VocaWorld, chapter 82 - Masa Lalu Yang Masih Kelabu

Hari ini nampak sangat tenang di Voca Town. Sejak kejadian major batu itu, tidak ada tanda-tanda pergerakan Ray ataupun para darksider. Di kediaman Megurine pun nampak sangat tenang saat itu. Luka nampak duduk tenang sambil membaca buku 'Diary of E'.
"Hari ini aku menyuruh Irine untuk libur dari pekerjaannya sebagai dokter di rumah sakit, karena kehamilannya semakin besar. Aku tak mau dia sampai stress akibat pekerjaannya. Itu akan membawa pengaruh buruk bagi calon anak kami. Ditambah hari ini Dr. Shiro dan Dr. Kuro akan berkunjung lagi ke rumah kami. Saat ini yg kutahu, Dr. Kuro sebentar lagi akan melahirkan, karena usia kehamilannya sudah 9 bulan. Maka dari itu mungkin ini kunjungannya yg terakhir sebelum melahirkan." baca Luka dalam diary itu.
Luka kemudian membuka halaman selanjutnya.
"Saat kunjungan itu, aku dan Dr. Shiro berbicara berdua saja. Aku meninggalkan Irine bersama Dr. Kuro. Kulihat istriku itu berbicara dengan sangat akrab pada Dr. Kuro. Entah apa yg mereka bicarakan. Aku pun kembali berkonsentrasi pada Dr. Shiro. Dr. Shiro mengatakan kalau ia punya firasat buruk tentang pemerintahan pusat. Ia menambahkan kalau kemungkinan kota ini akan benar-benar dijadikan tempat eksperimen mereka, karena kota ini letaknya memang sedikit berjauhan dari kota lain. Tempat ini layaknya tempat terpencil yg terisolasi, dan sangat tepat untuk melakukan hal mengerikan itu. Ya, akupun sependapat dengan Dr. Shiro. Ini hanya kota nelayan kecil, tak ada akses keluar kecuali perdagangan. Ditambah, dengan perang nada hitam yg semakin menyebar membuat setiap negara di dunia semakin panik. Namun aku mencoba menenangkan diriku dan Dr. Shiro dengan mengatakan untuk jangan terlalu khawatir. Karena kota ini dilindungi oleh naga yg mendiami di setiap sudutnya. Walau salah satu naga telah menyeberangi lautan, tapi masih ada 2 naga yg tersisa. Dr. Shiro pun tertawa mendengar perkataanku. Dan dia pun mengatakan kalau yg kukatakan itu ada benarnya juga." baca Luka lagi.
"3 naga ya? Di setiap sudut? Hmm.. siapa sajakah itu?" ujar Luka yg penasaran.
Di rumah keluarga Miku, Miku nampak bosan menonton drama yg ada. Drama 'Notice Me, Senpai' kesukaannya nampak sudah tamat saat ini.
"Ah, bosan dah.. mesti ngapain ya?.." ucap Miku dengan lemas dan wajah yg tak bersemangat.
"Kenapa juga drama 'Notice Me, Senpai' ending nya ngegantung gitu? Kenapa Kaido-senpai masih belum mengerti perasaan Miki. Aaaaaahhh.." gerutu Miku dengan kesal.
"Musim gugur ini, drama yg fenomenal akan dilanjutkan! Drama yg berjudul, 'Notice Me, Senpai' akan dilanjutkan ke season 2." suara keras dari TV membuat Miku menoleh ke arah TV.
"Yeah!!! Akhirnya ada lanjutannya! Yayaya..! Yayaya..!" ucap Miku dengan bahagia sambil bertingkah ceria memutar-mutarkan lengannya seperti roda.
"Munculnya seorang rival! Teman sekelas! Meisa!" lanjut suara TV itu.
"Aaaaa..." ucap Miku tampak shock melihatnya.
"Teman sekelas Kaido-senpai?! Benar-benar saingan yg berat. Berjuanglah, Miki! Aku akan mendukungmu!!" kata Miku yg lalu memberikan sorakan ke arah TV.
"Miku-chan, jangan teriak-teriak di siang bolong begini. Berisik tahu!" ujar Meiko yg berjalan ke arah Miku.
