VocaWorld, chapter 74 - Lembayung Tepi Pantai (Bermain Bersamamu)

Kamui datang pada saat yg tidak diduga. Saat itu Luka nampak sedang duduk di sebelah Ray, dan Dante ada di air. Sebelumnya Ray berhasil melempar katana Kamui ke dalam air dengan alat pancingnya.
"Bagaimana anda bisa menyadari keberadaan saya?" tanya Kamui pada Ray.
"Hatimu saat ini tak tenang. Hati yg tak tenang itu seperti air yg beriak. Penuh dengan gelombang, jadi takkan sulit menentukkan keberadaan asal riak air itu." jawab Ray dengan tenang sambil melihat ke arah Kamui.
Luka saat itu juga sedang melihat kearah Kamui.
"Ah.. Luka-tan?! Kenapa jaket anda terbuka sekarang? Padahal waktu saya meminta anda membukanya, anda tidak mau?" tanya Kamui pada Luka.
"Jangan lihat!" larang Luka sambil menutupkan jaketnya setelah sadar Kamui melihatnya.
"Eh, kenapa? Tapi nampaknya Luka-tan baik-baik saja saat The White Light-dono melihatnya." protes Kamui.
"Itu bukan urusanmu!" bentak Luka sambil melihat ke arah depan lagi dengan wajah judes.
"Eeehhh..!" ucap Kamui nampak kecewa.
"Oke, let's rock!" ucap Dante nampak berniat berubah.
Namun tidak terjadi apa-apa.
"Whoaaa.. aku lupa kita tidak membawa earophoid kita!!!" teriak Dante yg baru sadar tidak ada earophoid di tangannya.
"Ya, tentu saja. Kita kan niatnya kesini cuma buat mancing." sahut Ray.
"Yah.. kalau tahu ada mereka harusnya kita bawa earophoid saat ini." ujar Dante dengan nada kecewa.
"Hah? Jadi kalian beneran kesini cuma karena ingin mancing setelah dapat rekomendasi dari radio?" tanya Luka yg terkejut.
"Tentu saja. Kamu kira aku ini pembohong?" jawab Ray melirik ke arah Luka.
"Maaf.." ucap Luka.
"Lalu bagaimana dengan pedang saya?" tanya Kamui.
"Ambil saja sendiri. Kamu kan bisa berenang." ujar Ray sambil berdiri dan menggulung benang pancingnya.
"Kesempatan!" ucap Kamui saat melihat Ray sibuk menggulung benang pancing nya.
Kamui pun berlari menuju ke arah Ray dan hendak menubruknya dan menjatuhkannya ke air. Namun Ray mundur dan menyodokkan gagang pancingannya ke perut Kamui sambil men-tackle kaki Kamui hingga Kamui hendak terjatuh. Lalu Ray menambahkan dorongan ke bagian belakang kepala Kamui dengan gagang pancingannya. Kamui akhirnya terlempar dan jatuh ke arah Dante yg sedang berenang mendekat ke arah Ray. Dante pun terkejut lalu bersalto di air menendang pantat Kamui sehingga Kamui jatuh lebih jauh. Dan ia pun tenggelam. Beberapa saat kemudian Kamui muncul kembali sambil membawa katananya.
"Saya mendapatkannya Luka-tan! Saya bisa menyela.." ucap Kamui saat keluar dari air dan terkejut melihat Luka, Ray dan Dante sudah tak ada ditempatnya lagi sehingga perkataannya terpotong.
"Pada kemana mereka!" bentak Kamui dengan kesal membanting katananya ke dalam air.
"Aaaa..!! Kenapa aku malah melemparkannya lagi ke dalam air!!?" teriak Kamui saat menyadari perbuatannya.

Luka, Ray dan Dante nampak berjalan ke arah timur. Luka dan Ray berjalan di belakang Dante.
"Ah, Aniki.. tadi itu berbahaya sekali. Kenapa melemparnya ke arahku?" gerutu Dante.
