante lalu mundur ke belakang.
"Benarkah begitu?" sahut pemuda bertopeng tengu itu dengan nada sombong.
Pemuda bertopeng tengu itu terus berjalan mundur ke belakang dan menghilang dalam keramaian.
"Ini hanya perasaanku, atau memang kamu mengenalnya, Dante?" ujar Ray yg muncul dibelakang Dante sambil masih memakai topeng kucingnya.
"Aku tak yakin, Aniki." jawab Dante menoleh ke arah Ray.
Semuanya terlihat sudah memenuhi lapangan depan panggung. Ray dan Dante saat ini berdiri di tengah keramaian.
"Selamat malam semuanya! Apa kabar kalian hari ini?" ucap Luka menjadi MC berbicara diatas panggung.
"Aku yakin kalian sudah tak sabar menunggu acara ini dimulai. Kalau begitu kita mulai saja, ini dia artis pertama kita, Hatsune Miku! Dengan lagu senbonzakura!" sambung Luka lalu berjalan ke belakang panggung saat Miku naik ke atas panggung.
"Semuanya! Ayo kita mulai!!" teriak Miku dengan semangat.
Miku pun mulai menyanyikan lagu Senbonzakura nya.
"Aniki, kenapa dia tak berubah? Apa dia lupa membawa earophoid nya?" tanya Dante yg melihat Miku masih memakai yukata yg sama.
"Bodoh, lihatlah baik-baik. Dia menggunakan earophoidnya. Hanya saja dia tidak mengaktifkan form changer nya. Jadi pakaiannya takkan berubah walau sudah mengaktifkan vocaloid system nya." jelas Ray.
"Emangnya bisa dinonaktifkan?" tanya Dante masih tidak mengerti.
"Jika kamu punya laptop dan pembaca earophoid kamu bisa melakukannya. Atau bisa dengan melakukan command, 'System setting. Form changer: switch off.' selesai. Nanti tinggal di 'on' kan lagi kalau butuh perubahan." tambah Ray menjelaskan lebih lanjut.
"Oohh.. ngomong-ngomong, darimana Aniki tahu tentang semua itu?" tanya Dante lagi.
"Berhentilah bertanya, tonton konsernya.." jawab Ray sambil melihat ke panggung.
"Baiklah.." sahut Dante.
Miku masih bernyanyi dengan ceria diatas panggung, sambil berjoget dan memainkan kipasnya. Setelah Miku selesai bernyanyi, Luka kembali naik ke atas panggung sementara Miku turun.
"Bagaimana? Apa kalian sudah mulai panas? Mungkin kita harus sedikit ademkan dengan yg sedikit slow dari pasangan yg berapi-api ini. Ini dia, Kaito dan Meiko dengan lagu 'Paired Wintry Wind'!" ujar Luka memanggil Kaito dan Meiko yg sudah siap naik ke panggung.
Kaito dan Meiko pun naik sementara Luka turun dari panggung. Mereka berdua pun mulai bernyanyi. Di belakang panggung, Miku mengintip memperhatikan Kaito dan Meiko.
"Aaa.. kenapa mesti Meiko-san yg duet dengan Kaito-senpai? Aku kan juga ingin duet dengan Kaito-senpai." gerutu Miku.
Kemudian Miku pun membayangkan dialah yg menyanyikan lagu 'Paired Wintry Wind' dengan Kaito.
"Hahaha.. pasti indah banget rasanya." ucap Miku dengan penuh kebahagiaan diwajahnya.
Diatas panggung, Kaito dan Meiko terlihat bernyanyi dengan serasi. Kemudian tak lama setelah itu mereka pun selesai. Luka kembali naik ke atas panggung, Meiko dan Kaito pun turun.
"Meiko-san curang, kenapa duet dengan Kaito-senpai?" ujar Miku dengan wajah kesal.
"Kami sejak awal emang berniat duet kok. Miku-chan kan udah punya lagu sendiri." jawab Meiko.
"Aku tidak percaya. Pasti ada konspirasi dibalik semua ini!" ucap Miku dengan mode pengacara lebay lengkap dengan kacamata dan jas.
"Eeeee.." ucap Meiko dan Kaito bersamaan membuat tampang yg sama seperti bosan dan tidak aneh lagi dengan tingkah Miku.
"Apalagi ditambah dengan kejadian sebelumnya." sambung Miku.
Sebelum konser dimulai, Miku terlihat kembali bersama Kaito. Meiko yg melihatnya langsung saja mencengkeram yukata Kaito lalu membanting Kaito ke sudut backstage.
"Kenapa Meiko-san membanting Kaito-senpai?!!" tanya Miku terkejut melihat Kaito dibanting oleh Meiko.