Miku pun menoleh sambil menatap tajam ke arah Meiko.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" ucap Meiko yg merasa bingung.

Dikediaman Megurine, nampak Luka sedang mengecek earophoid nya.
"Aku tidak mengerti, kenapa earophoid ku melemah? Padahal aku yakin sudah me-recharge nya. Walau daya nya penuh, power nya tetap dalam keadaan merah." komentar Luka saat melihat ke monitor PC nya.
"Lalu bagaimana cara mengisi ulang power nya? Mungkin aku harus tanyakan pada professor." sambung Luka setelah memperhatikan data yg tampil di monitor.
Kemudian Luka mencabut earophoid nya dari alat pengecek earophoid yg tersambung ke PC itu. Luka lalu membawa earophoid nya bersamanya. Luka pergi ke suatu tempat diantar oleh supirnya juga maidnya. Luka kemudian mengetuk pintu sebuah rumah yg terjepit diantara 2 gedung tinggi. Rumah tua yg nampak tak terurus dari luar. Tak lama ada seorang om-om membukakan pintu.
"Oh, Megurine-san.. ada urusan apa lagi? Bagaimana dengan earophoid V2 nya? Tak ada masalah kan?" tanya om-om berusia 40 tahunan itu yg nampak berjangkut tipis dan berambut acak-acakan.
"Tentang earophoid V2 memang tak ada masalah sampai sekarang. Hanya saja, ada beberapa hal yg ingin kutanyakan." jawab Luka.
"Ah, mungkinkah kamu ingin tahu masalah 'itu'? Sebaiknya kita bicarakan di dalam." ujar om-om bertubuh kurus namun tinggi itu.
Om-om itu pun mempersilahkan Luka masuk.
"Tsugumi-chan, kamu masih cantik saj.." ucap om-om itu pada maid Luka yg berjalan dibelakang Luka, namun terpotong karena tiba-tiba dipukul oleh maid itu tepat dibagian perut.
"Tolong jangan bicara dengan saya, maniak mesin." ujar Tsugumi dengan tak peduli.
"Masih galak saja seperti dulu ya.. aduh.." kata om-om itu sambil menahan sakit di perutnya.
Kemudian om-om itu mempersilahkan duduk kepada Luka dan Tsugumi.
"Mau minum apa?" tanya om-om itu dengan ramah.
"Tak usah, kami disini pun takkan lama." jawab Luka.
"Baiklah, jadi anda kesini untuk membahas masalah power system kan? Apa yg ingin anda tanyakan tentang itu?" tanya om-om itu.
"Bagaimana cara me-recharge power nya?" tanya Luka.
"Ya ampun, segitu saja tidak tahu. Tentu saja dengan bernyanyi, di depan orang-orang tentunya." jawab om-om itu.
"Maksudnya?" tanya Luka yg tak mengerti.
"Aku juga tak tahu pasti, tapi sampai saat ini hanya itulah yg kutahu. Earophoid adalah alat pembaca melodi dalam otak. Membaca dan menulis nada lalu menggunakannya sebagai sumber energi misterius yg diluar nalar manusia." jelas om-om itu.
"Sepertinya cara kerjanya mirip dengan mindy." ujar Luka nampak memegang dagunya.
"Darimana anda tahu alat bernama mindy itu?!" ucap om-om itu nampak terkejut.
"Kenapa? Kamu tahu juga tentang alat itu?" tanya Luka balik.
"Tentu saja. Karena saya lah yg mengembangkan alat itu sepeninggalnya Dr. Shiro dan Dr. Kuro." jawab om-om itu.
"Menarik. Coba jelaskan padaku tentang mindy itu!" suruh Luka.
"Itu adalah rahasia negara. Anda yakin mau mengetahuinya?" tanya om-om itu.
"Aku tidak takut. Katakan saja, Prof. Kei!" jawab Luka dengan tegas.
Om-om yg bernama Prof. Kei itu pun tersenyum.
"Baiklah kalau begitu.." sahut Prof. Kei.