"Maaf Dante, tadi itu darurat. Jadi aku tak bisa menentukan arahnya." ucap Ray.
"Lagipula kenapa kita harus pergi bersama dengannya?" tanya Dante sambil menoleh ke arah Luka.
Terlihat Luka sudah meresletingkan lagi jaketnya.
"Tak apa kan? Lagipula kita saat ini belum dapat ikan satupun." jawab Ray sambil tersenyum.
"Lalu usahaku berenang ratusan meter dalam air untuk menakuti ikan supaya pergi ke arahmu itu sia-sia dong, Aniki?" tanya Dante.
"Ya mungkin tidak juga. Hari ini aku mendapatkan lebih dari yg kuharapkan." jawab Ray sambil menoleh ke arah Luka.
"Hah? Maksudnya apa kamu melihatku sambil tersenyum seperti itu?" ucap Luka dengan wajah judes namun dengan pipi yg memerah.
"Aahh.. Aniki ini.. kalau soal dia saja Aniki..", "Dante, pergilah terus ke arah timur. Kami ada urusan berdua sebentar." suruh Ray memotong perkataan Dante.
"Hah? Aniki apa maksudnya?" tanya Ray sambil menoleh ke belakang.
Namun Ray dan Luka sudah tidak ada.
"Ya ampun, mereka meninggalkanku sendirian begitu saja." ucap Dante.
Kemudian Dante pun melanjutkan perjalanannya. Sementara Ray tampak berlari di tengah hutan sambil menarik lengan Luka.
"Ray-kun, kita mau kemana?" tanya Luka.
"Ikuti saja. Kita akan membuat sesuatu yg menyenangkan. Jadi kita butuh persiapan." jawab Ray sambil tetap berlari membawa Luka dan melempar senyum ke arah Luka sesaat.
Wajah Luka kembali memerah saat itu.

Miku dan yg lainnya nampak masih di pantai dekat villa nya Luka.
"Kaito-senpai!" panggil Miku pada Kaito yg sedang mengambil minuman dingin dari kotak es.
"Apa?" tanya Kaito yg nampak masih lesu.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Miku sambil membuat pose berusaha menunjukkan pesonanya dengan bikininya.
"Apanya?" tanya Kaito yg tidak mengerti.
Miku pun langsung seperti kehilangan mood nya.
"Kaito-senpai bodoh!" ucap Miku sambil berlari meninggalkan Kaito seperti hendak menangis.
Kemudian Miku tanpa sengaja menabrak Meiko yg sedang berjalan. Miku pun terpental kebelakang selangkah karena menabrak benda empuk milik Meiko.
"Miku-chan kenapa? Miku-chan tidak apa-apa?" tanya Meiko yg melihat Miku seperti hendak menangis.
Miku melihat ke arah dada Meiko sebentar lalu melihat ke arah dadanya sendiri.
"Huwaaa.. Meiko-san bodoh...!" ucap Miku yg kembali berlari dan meninggalkan Meiko.
"Kenapa dengan Miku-chan?" ucap Meiko sambil memiringkan kepalanya.
Miku pun nampak duduk memeluk lututnya dengan suram dibawah payung.
"Kamu kenapa Miku-chan?" tanya Gumi yg berada disebelahnya.
"A-aku.." jawab Miku yg lalu terpotong saat melihat ke arah dada Gumi.
"Aku benci kamu, Gumi-chan!" ucap Miku yg kemudian lari lagi meninggalkan Gumi.
"Ada apa dengannya?" ucap Gumi menatap aneh ke arah Miku.
Kemudian Miku kembali menabrak, kali ini giliran Rin yg tertabrak.
"Kya!" ucap Rin yg terjatuh di atas pasir lalu bola menghantam kepalanya.
Saat itu Rin dan Len memang sedang bermain bola volley.
"Aduh.. sudah jatuh, kena bola juga lagi.." gerutu Rin saat itu.
Miku melihat ke arah dada Rin yg memang terlihat belum begitu menonjol saat itu. Miku pun langsung tersenyum jahat.