"Laki-laki playboy seperti dia memang pantas dibanting. Ayo kita latihan lagi." jawab Meiko lalu mengajak Miku ke sudut lain untuk melanjutkan latihan yg tertunda.
Kembali ke masa sekarang.
"Itu pasti adalah suatu strategi untuk mereboisasi Kaito-senpai." tambah Miku sambil menunjuk ke arah Meiko tetap dengan dandanan ala pengacara.
"Miku-nee, reboisasi itu penanaman kembali hutan yg gundul." sahut Len.
"Kalau tak tahu artinya jangan bicara sok intelek deh." tambah Rin.
Meiko dan Kaito hanya nepuk jidat saat itu.
"Eh, begitu ya?" ucap Miku sambil memirinkan kepalanya dengan tatapan bego.
"Meskipun lagunya lagu santai tapi masih terasa panas ya. Sekalian aja kita bakar dengan api yg menyala-nyala. Ini dia si kembar dengan semangat membara, Kagamine Rin dan Len! Iroha no Uta!!" ucap Luka memanggil Rin dan Len kemudian kembali ke belakang panggung.
Rin dan Len naik ke atas panggung dan mulai bernyanyi. Mereka menari dengan semangat mengikuti iringan musik.

Setelah Rin dan Len selesai bernyanyi, Luka kembali naik ke atas panggung. Saat Luka berbicara, Ray nampak menyadari sesuatu yg aneh.
"Perasaan apa ini? Dari arah mana?" ucap Ray dalam hati sambil melihat ke kanan dan kiri.
"Ada apa, Aniki?" tanya Dante.
"Aku punya firasat buruk." jawab Ray.
Di backstage, terlihat Kamui pun terbangun dari tidurnya.
"Ada apa ini? Sepertinya ada yg mengganggu perasaan saya." ujar Kamui saat terbangun dengan suara lemah.
"Whooaa.. saya lupa untuk menentukan lagu yg akan saya bawakan!!" ucap Kamui sambil berdiri dengan tangan seperti mencengkeram udara di depan wajahnya karena terkejut.
Kamui baru sadar kalau dia belum mengatakan pada Luka judul lagu yg akan dia bawakan. Saat itu, Gumi sudah naik ke atas panggung. Lampu mulai meredup dan berkelip aneh. Saat lampu kembali normal, ada seorang pemuda bertopeng tengu sudah berdiri di samping Gumi.
"Halo.." ujar pemuda itu melalui pengeras suara.
Dibalik topengnya, wajah Dante terlihat terkejut. Di belakang panggung, Luka dan yg lainnya pun dikejutkan oleh suara yg asing bagi mereka itu.
"Kepada yg terhormat, yg sudah datang disini. If you know who.." kata pemuda bertopeng tengu itu lalu memegang kepala Gumi.
Dante mulai mengepalkan tangannya karena kesal.
"Dante, mulailah berubah. Tapi nonaktifkan dulu form changer mu." suruh Ray.
Kemudian Ray pun menyelusup diantara keramaian ke arah panggung.
"Baiklah, Aniki." ucap Dante.
Dante mulai mengambil earophoid yg dia sembunyikan didalam yukatanya lalu memakainya.
"System setting. Form changer: switch off." ucap Dante.
"Gadis ini, akan jadi san.." ujar pemuda bertopeng tengu itu.
Namun terpotong karena lampu yg tiba-tiba mati, dan di saat yg bersamaan ada yg mencengkeram wajahnya.
"Topeng iblis?!" ucap Gumi terkejut ada sosok laki-laki bertopeng iblis melesat dengan cepat mencengkeram wajah pemuda bertopeng tengu.
"Takkan semudah itu kau bisa menyentuhnya!" bentak Dante kemudian melompat membawa pemuda bertopeng tengu itu ke arah bukit.
Disana terdapat seperti kuil. Dan lalu Dante pun membanting pemuda bertopeng tengu itu ke tanah dengan keras. Lampu dipanggung kembali menyala dengan normal. Luka kembali masuk ke dalam panggung.
"Maaf atas gangguannya tadi. Kelihatannya ada penonton yg ngefans banget dan ingin menyentuh gadis yg imut ini. Mana sok keren lagi." ujar Luka.
Penonton pun tertawa mendengarnya.
"Baiklah kita lanjutkan saja." sambung Luka.
Sementara itu diatas bukit.
"Kenapa anda begitu marah saya menyentuhnya, tuan Lucifer?" tanya pemuda bertopeng tengu itu sambil bangun dan melihat Dante yg berdiri di pagar kuil.
"Itu bukan urusanmu." jawab Dante.
"Nampaknya terjadi reuni disini ya?" ucap Ray yg datang ke tempat itu juga berjalan dengan santai dari samping pemuda bertopeng tengu.
"Maaf kalau aku mengganggu, tapi bolehkah aku ikut?" tanya Ray.