"Berbeda dengan earophoid, mindy adalah sebuah alat dimana membaca dan menulis itu berbeda. Artinya butuh 2 alat untuk menghasilkan sebuah power. Kita umpamakan saja dengan composer dan singer. Jika salah seorang jadi composer maka seorang lagi harus jadi singer. Dan alat ini digunakan untuk menandingi pasukan musuh di perang nada hitam. Dan saat itu muncul lah 2 legenda terkuat dimana mereka berdua bisa jadi composer sekaligus singer secara bergantian sehingga alat ini berada pada level maksimal. Dikenal sebagai, 'Merak Abadi Takako'." jelas Prof. Kei.
"Begitu rupanya. Sekarang semuanya hampir masuk akal." ujar Luka kembali memegang dagunya dan berpikir.

Di kediaman Gakupo, Kaito terlihat sedang ngepel bolak-balik sambil membungkuk.
"Gakupo, bisakah kau bantu aku sebentar saja?" pinta Kaito sambil memeras lap itu
"Maaf, Kaito-dono.. bagi seorang samurai meditasi itu lebih penting daripada mengepel lantai." jawab Kamui.
"Hah?! Yg benar saja. Kalau lantai nya kotor juga kau selalu menggerutu karena tak bisa tiduran." sahut Kaito dengan jengkel.
"Lagipula saat ini saya kan sedang tidak ingin tiduran." balas Kamui.
"Hahaha.. dia menjengkelkan sekali." ucap Kaito dalam hati dengan nada kesal dan wajah yg makin jengkel.
"Aku jadi ingat waktu aku kembali kemari 1 tahun yg lalu." gumam Kaito dalam hati kemudian mengingat-ngingat saat itu.
Setahun yg lalu saat Kaito kembali ke Voca Town. Saat itu dojo dan rumah Kamui tampak tidak terawat.
"Ada apa ini? Apa Gakupo sudah pindah?" ucap Kaito bertanya-tanya dalam hatinya.
Kemudian dia menengok ke arah dojo dan melihat ada sebuah patung aneh bersila di depan dojo.
"Aku tak ingat ada patung itu. Apa mungkin itu baru?" sambung Kaito saat melihatnya.
Kemudian Kaito pun mendekatinya. Dia melihat-lihat patung itu dari segala sudut. Kemudian mata patung itu terbuka.
"Whoaa..!! Monster!" ucap Kaito ketakutan dan terjatuh sambil mundur kebelakang.
"Saya bukan monster. Saya adalah master!" jawab sosok tertutup debu itu.
"Eh?!" ucap Kaito mulai heran.
"Saya adalah master samurai! Pelindung kota ini. Gakupo!!!" ucap sosok itu sambil berdiri.
"Ternyata itu kau!" bentak Kaito sambil menendang sosok itu.
Debu-debu pun mulai berterbangan dan mulai terlihatlah kalau itu adalah manusia berpakaian kimono.
"Sakit.. anda siapa tiba-tiba menendang saya?" tanya sosok laki-laki berambut panjang dan sebagian besar tubuhnya masih tertutup debu itu.
"Kau lupa padaku? Ini aku, Kaito." jawab Kaito.
Tampak laki-laki itu memperhatikan lagi Kaito dengan jelas.
"Oohh.. Kaito-dono. Anda kembali.." ujar sosok itu.
"Biar kutebak, kau Gakupo Kamui kan?" tanya Kaito.
"Ya.. sudah lama ya kita tidak bertemu, Kaito-dono." jawab sosok itu yg tak lain adalah Kamui.
"Kenapa kau duduk disini? Lagipula kemana aja kau sampai rumah tidak terurus begitu?" tanya Kaito.
"Saya sedang bermeditasi, Kaito-dono. Bagi samurai bermeditasi itu penting untuk menenangkan jiwa. Dan saya sudah bermeditasi disini sudah seminggu lebih. Hebat kan?" jawab Kamui sambil mengacungkan jempolnya.
"Hebat dari mananya?!! Jadi selama ini kau duduk disini tidak makan tidak minum, bahkan tidak mandi juga??" bentak Kaito.
"Samurai sejati itu, tidak perlu mandi." ucap Kamui dengan penuh kebanggaan.
"Samurai mana yg tidak mandi?! Mana ada samurai yg bau!! Ayo mandi sana!!!" bentak Kaito lagi sambil menunjuk ke rumah.