"Haha.. maaf kukira kamu itu papan." ujar Miku sambil tertawa bahagia.
"Miku-neechan kenapa sih? Tiba-tiba aneh gitu?" ucap Rin yg bingung dengan kelakuan Miku.
"Tidak tahu dah. Mungkin Miku-nee otaknya lagi sengklek." sahut Len.
Untungnya Miku tak mendengar mereka karena terlalu sibuk tertawa.
"Wah.. wah.. disini nampaknya ada kegiatan menyenangkan nih." ucap Dante yg telah sampai di pantai itu.
Miku dan Gumi nampak terkejut melihat kedatangan Dante.
"Bolehkah aku ikutan?" pinta Dante sambil tersenyum.
"Aku harus mengambil earophoidku dalam tasku!" ucap Gumi yg lalu bergegas berlari ke arah villa.
"Tu-tunggu.. jangan! Tolong jangan! Saat ini aku kesini dengan tujuan damai!!" pinta Dante yg panik mendengar ucapan Gumi sebelum lari.
"Bodo amat!" ucap Gumi yg tak mau berhenti.
Dante pun mengejar. Dan sesaat sebelum sampai di villa, Dante berhasil menubruk dan menangkap kedua kaki Gumi.
"Takkan kubiarkan!" ucap Dante sambil memeluk erat kaki Gumi.
"Kyaa! Lepaskan kakiku!" suruh Gumi.
"Tidak akan! Kalau kulepaskan liburan ini bisa hancur karena pertarungan!" jawab Dante sambil tetap memeluk kaki Gumi.
"Apa maksudmu? Kamu pikir aku akan percaya? Lepaskan!" ujar Gumi kemudian berteriak minta dilepaskan lagi.
"Lepaskan dia, Dante." suruh Ray yg nampak membawa buah semangka.
"Aniki?" ucap Dante kaget melihat Ray kembali membawa buah semangka.
"Gumi-chan.. kamu tenang saja. Kali ini mereka tidak berbahaya. Mereka tidak membawa earophoid mereka." jelas Luka yg juga membawa buah semangka dengan ukuran yg lebih kecil.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Kaito yg nampak meminum sebuah minuman dingin pengganti ion tubuh bermerek pocar*.
Kaito saat itu berjalan dari arah villa sehabis ngambil minuman dari kotak es yg ada diatas meja di teras samping villa. Lalu disusul Meiko yg nampak memakai sunglass alias kacamata hitam.
"Aku melupakan kacamata hitamku." ucap Meiko sambil berjalan keluar dari villa.
Kaito lalu menyemburkan minumannya saat melihat Gumi ditubruk Dante dan Ray yg nampak memegang buah semangka.
"Kalian sedang apa?!!" tanya Kaito dengan nada terkejut.
"Sudah.. Dante, lepaskan.." suruh Ray dengan wajah datarnya.
"Baiklah.." sahut Dante yg kemudian melepaskan kaki Gumi lalu berdiri.
"Luka-tan! Aku datang menyelamatkan anda!" teriak Kamui dari arah barat berlari ke arah villa.
"Hiiiaaaaaaaa...!!!" teriak Kamui sambil berlari ke arah Ray.
Tiba-tiba saja sebuah sandal mendarat tepat diwajah Kamui. Kamui pun terjatuh ke belakang.
"Hentikan itu! Saat ini kita sedang liburan, ingat?" ucap Luka yg ternyata dialah yg melempar sandal itu.
"Bagaimana kalau begini? Daripada kita berkelahi dan merusak liburan ini, mending kita selesaikan dengan game. Kita akan mendapat dua keuntungan, pertama, kita dapat kesenangan dari game ini. Kedua, ini juga bisa jadi penentu siapa yg lebih hebat dari kita?" usul Ray sambil tersenyum.
"Ide bagus!" sahut Kamui dengan semangat sambil tiba-tiba bangun lagi.
"Baguslah kalau begitu." balas Ray sambil tersenyum.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】