"Nada bicara yg tenang itu, biar saya tebak.. anda pasti pahlawan The White Light." ujar pemuda bertopeng tengu itu.
"Aku tak tahu kamu jadi orang yg sopan setelah perang besar itu." sahut Ray.
"Hahaha.. nampaknya kau mengenalku! Seseorang yg menghentikan perang memang hebat!" kata pemuda bertopeng itu seperti berganti kepribadian menjadi agak kasar.
"Instrument: Devil Bone Guitar!" ujar Dante mengeluarkan instrument nya.
"Bagaiamana? Kamu mau melawan kami berdua sekaligus? Kupikir, kamu tidak sebodoh itu kan?" ujar Ray mengintimidasi.
"Tentu saja." sahut pemuda bertopeng tengu itu sambil melompat kebelakang menjauh dari Ray dan Dante.
"Saat ini belum waktunya menghadapi kalian. But the trap was installed. Tinggal menunggu hasilnya saja." sambung pemuda bertopeng tengu itu.
"Devilish..." ucap Dante hendak menggunakan teknik serangannya.
"Hahahaha.. kita akan bertemu lagi, raja tanpa mahkota. Kucing putih dalam lumpur." ucap pemuda bertopeng tengu itu melompat ke belakang lagi dengan cepat.
Kemudian dia pun menghilang dalam rimbunnya hutan.
"Sial!" ucap Dante kesal lalu menghilangkan lagi instrument nya.
"Tenang saja, Dante. Dia takkan bisa mengganggu rencana kita." ujar Ray dengan tenang.
"Tapi nampaknya, kita ketinggalan konsernya." sambung Ray melihat ke arah panggung dibawah.
"Yah.. sudah selesai ya. Padahal aku punya janji untuk menontonnya." ujar Dante sambil memegang kepalanya.
"Janji pada siapa?" tanya Ray.
"A.. kalau itu.. aku tidak bisa mengatakannya padamu, Aniki. Hehe.." jawab Dante dengan gugup.
"Terlihat mencurigakan.." sahut Ray.

Di tempat konser terlihat Luka selesai bernyanyi juga walau saat itu dia jadi MC juga. Gumi yg berada di belakang panggung terlihat kagum.
"Luka-oneesama memang hebat. Bisa jadi MC juga bisa jadi penyanyi sekaligus." puji Gumi.
"Luka-tan luuaaaaarrrrrr biasa. Sangat cocok untuk jadi istri saya." ujar Kamui dengan wajah kagum yg sama disamping Gumi.
"Jangan bermimpi." sahut Gumi saat mendengarnya sambil menyipitkan matanya menatap kearah Kamui.
Kemudian Miku, Gumi, Meiko, Kaito, Rin dan Len pun naik ke panggung bersama-sama.
"Ikut." ucap Kamui kemudian melangkahkan kakinya.
Namun dia terjatuh ditanah saat melangkahkan kakinya.
"Siapa yg mengikat kakiku?!!" ucap Kamui kaget melihat salah satu kakinya terikat ke tiang.
Terlihat Len tertawa tertahan di atas panggung.
"Kerja bagus, Len-kun." ucap Gumi melakukan tos dengan Len.
Lalu Miku dan yg lainnya kecuali Kamui pun berbaris diatas panggung.
"Terima kasih sudah menonton kami!" ucap mereka sambil membungkukkan badannya.
"Ayo nyalakan kembang apinya!" teriak Miku sambil melompat ke depan dengan semangat menunjuk ke langit.
Terlihat cahaya kembang api mulai meluncur ke udara. Dan kembang api itu pun meledak dengan indah di langit malam. Saat itu kembang api terus berpendar dilangit Voca Town. Miku dan yg lainnya melihat dari atas panggung. Sementara Ray dan Dante melihat dari atas bukit. Ray terlihat tersenyum, topengnya ada diatas kepalanya, dan ia duduk dipagar kuil. Dan Dante melihat sambil berdiri diatas pagar kuil dengan senyum yg lebar kagum melihat indahnya kembang api itu, topeng iblis yg dikenakannya sekarang ada di samping wajahnya.
"Aniki, apa kembang api selalu seindah ini?" tanya Dante.
"Tergantung isinya, tergantung untuk apa itu diciptakan. Tujuan yg buruk, tentu berakhir dengan keburukan." sahut Ray.
"Aniki, aku tidak mengerti. Apa hubungannya dengan kembang api?" tanya Dante yg malah bingung.
"Baiklah, memang selalu seindah ini, Dante." sahut Ray.
"Saat ini, mungkin keindahan yg ia lihat,berasal dari sesuatu yg lain. Sama sepertiku." sambung Ray dalam hati sambil melihat kembang api lagi.
Ray dan Dante pun menikmati pemandangan kembang api hingga usai.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】