"Tapi Kaito-dono, saya tak mau mandi kalau airnya dingin." ujar Kamui.
"Jangan manja! Samurai mana yg manja sepertimu!!!? Cepat mandi saja sana!" suruh Kaito dengan kesal.
"Kaito-dono.. kumohon.." ucap Kamui dengan mata berkaca-kaca dan nada yg memelas.
Kaito pun akhirnya agak kasihan juga walau hatinya sedikit jengkel.
"Baiklah, baiklah! Aku akan memasakkan airnya untukmu. Jadi ayo cepat siap-siap mandi sana!" kata Kaito sambil berjalan duluan ke arah rumah.
"Yeah! Akhirnya bisa mandi air hangat!" ucap Kamui nampak senang.
Kemudian Kamui berlari menyusul Kaito. Kaito menuju ke dapur, membawa tasnya dan meletakannya di samping dapur.
"Ini mana gas nya?! Gas nya habis!!?" ucap Kaito kaget gas nya tidak mau menyala.
"Kaito-dono, samurai itu harus tradisional." ujar Kamui nongol dari arah ruang tengah.
"Maksudmu aku harus pake kayu bakar?!!" ucap Kaito terkejut.
Kembali ke masa sekarang.
"Hahaha.. aku sampai harus belah kayu dulu cuma buat Gakupo biar mandi." ujar Kaito setelah membayangkan masa lalunya itu.
"Gakupo, ayo cepat bantu aku." pinta Kaito lagi.
Namun Kamui diam saja tak mau jawab.
"Hei kalian berdua.." sapa Gumi yg nampaknya habis jogging.
"Oh.. Megupo. Selamat siang.. habis jogging ya?" sahut Kaito.
"Iya." jawab Gumi menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" tanya Gumi.
"Ini, aku minta Gakupo untuk bantuin ngepel karena aku sudah pegel ngepel rumah dan sekarang ngepel dojo. Gakupo jadi pemalas banget, dia nolak terus daritadi." jawab Kaito.
"Oohh.. begitu. Gaku-gaku, ayo bantuin ngepel." ujar Gumi.
"Maaf, saya menolak." sahut Kamui.
"Hmm.. begitu ya, nampaknya kamu memang tidak pantas untuk Luka-oneesama." lanjut Gumi.
"Eh, apa hubungannya ngepel ama Luka-tan?" tanya Kamui.
"Luka-oneesama itu adalah ratu disekolah. Dia orangnya tegas dan disiplin. Dia pasti takkan mau dekat-dekat apalagi berhubungan dengan orang yg malas." jawab Gumi dengan nada mengintimidasi.
"Itu hanya teorimu saja, Megu." sahut Kamui.
Kemudian Gumi menekan-nekan tombol ponselnya.
"Halo, Luka-oneesama.. ini ak.." ujar Gumi.
Mendengar perkataan Gumi, Kamui langsung mengambil kain pel dari Kaito dan memotong perkataan Gumi.
"Luka-tan, saat ini saya sedang ngepel. Saya rajin banget. Saya sangat cocok untuk anda." ujar Kamui memotong perkataan Gumi.
Kemudian Kamui pun mengepel dengan semangat sekali.
"Nampaknya tipuanmu itu sedikit terlalu kejam." komentar Kaito.
"Yg penting berhasil kan." sahut Gumi.
Ditempat lain, Luka nampak berpikir. Saat ini dia sedang berada di dalam mobilnya dan dalam perjalanan pulang.
"Luka-sama, ada apa?" tanya Tsugumi.
"Aku mulai berpikir, nampaknya ada hubungan antara Ray-kun dengan kejadian 10 tahun yg lalu. Aku harus menyelidikinya lebih lanjut." jawab Luka dengan tatapan serius.
"Lalu masalah earophoid anda itu?" tanya Tsugumi lagi.
"Kalau itu mudah. Kita persiapkan festival musim panas." jawab Luka lagi sambil tersenyum.
"Ide bagus, Luka-sama. Saya akan segera siapkan semuanya." sahut Tsugumi.
"Tapi, aku harus masih menyelidiki masa lalu kota ini." ujar Luka dalam hati kembali serius.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】